Merutinkan Baca Surat Al Mulk dan Surat As Sajdah Di Setiap Malam

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Apakah Do’a Hanya Dalam Sujud Terakhir Saja..? Dan Siapakah Yang Diperbolehkan Berdo’a Dalam Bahasa Lain Selain Arab..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى   berikut ini

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

MUTIARA SALAF : Mengapa UJUB Bisa Menghapus Pahala Amalan..?

Syeikh Al-Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Riya’ yang terjadi setelah amalan dilakukan tidak akan berpengaruh pada amalan, kecuali bila dia menjadi UJUB karenanya.

Karena bisa jadi ujub menghapuskan amalan itu, karena orang yang ujub dengan amalannya, seakan-akan dia melihat dirinya telah berbuat jasa kepada Allah, dan ini akan menghapuskan amalan.

Karena bila tindakan ‘al-mann’ (mengungkit-ungkit) terhadap kebaikan sedekah kepada anak adam saja akan membatalkan amalan sedekah, apalagi tindakan ‘al-mann’ kepada Allah..”

[Syarah Bulughul Marom 14/39]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Cinta Hingga Ke Syurga…

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Pembaca sekalian yang semoga dirahmati Allah Subhaana Wata’aala… Apakah anda sedang mempersiapkan pernikahan ? apakah anda barusan menikah atau sudah menikah cukup lama ? apakah anda merasakan riak yang semakin membesar dalam membina rumah tangga anda bersama pasangan anda ?… apapun kondisi rumah tangga anda saat ini, simaklah dengan seksama nasehat Ustadz Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى  berikut ini yang bertema “CINTA HINGGA KE SYURGA”… Semoga nasehat ini dapat melanggengkan bahtera rumah tangga  anda sekalian hingga ke Syurga Allah kelak… aamiin ya Robb

(kajian dibagi dalam beberapa bagian sesuai tema yang diutarakan). Audio ini juga anda dapat simak di Telegram Channel kami : https://telegram.me/bbg_alilmu

Audio 1 : Komitmen terberat…
Audio 2 : Nasehat bagi sang istri…
Audio 3 : Nasehat bagi sang suami…
Audio 4 : Ancaman bagi suami atau istri yang gemar menuntut hak tapi melalaikan kewajiban…
Audio 5 : Karakter utama SUAMI yang harus diketahui dan dimaklumi ISTRI…
Audio 6 : Karakter utama ISTRI yang harus diketahui dan dimaklumi SUAMI…

___________________________________
Audio 1 : Komitmen terberat…

Audio 2 : Nasehat bagi sang istri…

Audio 3 : Nasehat bagi sang suami…

Audio 4 : Ancaman bagi suami atau istri yang gemar menuntut hak tapi melalaikan kewajiban…

Audio 5 : Karakter utama SUAMI yang harus diketahui dan dimaklumi ISTRI…

Audio 6 : Karakter utama ISTRI yang harus diketahui dan dimaklumi SUAMI…

Luruskan Niat Anda…

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه  mengatakan :

Ada tiga buah tanda orang yang suka riya’ (beramal tidak ikhlas) :

1. Apabila sendirian maka dia menjadi pemalas.

2. Dan hanya bersemangat apabila berada bersama orang-orang.

3. Dia akan meningkatkan amalnya jika dipuji dan akan mengurangi amalnya jika dicela orang karena melakukannya.

(Al-Kabaa’ir, hal. 112).

image

Mengapa Engkau Diam..?

Saat engkau di mobil, atau jalan di pasar, atau duduk di kantor, atau dimanapun tempatmu, tidak mampukah engkau sekedar menggerakkan lisan… mengapa engkau diam..?!

Bukankah detik-detik yang sedang kau alami sekarang ini juga bagian dari umurmu, dan itu juga mengurangi jatah usiamu… Mengapa engkau sia-siakan dalam diam..?!

Pada momen-momen itu, isilah dengan membaca Alquran… engkau beralasan, tidak hapal quran..? … Saya yakin, engkau masih hapal Alfatehah, surat yang paling agung dalam Alquran, ulang-ulang saja Alfatehah itu, seribu kali atau duaribu kali, tidak ada yang melarangmu… mengapa engkau diam..?!

Saat engkau menunggu lampu merah, atau sedang naik angkot, atau duduk menunggu antrian, atau saat engkau bertugas sebagai satpam, atau polisi, atau tentara yang berjaga, isilah dengan istighfar… mengapa engkau diam..?!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT 
10 keutamaan dari 4 kalimat mulia :

https://bbg-alilmu.com/archives/54812

Cara Islam Melawan Teroris…

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Di masa al-Khulafa’ ar-Rasyidun terakhir, Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu, muncul sekelompok kaum muslimin yang menolak kesepakatan antara Ali dengan Muawiyah. Dalam posisi ekstrim, mereka mengkafirkan semua sahabat yang berpihak di kubu Ali maupun Muawiyah. Jadilah mereka kubu ketiga yang menolak kekhalifahan Ali & Muawiyah. Itulah kelompok khawarij.

Mereka bukan orang munafik. Mereka bukan orang yang malas beribadah. Sebaliknya banyak diantara mereka yang hafal Al-Quran. Dan hampir semuanya menghabiskan waktu malamnya hanya untuk membaca Al-Quran, berdzikir dan tahajud.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, mengingatkan akan kedatangan mereka,

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ ، وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar di tengah kalian sekelompok kaum. Kalian akan meremehkan shalat kalian dibandingkan shalat mereka, atau meremehkan puasa kalian dibandingkan puasa mereka, atau meremehkan amal kalian dibandingkan amal mereka. Mereka rajin membaca al-Qur’an, namun tidak menembus tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama, seperti anak panah melesat dari hewan buruan. (HR. Bukhari 5058).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan, mereka melesat dari agama seperti anak panah melesat dari hewan buruan. Dia menancap lalu tembus tanpa meningglkan bekas. Karena saking kencengnya mereka dalam memegang prinsipnya yang menyimpang.

Peristiwa tahkim, kesepakatan damai antara Ali dengan Muawiyah radhiyallahu ‘anhuma, yang diwakilkan kepada dua sahabat Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ashradhiyallahu ‘anhuma, menjadi pemicu sebagian masyarakat yang sok tahu dengan dalil untuk mengkafirkan Ali bin Abi Thalib. Karena peristiwa ini, pada saat Ali bin Abi Thalib berkhutbah, banyak orang meneriakkan:

لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ

“Tidak ada hukum, kecuali hanya milik Allah.”

Mereka beranggapan, Ali telah menyerahkan hukum kepada manusia, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Mendengar celoteh banyak orang yang memojokkan beliau dengan kalimat di atas, Ali hanya memberikan komentar,

كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهاَ بَاطِل

“Kalimat yang benar, namun maksudnya batil”

Ali bin Abi Thalib tidak mengingkari kalimat tersebut. Tapi beliau menyalahkan tafsir yang menyimpang dari mereka yang sok tahu dengan dalil (Khawarij – teroris). (Huqbah min At-Tarikh, Syaikh Utsman Al-Khamis, hlm. 122 – 124)

Terjadilah perang ideologi antara Ali bin Abi Thalib dengan orang Khawarij. Masing-masing membawa dalil. Namun dengan pemahaman yang sangat berbeda.

Bagaimana kebijakan yang diterapkan Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu? Beliau tidak langsung menyerang mereka, namun beliau menggunakan pendekatan perang ideologi. Karena Ideologi tidak bisa dilawan dengan kekerasan.

Untuk tujuan itu, beliau mengutus Ibnu Abbas agar berdialog dengan mereka.

Ibnu Abbas menceritakan,

Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma melanjutkan: “Sungguh aku melihat seolah diriku masuk di tengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai. Satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka. Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bagaikan lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pucat karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.

‘Selamat datang wahai Ibnu Abbas, misi apa yang anda bawa?’ sambut mereka.

‘Aku datang sebagai utusan seorang sahabat Nabi, menantu beliau. Al-Quran turun kepada para sahabat, dan mereka lebih paham tentang tafsir Al-Quran dari pada kalian. Sementara tidak ada satupun sahabat di tengah kalian. Sampaikan kepadaku, apa yang menyebabkan kalian membenci para sahabat Rasulullah dan putra paman beliau (Ali bin Abi Thalib)?’

‘Ada tiga hal..’ jawab orang khawarij tegas.

‘Apa saja itu?’ tanya Ibnu Abbas.

Pertama, dia menyerahkan urusan Allah kepada manusia, sehingga dia menjadi kafir. Karena Allah berfirman, ‘Tidak ada hukum kecuali hanya milik Allah.’ Apa urusan orang ini dengan hukum Allah?’

