Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr Seputar Pemilu

Fatwa dibawah in-syaa Allah berlaku pula untuk PILPRES 2014.

(DARI ULAMA BESAR MADINAH UNTUK INDONESIA)

Pertanyaan:

Dalam waktu dekat, negara kami akan menyelenggarakan pemilu. Bagaimana seharusnya sikap kami..?

Jawaban:

Pada asalnya, apabila para kandidat yang ada hanya mendatangkan mudharat bagi manusia maka sebaikanya perkara ini (pemilu) dijauhi dan tidak perlu menyibukkan diri dengannya (pemilu).

Namun berbeda bila diantara kandidat ada yang baik dan ada yang buruk, maka tidak diragukan lagi bahwa memberikan hak pilih pada kandidat yang baik itulah yang semestinya dilakuan. Hal ini sebagaimana yang berlaku dinegeri kafir, bila diantara kandidat ada yang hubungannya baik dengan kaum muslimin sementara yang lainnya tidak, tentunya berbeda (dalam menyikapi) kedua kandidat tersebut.

Penerjemah: Abul Fayruz El-Gharantaly

(Fatwa ini kami dengar langsung di Majelis Shohih Muslim tertanggal 17-05-1435 H)

Catt;
1. Fatwa ini sifatnya umum tidak untuk mendukung partai tertentu
2. Yang mendasari Fatwa ini adalah kaidah yang berlaku pada bab maslahat dan mudharat: Apabila bertemu dua mafsadah, maka dianjurkan mengambil mafsadah yang paling ringan.
3. Fatwa ini bukan sebagai bentuk legitimasi terhadap sistem demokrasi.

Ref:   http://abulfayruz.blogspot.com/2014/03/kumpulan-status-maret-2014-m.html?spref=tw

View

Beda Kampanye Hitam Dan Kampanye Negatif

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Suasana politik semakin memanas, kampanye hitam dan kampanye negatif silih berganti dilakukan oleh kedua belah pihak yang berseteru. Apa bedanya antara kedua kampanye ini ?

Kampanye bisa disebut sebagai kampanye hitam jika materi kampanye tidak sesuai dengan kenyataan atau mengada-ada. Isi kampanye cenderung mengandung fitnah dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Sementara, kampanye negatif adalah kampanye yang materinya nyata adanya atau pernah terjadinya.

Kita tidak memungkiri adanya kampanye hitam, dan itu tidak dibolehkan. Tapi yang perlu digaris-bawahi di sini adalah tidak semua tindakan menyebar berita negatif tentang salah satu calon menjadi kampanye hitam. Tetapi dikatakan kampanye hitam bila beritanya bohong. Adapun bila beritanya benar, maka namanya kampanye negatif, dan ini masuk ghibah yang dibolehkan karena adanya maslahat yang besar bagi Islam dan kaum muslimin ketika menjelaskan kebobrokan dan kejelekan salah satu calon.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim no. 2589, Bab Diharamkannya Ghibah)

Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras kampanye hitam, menuduh tanpa bukti alias menfitnah. Ini jelas suatu kebohongan. Namun jika yang dilakukan adalah kejelekan yang benar nyata ada pada orang lain, itu disebut ghibah. Ghibah itu dibolehkan kala ada maslahat.

Imam Nawawi telah menjelaskan haramnya ghibah berdasarkan hadits yang penulis bawakan di atas. Begitu juga menfitnah juga diharamkan. Namun kata beliau, ghibah (menggunjing) dibolehkan jika ada tujuan syar’i di dalamnya. Misalnya kata beliau, boleh mengghibah kala mengingatkan suatu kejelekan. Seperti halnya yang dilakukan oleh para ulama pengkritik perawi hadits. Seperti ini dibolehkan menurut ijma’, kata sepakat para ulama.

Sebagaimana juga kata Imam Nawawi ketika ada orang yang masih ragu akan kejelekan orang lain dalam hal kefasikan atau kebid’ahan yang ia lakukan. Lantaran ketidaktahuan ini, orang seperti itu yang akhirnya diambil ilmunya. Ia pun samar akan bahaya yang akan menimpa dirinya. Maka orang yang belum tahu seperti ini perlu diberikan penjelasan.  Lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.

Jadi, bersikaplah husnuzhon (berprasangka baik) ketika ada yang mengingatkan akan bahayanya salah satu calon presiden yang hanya menghias dirinya hingga terlihat apik lewat pencitraan media. Seakan-akan dialah yang pro rakyat dan pro wong miskin. Padahal di balik itu, ia didukung oleh non muslim, juga oleh perusak Islam seperti kalangan Syi’ah. Ia pun selalu memenangkan kaum minoritas dibanding kaum muslimin yang mayoritas. Itulah mengapa hal ini perlu dijelaskan di tengah-tengah umat. Dan itu bukan kampanye hitam, namun ghibah yang dibolehkan. Hal ini pun masih dalam aturan kaedah fikih,

الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات

“Keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang.”

Namun suatu yang haram tersebut diterjang hanya seperlunya saja.

الضَّرُوْرَةُ تُقَدَّرُ بِقَدَرِهَا

“Keadaan darurat diambil sesuai kadarnya.”

Hanya Allah yang memberi taufik.

Selesai disusun selepas Zhuhur, 2 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

View

Kambing Hitam

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Kasihan sekali kambing berwarna hitam selalu diposisikan sebagai korban. Entah, siapa dan apa alasan memilih kambing berwarna hitam untuk menggambarkan pihak yang selalu dikorbankan, padahal ia tidak bersalah.

Konon pepatah tersebut ada kaitannya dengan kisah keinginan Nabi ibrahim ‘alaihissalam untuk menyembelih putranya Nabi Ismail ‘alaihissalam yang kemudian Allah gantikan dengan seekor kambing gibas. Kebenaran anggapan ini, masih perlu ditinjau ulang keakuratannya, dan belum pantas untuk diyakini atau dibenarkan.

Namun demikian, sikap selalu mencari kambing hitam, tanpa ada kesiapan atau upaya untuk instropeksi diri bahwa sejatinya dirinya juga memiliki andil dalam masalah yang terjadi, adalah cermin dari lemahnya kepribadian pelakunya.

Fakta telah membuktikan bahwa dalam banyak kasus, pihak-pihak yang hobi menuduh dan segera cuci tangan, sejatinya merekalah yang menjadi biang masalahnya.

Sebagai contoh nyata: masalah perselisihan pendapat para ulama’ telah terjadi sejak dahulu dan akan terus terjadi hingga akhir masa. Namun demikian, walau berbeda pendapat mereka tetap bisa bersaudara dan menjalin hubungan yang harmonis.

Fakta ini dalam banyak kesempatan diabaikan oleh murid dan pengikut, yang mengesankan bahwa perbedaan antara ulama’ adalah benih perpecahan dan permusuhan. Mereka beranggapan bahwa sebagai bentuk kesetiaan kepada sang guru, atau ulama’ panutannya, maka mereka harus mengeluarkan taring dan kukunya.

Sobat! Ketahuilah bahwa perbedaan pendapat diantara ulama’ sering kali membawa banyak kebaikan, selama perbedaan tersebut mengindahkan etika dan kaedah pendalilan atau ijtihad yang telah digariskan para ulama’ sebelumnya.

Perbedaan ijitihad, sering kali mendorong ulama’ untuk terus menggali ilmu dan lebih bersungguh-sungguh dalam memahami masalah dari segala aspeknya. Dengan demikian, terwujudlah nuansa keilmuan yang berguna bagi pengembangan ilmu yang berujung pada ketajaman cara pandang dan meningkatnya kemampuan para ulama’.

Qatadah As sadusy berkata:

من لم يعرف الاختلاف لم يشم رائحة الفقه بأنفه

“Barang siapa yang belum mampu memahami perbedaan pendapat yang terjadi antara para ulama’ maka sejatinya hidungnya belum mampu mencium aroma ilmu fiqih” (apalagi menjadi ahli fiqih).

Ref:
https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

View

Antara Syi’ah Roofidhoh Dan Al Qur’an

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan Nashooro dan menjelaskan bawhasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat ??”.

Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213).

Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam Al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allah ((Sungguh Kami yang telah menurunkan Al-Qur’an dan sunnguh Kami yang akan menjaganya)).

Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’ann ??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??

Ingat : Mereka tidak memiliki Al-Qur’an yang mereka aku-akui, bahkan mereka membaca Al-Qur’an kita, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah keyakinan mereka terhadap Al-Qur’an kita kaum muslimin…!!

Ref:  https://www.facebook.com/firandaandirja/posts/1402504850037244

View

Semakin Jelas Kesesatannya: Memindahkan Arah Kiblat !

إنا لله و إنا إليه راجعون

Beginilah bila Syi’ah dan antek-anteknya berkuasa.

Nouri Al-Maliki PM Iraq yang beragama Syi’ah ini mengumumkan perpindahan arah kiblat ke karbala!!

http://safeshare.tv/w/xuYeMOtMeG

Berikut adalah terjemahan pidato nya :

“Kota Karbala harus jadi kiblat bagi seluruh dunia Islam, karena disana Hussain, insya Allah dan harapanku juga kepada pemerintah setempat untuk meningkatkan pelayanan yang pas dan sesuai untuk dalam rangka menyambut Imam Hussain di setiap perayaan-perayaan. Peziarah Imam Hussain bukan saja di musim yang biasa kita peringati yaitu pada 10 Muharrom dan peringatan Arbain. Tetapi pada hari jum’at bahkan setiap hari, karena karbala adalah kiblat dan kiblat artinya kita menghadap kesana setiap hari minimal 5 waktu. Demikian juga Hussain beliau adalah anak dari kiblat ini (Karbala) yang telah Allah Ta’ala wasiatkan pada kita untuk berkiblat kepadanya.”

Masihkah anda menganggap Syi’ah adalah bagian dari agama Islam ?

View

Kabablasan Namun Ternyata Tidak Tahu Batasan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat, pernahkah anda kebingungan mencari alamat? Bertanya ke sini dibilang kebablasan. Namun anehnya ketika di tanya kembali, la alamat yang benar di mana? Eeeh, ternyata orang tersebut tidak dapat menyebutkan alamat yang benar. Dia hanya berkata: pokoknya saudara sudah kebablasan.

Naah, anda jadi bingung deh, mau maju tidak tahu, mau balik juga tidak tahu. Akhirnya anda terpaksa harus tanya lagi ke orang lain, dengan harap ada yang mengetahui alamat yang anda tuju dengan tepat dan benar. Dan kadang kala setelah anda bertanya ke sana dan ke sini, terbukti bahwa ucapan orang pertama: “bahwa anda telah kebablasan” ternyata salah.

Ilustrasi sederhana di atas, sepatutnya anda renungkan, tidak semua orang yang berkata anda kebablasan itu benar, sampai ia benar-benar menunjukkan alamat yang benar.

Sekedar berkata : kebablasan, namun ternyata ia juga tidak bisa menunjukkan alamat (BATASAN) yang benar, maka ucapan itu belum patut anda percaya sepenuhnya.

Bahkan, sejatinya, pada ucapan
“kebablasan” terdapat pengakuan terselubung, yaitu : anda telah menempuh jalan yang benar, namun kebablasan”. Ucapan ini berbeda dengan ucapan : anda tersesat atau kesasar, atau salah jalan. Sebagaimana pada ucapan ini terdapat satu pengakuan, bahwa kebablasan SERING KALI lebih baik dibanding tersesat atau salah jalan.

Semoga bermanfaat, dan menjadikan anda semakin kritis dalam menyikapi berbagai dinamika dalam kehidupan ini.

Ref:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=640426256038551&id=405218379559341&refid=17

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Mensyukuri Nikmat Dari Allah

Twit Ulama

** Anda bisa melihat, dan ada orang lain yang buta.

** Anda bisa mendengar, dan ada orang lain yang tuli.

** Anda bisa berbicara, dan ada orang lain yang bisu.

** Anda bisa berjalan, dan ada orang lain yang cacat.

Satu nikmat saja, Anda perlu bersyukur yang sangat besar, maka bagimana lagi kalau Anda punya semua nikmat tersebut ?

Ya Allah, tolonglah kami untuk berdzikir mengingatMu dan bersyukur kepadaMu.

@mmajdo – Dr Muhammad Majdu’ asy Syahri pengasuh situs aefaf.com

Ref:
http://twitulama.com/

View

11 Prinsip Dakwah Salafiyyah

Ust. M wasitho, حفظه الله تعالى

Berikut ini adalah prinsip-prinsip Dakwah Salafiyyah yang telah praktekkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’iin.

1. Mengajak Umat Manusia Agar Berpegang Teguh Kepada Al-Qur’an Dan As-Sunnah Dengan Manhaj (pemahaman) Generasi As-Salafus Sholih (Para Sahabat, Tabi’in, dan Atba’ut Tabi’in).

2. Berdakwah Kepada Aqidah Tauhid Dan Mengihklaskan Amalan Hanya Karena Allah Ta’ala.

3. Memperingatkan Manusia Dari Segala Macam Bentuk Kemusyrikan.

4. Mengajak Manusia Agar Senantiasa Ber-Ittiba’ (Meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) Dan Meninggalkan Sikap Taqlid Buta (ikut-ikutan kepada pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil syar’inya).

5. Memperingatkan Manusia Dari Segala Macam Bentuk Bid’ah Dan Pemikiran Yang Menyimpang.

6. Bersemangat Dalam Menuntut Ilmu Syar’i.

7. Tashfiyah (Pemurnian Aqidah dan Ibadah dari segala noda syirik, bid’ah, khurofat, dan akhlak yg tercela), Dan Tarbiyah (Mendidik Umat Manusia Di Atas Islam Yang Murni dan Benar).

8. Mengajarkan Kepada Umat Manusia Akhlak Yang Mulia.

9. Memperingatkan Kaum Muslimin Dari Bahaya Hadits-hadits Dho’if dan Palsu Yang Telah Merusak Keindahan Dan Kesempurnaan Agama Islam.

10. Memperingatkan Kaum Muslimin Dari Sikap Fanatisme Dan Hizbiyyah Dengan Segala Bentuknya.

11. Berupaya Memulai Kehidupan Yang Islami Dan Menerapkan Hukum Allah Di Muka Bumi.

(Diterjemahkan oleh Abu Fawaz Asy-Syirboony dari kitab Al-Mukhtashor Al-Hatsiits Fii Bayaani Ushuuli Manhajis Salaf Ashhaabil Hadiits Fii Talaqqid-Diini Wa Fahmihi Wal ‘Amali Bihi Wad-Da’wati Ilaihi, karya syaikh kami Isa Malullah Faroj hafizhohullah, hal.166-312).

Semoga bermanfaat bagi kita semua. (Jakarta, 1 Juni 2014).

(*) Blog Dakwah, KLIK:
http://abufawaz.wordpress.com

View

Berbicara Dan Diam Tatkala Bermanfaat

Ust. Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Jika perkataan itu merupakan perak maka sungguh diam itu merupakan emas… jika orang-orang kagum dengan ucapanmu.. maka kagumlah engkau dengan sikap diam-mu. akan tetapi berbicaralah tatkala bermanfaat dan diamlah tatkala bermanfaat…

Sebagaimana perkatan sebagian salaf :
“Jika diam-mu membuat engkau ta’jub maka berbicaralah… dan jika bicaramu membuatmu ta’jub maka diamlah.”

 Ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Ref:
https://m.facebook.com/firandaandirja/posts/1400919256862470

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Panas Matahari

@sahabatilmu

Apakah hari-hari ini kita merasakan terik Matahari menyinari bumi…?

Ketahuilah…

Sengatan panas tersebut tidaklah seberapa dibanding kelak di padang Mahsyar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ

“Pada hari kiamat, matahari didekatkan terhadap manusia hingga jaraknya tinggal seukuran satu mil.

Sulaim bin ‘Amir (perawi hadits) berkata,

فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ، أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمِ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ

“Demi Allah, Aku tidak mengetahui maksud satu mil tersebut, apakah mil ukuran perjalanan di dunia ataukah mil yang digunakan sebagai alat celak mata?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,

فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا

“Sehingga manusia terbenam dalam keringatnya sesuai kadar amalnya.

Di antara mereka ada yang terbenam sampai kedua mata kaki.

Ada yang hingga kedua betis.

Ada pula yang mencapai pinggang.

Ada juga yang keringatnya benar-benar menyiksa baginya…”

وَأَشَارَ رَسُولُ اللهِ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya ke mulut beliau…” (HR. Muslim: 2864)

Demikian dahsyat keadaan di padang mahsyar, yang setiap kita pasti akan singgah di sana.

Maka bersabarlah kita menahan diri dari berbuat dosa dan maksiat, melebihi sabarnya kita hari ini dari panasnya matahari.

View

Menebar Cahaya Sunnah