Kiat Mengenali “Musang Berbulu Domba”!…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Satu kepastian yang telah menjadi sunnatullah, bahwa di dunia ini segala urusan diciptakan berpasang pasangan. Ada baik, ada buruk, ada atas ada bawah, ada benar dan ada salah, ada pandai ada bodoh demikian seterusnya.

Sepatutnya anda menyadari bahwa “siapapun diri anda, pasti ada saja yang suka dan ada pula yang membenci”.

Bila anda adalah orang baik paling baik, maka sadarilah bahwa orang paling baik pastilah dibenci oleh orang buruk hingga orang paling buruk.

Namun demikian, janganlah anda berkecil hati, karena seluruh orang baik pastilah mencintai anda.

Sebaliknya, andai anda adalah orang buruk paling buruk, maka pasti saja anda memiliki kawan, bukan hanya satu atau dua, namun buaaanyak sekali, yaitu orang buruk hingga paling buruk semisal anda.

Namun, pada saat yang sama sadarilah bahwa orang baik hingga orang paling baik pasti pula membenci anda.

Karena itu, sekedar merasa bahwa diri anda baik atau benar belumlah cukup, namun lihatlah siapakah kawan dan lawan anda.

Bila terbukti, bahwa orang yang senang dengan anda adalah orang orang yang bejat, para pengumbar hawa nafsu, malas ibadah, bodoh, nan hina, maka itu indikasi anda serupa dengan mereka.

Sebaliknya bila orang orang yang membenci anda adalah orang – orang baik, mereka rajin beribadah, berilmu dan berakhlaq mulia, maka ini bukti nyata bahwa anda bukanlah dari golongan mereka.

Pendek kata! Silahkan anda menyembunyikan jati diri anda, dengan cara apapun, namun ketahuilah bahwa sahabat-sahabat anda adalah cermin dari diri anda. Setiap insan akan dengan mudah mengenali diri anda dari teman teman yang ada disekitar anda. Dalam pepatah arab berdinyatakan:

عنِ المرْءِ لا تَسألْ وسَلْ عن قَرينه،
فكُلُّ قَرينٍ بالمُقَارِنِ يَقْتَدي

“Janganlah engkau bertanya tentang diri seseorang, namun tanyalah tentang kawan karibnya. Karena setiap manusia pastilah meniru perilaku kawan karibnya.”

Domba tidak akan pernah bersahabat dengan serigala, sebagaimana srigalapun juga tidak akan kuasa menahan rasa laparnya agar dapat bersahabat dengan domba.

 

Kasihan Orang Yang Riya’…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Kasihan orang yang riya’ :
– ia meninggalkan pujian Allah lantas berharap pujian manusia
– ia meninggalkan Allah Yang Maha Kuasa dan memilih manusia yang penuh kekurangan dan kehinaan
– ia mengagungkan makhluk yang hina dan tidak mengagungkan Allah Yang Maha Agung
– ia memilih ganjaran dunia dan meninggalkan ganjaran akhirat
– ia mengagungkan dunia dan tidak mengagungkan akhirat
– ia tidak mengagungkan hari qiamat dimana seluruh rahasia dan isi hati akan dibongkar oleh Allah
– di akhirat ia disuruh mencari pahala dari orang-orang yang ia harapkan pujian dan penghormatan mereka tatkala di dunia
– di akhirat ia yang pertama kali disiksa di neraka
– di dunia ia selalu gelisah menanti pujian manusia dan komentar indah dari manusia. Lebih gelisah lagi jika ternyata riya’ nya tidak membuat orang memujinya dan menghormatinya
– di dunia ia capek berkreasi demi memamerkan amal ibadanya, capek dalam berkreasi menulis status dan capek berkreasi dalam ber-selfie- untuk meng-share pose ibadahnya. Apalagi yang nge-like- hanya sedikit.

 

Tips Melawan Riya’…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Orang yang terbiasa banyak ibadah biasanya lebih mudah menata hati untuk ikhlas meskipun dihadapan banyak orang. Yang jarang beribadah lebih rawan terkena riya tatkala beribadah dihadapan banyak orang.

Maka lawanlah riya dengan membiasakan diri banyak beribadah, karena dengan kebiasaan banyak beribadah akan muncul sikap cuek terhadap komentar orang lain.
Contoh : yang jarang berzikir atau baca quran di hadapan orang pada awalnya kawatir riya.

Tapi kalau sudah terbiasa dan berusaha melawan riya dan sering melakukannya maka timbul sikap cuek terhadap komentar orang tatkala sedang beribadah

Keutamaan Silaturahim…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Bismillahirrahmanirrahim,
Washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah,

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala, kita memasuki bagian ke 3 dari pembahasan keutamaan silaturahim.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu berkata: Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).”
(HR. Bukhari)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotifasi kita untuk menyambung silaturahim.

Ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjaran di akhirat tetapi juga duniawi, contohnya adalah menyambung silarurahim.

Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturhim dalam hadits ini yaitu dilapangkan rizikinya dan dipanjangkan umurnya.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.”

Ini adalah motifasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.

Oleh karenanya pendapat yang rajih di antara pendapat para ulama, bahwasanya barang siapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’ kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka maka hal itu tidak mengapa.

Karena Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barang siapa yang mau,” yang artinya: barang siapa yang berminat dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya,maka hendaknya menyambung silaturahim.

Ikwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala,

Makna dari dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur secara umum ada 2 pendapat di kalangan para ulama.

Pendapat pertama:

Menyatakan makna majasi, kiasan, karena rizki sudah tercatat dan juga umur tidak mungkin di ubah-ubah lagi.

Oleh karenanya maksud dilapangkan rizki adalah rizkinya diberkahi Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Meskipun rizkinya tidak berubah namun Allāh kasih keberkahan dengan banyaknya manfaat, membawa faidah, digunakan untuk beramal sholih, untuk hal-hal yang di cintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Demkian juga dengan maksud dari dipanjangakan umur, artinya umurnya tidak berubah, sessuai dengan yang ditakdirkan.

Akan tetapi Allāh berkahi umurnya, sehingga umurnya bisa dia gunakan untuk banyak kebaikkan, banyak beribadah atau dihindarkan dari sakit yang menggangu keberkahan umurnya sehingga waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang.

Karena pernah kita dapati seorang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya atau sebagian umurnya hilang sia-sia.

Pendapat yang kedua:

Dibawakan  kepada makna yang hakiki, yaitu benar-benar dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizkinya.

Kita tahu bahwasanya Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa merubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh Subhanahu wa Ta’ala:

يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS: Ar-Ra’d Ayat: 39)

Jadi, malaikat mungkin diperintahkan oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala untuk mencatat umur hamba, misalnya umurnya 60 tahun, kemudian karena hamba ini bersilaturahim maka Allāh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh mencatat umurnya menjadi 70 tahun, yang perubaham ini, yaitu  dari 60 menjadi 70, semua sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.

Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah,

Seakan -akan tertulis di Lauhul Mahfuzh dicatat oleh malaikat awalnya 60 th kemudian karena dia beramal sholih maka Allāh perintahkan menjadi 70 th.

Demikian juag dengan rizki, yang tadinya dicatat tertentu oleh malaikat dan karena dia bersilaturahim maka ditambah rizkinya oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala, dan semuanya telah tercatat  Lauhul Mahfuzh.

Dan Wallahu A’lam bi Showab, saya lebih condong dengan pendapat yang kedua.

Karena kenyataan yang ada silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki.

Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemnudian rizkinya ditambah-tamba oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala, berapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit.

Mungkin harusnya dia celaka tapi dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala sehingga bertambah umurnya.

Semoga Allāh  Subhanahu wa Ta’ala memberkahi harta kita dan umur kita dan semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahmi.

Courtesy: BIAS

Riya’

Ustadz Abdullah Roy, حفظه الله تعالى

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Riya’ adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allāh, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji.

Riya’ hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Riya’ adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ

“Allāh berkata: ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya’.” (HR. Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni oleh Allāh, artinya dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riya’ tersebut.

Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allāh, yang kalau Allāh menghendaki maka akan diampuni langsung dan kalau Allāh menghendaki maka akan diadzab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ لا ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ

“Sesungguhya Allāh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki.” (QS. An Nisā: 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka?

Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shaleh.

Mereka adalah orang yang:
① Mengajarkan Al Quran supaya dikatakan sebagai seorang qāri, seorang yang suka membaca, seorang yang mahir membaca.

② Dan juga orang yang berinfak supaya dikatakan dermawan.

③ Dan berjihad supaya dikatakan seorang pemberani.

Beramal bukan karena Allāh.

Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadits shahih.

Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam beramal dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga.

Para salaf kita, merekapun merasakan beratnya memperbaiki hati mereka.

Dan hanya kepada Allāh kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita dari riya’, sum’ah, ujub dan berbagai penyakit hati.

Dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh yang ke-20 ini. Dan sampai bertemu kembali pada halaqoh yang selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Courtesy : BIAS

Manusia Tuntunan & Tontonan…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Dalam kehidupan; setiap insan pastilah butuh kepada tuntunan; agar setiap derap langkah kehidupannya selalu berada di atas kebenaran.

Sungguhlah nista dan sengsara hidup orang orang yang lepas dari tuntunan. Bagi mereka kotoran bisa saja mereka jadikan perhiasan; dan kebenaran mereka anggap sebagai kesalahan; sehingga mereka memeranginya dengan segala cara.

Sebaliknya kesalahan akan terus mereka perjuangkan dengan segala cara. Semua itu akibat dari hilangnya tuntunan dari kehidupan.

Karena itu; orang yang berakal sehat pastilah mencari tuntunan dan mengikuti tuntunan karena dengan tuntunan mereka akan terpuji; selamat dari kenistaan dan hidup mulia. Bukan hanya mulia; bahkan pada saatnya nanti setiap sikap dan ucapan mereka dapat dijadikan sebagai tuntunan bagi orang lain yang sedang kehilangan tuntunan. Allah Ta’ala berfirman:

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Maka bertanyalah kepada ahluz zikri ( ulama) bila engkau tidak mengetahui. (( al anbiya’ 7))

Adapun orang orang yang telah kehilangan tuntunan apalagi sengaja mencampakkannya; maka setiap ucapan dan tingkahnya akan menjadi tontonan alias cibiran bagi orang lain.

Sungguhlah nista dan sengsara mereka yang telah terlepas dari tuntunan. Bagi mereka kotoran bisa saja mereka jadikan sebagai perhiasan; dan kebenaran mereka anggap sebagai kesalahan; sehingga mereka memeranginya dengan segala cara.

Sebaliknya kesalahan akan terus mereka perjuangkan dengan segala cara. Semua itu akibat dari hilangnya tuntunan dari kehidupan. Bagi mereka hanya ada satu harapan dan keinginan yaitu nafsu dan nafsu; sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firmannya:

فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث

Perumpamaan mereka bagaikan anjing yang bila engkau mengusirnya maka anjing itu menjulurkan lidahnya dan kalaupun engkau membiarkannya maka anjing itu juga tetap menjulurkan lidahnya. (( al aaraf 176))

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa anjing selalu menjulurkan lidahnya; karena adanya nafsu makan yang sangat besar. Demikian pula orang yang telah kehilangan tuntunan; hanya ada satu keinginan baginya yaitu memuaskan nafsunya dengan segala cara.

Orang orang seperti ini tidaklah pantas menjadi tuntunan namun sebaliknya biasanya masyarakat menjadikannya sebagai tontonan alias cibiran. Na’uzubillah min zaalika.

Menebar Cahaya Sunnah