Manisnya Iman

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan ledzatnya memandang aurat wanita yang tidak halal baginya karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.

Sebaliknya barangsiapa yang memandang yang haram dengan meninggalkan rasa takut kepada Allah dan membuang rasa malu kepada Allah maka ia akan merasakan pahitnya kemaksiatan dalam hatinya…

Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang menundukan pandangannya di dunia nyata dan dunia maya….Aaamiin

Pahit, Namun Nyata, Karena Itu Anda Harus Waspada

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Cemburu adalah satu hal yang sering kali menjadi awal dari permasalahan. Bukan sekedar masalah kecil, namun bisa jadi masalah yang terus membesar dan akhirnya meledak karena terlalu besar.

Rumah tangga sering kali berantakan berawal dari cemburu yang tidak dikendalikan. Sahabat berbalik menjadi musuh juga sering terjadi akibat dari cemburu yang terus diikuti.

Demkianlah seterusnya, cemburu yang tidak disikapi dengan bijak dapat menjadi awal dari permasalahan. Kondisi ini menimpa setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk para ulama’, ustadz, dan da’i. Sesama mereka terjadi rasa cemburu yang harus diwaspadai dan dikendalikan. Bila tidak, niscaya terjadi permasalahan serius lalu berkembang liar kemana mana, dan akhirnya memakan korban, bukan hanya mereka namun menyeret seluruh murid dan pengikutnya.

Sahabat Ibnu Abbas mengutarakan fakta ini dan memberikan resep tepat dalam mensikapinya:

اسْتَمِعُوا عِلْمَ الْعُلَمَاءِ وَلَا تُصَدِّقُوا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمْ أَشَدُّ تَغَايُرًا مِنَ التِّيُوسِ فِي زُرُوبِهَا

“Timbalah ilmu dari para ulama’, namun janganlah engkau mempercayai ucapan mereka tentang kawannya sesama ulama’. Demi Allah Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kecemburuan antara mereka itu lebih parah dibandingkan kecemburuan antara domba-domba jantan yang disatukan dalam satu kandang. (jami’ bayanil ilmi wa fadhli oleh Ibnu Abdil Bar)

Fakta ini tentu terasa pahit, bahkan mungkin anda tidak percaya, namun demikianlah kenyataannya. Mungkin juga anda berkata: kok demikian, bukankah mereka itu berilmu, masak bisa terjerumuh ke dalam kecemburuan alias iri ?

Benar sobat, mereka berilmu lagi bertaqwa, namun tetap saja anda harus menyadari mereka adalah manusia biasa yang tetap saja harus menghadapi cobaan Allah dan godaan setan. Dan pada setiap cobaan dan godaan ada yang berhasil melaluinya dengan selamat namun ada pula yang terperosok.

Apapun yang terjadi pada mereka, namun tetap saja anda hanya mempertanggung jawabkan amalan anda, karena itulah kalau mereka terperosok dalam kesalahan bukan berarti anda harus ikut memerosokkan diri. Bersikaplah bijak, sebagaimana yang dipesankan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallallahu ‘anhuma, timba ilmunya, sedangkan berbagai hal yang berbau kecemburuan sesama para ulama’, ustadz, dan da’i sepatutnya anda abaikan dan serahkan sepenuhnya kepada Allah

SERIAL FIKIH ANEH LDII : Surat Pernyataan Taubat

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Diantara fikih aneh madzhab Imam Islam Jama’ah (atau sekarang yang berubah menjadi LDII) adalah pertaubatan “orang dalam” harus disaksikan oleh imam atau para wakilnya. Jika seorang anggota “orang dalam” melakukan dosa dan hendak bertaubat atas dosanya maka harus melalui prosedur yang telah diatur dalam undang-undang Ijtihad Islam Jam’aah yaitu melalui prosedur surat pernyataan taubat.

Surat taubat tersebut berbentuk blanko yang berisi daftar kesalahan dan dosa yang telah ia lakukan, yang diakhiri dengan kewajiban membayar kaffaroh atas dosa-dosa yang telah ia lakukan tersebut. Semakin banyak dosa atau semakin besar dosa yang ia lakukan maka semakin besar dan banyak pula nilai nominal kaffarohnya.

Sebagai contoh barang siapa yang bersalaman antara lelaki dan perempuan yang bukan mahrom maka ijtihad imam menyatakan bahwa sekali salaman nilai nominal kaffarohnya sebesar nilai nominal perangko kilat khusus standar Kantor Pos Indonesia. Sehingga jika harga perangko naik maka harga nominal kaffaroh juga naik.

Karena wajar jika setelah hari raya banyak kaffaroh yang harus dibayar, karena banyak anggota orang dalam yang bersalam-salaman dengan wanita yang bukan mahromnya.

Barangsiapa yang nonton di bioskop maka ijtihad imam menyatakan bahwa nilai nominal kaffarohnya adalah nilai nominal ongkos transport pp ke bioskop ditambah harga tiket bioskop film yang dia tonton ditambah nilai jajanan snack dan minuman yang dikonsumsi dalam acara nonton bioskop tersebut.

Selain itu juga ada kaffaroh dalam bentuk menjadi pekerja bangunan atau di ladang namun tidak diberi upah.

Tinjauan Hukum Syar’i

Taubat merupakan ibadah yang agung di sisi Allah, bahkan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat” (QS AL-Baqoroh : 222)

Taubat yang diterima oleh Allah adalah taubat yang memenuhi persyaratan taubat sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama;

– Meninggalkan dosa yang ia bertaubat darinya

– Menyesali dosa yang telah ia lakukan

– Bertekad untuk tidak kembali melakukan dosa tersebut

– Jika dosanya berkaitan dengan hak orang lain, maka ia harus mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya atau meminta dihalalkan.

Adapun taubat ala LDII maka ini merupakan taubat yang aneh yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya. Sungguh aneh LDII yang mengaku satu-satunya bersistem “mangkul”, entah mangkul dari mana sistem taubat yang ia buat.

Adapun kritikan terhadap sistem taubat LDII maka dari beberapa sisi :

Pertama : Sistem surat atau blanko taubat tersebut yang diajukan kepada pihak imam atau wakilnya mirip dengan sistem surat penebusan dosa yang dilakukan oleh pihak katolik dimana pelaku dosa datang menuju pastor lalu mengakui seluruh dosa-dosanya dihadapan pastor lalu membayar surat penebusan dosa kepada pihak gereja.

Kedua : Sistem ini mengajarkan agar pelaku dosa menjabarkan dosa-dosanya kepada orang lain, padahal Allah telah menutupi dosa-dosanya.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :

Baca selengkapnya disini:

http://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/791-serial-fikih-aneh-ldii-2-surat-pernyataan-taubat

Tahukah Anda…?

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Tahukah anda :
* satu-satunya negara yang sama sekali tidak ada perayaan natalan?
* satu-satunya negara yang tidak ada tempat penjualan bir apalagi lokalisasi perzinahan?
* satu-satunya negara yang jika telah dikumandangkan adzan maka toko-toko pun tutup?
* satu-satunya negara yang ditegakkan hukum had?
* satu-satunya negara yang memvonis hukuman mati bagi penyihir?

Tentu anda tahu jawabannya…
AKAN TETAPI…

Masih aja ada orang yang membenci negara tersebut…, bahkan mencari-cari kesalahan negara tersebut dan menutup mata dari kebaikan yang begitu banyak pada negara tersebut…, bahkan ada yang mengkafirkan negara tersebut….

Kesempurnaan hanyalah milik Allah…meskipun negara tersebut masih banyak kekurangan dan kesalahan akan tetapi ialah negara satu-satunya yang….yang…yang…. dst

Jika di zaman pemerintahan Utsman dan Ali bin Abi Tholib radiallahu ‘anhuma saja ada saja orang yang benci dan memberontak maka bagaimana dengan pemerintahan negera tersebut???!!

Manfaat Menanam Pohon Keikhlasan

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaa’id tatkala menjelaskan tentang Syajarotul Ikhlaash (Pohon Keikhlasan):

“Tahun itu bagaikan sebatang pohon, bulan-bulannya adalah dahan, hari-harinya adalah ranting, jam-jamnya adalah daun, dan nafas (detak jantung) adalah buahnya. Barangsiapa yang waktu-waktunya diisi dengan ketaatan, maka buah dari pohon yang ia miliki akan bagus. Akan tetapi barangsiapa yang waktu-waktunya dihabiskan dalam kemaksiatan maka pohonnya akan berbuah pahit.

Hanya saja untuk mengetahui buah mana yang manis atau pahit dapat diketahui pada musim panen ketika semua buah dipetik, yaitu pada hari yang dijanjikan (hari Kiamat). Ikhlas dan tauhid bagaikan sebatang pohon di dalam hati manusia, dahannya adalah amal perbuatan, sedang buahnya adalah kehidupan yang bahagia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat.

Sebagaimana pohon yang ada dalam surga yang terus berbuah, tak pernah berhenti, juga tidak terlarang diambil, buah dari pohon tauhid dan ikhlas di dunia ini demikian pula; tidak pernah terputus buahnya dan tidak pernah terlarang dicicipi.

Dan demikian pula Syirik, dusta, dan riya’ adalah pohon di dalam hati manusia. Buahnya di dunia ini adalah rasa takut, kegelisahan, kesempitan hati, dan gelapnya hati. Sedangkan buahnya di akhirat adalah zaqqum (makanan ahli neraka) dan azab yang kekal. Kedua pohon inilah yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an surat Ibrahim.” (Lihat Al-Fawaa’id, hal. 214)

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga kita semua semakin bertambah semangat dalam menanam dan memupuk pohon keikhlasan di dalam hati kita, dan bersungguh-sungguh dalam mencabut pohon syirik, riya’, dan dusta hingga ke akar-akarnya. Dan semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

(Klaten,7 Oktober 2014 M / 12 Dzulhijjah 1435 H)

Dimana Wanita Melaksanakan Sholat Gerhana ?

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Tanya :
Ustadz, berkaitan dengan sholat Gerhana yang dilaksanakan di masjid-masjid dan dihadiri kaum pria, bagaimana dengan wanita yang ingin melaksanakan sholat tersebut ? Bolehkah ikut sholat Gerhana di Masjid ?

Jawab :
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Boleh bagi wanita untuk ikut sholat gerhana berjama’ah di masjid jikalau tidak memberatkan dirinya, dan aman dari fitnah.

Jikalau ia sholat di rumah maka lebih baik, dan hendaknya banyak berdzikir dan berdo’a, serta mengajarkan tauhid kepada anak-anak nya.

والله أعلم بالصواب

SERIAL FIKIH ANEH LDII : Nikah Dalam (ND), Nikah Luar (NL)

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Nikah Dalam (ND) dan Nikah Luar (NL)

LDII membuat dikotomi dengan istilah orang luar (yaitu orang diluar jama’ah LDII) atau dinamakan dengan HUM (dari bahasa arab yang artinya “mereka”). Dan sebenarnya orang luar = orang kafir, akan tetapi mereka sengaja memilih istilah-istilah yang halus agar tidak ketahuan aqidah busuk pengkafiran mereka. Adapun orang anggota LDII diistilahkan dengan “orang dalam” atau JOKAM, atau orang jama’ah, atau orang iman, atau orang kita, atau mbah man, galipat (singkatan dari tiga lima empat)

Maksud dari fikih yang akan dibahas adalah berkaitan dengan pernikahan. Nikah Dalam atau ND artinya penghulu yang menikahkan harus dari orang dalam (LDII). Adapun Nikah Luar atau NL yaitu pernikahan secara resmi melalui KUA (Kantor Urusan Agama). NL dipahami tidak sah karena penghulunya orang luar atau bukan orang iman. Itulah sebabnya harus didahului ND.

Baca pembahasan diatas selengkapnya :

http://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/790-serial-fikih-aneh-ldii-1-nikah-dalam-nd-nikah-luar-nl

Anda Mengorbankan Sapi Sedangkan Mereka Mengorbankan Saudara Kita

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Hari hari ini, kita sibuk dengan urusan penyembelihan korban sapi, kambing atau onta Namun sadarkah anda bahwa di sisi lain dari belahan dunia kita, ummat-ummat lain juga sibuk dengan mengorbankan saudara saudara kita ummat islam. Tua muda, pria dan wanita mereka bantai tanpa kenal rasa iba.

Bila kita hari hari ini msibuk mengasah pisau untuk menyembelih hewan ternak dan memotong dagingnya, namun mereka sibuk membidikkan senapan dan senjatanya ke perkampungan ummat Islam.

Saudaraku! Masihkah anda dapat menikmati daging hewan korban anda, sedangkan di sisi lain dari bumi Allah, saudara kita terus bersimbah darah dan meregang nyawa?

Sampai kapankah anda dan tentunya juga saya hanya mampu menajamkan pisau sembelihan . Sungguh pilu dan memilukan kondisi yang sedang melilit kita; ummat Islam.

Saudaraku! Namun demkian, mungkinkah pisau kita bisa tajam dan senjata kita dapat kita arahkan kepada musuh musuh Allah, bila ternyata hati kita tumpul bila memandang orang kafir dan tajam bila memandang saudara sendiri sesama ummat Islam?

Mungkinkah kita bernyali untuk mengobarkan perlawanan fisik, bila ternyata mental, idiologi dan perilaku musuh-musuh Allah terus melekat pada diri kita?

Sobat! Sadarilah bahwa perjuangan dan perlawanan akan bermanfaat bila diawali dari perlawanan batin dengan membangun iman dan dilanjutkan dengan perlawanan lainnya.

Adapun bila yang kita lakukan sebaliknya, berteriak dan bergerak namun batinnya tidur nyenyak, pikiran hanyut dalam buaian budaya musuh, tentu semuanya akan sia-sia.

Simaklah resep manjur perjuangan yang diramukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tergambar pada hadits berikut ini:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Tidak lama lagi ummat-ummat lain akan berlomba lomba untuk mancabik cabik kalian bagaikan para penyantap hidangan yang sedang menikmati hidangannya. Spontan seorang sahabat bertanya: apakah semua itu terjadi karena kita berjumlah keci kala itu? Rasulullah menjawab: Bahkan sebaliknya, kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian tidak ada nilai/bobotnya bagaikan buih yang dibawa hanyut oleh banjir. Dan sungguh Allah benar-benar telah menghilangkan rasa takut kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian. Sebagaimana Allah juga mencampakkan penyakit al wahanu ke dalam jiwa kalian. Lagi-lagi ada seseorang yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan al wahanu? Beliau menjawab: cinta kepada urusan dunia dan benci/takut akan kematian.” (Abu Dawud dll).

Marilah, sobat momentum Iedul Adhha ini kita jadikan sebagai kilas balik bagi diri kita asah iman kita agar lebih tajam dibanding pisau sembelihan yang kita gunakan untuk menyebelih hewan kurban kita. Tidakkah kita ingat bagaimana iman dan semangat Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam yang begitu kuat sehingga beliau mampu mengorbankan segala sesuatu demi tegaknya agama Allah. Sampaipun ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra kesayangannya, yaitu Nabi Ismail alaihissalam, tanpa ragu sedikitpun beliau menjalankan perintah itu. Ini adalah salah satu hikmah yang semestinya kita petik dari semarak perayaan Iedul Adhha dan penyembelihan hewan kurban.

Sudahkah anda menyadari dan berusaha menanamkan semangat tersebut dalam diri anda dan juga dalam diri keluarga anda?

Menebar Cahaya Sunnah