Ayat Yang Paling “Menakutkan” Untuk Para Ulama…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Imamnya para ahli tafsir Ibnu Jarir Ath-Thobari rohimahulloh dalam tafsirnya (10/449) mengatakan:

Dahulu para ulama mengatakan: tidak ada dalam Alquran ayat yang lebih ‘menjelekkan’ para ulama dan lebih ‘menakutkan’ mereka, melebihi ayat ini, yakni firman Allah ta’ala:

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Mengapa para ULAMA dan para pendeta mereka TIDAK melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh AMAT buruk apa yang telah mereka lakukan itu”. [QS. Alma’idah: 63]

———-

Sungguh tindakan membiarkan kemungkaran adalah tindakan yang sangat buruk, bahkan mendatangkan LAKNAT para nabi [QS. Alma’idah: 78-79].

Sebaliknya mengingkari kemungkaran merupakan salah satu sebab umat ini menjadi umat yang TERBAIK. [QS. Alu Imron:110].

Oleh karena itu, bersemangatlah untuk bernahi mungkar, sebagaimana bersemangat dalam beramar ma’ruf…

Tentunya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing, dan dengan cara yang hikmah.

Semoga Allah memberikan taufiq kita semua dalam menjalankannya, amin.

Siapakah Harut Dan Marut…?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Pertanyaan:
‘Afwan, bukankah Harut dan Marut adalah nama dua malaikat?
Mohon penjelasan. Syukron.

Jawaban:
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhamamad, keluarga dan sahabatnya.

Karena ada beberapa teman yang mempertanyakan tentang tentang jati diri Harut dan Marut? Maka saya perlu untuk meluruskan penafsiran hal ini.

Benar, ada sebagian ulama’ beranggapan bahwa dua nama ini adalah nama kedua malaikat yang diturunkan ke bumi untuk diuji.

Kronologinya: Dahulu para Malaikat memperolok-olok dan merasa keheranan dengan tingkah laku umat manusia. Maka Allahpun membuktikan bahwa ulah manusia itu tidak ada yang perlu diherankan, sebab mereka hidup dibekali dengan hawa nafsu. Dan untuk semakin membuktikan akan hal itu, maka Allah meminta agar para malaikat memilih dua orang dari mereka yang hendak diuji dengan diberi hawa nafsu.

Maka merekapun memilih Harut dan Marut, doa malaikat yang paling rajin dan paling bertaqwa. Akan tetapi tatkala keduanya telah diberi hawa nafsu, dan diturunkan di muka bumi, maka keduanya membuat kerusakan seperti yang dilakukan oleh manusia.

Saudaraku! Perlu diketahui bahwa kisah ini TIDAK BENAR adanya, karena alasan berikut:

1. Kisah ini bersumber dari bani israil (israiliyat) sehingga tidak layak untuk diambil. Setelah Ibnu Katsir merinci berbagai riwayat yang menjadi dasar anggapan ini, beliau menyimpulkan: “Dari ini semua, terbukti bahwa kisah ini bersumber dari penuturan Ka’ab Al Ahbar, yang pada gilirannya ia menukilkannya dari kitab-kitab Bani Israil.”. (Tafsir Ibnu Katsir 1/355)

Pada kesempatan lain, beliau berkata : “Singkat kata, perincian cerita itu bersumberkan dari dongeng-dongeng Bani Israil, karena tidak pernah ada satupun hadits shahih dari Nabi Muhammad, yang memiliki sifat ma’shum (terlindung dari kesalahan) dan yang tidak berkata-kata atas dasar hawa nafsunya.’ (Tafsir Ibnu Katsir 1/360)

2. Malaikat adalah makhluq Allah yang taat dan patuh kepada Allah Ta’ala, sehingga tidak mungkin dan tidak masuk di akal bila ada oknum dari mereka yang mengajarkan ilmu sihir kepada manusia. Padahal kita semua tahu, bahwa ilmu sihir adalah kekufuran. Sehingga penafsiran ini nyata-nyata bertentangan dengan firman Allah Ta’ala pada surat Al A’araf 206, & Al Anbiya’ 26-27.

Terlebih-lebih menurut kisah-kisah Israiliyat yang ada, kedua malaikat yang diturunkan ke bumi itu ternyata adalah malaikat Jibril dan Mikail. Tentu ini adalah suatu hal aneh dan tidak dapat diterima nalar sehat.

Oleh karena itu, Ibnu Katsir dan juga lainnya menegaskan bahwa penafsiran yang benar dalam hal ini, Harut dan Marut adalah nama dua orang yang tinggal di negri Babil (Iraq). Keduanya mengajarkan sihir kepada masyarakat kala itu. Setelah usai menjelaskan maka ini, Ibnu Katsir berkata : “Inilah pernafsiran yang paling tepat  dan benar, karenanya tidak perlu merisaukan pendapat-pendapat lainnya.”  (tafsir Ibnu Katsir 1/351)

Wallahu Ta’ala a’alam

Di Manapun Kita Bershalawat Tetap Sampai…

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud no. 2042 dan Ahmad 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).

Mengenai hadits tentang sampainya shalawat pada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- disebutkan oleh Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

فَأَخْبَرَ أَنَّهُ يَسْمَعُ الصَّلَاةَ وَالسَّلَامَ مِنْ الْقَرِيبِ وَأَنَّهُ يَبْلُغُهُ ذَلِكَ مِنْ الْبَعِيدِ

“Hadits tersebut mengabarkan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendengar shalawat dan salam dari dekat, begitu pula yang jauh sekali pun.” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 147)

Di tempat lain dalam Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah berkata,

فَالصَّلَاةُ تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْبَعِيدِ كَمَا تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْقَرِيبِ

“Shalawat akan sampai kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- walau dari jauh sekali pun sebagaimana yang dari dekat pun sampai.” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 322)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengatakan,

فَمَا أَنْتَ وَرَجُلٌ بِالْأَنْدَلُسِ مِنْهُ إلَّا سَوَاءٌ

“Engkau dan orang yang berada di Andalus (di masa silam: Spanyol) itu sama (dalam sampainya shalawat).” (Majmu’ Al Fatawa, 1: 238)

Baca selengkapnya:
http://rumaysho.com/aqidah/meski-jauh-shalawat-tetap-sampai-pada-nabi-3059

Di Do’a-kan Malaikat, Mau ?

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang budiman, menjenguk orang sakit adalah amalan khusus yang bisa dilakukan seorang hamba sehingga malaikat mendoakannya,

Adakah saudara kita hari ini terbaring sakit, maka kunjungi dan jenguklah, senangkan dan hibur hatinya serta doakan kesembuhan untuknya, maka ini adalah amalan mulia dan bisa menjadi sebab malaikat mendoakan kita.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”

(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

Pernah Zholim Terhadap Orang Lain, Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Bila Tidak Sempat Minta Maaf ?

Pernah melakukan perbuatan/zholim terhadap orang lain. Ingin minta maaf namun tidak tahu dimana keberadaan orang tersebut. Apa yang sebaiknya dilakukan ?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Sakit Hati

Sakit hati..
mengapa terus dipelihara.. ?!
tidakkah anda segera mengobatinya..?!

Tidak seperti ketika sakit di badannya.. seringkali seseorang malah ‘memelihara’ sakit hatinya, padahal harusnya dia bisa segera mengobati lara hatinya itu, sebagaimana dia bisa segera mengobati sakit badannya.

Dan diantara OBAT pelipur lara hati yang PALING AMPUH adalah dengan MEMAAFKAN kesalahan orang yang menyakiti kita.. karena itulah sumber dan sebab utama sakitnya hati kita, oleh karenanya ketika sumber sakitnya sudah teratasi, maka tentunya sakit hati kita akan hilang dengan sendirinya.

Seringkali seseorang tidak mau, atau gengsi, atau merasa rugi untuk memaafkan orang lain, padahal sebenarnya dengan begitu dia akan rugi sendiri, karena hatinya akan sakit, tersiksa, dan TERBEBANI terus-menerus.

Seringkali seseorang TIDAK INGIN memaafkan kesalahan orang lain, kecuali bila orang tersebut yang meminta maaf kepadanya, padahal apakah dia akan melakukan hal yang sama saat badannya disakiti orang lain..?! Apakah dia mau menunggu hingga orang lain mau mengobati sakit di badannya..?! Tentunya tidak.

Maafkanlah kesalahan orang lain… karena dia sama sekali tidak akan mampu mengubah TAKDIR Anda..

Maafkanlah dia.. karena Allah menjanjikan pahala yang tiada tara kepada Anda:

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya itu Allah (yang menentukannya)” [QS. Asy-Syuro: 40].

Maafkanlah dia.. karena Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda:

“Maafkanlah, dan berlapang dadalah..! Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian..?!” [QS. Annur: 22].

Maafkanlah dia.. bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan Anda lebih tinggi darinya… Anda yang disalahi, bukan anda yang menyalahi..

Maafkanlah dia, agar sakit hati Anda segera hilang… Agar hati Anda menjadi lapang, ringan, dan bahagia..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah