Al Haq Itu Berat…

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata:

الحق ثقيل مريء، والباطل خفيف وبيء، ورُبَّ شهوة تورث حزنًا طويلاً.

“Al haq itu berat dan nikmat, kebatilan itu ringan membawa derita, berapa banyak syahwat yang mewariskan kesedihan yang panjang.”

(mawa’idz shohabah)

– – – – – •(*)•- – – – –

Iih Pelitnya, Amit-Amit!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku!
Apakah anda rajin membaca Al Qur’an, terutama di bulan suci ini? Atau mungkin juga anda telah rajin menghadiri pengajian, sehingga telah banyak menguasai ilmu agama?
Mungkin jawaban anda: Wah kurang tahu ya, apakah saya telah tergolong yang banyak membaca Al Qur’an, atau bukan?!. Dan saya juga bingung, apakah saya telah berhasil mendapatkan ilmu agama yang cukup banyak dari pengajian-pengajian yang saya hadiri atau belum?

Anda ingin mengetahui posisi diri anda dalam dua hal tersebut?
Tenang saudaraku tidak usah bingung, tidak sulit kok mengetahui posisi anda. Anda penasaran ingin mengetahuinya? Mudah saudaraku, renungkan hadits berikut dengan baik, niscaya anda dapat mengetahui posisi anda dalam dua hal tersebut di atas.

عَنِ ابْنِ عَبَّاس قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه

“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas , ia mengisahkan: “Dahulu Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi membaca Al Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar Al Asqalaani menjelaskan bahwa kedermawanan dalam syari’at adalah memberi sesuatu yang pantas/layak kepada yang pantas/layak menerimanya. Dengan demikian, kedermawanan lebih luas cakupannya dibanding sedekah. (Fathul Bari 1/31)

Saudaraku! Kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan terutama setelah bertadarus Al Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihissalam mencapai puncaknya. Tahukah anda, apa sebabnya kedermawanan beliau berubah mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan?

Bukankah pada bulan ini produktifitas seseorang berkurang, sehingga kemungkinan besar penghasilannyapun berkurang?

Bukankah pada bulan ini kita berpuasa sehingga lapar dan haus, akibatnya kitapun semakin berambisi untuk menguasai dan menikmati seluruh makanan dan minuman yang kita miliki? Coba antum ingat-ingat kembali apa yang anda lakukan ketika persiapan berbuka? Rasanya, seluruh hidangan yang tersedia di meja makan hendak disantap seorang diri. Bukankah demikian?

Para ulama’ menjelaskan hikmah perubahan kedermawanan Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ramadhan, terlebih-lebih seusai bertadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Dijelaskan bahwa membaca Al Qur’an dan memahami kandungannya mendorong beliau untuk semakin merasa kecukupan, dan terbebas dari sifat tamak. Dan perasaan kecukupan semacam inilah yang mendasari setiap kedermawanan. Ditambah lagi pada bulan Ramadhan karunia Allah kepada umat manusia berlipat ganda, karenanya beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senang untuk meneladani sunnatullah dengan melipat gandakan kedermawanan beliau.

Dengan bersatunya beberapa hal di atas, keutamaan waktu ditambah perjumpaan dengan Malaikat Jibril bersatu padu dalam diri beliau sehingga kedermawanan beliau berlipat ganda. (Fathul Bari 1/31)
Anda ingin mengetahui sejauh mana kedermawanan beliau? Berikut adalah salah satu contohnya:

عن أنس قال: جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ.

“Sahabat Anas mengisahkan: “Pada suatu hari ada seseorang yang datang menemui Rasulullah , lalu beliau memberinya hadiah berupa kambing sebanyak satu lembah. Spontan lelaki itu berlari menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, hendaknya kalian semua segera masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang sangat besar, seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” (Riwayat Muslim)

Saduaraku! Coba saudara kembali membaca hadits di atas.
Pada hadits itu kedermawanan beliau digambarkan lebih baik dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus. Ini adalah pertanda bahwa kedermawanan beliau tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, akan tetapi dapat dirasakan oleh seluruh orang, tanpa ada perbedaan, walaupun diantara mereka ada perbedaan martabat, kekerabatan atau lainnya. Sebagaimana ini sebagai isyarat bahwa kedermawanan beliau terus mengalir dan tidak pernah terhenti.