‘Ini satu..’ tukas Ibn Abbas

Kedua, Ali memerangi Muawiyah, namun tidak tuntas, tidak memperbudak mereka dan merampas harta mereka. Jika yang diperangi itu kafir, seharusnya dituntaskan dan diperbudak. Jika mereka mukmin, tidak halal memerangi mereka.’

‘Sudah dua.. lalu apa yang ketiga?’ kata Ibnu Abbas.

‘Dia tidak mau disebut amirul mukminin, berarti dia amirul kafirin.’

‘Ada lagi alasan kalian mengkafirkan Ali selain 3 ini?’ tanya Ibnu Abbas.

‘Cukup 3 ini.’ jawab mereka.

Anda bisa perhatikan, betapa miripnya khawarij dulu dan sekarang. Ayat yang didengung-dengankan sama. Cara berfikir dan berlogika juga sama. Banyak menggunakanmafhum kelaziman untuk mengkafirkan masyarakat, siapa yang setuju dengan selain hukum Allah, berarti dia setuju dengan kekafiran. Dan siapa yang setuju dengan kekafiran maka dia kafir. dst. Tidak mengkafirkan orang mereka kafirkan, berarti mereka kafir. Ini yang disebut mafhum kelaziman. Bagi anda yang pernah mendengar ceramah para ’teroris’, para ‘buron negara’ akan sering mendengarkan ayat ini diulang-ulang.

Kita kembali kepada kisah Ibnu Abbas bersama Khawarij.

Mulailah Ibnu Abbas menjelaskan ke-salah pahaman mereka,

‘Apa pendapat kalian, jika aku sampaikan kepada kalian firman Allah dan sunah Nabi-Nya, yang membantah pendapat kalian. Apakah kalian bersedia menerimanya?’

‘Ya, kami menerima.’ Jawab mereka.

‘Alasan kalian, Ali telah menunjuk seseorang untuk memutuskan hukum, akan kubacakan ayat dalam firman Allah, bahwa Allah menyerahkan hukum-Nya kepada manusia untuk menentukan harga ¼ dirham. Allah perintahkan agar seseorang memutuskan hal ini. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai sembelihan yang dibawa ke ka’bah. (QS. Al-Maidah: 95)

Aku sumpahi kalian di hadapan Allah, apakah putusan seseorang dalam masalah kelinci atau hewan buruan lainnya, lebih mendesak dibandingkan keputusan seseorang untuk mendamaikan diantara mereka. Sementara kalian tahu, jika Allah berkehendak, tentu Dia yang memutuskan, dan tidak menyerahkannya kepada manusia?.’ Jelas Ibn Abbas.

‘Keputusan perdamaian lebih mendesak.’ Jawab mereka.

‘Allah juga berfirman tentang seorang suami dengan istrinya,

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا

“Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya.” (QS. An-Nisa: 35)

Aku sumpahi kalian di hadapan Allah, bukankah keputusan seseorang untuk mendamaikan sengketa dan menghindari pertumpahan darah, lebih penting dibandingkan keputusan mereka terkait masalah keluarga?

‘Ya, itu lebih penting.’ Jawab khawarij.

Alasan kalian yang kedua, ‘Ali berperang namun tidak tuntas, tidak menjadikan lawan sebagai tawanan, dan tidak merampas harta mereka.’

Apakah kalian akan menjadikan ibunda kalian sebagai budak. Ibunda A’isyah radhiyallahu ‘anha, kemudian kalian menganggap halal memperlakukannya sebagai budak, sebagaimana budak pada umumnya, padahal dia ibunda kalian? Jika kalian menjawab, ‘Kami menganggap halal memperlakukan dia (Aisyah) sebagai budak, sebagaimana lainnya.’ berarti dengan jawaban ini kalian telah kafir. Dan jika kalian mengatakan, ‘Dia bukan ibunda kami’ kalian juga kafir. Karena Allah telah menegaskan,

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6).

“Dengan demikian, berarti kalian berada diantara dua kesesatan.”

“Apakah kalian telah selesai dari masalah ini?” tanya Ibn Abbas

‘Ya..’ jawab mereka.

Alasan kalian yang ketiga, Ali menghapus gelar amirul mukminin darinya. Saya akan sampaikan kepada kalian kisah dari orang yang kalian ridhai (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan saya kira kalian telah mendengarnya. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Hudaibiyah, beliau mengadakan perjanjian damai dengan orang musyrikin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Ali: “Tulis, ini yang diputuskan oleh Muhammad rasulullah (utusan Allah).”

Maka orang-orang musyrik mengatakan, “Tidak bisa. Demi Allah, kami tidak mengakui bahwa kamu rasul Allah. Kalau kami mengakui kamu Rasul Allah, kami akan mentaatimu. Tulis saja, ‘Muhammad bin Abdillah.”

“Hapuslah wahai Ali, hapus tulisan utusan Allah. Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku utusan-Mu. Hapus wahai Ali, dan tulislah: ‘Ini perjanjian damai yang diputuskan Muhammad bin Abdillah.” Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali.

“Demi Allah, Rasulullah lebih baik dari pada Ali. Namun beliau telah manghapus dari dirinya gelar rasul Allah. Dan beliau menghapus hal itu, tidaklah menyebabkan beliau gugur menjadi seorang nabi. Apakah kalian telah selesai dari masalah yang ini?” jelas Ibnu Abbas.

“Ya..” jawab khawarij.

Sejak peristiwa ini, ada sekitar 2000 orang khawarij yang bertaubat dan kembali bersama Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu. Sisanya diperangi oleh Ali bersama para sahabat Muhajirin dan Anshar.

(Khashais Ali bin Abi Thalib, An-Nasai, hlm. 20).

Seperti itulah cara Ali dalam melawan khawarij. Beliau lawan dengan memerangi ideologinya. Karena cara paling efektif untuk meredam emosi mereka. Mereka berbuat jahat bukan untuk harta, tapi untuk keyakinan agamanya yang menyimpang.

Ideologi tidak bisa dipenjarakan. Para teroris yang mendekam di penjara, justru menularkan ideologinya ke preman-preman buta agama untuk menjadi teroris baru. Terlebih, bagi semua napi, mereka memiliki common enemy, musuh bersama. Yaitu pemerintah. Keluar penjara, sasaran mereka selanjutnya adalah pemerintah. Memenjarakan ideologi khawarij, bisa jadi menularkan ideologi itu di penjara.

Allahu a’lam

Ref : https://konsultasisyariah.com/26300-cara-islam-melawan-terorisme.html

Jangan Sampai…

Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As Sikhtiyani:

Apabila Allah memberimu ilmu..
maka realisasikanlah dengan ibadah..
jangan sampai keinginanmu yang terbesar..
sebatas menyampaikan kepada orang lain..

(Al Ma’rifat wattarikh 2/66).

Courtesy of Al Fawaid

image

Nasib Umat Akhir Zaman…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

عن عبد الله بن عمرو قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
«إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا، وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلاءٌ، وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا، وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي، ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ، فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ هَذِهِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْ

Sesungguhnya tidak ada seorangpun Nabi sebelumku..
kecuali telah menunjukkan umatnya kepada semua kebaikan yang ia ketahui untuk mereka..
dan memperingatkan semua keburukan yang ia ketahui untuk mereka..
dan sesungguhnya umat ini dijadikan keselamatannya di generasi awalnya..
dan kelak generasi akhirnya akan ditimpa bala dan perkara yang kalian ingkari..
kemudian datanglah fitnah..
yang menjadikan fitnah sebelumnya terasa ringan dibandingkan fitnah setelahnya..
datang fitnah..
maka mukmin berkata: “Ini yang akan membinasakan (agamaku)”.
lalu fitnah itu pergi..
kemudian datang lagi fitnah yang lain..
Mukmin kembali berkata, “Ini yang membinasakan (agamaku)”.
Barang siapa yang ingin diselamatkan dari api Neraka..
dan dimasukkan ke dalam Surga..
hendaklah kematian mendatanginya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akherat..
dan hendaklah ia bergaul dengan manusia..
sebagaimana ia suka untuk diperlakukan dengannya..
HR Muslim no 4191.

itulah akhi pengabaran dari Nabi..
yang membuat merinding dan khawatir..
akankah kita selamat dari fitnah akhir zaman..
Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah berdoa..
Ya Allah.. Apabila Engkau menghendaki fitnah melanda suatu kaum..
wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah..
HR Ahmad..

Menebar Cahaya Sunnah