Web Yang Memojokkan Dakwah Salaf

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Dakwah salaf sholeh bukan mengajak kepada kultus individu, atau mengajak berkelompok..

Dakwah salaf adalah dakwah yang mengedepankan Al-Qur’an dan Hadits dengan mencontoh pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabiu’ tabi’in serta para ulama yang mengajarkan ilmu dengan ittiba’ kepada nabi dan it’tiba’ kepada 3 generasi Awwal tersebut.

Dakwah salaf bukan lah suatu dakwah kelompok. Sehingga antum tidak akan dapati siapa pimpinannya dan siapa ajudannya..Anda tidak dapati kartu anggota dll..

Seperti yang diberitakan oleh VOA-Islam adalah berita yang ingin memojokkan dakwah salaf..
Mereka anggap dakwah ini pada suatu kelompok dan lainnya.. dan tidak menggunakan ilmu dalam hal menyikapi situasi..

Justru itu menunjukkan tentang dangkalnya pemahaman ilmu pada Web tersebut.. yang isinya koar-koar semangat ini dan itu tanpa tuntunan ulama’ yang diakui kelilmuannya oleh dunia.

Saran saya jauhi Web Web yang demikian.. karena yang anda dapati berisikan fitnah dan pelbagai hoax tanpa ilmu.. yang tanpa anda sadari bahwa anda telah Mubadzir buang paket data untuk maksiat kepada Allah dengan membaca berbagai hoax didalamnya.

Mubadzir adalah menggunakan sarana mubah untuk hal yang tidak manfaat..

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Membaca Zodiak

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Jangan dianggap sepele.. karena dengan hal tersebut akan memengaruhi keyakinan tanpa anda sadari..

Sekedar membaca zodiak atau ramalan bintang, walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Akibat perbuatan ini, shalatnya tidak diterima selama 40 hari.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230). Ini akibat dari cuma sekedar membaca.

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarh Muslim, 14: 227)

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

View

Hasbunallahu Wani’mal Wakiil

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Syaikh Abdurrozak Al Badr -hafidzahullahu-

Kalimat mulia yang penuh barokah ini diucapkan di dalam dua keadaan, yaitu:
** di waktu menggapai suatu manfaat serta kebaikan dan,

** di waktu menolak mafsadat dan keburukan.

Adapun dalam keadaan pertama diantaranya digambarkan dalam firman Allah Ta’ala:

 وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ سَيُؤْتِينَا اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللّهِ رَاغِبُونَ 

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah’, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS.At-Taubah: 59).

Dalam keadaan yang kedua sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ . فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللّهِ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.

Maka mereka kembali dengan ni’mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS Ali-Imran: 173-174).

Dan dua keadaan tersebut terkumpul menjadi satu dalam firman-Nya

Dan dua keadaan tersebut terkumpul menjadi satu dalam firman-Nya,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’. Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.”(QS. Az-Zumar: 38).

Yaitu katakan, ”HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIL”, untuk mengapai suatu manfaat dan menolak mafsadat dan petaka.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Renungilah Kembali !

Ust. Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Semoga Allah merahmati seseorang yang melihat keadaan dirinya. Kemudian memikirkan apa yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari sisi Allah berupa ajaran memusuhi orang-orang yang menyekutukan-Nya apakah dia orang jauh atau dekat. (Serta ajarannya yang) mengkafirkan serta memerangi mereka hingga agama ini menjadi hanya milik Allah semata. Dan mengetahui apa putusan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah meski mereka mengaku muslim.

Dan bagaimana dahulu para Khulafaur-Rasyidin memperlakukan mereka. Seperti Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dan selainnya ketika membakar mereka dengan api. Padahal selain mereka dari para penyembah berhala yang tidak mau berislam tidak dihukum dengan cara itu.

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Mufidul Mustafid Hal 151.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

3 Kunci Sukses Dalam Hidup

Sobat..!
Anda ingin sukses..?
Anda ingin hidup damai..?
Sudahkah anda berhasil mendapatkannya..? Atau barangkali saat ini anda sedang mengusap peluh karena lelah mengejar sukses dalam hidup yang terus menjaga jarak dari anda bak fatamorgana dan bayangan tubuh anda.

Mungkin selama ini kita beranggapan bahwa sukses terletak di balik harta kekayaan, atau popularitas atau jabatan. Namun pada kenyataannya, terlalu banyak orang yang kaya, atau populer atau berjabatan tinggi namun tidak sedikitpun merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.

Tahukah anda, apa rahasianya semua itu ? Sederhana sekali, alasannya karena di atas langit masih ada langit lagi. Bisa jadi anda telah kaya, namun ternyata masih banyak yang lebih kaya dari pada anda. Anda terkenal, namun ternyata terlalu banyak yang lebih terkenal dari anda.

Bisa pula kini anda telah menduduki jabatan yang tinggi, namun demikian kini anda merasakan bahwa masih banyak yang lebih tinggi dari anda. Dan kalaupun anda telah menjadi seorang presiden, namun pada akhirnya anda harus menyadari bahwa jabatan itu hanya sesaat dan akan segera anda lepaskan. Suatu saat anda pasti menyadari bahwa jabatan hanyalah sukses sesaat yang sarat dengan pengorbanan dan derita.

Bila demikian, adanya, apakah arti sukses yang sejati dalam kehidupan dunia kita ini ?

Temukan jawabannya pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

مَنْ أَصْبَحَ مُعَافًى فِي بَدَنِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa yang di setiap pagi merasa sehat di tubuhnya, aman kemanapun ia pergi, dan ia memiliki makanan yang mencukupinya, maka seakan akan ia telah berhasil menguasai seluruh isi dunia.” ( Ibnu Hibban & At Thabrany)

Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Kenikmatan Yang Begitu Banyak Sering Kita Lupakan…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

** janganlah kita menjadi hamba Allah yang hanya sadar akan besarnya nikmat Allah tatkala Allah menghilangkan kenikmatan tersebut.

** janganlah kita baru merasakan nikmat sehat tatkala kita sakit,

** janganlah kita baru merasakan nikmatnya melihat tatkala mata kita sakit…dst

– – – – – •(*)•- – – – –
View

10 Kiat Sukses Dalam Menuntut Ilmu Syar’i

Ust. Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

» Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “(Untuk memperoleh) Ilmu itu memiliki 6 (enam) tingkatan, yaitu:

1. Bertanya (tentang ilmu) dengan cara yang baik.

2. Diam dan Mendengarkan ilmu dengan baik.

3. Memahami ilmu dengan baik dan benar.

4. Menghafal ilmu.

5. Mengajarkan Ilmu.

6. Mengamalkan ilmu.

Dan sebagian ulama sunnah lain menambahkan kiat dan sebab lain agar seorang muslim dan muslimah sukses dlm menuntut ilmu syar’I, diantaranya:

7. Menimba ilmu agama dari ahlinya (Ulama Robbani).

8. Mendahulukan yang paling pokok dan wajib dalam menuntut ilmu.

9. Mempelajari ilmu secara bertahap dan kontinue.

10. Tertib dan Disiplin dalam menuntut ilmu.

Demikian faedah ilmiyah yang dapat kami sampaikan pada hari ini.

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita dalam menuntut ilmu agama-Nya dan mengamalkannya serta mengajarkannya hingga akhir hayat. Amiin. (Klaten, 22 Mei 2014).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jaga Orangtuamu Jangan Sampai Sakit

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

@Dr_Alsadhan:

مرض فزارته أمه؛ فقام فلبس وتأنق كأن لا بأس به. فلما خرجت سقط مغشيا عليه. فقيل له: كنت معها معافى، فما أصابك؟ فقال: أنين الأبناء عذب قلوب الأمهات.

Ada seorang anak yang sakit, maka ibunya menjenguknya; maka orang tersebut bangkit dan memakai pakaiannya dengan rapi seakan-akan sedang tidak sakit.

Ketika sang ibu keluar, orang tersebut pingsan. Maka ditanyakan kepadanya: “kamu sehat dan bugar ketika ada ibumu, lalu apa yang menimpamu (sehingga kau pingsan)?”

Maka dia menjawab: “Rintihan sakit anak itu dapat menyakiti hati para ibu.”

(Selesai dari Syekh as-Sadhan).

Faedah (dari pent):

– Jangan mudah mengeluh baik problem rumah tangga, kesulitan biaya, penyakit, apalagi penyakit anak di depan orangtua, terlebih ibu, karena hal itu dapat membuat orangtua pikiran, dan hal itu bisa saja menjadi penyebab kesedihan yang mendalam bagi orangtua yang tentunya bisa saja hal itu membuat mereka jatuh sakit.

Jadilah kita orang yang mandiri dan kuat kepribadiannya di depan mereka.

Kalaupun kita tidak bisa membuat orangtua tersenyum, janganlah membuat mereka menangis atau bersedih bahkan sakit.

Sebelum detak jantung ibumu yang telah melahirkanmu berhenti, berikanlah yang terbaik untuknya!

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Orang-Orang Yang Tidak Mengetahui Perkara Jahiliyah

Ust. Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Barangsiapa memanggil-manggil Ali bin Abi Thalib maka ia kafir. Dan barangsiapa ragu akan kafirnya orang ini, ia pun kafir.

Jika demikian kondisi orang yang ragu akan kafirnya orang kafir, padahal ia tetap memusuhinya, membencinya, maka bagaimana jadinya orang yang meyakini si kafir ini masih muslim dan tidak mau memusuhinya?! (Lebih jauh lagi) bagaimana dengan orang yang (justru) mencintai si kafir?! Atau membelanya dan membela cara beragamanya dan beralasan bahwa kami tidak mampu memusuhi mereka (orang-orang kafir) karena bisnis dan perlu mencari rezki.

Padahal Allah Ta’aala berfirman (mencela musyrikin Makkah yang mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya dengan alasan keselamatan):
((Dan musyrikin berkata: Jika kami mengikuti jalan kebenaran bersamamu (Muhammad) kami akan diculik dari tempat-tempat tinggal kami)) Al Qashash: 57).

jikalah seperti ini Allah mencela orang-orang yang abstain dari menampakkan kebenaran dan mengamalkan tauhid serta memusuhi musyrikin dengan alasan khawatir akan keselamatan keluarga dan kerabatnya, bagaimana dengan orang-orang yang abstain dalam hal ini tapi dengan alasan rejeki?!

Namun perkara ini persis seperti yang diucapkan Umar Radhiyallahu ‘Anhu: “Akan lepas tali Islam seutas demi seutas. Jika tumbuh di dalam Islam orang-orang yang tidak mengetahui perkara Jahiliyah.”

Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam “Mufidul Mustafid” 149-150 Cet. Maktabah Ar-Rusyd

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menebar Cahaya Sunnah