Nah, sekarang anda sudah mengetahui apakah anda telah banyak membaca Al Qur’an dan telah banyak mendapatkan ilmu agama?

Ketahuilah saudaraku! bila bacaan Al Qur’an dan pengajian yang anda hadiri memotivasi anda untuk semakin bersikap dermawan, berarti anda termasuk orang yang benar-benar rajin membaca Al Qur’an dan telah berhasil menguasai ilmu agama. Sebaliknya, bila bacaan Al Qur’an anda dan juga pengajian anda di hadapan para ustad dan juru ceramah tidak menjadikan anda bersikap dermawan, maka bacaan Al Qur’an anda dan pengajian anda perlu dikoreksi ulang.

Al Qur’an dan ilmu agama senantiasa menuntun anda untuk bertambah iman kepada Allah Ta’ala dan janji-janji-Nya kepada orang yang berlaku dermawan. Ilmu anda membimbing anda untuk semakin beriman bahwa setiap uluran tangan anda kepada orang lain pasti mendapatkan gantinya dari Allah.

(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.)

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun padanya, kemudian salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah orang yang berinfaq pengganti, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfaq) kehancuran.” (Muttafaqun ‘alaih).

Saudaraku! Bagaimanakah dengan diri anda di bulan suci ini, apakah anda semakin bertambah dermawan atau sebaliknya? Hanya anda yang mengetahui jawaban pertanyaan ini, karenanya buktikan pada diri anda bahwa anda pada bulan suci ini juga bertambah dermawan.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita pada bulan suci ini termasuk orang-orang terbukti bersifat dermawan. Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Sampai Dimanakah Anda Hari Ini ?

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Akhi Ukhti

Alhamdulillah udah masuk hari keenam

Seharusnya hari ini paling tidak kita sudah berada di Juz ke 6

Ingatlah…

Hari-hari akan berlari meninggalkan kita

Semua harta benda yang dikumpulkan juga akan ditinggalkan

Namun Qur’an yang kita baca akan tetap menemani kita bahkan dia akan membantu Kita.

Perbanyaklah bacaan Qur’anmu

Al Aswad Bin Yazid seorang Tabi’in disebutkan bahwa bila masuk Ramadhan dia menghatamkan Qur’an setiap Dua Malam

Kita berapa?

Masih ada waktu…
Jangan disia-siakan…

PILIHLAH DARI DUNIA INI YANG TETAP AKAN BERSAMAMU KETIKA SEMUANYA MENGECEWAKANMU DAN MELUPAKANMU

تقبل الله صيامكم واعمالكم الصالحة

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Amalan Penebus Dosa : Edisi Doa Setelah Makan

Ustadz Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى

Dari Mu’adz bin Anas, bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang memakan makanan lalu ia mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنىِ هَذَا الطَّعَامَ وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِّنىِّ وَ لاَ قُوَّةٍ

Alhamdulillahil-ladzii, Ath-‘amanii Haadzath-Tho’aama, Wa  Rozaqoniihi Min Ghoyrii Hawlin minnii, WaLaa Quwwah

(Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku dan memberikan rizki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku)

Maka akan diampuni baginya dosanya YANG TERDAHULU dan YANG AKAN DATANG”.

[HR Abu Dawud: 4023, at-Turmudziy: 3458, Ibnu Majah: 3285, Ahmad: III/ 439, Ibnu as-Sunniy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].

 Oleh Ustadz Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى dalam bukunya “Amalan Penebus Dosa”, halaman 72.

Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

 

Budaya Jadi Agama Atau Agama Jadi Budaya ?

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Menurut anda, manakah yang lebih baik: menjadikan budaya sebagai agama atau menjadikan agama sebagai budaya?

Mungkin bagi banyak orang, membudayakan agama lebih baik dibanding menjadikan budaya sebagai agama. Menjadikan budaya sebagai agama sama saja membuat agama baru.

Menjadikan agama sebagai budaya berarti agama telah menjadi rutinitas dan dibubuhi nilai-nilai seni dan “kearifan” lokal. Dengan demikian, terwujudlah keunikan praktek beragama selaras dengan keunikan budaya lokal. Karena itu muncullah sebutan Islam Jawa, Islam Sumatra, Islam Arab, Islam Cina dan lainnya.

Puasa adalah momentum tepat bagi anda untuk dapat membedakan antara kedua perilaku di atas dan selanjutnya memilih sikap yang tepat.

Anda berhenti makan ketika telah terbit fajar bukan karena budaya atau kebiasaan, namun karena menjalankan perintah Allah dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana anda makan di saat telah terbenam matahari bukan karena tidak katahuan, namun juga karena menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya setelah anda terbiasa berpuasa sebulan penuh, anda menghentikan kebiasaan tersebut bukan karena telah lelah berpuasa, namun karena menjalankan perintah. Bila bulan sabit Syawwal telah terbit anda berhenti berpuasa walaupun anda telah terbiasa dengan puasa. Hanya ada satu alasan anda menghentikan puasa yang telah terbiasa anda lakukan, yaitu dalam rangka patuh dan tunduk kepada syariat Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah semangat ibadah puasa bila telah menyatu dengan jiwa anda, anda berbuat karena perintah dan izin Allah dan anda meninggalkan juga hanya karena perintah Allah Azza wa Jalla semata.

Andai semangat ini berhasil anda aplikasikan dalam setiap aspek kehidupan anda, maka sungguh anda telah berhasil menjadi muslim sejati dan hamba Allah yang sebenarnya. Semua urusan sepenuhnya anda serahkan kepada Allah Azza wa Jalla.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masukkan kalian semua ke dalam agama Islam secara Kaafah/menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan, sejatinya setan itu adalah musuh kalian yang nyata.” ( Al Baqarah 208)

.

Dihinakan Allah

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Umar bin Al Khathab berkata:

كنتم أذل الناس، فأعزكم الله برسوله، فمهما تطلبوا العز بغيره يذلكم الله.

Dahulu kalian adalah manusia yang paling hina..
lalu Allah memuliakan kalian dengan rosulNya..

Bila kalian mencari kemuliaan dengan selainnya..
maka Allah akan kembali menghinakan kalian..

(Mawa’idz Shohabah)

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Tilawatil Qur’an

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba` du ;

Allah Ta`ala berfirman,” Sesungguhnya orang orang yang membaca kitab Allah dan menegakkan sholat dan menunaikan zakat dari apa yang telah di rizkikan kepada mereka baik secara sembunyi maupun secara terang terangkan, mereka mengharapkan suatu perniagaan yang tidak pernah merugi.
Mereka berharap agar di penuhi pahala mereka dan di berikan tambahan dari karunia Nya, Sesungguhnya Dia Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Syukur.”

Di dalam ayat di atas diterangkan tentang anjuran membaca dan tilawah kitab Allah Ta`ala yaitu Al Qur`an, dan taiwan ada dua jenis yaitu :

1. Tilawah secara hukum yaitu membenarkan berita berita nya, dan mengerjakan hukum hukum nya, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan didalam nya.

2. Tilawah secara lafal dengan membaca keseluruhan, maupun surat surat nya maupun ayat ayat nya.

Di riwayat kan dari sahabat Ustman ibnu Affan radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,” Sebaik baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkan nya “. (HR Bukhari dan Muslim).

Di diriwayatkan dari sahabat A`isyah radhiyallahu`anha bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Al Qur`an maka ia akan bersama para malaikat yang baik lagi mulia, dan orang yang tertatih tatih dalam membaca Al Qur`an dan di mendapatkan kesulitan maka ia akan mendapatkan dua pahala, pahala membaca dan pahala kesulitan yang ia dapatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari sahabat Abu Musa Al Asy`ary radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan seorang mukmin yang membaca Al Qur`an seperti minyak wangi yang baunya harum semerbak yang rasanya enak, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an seperti perumpamaan buah kurma yang tidak beraroma namun rasanya manis.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari sahabat Ukbah ibnu A`mir bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang menghalangi kalian untuk pergi ke masjid dan membaca ayat Al Qur`an dua ayat yang pahala nya lebih utama dari mendapatkan dua onta, tiga ayat pahala nya lebih utama dari mendapatkan tiga onta,…..” (HR Muslim).

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang berkumpul di rumah Allah kemudian membaca kitab Allah dan saling mempelajari di antara mereka, kecuali di turunkan kepada mereka ketentraman, dan mereka mendapatkan rahmat, dan para malaikat memberikan naungan dengan sayap sayap mereka, dan Allah senantiasa menyebut nama nama mereka di sisi para malaikat Nya.” (HR Muslim)

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,” Jagalah Al Qur`an, sungguh demi yang jiwaku berada di Tangan Nya, ia lebih mudah lepas (dari hafalan) jika di bandingkan dengan seekor unta yang sedang diikat dalam kandangnya “. HR Bukhari dan Muslim.

Dari sahabat Abdullah bin Mas`ud radhiyallahu`anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur`an maka baginya mendapatkan satu kebaikan, satu kebaikan akan di lipat ganda kan dengan sepuluh kebaikan, Aku tidak katakan Alif lam mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf “. HR Tirmidzi.

Hadits hadits di atas merupakan keutamaan membaca Al Qur`an bagi yang membaca nya, sehingga merugilah orang yang mengabaikan nya.

Semoga kita di berikan kekuatan dari Allah untuk Tilawah kitab Nya yang menghantarkan menuju ridho dan jalan keselamatan dan dihindarkan dari kesesatan.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Bagaimana Sikap Kita Bila Imam Sholat Tarawih 23 Raka’at ?

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Apakah kita perlu mengikuti imam melakukan shalat malam 23 rakaat jika kita berkeyakinan 11 rakaat sudah cukup?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengajukan suatu permasalahan, “Seandainya ada iam yang mengerjakan shalat tarawih 23 rakaat dan kita keyakinannya 11 rakaat. Apakah pada rakaat ke-10, kita meninggalkan imam ataukah lebih afdhol menyelesaikan shalat bersamanya?”

Jawab beliau, “Lebih afdhol adalah kita menyempurnakan shalat tarawih bersama imam. Ada dua alasan dalam hal ini:

1- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai shalat malam di bulan Ramadhan,

“Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi no. 806. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Kalau ada yang cuma menunggu sampai imam selesai witir pada rakaat ke-20, lalu shalat bersamanya berarti ia tidak mengikuti imam hingga selesai dan ia meninggalkan sebagian dari shalatnya imam.

2- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda secara umum,

“Imam itu diangkat untuk diikuti.” (HR. Bukhari no. 378 dan Muslim no. 411).

Imam diikuti dalam segala perbuatan imam selama bukan larangan. Menambah lebih dari 11 rakaat untuk shalat tarawih tidaklah terlarang. Ketika itu imam tetap diikuti.

Namun jika yang diikuti adalah yang terlarang seperti imam mengerjakan shalat Zhuhur lima rakaat, tentu saja tidak boleh diikuti.” (Syarhul Mumthi’, 4: 61).

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Siapa Yang Mimpi Basah Saat Puasa ?

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Kata Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:

Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena mimpi basah dilakukan bukan atas pilihan orang yang berpuasa. Ia punya keharusan untuk mandi wajib (mandi junub) jika ia melihat yang basah adalah air mani. Jika ia mimpi basah setelah shalat shubuh dan ia mengakhirkan mandi junub sampai waktu zhuhur, maka itu tidak mengapa.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Pahala Memberi Buka Orang Puasa

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasal  bersabda,
“Barangsiapa memberi buka orang puasa, baginya seperti pahala dia, tanpa mengurangi pahala orang yang puasa sedikitpun.” 

HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih 

Jika anda termasuk orang yang semangat dalam hal kebaikan tentu akan berkata “andai saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan.”

Mudah-mudahan Allah pun memudahkan untuk ku.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah