Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (1)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar (dalam menghadapi gangguan manusia) ini.

Pertama: Dengan mengikrarkan bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan para hamba-Nya; baik geraknya, diamnya, bahkan keinginannya.

Maka, apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sebaliknya yang tidak Dia kehendaki takkan terjadi.

Sehingga tidak ada satupun partikel di alam ini bisa bergerak, baik di alam yang atas maupun di alam yang bawah, kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Jadi semua hamba itu hanyalah sebagai alat saja.

Maka, lihatlah kepada Dzat yang menjadikan manusia itu mengganggumu, jangan kau lihat kelakuan (buruk) mereka terhadapmu; niscaya kamu akan menjadi tenang, tanpa kegalauan ataupun kesedihan.

[Jami’ul Masa’il, 1/168].

Harapan Dan Cita-Cita Dalam Berumah Tangga…

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله تعالى

Setiap orang memiliki harapan dan cita-cita, termasuk dalam membina rumah tangga.

Ada yang ingin mencari pasangan yang gantengnya selangit…

Karena dia suka itu, dan akan membanggakannya… Namun ingat keelokan wajah tidak akan bertahan lama

Ada yang ingin mencari pasangan anak keturunan orang terpandang…

Karena dengan itu dia bisa menaikkan derajatnya di hadapan manusia… Namun ingat kemuliaan sesorang tergantung dengan ketakwaannya

Allah Ta’ala berfirman:

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dia antara kalian”. (QS. Al-Hujurat:13).

Ada yang ingin mencari pasangan yang kaya raya…

Karena dia mengira dengan banyaknya harta hidupnya akan bahagia

Padahal kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih dengan keimanan kepada Allah Ta’ala

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tiga tanda kebahagian:

1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

Dan keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah ‘Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin
bahwa itu semua atas kehendak Allah ‘Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah ‘Azza wa jalla.
Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لأمرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ وليسَ ذلكَ لأحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا

“Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Dan ada pula yang ingin mencari pasangan yang pandai agamanya…

Karena dia ingin belajar dan memperdalam agamanya, dan paling tidak dia akan dibimbing untuk memahami agamanya dan mengamalkannya

Dan itu merupakan hal yang ada pada naluri setiap kita, namun…

Ingatlah pesan Nabi kita صلى الله عليه و سلم dalam hal ini, yang mengigatkan kita untuk mencari orang yang baik agama dan akhlaknya,

وقد قال صلى الله عليه وسلم: ” إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير” رواه الترمذي وغيره.

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yang kalian sukai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Kalau tidak, akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar di muka bumi”. (HR. at-Tirmidzi).

Maka dari itu mintalah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar menetapkan hati kita untuk selalu ta’at kepada-Nya dan mintalah agar pasangan kita selalu mengingatkan dan membimbing kita ke jalan-Nya dan untuk selalu ta’at Kepada-Nya.

Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita semua.

Bersabarlah Saudaraku…

Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى

Allah ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbasradhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya. ” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/391]

Imam Ibnul Jauzi -rohimahulloh- dan syi’ah rofidhoh..

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Di dalam kitabnya “Al-Maudhu’at”, beliau menyebutkan sebuah hadits palsu, lalu beliau mengomentarinya dengan mengatakan:

“Ini adalah hadits palsu, yang memalsukannya Musa bin Qois, dia termasuk seorang syiah rofidhoh yang ekstrim, dan dia dijuluki ‘ushfurul jannah’ (burung pipit surga). InsyaAllah dia menjadi ‘hamirun nar’ (keledai neraka)”.

[Kitab Almaudhu’at 1/382].

————-

Sungguh dari dulu para ulama kaum muslimin dari berbagai madzhab ahlussunnah sangat membenci kelompok syiah rofidhoh… sebaliknya, syiah rofidhoh juga sangat membenci ulama-ulama ahlussunnah… dan sejarah yang menjadi saksinya.

Jika demikian, pantaskah ajakan untuk toleran terhadap mereka kita dengar?!

Sungguh kita sebagai Ahlussunnah Waljama’ah sangat menghormati Ahlul Bait dan Para Sahabat Nabi… tapi mereka malah menjadikan tindakan mencela sahabat Abu Bakar dan Umar, tindakan merendahkan Ibunda Aisyah dan Hafshoh dua isteri Nabi, sebagai IBADAH yang mulia.

Pantaskah kita toleran terhadap orang seperti mereka?!

Jika tindakan mencela bapak dan ibu kita saja sangat menyulut kebencian kita… apalagi jika yang dicela adalah tokoh kaum muslimin yang paling mulia setelah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-… apalagi bila yang dicela adalah isteri Nabi, yang merupakan IBUNDA kaum mukminin.

Wahai kaum muslimin, bangunlah… berbenahlah…

Antara Orang Cerdas Dan Orang Telat Cerdas…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Bermimpi sukses itu kerjaan setiap orang, dan kagum kepada orang sukses itu adalah perilaku setiap orang. Namun sadarkah anda bahwa hanya berbekalkan rasa kagum dan mimpi menjadi sukses tidak cukup untuk menjadi orang sukses?

Orang yang puas dengan rasa kagum kepada orang sukses, apalagi beranggapan bahwa rasa kagumnya yang hanya dibubuhi dengan doa sudah cukup untuk menjadikannya turut sukses, sejatinya adalah orang yang telat cerdas.

Orang cerdas selalu sadar bahwa setiap kesuksesan biasanya mengandung empat unsur utama:
1. mimpi menjadi orang sukses yang belanjut menjadi tekad kuat.
2. Usaha keras yang diiringi dengan pengorbanan.
3. Doa yang dilandasi oleh keyakinan dan iman.
4. Taufiq dan pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Dengan keempat hal inilah orang sukses menggapai suksesnya.

Karena itu, akan lebih bijak bila setiap kali anda melihat orang sukses anda mempelajari langkahnya, melihat pengorbananya bukan hanya menggeleng-gelengkan kepala anda dengan keras karena tak kuasa menahan rasa kagum .

Karena itu bila anda ingin sukses seperti mereka, maka jangan puas dengan kekaguman dan terus hanyut dalam geleng geleng kepala kekaguman. Namun segera bulatkan tekad, langkahkan kaki, lakukan pengorbanan dan teguhkan iman anda. Insya Allah anda segera menyusul menjadi orang sukses.

Contoh nyata, bila anda melihat orang mengendari mobil mewah, maka jangan hanya kagum dengan kemewahan mobilnya, karena hanya kagum anda tidak akan pernah bisa memilikinya. Namun pikirkanlah, berapa harganya dan bagaimana ia dapat memiliki uang sebanyak itu sehingga bisa membelinya.

Anda melihat lelaki memiliki istri cantik, jangan hanya kagum kepada kecantikan istri lelaki itu, namun pikirkan dengan apa wanita secantik itu terpikat kepada lelaki itu dan bagaimana lelaki itu berhasil memiliki hal tersebut, dan dengan apa lelaki itu mengikat wanita itu sehingga setia kepadanya?

Selamat mencoba, semoga sukses.

1390. Memperolok orang yang menyelisihi sunnah…

1390. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, akhir-akhir ini banyak orang yang melecehkan ajaran sunnah dan yang menjalankan sunnah. Namun di pihak lain, mereka yang menjalankan sunnah memperbincangkan hal ini di komunitas mereka masing-masing (WA/BBM/FB dll) dan cenderung mentertawakan/memperolok/mencaci maki ‘kebodohan’ orang tersebut. Apakah ini benar ustadz ?

Jawab :
Syaikh Abdurrazzaq Al Badr, حفظه الله تعالى pernah berkata :
“Membicarakan MUKHOOLIF (orang yang menyelisihi manhaj) tanpa suatu keperluan baik untuk membantah atau mengingatkan ummat adalah GHIBAH. Seperti menjadikan mereka sebagai bahan tertawaan atau pelengkap majelis.”

Lebih lanjut Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى menulis bahwa ada pepatah Arab sebagai berikut :
“Welas asih itu adalah keindahan, sementara diam adalah keselamatan.
Jika engkau berucap, jangan sampai berlebihan. Aku tak pernah menyesali diamku walau sekali saja. Namun sungguh aku menyesali ucapankan berkali-kali.”

Semoga Allah menjaga lisan-lisan kita dari petaka ghibah.”

Ref: http:/bbg-alilmu.com/archives/7812
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Banyak Maksiat, Tapi Banyak Nikmat… Mau?!

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Allah biasa menghukum hambaNya yang beriman dan dicintaiNya -yang dia melihat Allah sebagai Dzat yang maha pemurah-, karena sebab kesalahan yang sangat kecil atau kelengahan, sehingga dia menjadi hamba yang selalu terjaga dan waspada.

Adapun orang yang jatuh dan hina di mata Allah, maka Dia membiarkannya melakukan banyak maksiat. Setiap kali dia melakukan dosa, Allah tambahi lagi kenikmatan untuknya.

Orang yang tertipu mengira bahwa itu termasuk bentuk pemuliaan Allah terhadapnya, dia tidak tahu bahwa itu sejatinya menghinakannya, dan bahwa dengannya Allah menginginkan untuknya siksaan yang keras dan hukuman yang tiada akhirnya”.

[Kitab: Zadul Ma’ad, 3/506].

———-

Jangan terkecoh dengan nikmat dunia, dia bukanlah ukuran mulia dan hinanya seseorang di sisi Allah… dia juga bukan ukuran benar dan salahnya seseorang.

Semua hamba akan diberikan Allah nikmat dunia, sebagaimana firman-Nya:

“Kepada masing-masing golongan itu, baik golongan yang menginginkan dunia maupun golongan yang menginginkan akherat, Kami berikan bantuan dari Tuhanmu”. [Al-Isro: 20].

Ingatlah bahwa kenikmatan dunia ini sangatlah sedikit di mata Allah, oleh karenanya Allah tetap memberikannya walaupun kepada orang kafir, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Seandainya dunia ini sama di sisi Allah dengan sayap nyamuk, tentu Dia tidak akan meminumi orang kafir, meski hanya seteguk”. [HR. Attirmidzi: 2320 dan yang lainnya, dan disahihkan oleh Syaikh Albani].

Oleh karenanya, tetaplah teguh di atas syariat-Nya… Fokuskan hidupmu untuk meraih kehidupan akherat yang mulia… Dan tenanglah, jangan khawatir, dengannya Allah akan tetap memuliakanmu di dunia.

1389. Yang sunnah diucapkan ketika menaiki/menuruni tangga, eskalator, lift…

1389. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, ada sunnah mengucapkan takbir “Allahu Akbar” ketika berjalan pada jalanan menanjak dan mengucapkan tasbih “SubhaanAllah” ketika jalanan menurun.

Apakah hal ini juga berlaku, yaitu mengucapkan  “Allahu Akbar” dan SubhaanAllah” ketika kita menaiki/menuruni eskalator atau Lift di gedung-gedung bertingkat, dan apabila kita menaiki/menuruni tangga baik itu di rumah kita sendiri atau masjid ?

Jawab :
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Iya, TERMASUK juga.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah