Obat Kuat

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di berbagai tempat di negri kita tercinta ini, banyak ditawarkan obat kuat. Berbagai propaganda seputar obat kuat disebarkan.

Sobat! Izinkan saya bertanya: apakah yang pertama kali terbayang ketika anda membaca iklan obat kuat, atau berbicara tentang obat kuat?

Menurut pengalaman, kebanyakan orang membayangkan bahwa salah satu fungsi utama obat kuat ialah; anda menjadi super perkasa ketika di atas ranjang. Bukankah demikian?

Ketahuilah bahwa persepsi semacam ini sejatinya adalah pembodohan masal. Karena orang yang perkasa di atas ranjang bisa jadi lemah. Lemah mentalnya, lemah kepribadiannya dan lemah kesabarannya.

Orang yang nafsunya besar dan kuat sering kali adalah lemah, sehingga ia mudah ditundukkan dan dikalahkan.

Di saat nafsunya telah bergemuruh maka logika, iman, dan kesabaranya mulai luntur sehingga mudah hanyut dalam kesalahan demi menuruti nafsunya.

Sobat! Ketahuilah bahwa kekuatan yang sejati terletak pada kesabaran dan ketabahan anda.

Setiap kali anda kuasa dan tabah menahan nafsu dan hasrat, nafsu birahi, nafsu makan dan minum atau nafsu lainnya, maka saat itulah anda memiliki kekuatan.

ليس الشديد بالصرعة، ولكن الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب”

“Orang perkasa itu bukan karena ia kuasa menumbangkan orang lain. Namun orang perkasa adalah orang yang kuasa menahan dirinya di saat sedang emosi/marah. (Muttafaqun Alaih).

Latih diri anda untuk menahan emosi, nafsu dan hasrat diri anda, niscaya anda menjadi perkasa.

Karena kalau anda emosional dan buru-buru alias tergesa-gesa maka itu pertanda anda lemah, lemah syahwat, lemah kepribadian, lemah iman dan lemah fisik.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Yuk… Bersedekah, Seberapa Saja Kita Miliki

Ustadz Ferry Nasution, Lc, حفظه الله تعالى

Jangan lupa sedekah yang utama kita berikan kepada keluarga dekat kita dulu, baru kepada orang lain.

Perhatikanlah hadits berikut:

A. Sedekah dapat memadamkan murka ALLAH:

Dari muawiyah bin haydah  radhiyallahu ‘anhu,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

“Sedekah dengan rahasia (sembunyi) bisa memadamkan murka Allah” 
(Shahih At-Targhib, 888)

B. Sedekah Dapat menghapuskan kesalahan/dosa. 

Dari Ka’b bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sedekah bisa memadamkan dosa, sebagaimana air bisa memadamkan api. 
(Shahih At-Targhib, 866)

C. Sedekah dapat memadamkan panas kubur.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” 

(Silsilah As-Shahihah, 3484).

D. Dapat mengobati penyakit إِنْ شَاءَ اللّهُ

Dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Obati orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”
(Shahih At-Targhib, 744)

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Adab-Adab Dalam Safar/Pulang Kampung

Ustadz Ferry Nasution, Lc, حفظه الله تعالى

1. Mengikhlaskan Niat karena ALLAH.

2. Sungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban-kewajiban dari amal-amal ketaatan kepada ALLAH baik dalam perjalanan maupun ditempat / kota yang akan kita tuju..

3. Menjauhkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan, seperti ghibah, namimah dll dari perbuatan dosa & ma’siat.

4. Saling memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar kepada teman seperjalananmu dengan penuh hikmah & pengajaran yang baik.

5. Hendaklah berakhlak dengan akhlak yang mulia, seperti membantu orang yang membutuhkannya, memberikan ilmu (seandainya anda memiliki ilmu tentangnya) bagi mereka yang butuh untuk mendapatkan jawabannya didalam perjalanannya.

6. Sepatutnya bagimu untuk tetap berwajah yang menyenangkan (tersenyum), bergembira dihadapan teman perjalananmu yang demikian dpt melembutkan hatimu & hatinya.

7. Sepatutnya bagimu untuk tetap bersabar kepada teman perjalananmu apabila engkau mendapati temanmu tidak sesuai dengan pendapatmu dalam beberapa permasalahan. Dan hendaklah engkau menasehatinya dengan baik, saling menghormati dll.

8. Banyak berdoa kepada ALLAH.

9. Banyak berdzikir kepada ALLAH (seperti Dzikir pagi dan sore)

10. Membaca doa safar.
“Subhaanalladzi sakhkhara lanaa haadza wa maa kunnaa lahu muqriniin wa innaa ilaa Rabbinaa laamunqalibuun, ALLAHumma inna nasaluka fii safaarinaa hadzaa Albirra wat taqwa wa min amali maa tardhaa, ALLAHumma hawwin alaina safarinaa hadzaa wathwi ‘anna bu’dah, ALLAHumma anta shaahibu fiissafar, wa khalifati fiil ahli, ALLAHumma inni audzubika min wa’tsaaissafar, wa kaabatilmandzhar, wa suu’I’ll munqolabi fiilmaali wal ahli.

11. Doa musafir kepada yang mukim
أستود عكم الله الذي لا تضيع و دائعه.

“Astawdi–‘ukumullahal-ladzi Laa tadhii’u wadaa i’uhu”
(Saya titipkan kalian kepada Allah yang tidak pernah menyia-nyiakan segala titipan)

12. Doa orang yang mukim kepada musafir
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Astawdi–‘ullaha diinak, wa amaanatak, wa khowaatiima ‘amalik.”
(Saya titipkan pula kepada Allah agamamu, amanahmu, dan penghujung dari amal perbuatanmu)

13. Ber-TAKBIR-lah ketika melewati jalan mendaki & ber-TASBIH-lah ketika melewati jalan yang menurun.

14. Bersenang-senanglah dengan keluarga anda, buah hati anda dengan apa-apa yang diperbolehkan oleh syara’.

Bersyukur

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Bersyukur adalah memberikan pujian kepada yang memberikan karunia nikmat dari suatu kebajikan.

Syukurnya seorang hamba berkisar pada tiga rukun, yaitu :

** Mengakui pemberian nikmat secara bathin,
** Menyebut-nyebut puji dan syukur secara dhohir,
** Menggunakan nya pada jalan keta’atan.

Dengan ini kita simpulkan, bersyukur berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Hati mengakui akan adanya nikmat, lisan senantiasa memuja dan memuji, anggota badan menggunakan nikmat tersebut di jalan keta’atan.

Allah سبحانه وتعالى kaitkan syukur dengan iman dalam firman Nya, “Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha mengetahui.” QS An-Nisa’ 147.

Allah khabarkan bahwa hamba yang bersyukur merekalah orang-orang yang khusus diberikan karunia kenikmatan, sebagaimana firman Nya, “Demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata,” Orang orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugrah olih Allah ? “, Maka Allah berkata ” Bukankah Allah lebih mengetahui tentang hamba-hamba Nya yang bersyukur kepada Nya ?”. QS Al-An’am 53.

Allah membagi manusia ada dua jenis :
** Bersyukur dan
** Kafir

Sebagaimana firman Nya, “Sungguh, Kami telah menunjukkan kepada manusia jalan yang lurus, akan tetapi diantara mereka ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” QS Al-Insan 3.

Dan Allah memberikan ancaman kepada mereka yang kafir, Allah berfirman ,” Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengumandangkan ” Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat kepadamu, tapi bila kalian kufur dan mengingkari nikmat-Ku, maka pastilah adzabKu amat sangat keras “. QS Ibrahim 7.

Jangan Salahkan Islam

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Jangan salahkan Islam, bila Anda setengah-setengah dalam menjalankannya.

1. Menjauhi jimat adalah kebaikan dan keharusan, tapi bila Anda tidak baca dzikir pagi dan sore, maka Anda seperti orang yang perang tanpa senjata dan pelindung, sehingga Anda rentan terkena serangan lawan.

2. Menjauhi riba dan bisnis haram adalah kebaikan dan keharusan, namun tanpa doa, giat, dan tekun dalam usaha yang halal, maka Anda bagai burung yang diam tapi mengharap perutnya kenyang. Dan itu akan menjadikan dunia Anda semakin terpuruk.

3. Meninggalkan musik adalah kebaikan dan keharusan, namun tanpa banyak dzikir; jangan harap hati Anda akan tenang dan bahagia.

Dan tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya.

Intinya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah Islam secara kaffah (total), jangan kalian ikuti jejak-jejak setan, sungguh dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” [Al-Baqoroh: 208]

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Hebat! Pengemis Saja Berbahasa Inggris.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Suatu hari ada teman yang bercerita dengan ekspresi serius dan meyakinkan: ” masyaAllah ada satu daerah yang tingkat pendidikannya sangat maju, sampai-sampai para pengemis dan pemulungnya gengsi berbahasa jawa apalagi indonesia, mereka lebih memilih untuk berbahasa inggris yang begitu lancar dan fasih.

Tak ayal lagi ceritanya tersebut behasil menyita rasa penasaran saya, dan segera saya bertanya: waah hebat sekali, dimanakah itu ?

Kawan saya menjawab: ya di inggris.

Heeeeh kecewa banget deh, la kalau di inggris ngemisnya pakai bahasa jawa malah aneh atau mungkin nampak hebat, apalagi bila pengemisnya wong inggris.

Di inggris pengemisnys wong inggris wajar, akan menjadi aneh dan menggemparkan bila di inggris ada wong jowo yang menjadi pengemis.

Kisah di atas sama bodoh nya dengan celotehan sebagian orang yang di musim kampanye atau pilkada dan pilpres :
“Muslim Juga Korupsi, Mendingan KAFIR namun tidak korupsi”.

Sobat, betapa pandir dan bodoh ya celotehan di atas, betapa tidak: sebagai konsekwensi dari tinggal di negri dengan penduduk muslim , ialah semua pelaku kebaikan ataupun kejahatan ya tentu saja dari ummat islam.

Minoritas biasanya takut dan ekstra waspada karena Kalau sampai berbuat salah maka akan mendapat tekanan dan tindakan yang menjadikannya jera. Berbeda dengan mayoritas, biasanya hanyut dalam kelalaian sehingga berleha-Leha atau merasa aman alias ceroboh.

Celotehan : mendingan kafir asal adil dibanding muslim namun korupsi adalah cerminan dari lemahnya mental dan runtuhnya iman.

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Tiada mungkin engkau temukan orang orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir bermesraan/loyal kepada orang orang yang menentang Allah dan Rasul-nya.” (Al Mujadilah 22)

Celotehan di atas mencerminkan kebodohan pelakuny sehingga menjadikannya mencibirkan jasa berjuta juta ummat islam yang telah berjasa memerdekakan dan membangun negri ini.

Mereka silau dengan sikap heroik segelintir oknum dari orang kafir, namun mengingkari dan melalaikan jasa berjuta juta ummat islam.

Ya Allah lindungilah kami dari sikap pandir semacam di atas.

Islam

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

SLAM agama yang MUDAH akan tetapi bukan agama yang dimudah-mudahkan. Karenanya…
Islam tidak suka kekerasan ‘ala kaum Khawarij…

Islam menolak tata cara ibadah yang berlebih-lebihan dan sulit ‘ala kaum ekstrim sufi…yang memperburuk citra di mata dunia.

Akan tetapi….
Islam juga menolak fleksibilitas kaum liberal yang “tanpa batas dan kendali” yang menghilangkan keislaman Islam…, Islam juga anti sekularisme yang ingin membuang Islam dari aspk-aspek dunia

ISLAM agama yang sesuai akal sehat….akan tetapi bukan agama yang diakal-akalin…atau ditolak karena akal seorang yang merasa berakal akan tetapi pada hakekatnya tidak berakal…

ISLAM agama yang menenangkan perasaan pemeluknya…akan tetapi Islam tidak disetir oleh perasaan seseorang…., perasaan seorang sufi…perasaan seorang penyanyi dan artis…, perasaan seorang seniman…
ISLAM yang benar adalah Islam yang sesuai dengan kehendak Allah dan RasulNya.

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ، عَلَى مُرَادِ اللهِ، وَآمَنْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وبِما جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَى مُرَادِ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah sesuai dengan kehendak Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dibawa oleh beliau sesuai dengan kehendak Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Zakat Fitrah Itu Hendaknya 3 KG Bukan Cuma 2,5 KG

Ustadz Abu Riyadl, Lc حفظه الله تعالى

Jika pakai liter maka 3,5 liter bukan seperti yang beredar hanya 3 liter.

Menurut jumhur ulama madzab rata-rata mereka 2.75 kg atau hampir 3 kg.

Adapun abu hanifah malah 3,8 kg

Maka jalan tengah adalah minimal zakat fitrah 3 kg.

Didukung oleh fatwa lajnah daimah no 12572, dan MUI Jatim juga menganjurkan untuk zakat fitrah 3 KG.

Semoga zakat fitrah kita tidak kurang takarannya..

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Menafkahi Anak Dan Istrinya Merupakan Ibadah Yang Berpahala

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA, حفظه الله تعالى

» Dari Sa’ad bin Abu Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia memberitahukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ .

Artinya: “Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah (ridho-Nya), melainkan engkau diberi pahala karenanya, sampai pun apa yg engkau berikan ke mulut isterimu (juga akan diberi pahala oleh Allah, pent).” (Hadits SHOHIH. Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari (no. 1295) & Muslim (no. 1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu).

BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH DARI HADITS INI:

1. Memberi nafkah kepada keluarga (anak dan isteri) adalah kewajiban di pundak seorang ayah atau suami.

» Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (artinya):
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “…Dan kewajiban ayah menanggung nafkah & pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.”. (QS. Al-Baqarah: 233).

2. Menerima nafkah dari seorang suami tidaklah merendahkan martabat seorang istri karena memang ia berhak mendapatkan nafkah tsb atas tugas dan pekerjaannya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak di dlm rumah secara khusus.

3. Setiap suami dan istri berkewajiban menjalankan tugas-tugasnya, dan masing-masing dari mereka akan mendapatkan pahala dari Allah atas pekerjaan n tugasnya itu.

4. Berbuat baik kepada istri dan anak-anak dengan harta, perkataan n perbuatan merupakan ibadah yg berpahala jika benar-benar dilandasi dengan niat yg baik n ikhlas karena mengharap ridho Allah Ta’ala semata.

5. Niat yg baik dan ikhlas karena Allah semata dapat merubah segala aktifitas dan rutinitas sehari-hari yg bersifat wajib spt mencari nafkah, ataupun yg berfisat mubah spt makan, minum, berpakaian, tidur, mandi dsb menjadi ibadah yg berpahala.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh sesuai dgn apa yg diniatkannya.” (HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim).

» Dan juga berdasarkan hadits shohih dari Abu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ ».

Artinya: “Apabila seorang lelaki (ayah atau suami) menafkahi keluarganya dengan niat mencari pahala (dari Allah), maka nafkahnya itu dihitung sebagai shodaqoh baginya.” (Hadits SHOHIH. Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari no.55, dan Muslim no.1002).

» Dan juga berdasarkan hadits shohih di atas dari Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallahu anhu.

6. Seseorang akan diberi pahala oleh Allah atas pemberian nafkahnya kpd anak n istrinya dengan syarat profesi dan penghasilannya adalah HALAL n BAIK menurut syari’at Islam. Sebab, jika profesi dan penghasilannya haram, maka apapun yg ia infakkan darinya tidak akan diterima n diberi pahala oleh Allah, karena Allah hanya menerima ibadah yg ikhlas dan infaq yg dikeluarkan dari harta yg halal.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah itu Dzat yg Maha Baik (suci), Dia tidak menerima apapun kecuali yg baik (suci) saja.” (HR. Muslim).

7. Nafkah berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan n modal usaha yg berasal dari profesi atau penghasilan yg haram dapat memberikan pengaruh buruk n bahaya besar bagi pemberi dan penerima, diantaranya:

1) Menumbuhkan perilaku yg buruk pada anak n istri.

Seorang ulama salafus sholih berkata: “Aku pernah berbuat dosa n maksiat kpd Allah, maka aku dapatkan pengaruh buruknya ada pada perilaku keluargaku n hewan tungganganku.”

2) Badan yg tumbuh dari makanan n minuman yg haram sangat pantas dibakar di dalam api Neraka.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّهُ لاَ يَرْبُوْ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Artinya: “Sesungguhnya tidaklah tumbuh berkembang daging (badan) dari makanan yang haram melainkan api Neraka yang lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 614).

3) Menyebabkan Doa tertolak dan tidak dikabulkan oleh Allah.

4) Profesi dan penghasilan yg haram dapat Menyebabkan hati menjadi keras dan berkarat. (QS. Al-Muthoffifin: 14).

5) Profesi dan penghasilan yg haram akan menghilangkan keberkahan umur, rezeki, ilmu, amal dan keluarga.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah memusnahkan (harta hasil) RIBA, dan mengembangkan (harta) yg disedekahkan.” (QS. Al-Baqarah).

Demikian penjelasan singkat utk hadits shohih ini. Smg bermanfaat. (Klaten, 19 Juli 2014 / 20 Romadhon 1435 H).

1212. Sholat Tarawih Dan Witir 12 Raka’at Karena Imam Lupa

1212. BBG Al Ilmu – 473

Tanya: Tadi ana tarawih, imamnya lupa kalau tadi tarawih 3 Raka’at, seharusnya 2 raka’at, Apakah boleh di saat sholat sunnah ini kita mengucapkan “subhanallah” untuk mengingatkan imam ? Bagaimana dengan kami semua yang ikut dibelakang imam ? Karena total raka’at tadi semua jadnya 12 Rakat (sudah dengan witir) … 2,3,2,2 witir 3 raka’at.

Jawab:
Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Yang sesuai dengan Tuntunan syari jika seorang imam sholat berjama’ah keliru dan lupa dalam gerakan atau bilangan roka’at, maka hendaknya makmum laki-laki mengingatkannya dengan ucapan “سُبْحَانَ اللّهِ” , sedangkan makmum wanita mengingatkan imamnya degan tepuk tangan. Hal ini sama saja, apakah kelupaan atau kekeliruan tersebut terjadi di dalam sholat fardhu maupun sholat sunnah seperti sholat Tarawih.

Jika imam sholat sudah diingatkan dan diberitahu bahwa sholat Tarawihnya kelebihan jumlah roka’atnya, maka hendaknya imam melakukan sujud sahwi dan diikuti oleh makmum / jama’ah sholat. Namun, jika imam sholat tidak melakukan sujud sahwi, maka makmum tidak dianjurkan sujud sahwi sendiri. Sebab, kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dalam sholat berjam’ah ditanggung oleh imamnya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah