Begitu Mudahnya Mengabaikan Larangan Allah…

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

Akhi Ukhti…

Tatkala engkau bekerja di sebuah instansi dengan gaji yang menggiyurkan

Ditambah fasilitas yang memuaskan, niscaya dirimu akan bekerja dengan penuh semangat

Peraturan yang dibuat oleh perusahaan akan kau patuhi walaupun terkadang  tidak sejalan dengan nafsumu

Apa hendak dikata, dirimu hanyalah pekerja atau pegawai

Larangan mengenakan baju warna putih akan kau ikuti

Kewajiban memakai seragam orange akan kau laksanakan

Potongan rambut harus nyepak, tidak boleh pakai sandal dsb

Semuanya kau patuhi, karena kau memang hanya pekerja… 

Dan pada hakekatnya kita adalah hamba pekerja Allah di muka Bumi ini

Allah memberikan segala  fasilitas kepada  kita

Mata, mulut, hidung, telinga, tangan, kaki, jantung, hati, ginjal, paru-paru dsb

Plus rizki yang tiada hentinya…

Namun di balik semua itu kita masih mengabaikan berbagai larangan Allah dalam kehidupan ini

Dengan berbagai dalih dan alasan…

Yang bila aturan itu dari atasan atau instansi tempat kita bekerja niscaya kita akan sami’na wa atha’na

Kita akan melaksanakan dan mematuhinya…

Salah satunya adalah masalah larangan melukis atau memahat makhluk hidup yang bernyawa, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani  rahimahullahu menerangkan bahwa pembuat gambar makhluk hidup mendapatkan cercaan yang keras dengan diberi ancaman berupa hukuman yang ia tidak akan sanggup memikulnya, karena mustahil baginya untuk meniupkan ruh pada gambar-gambar yang dibuatnya. Ancaman yang seperti ini lebih mengena untuk mencegah dan menghalangi orang dari berbuat demikian serta menghentikan pelakunya agar tidak terus melakukan perbuatan tersebut. Adapun orang yang membuat gambar makhluk bernyawa karena menghalalkan perbuatan tersebut maka ia akan kekal di dalam azab. (Fathul Bari, 10/484)

Pada hakekatnya yang halal itu banyak, tapi terkadang yang diharamkan itu nafsu manusia condong untuk melakukannya, dan itulah ujian kehidupannya ini, kalau yang dilarang tidak disukai manusia, seharusnya tidak usah dilarang, karena manusia secara naluri tidak menyukainya, dia akan meninggalkan perbuatan itu tanpa disuruh.

Dan di antara aturan islam, adalah larangan memajang gambar-gambar makhluk yang bernyawa di dalam rumah kita, sebagaian orang mungkin berkata, kenapa sih kok dilarang?

Ini rumahku, ini kamarku, aturannya adalah aturanku..

Ingatlah bahwa kita adalah hamba Allah..jadi aturannya adalah aturan yang menciptakan kita

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

”Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar makhluk hidup bernyawa)” (HR. Bukhari 3224 dan Muslim no.2106)

Dan di dalam Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah & beliau melarang untuk membuat gambar.”(HR. Tirmizi no.1749)

Kira-kira kalau bos di kantormu mengatakan, tak boleh pasang lukisan binatang di dalam ruang kerjamu… kira-kira apa yang akan kau lakukan?

Moga jadi bahan renungan

Selamat… Anda…

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

Akhi/Ukhti…
 
Bila kamu takut dari sesuatu, maka kamu akan berlari…
Berlari dan terus berlari meninggalkannya di belakang kamu
 
Tapi ada satu hal, yang kalau kamu terus berlari meninggalkannya
Dengan harapan meninggalkannya jauh dibelakang…
Ternyata yang kau kira sudah jauh, telah berada di depanmu
Apakah itu???
     
Kuburan…
 
Sudah tiada guna untuk terus berlari…
Secepat apapun larimu
Sekuat apapun tenagamu

Kuburan akan berada di depanmu

Maka sudahlah!
Berhenti berlari

Hadapilah yang kau takuti itu
 
Dan persiapkan diri

Akhi/Ukhti…
 
Kalau ada yang berkata kepadamu:

SELAMAT….

SELAMAT YAA

ANDA AKAN MATI…
 
Kiranya bagaimana tanggapan kita???
Marah?
Lemas?

Padahal itu adalah suatu kenyataaan,

Allah telah berfirman:
 
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
 
“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. 39:30)

Teman

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Teman..
lihatlah rumput ilalang yang bergoyang..
seakan membisikan pengalaman..
seraya berkata..
hidupku tak lepas dari terpaan angin..
terkadang aku merunduk..
terkadang pula meliuk liuk..
namun itu tak membuatku tersungkur..

Teman..
itulah kehidupan..
tak lepas dari aral yang melintang..
ujian dan cobaan silih berganti..
menyaring keimanan..
demikian Robb kita berfirman:
alif laam miim..
apakah manusia mengira akan dibiarkan berucap kami beriman sementara ia tidak diuji.. (al ankabut: 1)

Teman..
tidakkah kita ingin setegar batu karang..
yang selalu diterjang ombak samudra..
namun ia tegar tak bergeming..
seakan tersenyum anggun menuai kesabaran..

Teman..
sabar di dunia amat indah..
walau pahit dan getir terasa..
tapi ia sementara dan tak lama..
sedangkan sabar di neraka tak lagi berguna..
dalam masa yang amat panjang..
satu harinya sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia..
manakah kesabaran yang engkau pilih..

Teman..
sabarlah di atas jalan Rabbmu..
sabarlah tuk menaati Nabimu..
sampai kita berjumpa denganNya..
Nabi bersabda..
bersabarlah.. sampai berjumpa denganku di telaga haudl..

1298. Sistem Kerjasama Bisnis Yang Diperbolehkan Dalam Islam

1298. BBG Al Ilmu – 461

Tanya :
Ana lagi bangun usaha kontrakan, seminggu lagi selesai, tapi kekurangan dana 25 juta. Kalau ana tawarkan ke teman untuk ana ajak kerjasama invest 25 juta selama 6 bulan nanti hasil kontrakan perbulannya bagi dua, dan Uang 25 juta ana kembalikan dalam jangka waktu 6 bulan sesuai perjanjian, apa hukumnya ?

Jawab :
Ustadz Ali Hasan Bawazer, Lc, حفظه الله تعالى

Sistem kerjasama seperti yang ditanyakan BOLEH in-syaa Allah.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

SABAR Bukan Berati PASRAH

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Kesabaran hendaknya disertai usaha dengan tekad yang kuat. Allah berfirman :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Maka bersabarlah kamu seperti kesabaran para rasul ulul azmi.”(QS Al-Ahqoof : 35)

Allah mensifati para rasul yang sabar tersebut dengan “Ulul ‘azmi”, dan ‘azm dalam bahasa Arab artinya tekad yang kuat.

Nabi Nuuh ‘alaihis salaam salah satu dari para rasul ulul azmi, beliau sangat bersabar, bahkan orang terdekat beliau yaitu anak dan istrinya kafir kepada Allah, akan tetapi beliau tidak pasrah diam, bahkan beliau memiliki tekad (azam) yang kuat sehingga beliau berdakwah selama 950 tahun siang dan malam, bahkan beliau tetap berusaha mendakwahi anaknya hingga pada kesempatan yang terakhir, yaitu tatkala banjir telah meliputi bumi.

Karenanya jika anda bersabar bukan berarti pasrah dengan kondisi tanpa usaha :

Jika istri anda tidak sholihah maka jangan pasrah akan tetapi, bersabar, berdoa, dan terus berusaha mendakwahinya agar menjadi istri yang sholehah pada suatu hari…meskipun setelah bertahun-tahun. Sebaliknya juga jika anda seorang wanita yang memiliki seorang suami yang buruk agamanya….

Jika anda sakit parah, maka bersabarlah dengan berdoa disertai ikhtiar (usaha) berobat dengan cara yang halal agar Allah memberikan kesembuhan.

Jika terkena musibah maka bersabarlah akan tetapi disertai usaha untuk memperbaiki kondisi anda.

Jika rumah anda kemasukan maling maka bersabarlah akan tetapi tidak ada salahnya jika anda melaporkan ke pihak yang berwajib sebagai bentuk usaha dan ikhtiar.

Tiga Pokok Kesalahan

Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى

قال ابن القيم – رحمه الله – :
” أصول الخطايا كلها ثلاثة :
الكِبْرُ : وهو الذي صار إبليس إلى ما أصاره .
والحرص : وهو الذي أخرج آدم من الجنة .
والحسد : وهو الذي جر ابن آدم على أخيه .
فمن وقي شر هذه الثلاثة فقد وقي الشر فالكفر من الكبر والمعاصي من الحرص والبغي والظلم من الحسد ” .

» Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Pokok semua kesalahan ada tiga (yaitu):

(1)   Sombong. Hal inilah yang menjadikan Iblis seperti itu.

(2)   Rakus (Ambisi). Hal inilah yang menjadikan nabi Adam dikeluarkan (Allah) dari dalam Surga.

(3)   Iri dan dengki. Inilah yang menyebabkan putra Adam (Qobil) berbuat zholim terhadap saudaranya (yaitu membunuh Habil).

Maka barangsiapa dilindungi (Allah) dari keburukan tiga kesalahan tersebut, maka sungguh ia telah dilindungi dari segala keburukan.

Yang demikian ini karena :

* kekufuran itu terjadi disebabkan sifat sombong,

* perbuatan maksiat disebabkan sifat rakus (ambisi terhadap dunia), dan

* perbuatan zholim terjadi disebabkan sifat iri dan dengki.”

(Lihat kitab Al-Fawaaid hal.58).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari segala keburukan di dunia dan akhirat. Aamiin.

Tips Syar’i Agar Wajah Menjadi Lebih Tampan Dan Cantik

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

» Sebagian orang bijak mengatakan: “Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus, maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.” (Lihat Al-Muntakhob min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, Hal. 105).

Demikian Faedah ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah pada hari ini. Semaga bermanfaat.

Buruk Namun Indah – Sesi Tanya Jawab

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

* Adakah syarat-syarat nikah muda ?

* Bagaimana taubat dari pacaran yang dulu pernah dilakukan bagi orang yang telah menikah ?

* Mertua meninggal dengan meninggalkan hutang.

* Bolehkah kita memberikan zakat mal kita untuk melunasi hutang mertua tersebut ?

* Bagaimana menghadapi acara walimah keluarga yang ada musik dan campur baur, hadir atau tidak ?

* Mempelai wanita memberikan sejumlah harta kepada calon suami yang tidak mampu guna membayar mahar. Bolehkah ?

* Apa batas-batas berkomunikasi antara pria dan wanita selama masa taaruf hingga menjelang pernikahan ?
* Bagaimana menjelaskan kepada orang tua tentang adab-adab pernikahan yang syar’I ?

* Bolehkah menyarankan khulu’ kepada wanita yang dipoligami oleh suaminya ?

* Bagaimana cara menyampaikan status anak adopsi kepada sang anak ?

* Bagaiama teknis ijab qabul yang syar’I, apakah mempelai wanita harus hadir ?

* Apakah orang tua harus memeriksa detail profil dari calon mantunya?

* Apakah paman itu mahram bagi seorang wanita ?

* Syahwat sudah besar, tetapi orang tua masih belum mengizinkan menikah. Bagaimana solusinya?

* Bagaimana bulan madu yang syar’I ?

* Jika ada wanita anggota keluarga kita yang sudah berumur dan belum menikah, apa yang harus kita lakukan ?

* Orang tua belum menerima calon mantu karena kerjanya belum kerja kantoran. Bagaimana sikap kita ?

* Bolehkah menyembunyikan pernikahan dari keluarga ?

* Apa tanda-tanda wanita yang subur ?

* Bolehkah seorang suami memanggil istrinya dengan ummi untuk membahasakan anaknya ?

* Bolehkah membawa anak ke masjid dalam rangka pendidikan ?

* Bagaimana prosentase bakti seorang anak laki-laki kepada ibu setelah menikah ?

Simak jawaban Ust Syafiq bin Reza Basalamah.

Klik

http://salamdakwah.com/videos-detail/buruk-namun-indah.html

Tiga Induk Kemaksiatan

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Imam Ibnu Qoyyim rohimahullah berkata: “Induk semua kemaksiatan, baik yang besar ataupun yang kecil ada tiga, yaitu;

1. Keterikatan hati kepada selain Allah Ta’ala, yang tidak lain adalah syirik.

2. Menuruti dorongan emosi, yang tidak lain adalah zholim.

3. Menuruti kekuatan nafsu syahwat, yang tidak lain adalah berzina.

» Tujuan akhir keterikatan hati dengan selain Allah Ta’ala adalah syirik dan mengklaim ada tuhan baru selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

» Tujuan akhir menuruti dorongan emosi adalah membunuh.

» Dan tujuan akhir menuruti kekuatan nafsu syahwat adalah zina.
 
Oleh karenanya, Allah menyebutkan ketiga hal itu secara bersamaan di dalam firman-Nya berikut:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)”. (QS. Al-Furqoon: 68).
(Lihat Al-Fawaaid, hal.106).

Menebar Cahaya Sunnah