Islam Nusantara & Islam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Menurut anda, Islam Nusantara sama atau berbeda dari Islam Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kalau sama, buat apa nama baru @Islam Nusantara@? karena ternyata sama dengan Islam Arab, karena beliau adalah orang arab.

Kalau beda, maka kelak surganya sama atau beda ya?

Nampaknya, yang jelas, Islam Arab akan satu surga dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sama-sama arab, al qur’annya arab, dan haditsnya juga arab.

Namun @Islam Nusantara@ kira kira kitabnya berbahasa apa ya?

Nama tuhannya, pakai bahasa arab atau bahasa nusantara ya? Nabinya juga pakai nama arab atau nusantara ya?

Dan, kata @Islam@ itu sendiri kira kira bahasa apa ya, arab atau nusantara?

Setahu saya, @Islam@ itu bahasa arab, seharusnya, kalau mau pakai @nusantara@ ya jangan pakai nama @Islam@ tapi pakai nama yang benar benar nusantara.

Jadi usulan saya, @Islam nusantara@ ndak pantas pakai nama agama @Islam@ tapi diganti agama @berserah diri nusantara@, tuhannya bernama @gusti@ dan nabinya bernama @Pujianto@ atau @Pujiono@.

Bagaimana anda setuju dengan usulan saya?

Buka Rumah Makan Baru…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Betapa sering ketika ada satu rumah /warung makan yang laris manis; segera di sekitar tempat tersebut berdiri rumah/warung makan serupa.

Menurut anda; salahkah mereka yang ikut serta mengais rejeki di dekat warung yang laris tersebut? Perlu diketahui bahwa mereka sebagaimana juga pemilik warung pertama; membuka usahanya di tempat sendiri; tanpa mengganggu siapapun ermasuk pemilik warung pertama.

Namun demikian; betapa sering pemilik warung pertama berang dan mulai unjuk taringnya kepada pemilik warung kedua atau ketiga. Alasannya sederhana; ia meyakini bahwa keberadaan warung kedua dan ketiga “mengurangi rejekinya” atau “mengurangi pelanggannya”.

Padahal urusan rejeki; sepenuhnya urusan Allah; masing masing telah mendapat kodrat rejekinya; tiada akan pernah berkurang atau direbut orang. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن روح القدس نلث في روعي أنها لن تموت نفس حتى تستوفي رزقها فأجملوا في الطلب خذوا الحلال ودعوا الحرام

“Sesungguhnya ruhul qudus ( Malaikat Jibril) telah membisikkan ke dalam jiwaku bahwa tiada pernah ada seorang jiwapun yang akan mati hingga ia telah mengenyam seluruh rizkinya. Karena itu bersikaplah yang baik dalam mencari rizkimu; tempuhlah jalan yang halal dan jauhilah jalan yang haram.” (Al Bazzar dan lainnya)

Walau demikian, tetap saja ada kekawatiran yang akhirnya memancing terjadinya persaingan yang tidak sehat dan sikap sikap yang tercela. Ada iri, dengki, hasad, dan perilaku melampaui batas dan bahkan kesengajaan untuk mengambil hak saudaranya dengan lancang. Itulah manusia; memang manusia dan lagi lagi manusia.

Kondisi serupa juga terjadi antara para pemuda atau para penyeru dakwah; kekawatiran kehilangan murid; pamor tersalip; popularitas surut dan lainnya kadang kala merusak hubungan. Muncullah iri; dengki; hasad, sombong dan perilaku buruk lainnya.

Padahal urusan hati dan hidayah sepenuhnya milik Allah; sebagaimana ditegaskan pada ayat berikut:

إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء

“Sesungguhnya engkau tiada kuasa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, namun Allah-lah yang kuasa memberi hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki.”

Demikian pula urusan derajat pangkat dan popularitas; semuanya adalah rahasia dan kuasa Allah, untuk apa diperebutkan? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اذا أحب الله العبد قال لجبريل عليه السلام إني أحببت فلانا فأحبه فيحبه جبريل ثم ينادي في اهل السماء إن الله تبارك وتعالى قد أحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء ثم يوضع له القبول في الأرض

“Bila Allah mencintai seorang hamba; maka segera Allah berfirman kepada malaikat Jibril alaihissalam: sesungguhnya Aku mencintai si fulan; maka cintailah dia; dan Jibrilpun segera mencintai orang itu. Selanjutnya malaikat Jibril berkata kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Mulia mencintai si fulan maka cintailah dia; segera seluruh penduduk langit mencintainya. Dan selanjutnya dijadikanlah orang itu menjadi orang yang selalu diterima di muka bumi.” (Ahmad dan lainnya)

Jadi untuk apa iri dan dengki; namun waspadalah bisa jadi keberadaan anda dianggap sebagai ancaman oleh orang lain.

Secantik Apapun Istrimu; Kalau Kentut Kau Pasti Tutup Hidung…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat; mencari istri cantik sah sah saja. Sebagaimana mencari istri sholehah itu adalah satu keniscayaan atas setiap insan. Dan mendapatkan istri cantik nan sholehah apalagi kaya raya itu adalah impian setiap pemuda.

Namun demikian; kalaupun anda telah berhasil mendapatkan istri cantik; sholehah dan kaya raya; tetap saja kalau dia kentut anda akan kebauan dan akhirnya tutup hidung. Dan bila dia sedang buang hajat alias kotoran; toh tetap saja anda tidak suka untuk melihatnya.

Bukan sekedar anda tidak suka untuk melihat atau menciumnya, anda pasti segera mengarahkannya agar menjauh ketika kentut dan buang hajat; dan juga segera membersihkan dirinya; agar kotoran itu tidak merusak keharmonisan hubungan anda. Mustahil anda berkata kepadanya: karena aku cinta maka tidak mengapa engkau kentut sebarangan dan kencing sembarangan dan tidak usah bersuci. Joroook dan menjijikkan bukan?

Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila anda sedang bermesraan dengan istri yang cuuuuuantik juuueelita, tiba tiba dia ngompol atau minimal kentut. Waaah bisa kacau tuh keharmonisan anda berdua; dan sejuta rayuan gombal andapun bisa buyar semua.

Tetapi; sebau apapun kentut dan kotoran istri anda; pastilah setelah semuanya hilang dan dibersihkan anda segera lengket kayak perangko; dan sejuta rayuan gombalpun segera mengalir deras kembali. Bukankah demikian sobat?

Sobat! Kondisi di atas hanyalah ilustrasi sederhana bagi kita semua dalam membangun hubungan sosial kemasyarakan dengan sesama ummat Islam yang dibangun di atas ukhuwah islamiyah.

Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; sebagaimana Allah Ta’ala tegaskan:

إنما المؤمنون إخوة

“Sejatinya sesama orang orang yang beriman adalah saling bersaudara.”

Sekuat apapun persaudaraan antara kita; bukan berarti kita buta; menutup mata dari segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Ukhuwah antara kita mengharuskan kita untuk saling mencintai dan membela.

Dan di saat yang sama bila saudara kita berbuat salah; dosa dan khilaf; baik dalam hal amalan; ucapan atau keyakinan; maka sepatutnya kita menegurnya agar segera membersihkan dirinya dengan istighfar dan taubat; sebagaimana yang kita lakukan kepada istri kita tercinta bila dirinya ternodai dengan kotoran atau najis.

Karen itu; pahamilah sobat bahwa teguran yang tulus dan santun sejatinya adalah implementasi dari kasih sayang dan ukhuwah. Demikianlah dahulu Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menjelaskan hubungan antara ukhuwah dan amar ma’atuf nahi mungkar, beliau bersabda:

انصر أخاك ظالما أو مظلوما. قالوا: يا رسول الله ننصره مظلوما فكيف ننصره ظالما؟قال: تكفه عن الظلم فذاك نصرك إياه.

“Tolonglah saudaramu; baik dia berbuat zholim atau dia dizholimi. Spontan para sahabat bertanya keheranan: wahai Rasulullah, kita menolongnya di saat ia dizholimi itu adalah wajar; namun bagaimana halnya kita menolongnya di saat ia berbuat zholim? Beliau menjawab: dengan cara engkau menghalanginya dari perbuatan zholimnya maka itulah bentuk pertolongan kepadNya.” (Bukhori; At Tirmizi dll)

Karena itu tidak sepatutnya anda risau dengan adanya teguran; nasehat; ingkar mungkar; bantahan yang terjadi sesama ummat islam dan juga para ulama’ selama itu semua dilakukan secara SANTUN; OBYEKTIF & TANPA PAMRIH alias LILLAH semata. Wallahu a’alam bisshawab; selamat mencari istri yang cuuuantik; sholehah dan kalau kentut baunya huuaaruuuum & kalau dapat segera kabari saya.

Sisi Lain Dalam Amalan Bid’ah Yang Sering Dilupakan…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

“Itu kan kebaikan, kenapa dilarang?!”… Inilah sanggahan yang sering kita dengar dari sebagian orang yang terjatuh dalam amalan bid’ah saat diingingatkan.

Sungguh, perkataan ini merupakan tanda kurang-tahunya dia tentang bid’ah.. Jika dia mengetahui hal-hal berikut, tentu ucapan itu tidak akan terlontar darinya.

1. Ranah bid’ah adalah ibadah, sehingga tidak mungkin terlihat sebagai keburukan… semua bid’ah tentunya terlihat baik, karena berupa ibadah yang dibuat-buat dan dimodivikasi sehingga terlihat mulia dan sangat pas.

2. Bid’ah bukan sekedar amalan yang tidak diterima… Tapi, dia merupakan DOSA yang harus ditinggalkan, sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam:

“Jauhilah hal-hal yang baru (dalam agama), karena semua perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah KESESATAN”. [HR. Abu Dawud:4607 dan yang lainnya, shahih].

3. Ketika bid’ah sudah biasa dilakukan, maka sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- akan dilihat sebagai sebuah kekurangan, bahkan suatu kemungkaran.

Diantara contohnya, adalah bersalam-salaman setelah shalat fardhu.

Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu tidak pernah bersalam-salaman setelah salam dari shalat fardhu… ini menunjukkan bahwa diantara sunnah nabi adalah tidak bersalam-salaman setelah shalat fardhu.

Nah, ketika bid’ah bersalam-salaman setelah shalat ini menjadi kebiasaan di suatu tempat, maka meninggalkannya akan dianggap suatu kekurangan, bahkan suatu kemungkaran.

Padahal dahulu Nabi -shollallohu alaihi wasallam- meninggalkan hal itu dan tidak melakukannya, pantaskah kita katakan bahwa amaliah Nabi itu kurang, atau bahkan suatu kemungkaran?!

Ulama besar dari madzhab syafi’i, Al-Izz bin Abdussalam (w 660 H) telah menegaskan:

“Bersalam-salaman setelah shalat subuh dan shalat ashar termasuk amalan BID’AH… Dahulu Nabi -shollallohu alaihi wasallam- setelah shalat; membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dan beristighfar tiga kali, kemudian beliau pergi…. Dan semua kebaikan ada dalam tindakan mengikuti Rosul shallallohu alaihi wasallam. (Oleh karenanya) Imam Syafi’i menganjurkan kepada imam untuk pergi setelah salamnya”. [Al-Fatawa, karya: Al-Izz bin Abdussalam, hal: 46-47].

Tidak bisa dipungkiri, bahwa orang yang sudah terbiasa bersalam-salaman setelah shalat fardhu, kemudian dia tidak melakukannya atau melihat orang lain tidak melakukannya, tentu dia merasa kurang afdhol, padahal justru itulah sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam… pantaskah sunnah Nabi dianggap kurang afdhol?! Atau pantaskah ajaran beliau dirasa ada yang kurang?!

Semoga bermanfaat…

Kisah Cerdiknya Seorang Pemuda Yang IKHLAS…

Ustaz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Yang menyaksikan kisah nyata ini berkata :
Suatu hari aku di Mekah, di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke dalam kereta barang maka akupun menuju tempat salah satu kashir untuk antri membayar.

Didepanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya dan dibelakang mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian.

Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kashir mengatakan, “Totalnya 145 real”. Lalu sang wanitapun memasukan tangannya ke tas kecil utk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 real dan beberapa lembar pecahan sepuluhan real. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan real miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpulah uang mereka 125 real.

Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, “Bu.., yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu..”.

Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 real di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat.

Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, “Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 real ini jatuh dari tas kecilmu…”.

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 realan tersebut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita.

Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kashir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kashir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, “Akhi…sebentar dulu…, aku ingin berbicara denganmu sebentar”.

Lalu aku bertanya kepadanya, “Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi ?”

Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya dan aku menenangkannya serta menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi.

Lalu iapun berkata, “Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kashir…, akan tetapi Robmu Allah Subhaanahu wa ta’aala telah mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu dihadapan kedua putrinya…

Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya-tanya lagi dan biarkan aku pergi”.

Aku berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (QS Al-Lail 5-7)

Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.

————-###————–

Perkataan “Seandainya…” Membuka Pintu Syaitan

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

tidak disenangi

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لَأَنْ أَعُضَّ عَلَى جَمْرَةٍ حَتَّى تَبْرُدَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُوْلَ لِشَيْءٍ قَدْ قَضَاهُ اللهُ : لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ

“Sungguh aku menggigit bara api hingga dingin lebih aku sukai daripada aku berkata kepada suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah : “Seandainya tidak terjadi”
(Az-Zuhd, Abu Dawud hal 128)

Dalam hadits :

فَإِنَّ لَو تَفتح عمل الشيطان

“Sesungguhnnya perkataan “seandainya” membuka amalan syaitan”

Diantara amalan syaitan :
– Menjadikan pengucapnya sekaan-akan protes terhadap keputusan dan takdir Allah, karena ucapan “seandainya” sering diucapkan tatkala terjadi apa yang tidak disukai

– Menjadikan pengucapnya hanya berangan-angan sesuatu yang mustahil, kata pepatah : “Air susu ibu yang sudah dikeluarkan tidak bisa dimasukan kembali”. Dan syaitan suka seseorang mengangan-angankan sesuatu yang mustahil sehingga terlalaikan dari cita-cita yang mungkin diraih. Mengembalikan masa lalu adalah perkara yang mustahil

– Menjadikan pengucapnya bersedih, dan diantara tujuan syaitan adalah menjadikan seorang mukmin bersedih agar ia futur dan terabaikan dari aktifitas-aktifitasnya yang bermanfaat, atau agar ia tidak bersemangat dalam beraktifitas.

Yang seharusnya diucapkan seorang mukmin tatkala mengalami sesuatu yang dibenci adalah “Qoddarollahu wa maa syaa-a fa’ala”
(ini sudah taqdir Allah, dan Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”

Mari semangat beraktifitas…, yang berlalu biarlah berlalu…, jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki yang ada dihadapan kita…

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah