1326. Mayyit Dimandikan Formalin Untuk Diberangkatkan Ke Lain Pulau

1326. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, bibi ana meninggal di Jakarta dan mau dipulangkan ke Sumatera dengan pesawat…tapi syarat disini harus di mandikan formalin untuk melewati prosedur karantina bandara. Jadi apakah boleh nanti sesampainya di sana di mandikan kembali oleh keluarganya ?

Jawab :
Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Boleh… yang sunnah adalah di kuburkan di daerah dimana ia meninggal.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Laknat Bagi Para Pendukung Riba…

Yang dilaknat bukanlah hanya para rentenir dalam transaksi riba. Namun setiap yang mendukung langsung dalam praktek riba, semuanya terkena laknat. Laknat itu berarti jauh dari rahmat Allah.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ada penegasan haramnya menjadi pencatat transaksi riba dan menjadi saksi transaksi tersebut. Juga ada faedah haramnya tolong-menolong dalam kebatilan.” (Syarh Shahih Muslim, 11: 23)

Rentenir kena laknat, nasabah yang meminjam riba pun kena, begitu pula pencatat dan yang menjadi saksi. Laknat sendiri berarti jauh dari rahmat Allah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama.

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, anugerahkanlah padaku yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan)

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…

Munafik Karena Tidak Shalat Jamaah di Masjid…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Ada yang disebut munafik karena tidak shalat jamaah di masjid. Kenapa bisa?

Simak bahasan berikut. Nasehat ini untuk para pria karena yang wajib shalat jama’ah adalah para pria.

Sifat shalat orang munafik disebutkan dalam ayat berikut ini,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’: 142).

Ada tiga sifat dari orang munafik yang bisa kita simpulkan dari ayat di atas:

  1. Shalatnya malas dan terus merasa berat.
  2. Riya’ dalam shalatnya.
  3. Hanya sedikit mengingat Allah.

Orang Munafik Shalat dalam Keadaan Malas dan Riya’

Sifat malas orang munafik itulah sifat yang nampak sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain,

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

Dan mereka tidaklah mengerjakan shalat melainkan dalam keadaan malas” (QS. At Taubah: 54).

Yang dimaksud mereka riya’ dengan shalatnya adalah mereka tidak ikhlas dalam bermunajat pada Allah. Mereka pura-pura baik saja di hadapan manusia. Oleh karenanya orang munafik secara umum tidak terlihat pada shalat Isya dan shalat Shubuh, di mana keadaan kedua shalat tersebut masih gelap. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan,

لَوْلا مَا فِى الْبُيُوتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالذُّرِّيَّةِ أَقَمْتُ صَلاَةَ الْعِشَاءِ وَأَمَرْتُ فِتْيَانِى يُحَرِّقُونَ مَا فِى الْبُيُوتِ بِالنَّارِ

Seandainya bukan karena ada wanita dan anak-anak, aku tentu akan menyuruh shalat Isya ditegakkan dan aku sendiri bersama dengan pemuda akan membakar rumah yang tidak datang ke masjid dengan api.” (HR. Ahmad 2: 367, dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih sedangkan sanad hadits ini dho’if karena adanya Abu Ma’syar)

Disebutkan dalam hadits yang dha’if, namun maknanya benar,

مَنْ أحْسَنَ الصَّلاَةَ حَيْثُ يَرَاهُ النَّاسُ، وَأَسَاءَهَا حَيْثُ يَخْلُوْ، فَتِلْكَ اِسْتِهَانَةٌ، اِسْتَهَانَ بِهَا رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Siapa yang memperbagus shalat ketika dilihat oleh orang, namun shalatnya rusak ketika tidak ada orang yang memperhatikan, maka itu termasuk menghinakan, yaitu ia termasuk merendahkan Allah dengan shalatnya.” (Dikeluarkan oleh Abu Ya’la dengan sanad dan matannya. Namun sanadnya dha’if karena adanya Ibrahim bin Muslim Al Hijriy. Lihat ta’liq Abu Ishaq Al Huwaini dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 243)

Orang Munafik Sedikit Mengingat Allah

Adapun orang munafik hanya sedikit mengingat Allah. Yang dimaksud adalah dalam shalat mereka, mereka tidaklah khusyu’, mereka tidak tahu apa yang mereka ucapkan dalam shalatnya. Bahkan dalam shalat, mereka benar-benar lalai. Mereka juga biasa berpaling dari kebaikan. Ini yang disebut oleh Ibnu Katsir mengenai maksud ayat di atas, disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 243.

Syaikh As Sa’di menyatakan kenapa orang munafik sampai bisa sedikit berdzikir pada Allah,

لاِمْتِلاَء ِقُلُوْبِهِمْ مِنَ الرِّيَاءِ، فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى وَمُلاَزَمَتَهُ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ مِنْ مُؤْمِنٍ مُمْتَلِئِ قَلْبَهُ بِمَحَبَّةِ اللهِ وَعَظَمَتِهِ

“Karena hati mereka sudah dipenuhi dengan riya’ (beramal hanya ingin cari pujian). Ingatlah bahwa dzikir pada Allah dan bisa terus konsisten dalam dzikir hanyalah ada pada orang beriman yang hatinya penuh dengan kecintaan dan pengagungan pada Allah.” (Tafsir As Sa’di, hal. 210).

Keadaan shalat orang munafik yang hanya mau sedikit saja mengingat Allah digambarkan dalam hadits berikut.

Dari Al ‘Alaa’ bin ‘Abdurrahman, bahwasanya ia pernah menemui Anas bin Malik di rumahnya di Bashroh ketika beliau selesai dari shalat Zhuhur. Rumah beliau berada di samping masjid.

Ketika Al Alaa’ bertemu dengan Anas, Anas bertanya, “Apakah kalian sudah shalat ‘Ashar?”

“Kami baru saja selesai dari shalat Zhuhur”, jawab Al ‘Alaa.

Anas memerintahkan mereka untuk shalat ‘Ashar. Setelah mereka shalat, Anas berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

Ini adalah shalat orang munafik. Ia duduk hingga matahari berada antara dua tanduk setan. Lalu ia mengerjakan shalat ‘Ashar empat raka’at. Ia hanyalah mengingat Allah dalam waktu yang sedikit.” (HR. Muslim no. 622).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa hanya meluangkan untuk berdzikir sesaat dan mepet dengan waktu berakhirnya ibadah. Shalat mereka pun dikerjakan dalam keadaan malas, dan mereka berat melaksanakannya.

Munafik Karena Tak Pernah Shalat Jama’ah di Masjid

Sifat shalat orang munafik lainnya disebutkan dalam perkataan para ulama berikut.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

“Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf.” (HR. Muslim no. 654).

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Seseorang yang meninggalkan shalat jama’ah menunjukkan akan beratnya dia menjalankan shalat. Ini pertanda bahwa hatinya terdapat sifat kemunafikan. Untuk lepas dari sifat tersebut, marilah menjaga shalat jama’ah.” (Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Maram, 3: 365)

Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyatakan,

كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الإِنْسَانَ فِي صَلاَةِ العِشَاءِ الآخِرَةِ وَالصُّبْحِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ

“Jika kami tidak melihat seseorang dalam shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh, maka kami mudah untuk suuzhon(berprasangka jelek) padanya” (HR. Ibnu Khuzaimah 2: 370 dan Al Hakim 1: 211, dengan sanad yang shahihsebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab. Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 365)

Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan,

كَفَى عَلَماً عَلَى النِّفَاقِ أَنْ يَكُوْنَ الرَّجُلُ جَارَ المسْجِد ، لاَ يُرَى فِيْهِ

“Cukup disebut seseorang memiliki tanda munafik jika ia adalah tetangga masjid namun tak pernah terlihat di masjid” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab 5: 458 dan Ma’alimus Sunan 1: 160. Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 365).

Itulah yang kita saksikan saat ini, banyak pria yang lalai dari shalat Jama’ah, lebih-lebih lagi shalat Shubuh. Ini semua disebabkan karena lemahnya iman, ada penyakit dalam hatinya, kurang semangat dalam melakukan ketaatan, berpaling dari Allah, dan lebih mendahulukan hawa nafsu daripada perintah Allah. Wallahul musta’an.

Wallahu waliyyut taufiq.

Juru Dakwah Bukanlah Orang Yang Ma’shum (Bersih Dari Dosa)…

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

طاعة ربها، ولو كان المؤمن لا يَعِظُ أخاه إلا بعد إحكام أمر نفسه، لَعُدِمَ الواعظون، وقلَّ المذكرون، ولما وجد من يدعو إلى الله – عز وجل – ويُرَغِّبَ في طاعته، وينهى عن معصيته، ولكن في اجتماع أهل البصائر، ومذاكرة المؤمنين بعضهم بعضا حياةٌ لقلوب المتقين، وادِّكارٌ من الغفلة، وأمان من النسيان، فالزموا- عافاكم الله- مجالس الذكر، فَرُبَّ كلمة مسموعة، ومُحتقرٍ نافع، ( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون ).”

» Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku senantiasa menasehati kalian, namun bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling sholih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya untuk melaksanakan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Jika sekiranya seorang muslim tidak memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang memotivasi untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari bermaksiat kepada-Nya.

Namun dengan berkumpulnya orang-orang yang berilmu dan beriman, sebagian mereka memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata  yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. (Allah berfirman)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian semua kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

(Lihat Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

(Klaten, 10 April 2015)

Negaraku Sedang Diadu Bak Domba…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat!

Dunia politik memang selalu berlika-liku, dan penuh dengan teka teki. Yang licik dan kejam maka sering kali berhasil sedangkan yang jujur, dan selalu lurus-lurus saja kerap kali menjadi korbannya.

Hiruk pikuk yang sedang melanda negri kita, bila dilihat secara kasat mata maka terkesan semuanya berjalan secara alami alias tanpa rekayasa. Namun bila direnungkan dengan baik, dan berbagai kejadian dikaitkan, niscaya anda dapat menarik satu benang merah yang melilit semuanya.

Kekacauan politik, sosial, budaya, dan lainya sejatinya adalah bagian dari skenario besar. Ada tangan tangan besar dan jahat sedang mengobok-obok negri kita agar menjadi keruh dan akhirnya mereka bisa memancing di air keruh tanpa ada yang bisa mengetahui atau melawannya. Nampaknya mereka sengaja membenturkan berbagai elemen dan kelompok yang ada di negri kita, agar mereka dengan leluasa bisa menjalankan setiap tahapan skenario mereka dan akhirnya mereka menjajah atau menguasai negri kita.

Berbagai elemen ummat Islam diadu, mereka dengan rajin dan gigihnya memainkan isu wahabi dan sunni, wahabi dan ormas ormas yang ada, berbagai tokoh disodok-sodok, media-media islam, sekolah sekolah Islam dan segala yang berbau islam disudutkan dengan berbagai isu radikalisme. Bahkan dengan jelas benang merah mulai mengarah pada membenturkan ummat Islam dengan pemerintah sendiri, TNI, Polri dan lainnya. Mahasiswa terus dipancing agar anarkis dan kembali turun ke jalan sehingga kondisi negara kita semakin keruh dan keruh. Pemblokiran beberapa situs islamy -menurut hemat saya- adalah salah satu upaya mereka untuk membenturkan ummat islam dan aktifis islam dengan pemerintah. Karena itu pesan saya kepada para pengelola situs tersebut agar bisa lebih bersabar dan menahan diri agar tidak berbenturan dengan pemerintah sendiri. Ingatlah bahwa anda semua sedang dijadikan alat untuk membenturkan ummat Islam dengan pemerintah kita sendiri.

Di sisi lain, kekuatan jahat yang ingin menjual negara ini dan juga ingin menguasai negara ini terus menjalankan setiap tahapan skenarionya tanpa terusik oleh “teriakan” atau “serangan” segelintir saudara saudara kita yang mulai menyadari rencana dan skenario mereka.

Sebagai contoh; lihatlah kelompok Vampire “syi’ah” terus membisu dan terus menyebarkan pahamnya tanpa peduli dengan “teriakan” ormas, atau tokoh atau siapapun. Dengan dukungan finansial yang mereka miliki, mereka mengerahkan “anjing-anjing herder” sewaan mereka untuk menggonggong dan menggonggong melawan setiap orang yang berusaha menghadang laju gerakan vampire “syi’ah”. Kelompok “vampire syi’ah” sengaja memilih anjing-anjing herder yang berasal/berbasis dari ummat Islam dan memiliki basis masa yang kuat, untuk mematahkan setiap upaya perlawanan ummat Islam dan bangsa Indonesia yang cinta kepada kebenaran dan bumi pertiwi. Adapun tokoh-tokoh “vampire syi’ah” terus diam dan menjalankan setiap tahapan skenario mereka dengan tenang dan teliti.

Karena itu, pada kesempatan ini saya mengingatkan saudara-saudaraku untuk membangun dan merajut persatuan ummat dan bangsa. Janganlah terperangkap dalam jerat musuh-musuh kita sehingga kita lemah karena terus berbenturan dan berkelahi dengan bangsa sendiri, saudara sendiri dan pemerintah sendiri.

Pada kondisi semacam ini betapa pentingnya kita mengingat firman Allah Ta’ala berikut:

وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan janganlah kalian berselisih sehingga akibatnya kalian ditimpa kegagalan dan hilanglah kekuatan kalian. Bersabarlah sejatinya Allah bersama orang-orang yang sabar. (Al Anfal 46)

Solusi yang paling tepat untuk kita tempuh pada kondisi yang penuh dengan carut marut ini ialah dengan melipat gandakan kesabaran dan perjuangan dalam menjernihkan suasana, menyerukan kebaikan. Percayalah kemenangan pasti menjadi milik hamba-hamba Allah yang beriman dan bertakwa.

Ya Allah, sejatinya musuh-musuh-Mu telah melancarkan segala tipu daya mereka, maka balaslah tipu daya mereka sejatinya Engkau adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya para penjahat. Amiin.

Agar Musibah Anda Berpahala.. Agar Kesedihan Anda Seakan Tiada

Seringkali seseorang sangat sedih ketika kehilangan uang, atau didenda, atau kecurian, atau dibegal, atau musibah lainnya…

Memang ini manusiawi, tapi alangkah ruginya bila kita tidak mendapatkan pahala darinya… Dan alangkah terobatinya hati ini bila dengannya kita mendapatkan pahala.

Dan itulah yang diinginkan oleh Agama Islam yang mulia ini, cobalah renungkan beberapa syariat berikut ini:

1. Dzikir saat musibah menimpa.

قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَل

“Ini adalah takdir Allah, apapun yang Dia kehendaki, pasti Dia lakukan.”

Ulangilah dzikir ini beberapa kali dan ingatkan diri Anda akan kandungan maknanya, hingga Anda benar-benar meresapinya.

Tidak lain, agar hati Anda rela dengan apa yang terjadi, karena itu adalah putusan Allah yang harus berjalan sesuai kehendakNya, dan Dia telah memberikan banyak kenikmatan di sepanjang hidup Anda.

Sungguh tidak ada pilihan yang lebih baik saat musibah menimpa, kecuali menjalankan dua syariat berikut ini:

2. Do’a saat tertimpa musibah.

اَللَّهُمَّ اأْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah berikanlah PAHALA kepadaku karena musibahku, dan berikanlah ganti untukku sesuatu yang lebih baik darinya”.

Alangkah pas dan baiknya doa ini, cobalah mengulang-ulangnya saat tertimpa musibah… sehingga doa Anda dikabulkan, dan Anda mendapatkan pahala, sekaligus ganti yang lebih baik dariNya.

3. Bersabar dalam menghadapinya.

Ini bukan berarti pasrah, namun menerima musibah tersebut dengan lapang dada, sembari melakukan perbaikan keadaan semampunya.

Ini juga akan mendatangkan pahala dan kebaikan, tentunya kita masih ingat sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan kenikmatan; dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan untuknya. Sebaliknya, bila dia tertimpa musibah, dia BERSABAR, maka itupun menjadi kebaikan untuknya.”

———

Sungguh, tiga syariat yang mendatangkan kebaikan untuk umat Islam saat musibah menimpa,
– mulai dari ketegaran jiwa,
– pahala yang akan kekal selamanya, dan
– ganti yang lebih baik saat di dunia.

Intinya, saat musibah menimpa… berdzikirlah, berdoalah, dan bersabarlah, sehingga kita mendapatkan kebaikan di akherat dan juga di dunia.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menuduh…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Ada seorang ibu ditanyai polisi..
Ngaji dimana..
Ustadnya siapa..
Setelah itu ibu ini menulis di jejaring sosial..
Bahwa ia di intogasi gara gara habis ngaji..

Hehe..
Padahal mungkin polisi itu merasa kagum..
Karena si ibu ini berjilbab..
Tapi itulah..
Hati sering diselimuti oleh suuzhan..
Lalu menuduh..

Kamu dan aku..
Suka nuduh orang lain tanpa bukti gak?..

Nih ada hadits..
Coba deh di renungi..

Siapa yang menuduh saudaranya dengan apa yang tidak ada padanya maka Allah akan menempatkannya dalam rodgoh al khobal (nanah dan darah penduduk neraka) sampai ia meyebutkan buktinya. HR Ahmad dll..

Ngeri ah..
Baiknya husnuzhan dulu..
Mending mikirin aib sendiri..
Dari pada mikirin aib orang lain..
Apalagi kalau sampai menuduh..

Menebar Cahaya Sunnah