[Tanggapan pada Voa-Islam]: Mendukung Salah Satu Capres, Bukan Berarti Mendukung Demokrasi

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Keliru memahami bahwa memberikan suara berarti mendukung demokrasi padahal ulama yang membolehkan nyoblos tidak berpandangan seperti itu.

Tulisan kami sebelumnya di Muslim.Or.Id: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-perdebatan-dalam-memberikan-suara-dalam-pemilu.html

Dalam tulisan kami lainnya di Muslim.Or.Id: http://muslim.or.id/manhaj/menggunakan-hak-suara-dalam-pemilu-beda-dengan-masuk-parlemen.html

Muslim.Or.Id sudah beberapa kali memuat fatwa ulama besar yang menunjukkan bolehnya kita menggunakan hak pilih kita dalam Pemilu. Tujuannya adalah untuk mengambil mudhorot (bahaya) yang lebih ringan. Apa yang diambil ? Yaitu agar tokoh-tokoh pembawa kerusakan dapat dibendung, bukan dalam rangka mencari pemimpin yang dapat menegakkan hukum Islam di tanah air kita.

Dalam kaedah fiqhiyyah Syaik As Sa’di disebutkan,

وَضِدُّ تَزَاحُمُ المفَاسِدِ
يُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ المفَاسِدِ

“Lawannya, jika bertabakan dua mafsadat,
Pilihlah mafsadat yang paling ringan.”

Dan agama ini bisa jadi tegak lewat orang-orang yang fajir atau keji. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal pada saat perang Khoibar untuk menyeru manusia dengan mengatakan,

إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

“Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa-jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini lewat orang yang fajir (keji, ahli maksiat)” (HR. Bukhari no. 3062 dan Muslim no. 111)

Abu Hurairah menceritakan tentang sebab munculnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Abu Hurairah berkata bahwa beliau mengikuti perang Khoibar. Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada orang yang mengaku membela Islam, “Ia nantinya penghuni neraka.” Tatkala orang tadi mengikuti peperangan, ia sangat bersemangat sekali dalam berjihad sampai banyak luka di sekujur tubuhnya. Melihat pemuda tersebut, sebagian orang menjadi ragu dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata luka yang parah tadi membuatnya mengambil pedang dan membunuh dirinya sendiri. Akhirnya orang-orang pun berkata, “Wahai Rasulullah, Allah membenarkan apa yang engkau katakan.” Pemuda tadi ternyata membunuh dirinya sendiri. Rasul pun bersabda, “Berdirilah wahai fulan (yakni Bilal), serukanlah: Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa-jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini lewat orang yang fajir (keji, ahli maksiat).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagian saudara kita memberikan tanggapan bahwa sungguh sia-sia keberadaan orang baik di Parlemen. Atau mereka katakan bahwa partai adalah hasil demokrasi yang sudah barang tentu menyimpang dari ajaran Islam. Komentar seperti ini tidak tepat sasaran.

Ingat bahwa menggunakan hak suara dalam Pemilu bukan dalam rangka mencari pemimpin yang akan menegakkan Islam, namun dalam rangka meminimalkan ruang gerak para penjahat dan musuh Islam.

Lihatlah dahulu, pada awal kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau membuat perjanjian damai atau kerjasama dengan kaum Yahudi untuk mempertahankan kota Madinah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepenuhnya memahami bahwa Yahudi tidak akan membela Islam apalagi menegakkan syari’at Islam. Beliau melakukan hal itu untuk meminimalkan ancaman dan resiko serangan kafir Quraisy dan sekutunya. Kisah perjanjian tersebut dimuat dalam kitab-kitab sirah dan dikisahkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka.

Demikian fatwa ulama yang membolehkan menggunakan hak suara pada Pemilu mendatang juga maksud mereka adalah seperti itu.

Fatwa ulama dalam memberikan suara dalam Pemilu:
http://muslim.or.id/manhaj/golput-ataukah-memberikan-suara.html
http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-memberikan-suara-dalam-pemilu.html
http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-2-memberikan-suara-dalam-pemilu.html

Memilih untuk Golput ataukah tidak, bukan masuk dalam masalah manhaj, namun karena maksud menimbang maslahat dan mudarat. Silakan baca fatwa-fatwa dari para ulama tersebut.

Kami membicarakan masalah Capres kali ini, karena tuntutan maslahat. Setiap muslim bingung, manakah yang harus dipilih. Dan kecenderungan kami pada satu capres bukan berarti itu jadi pendapat Salafi secara umum, yang lain barangkali lebih senang memilih Golput dan kami pun tidak memaksa.

Masih terlalu banyak di antara kita yang tidak terbiasa dan gerah menghadapi perbedaan pendapat dalam wilayah ijtihad. Semoga Allah memberikan bashirah bagi kita semua.

Semoga Allah terus memberikan kita hidayah untuk menerima kebenaran.

Status shahih dari Muhammad Abduh Tuasikal, 22 Rajab 1435 H

https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal/posts/10202190301383676

view

Mendengar Lantunan Ayat Al Qur’an Hingga Menangis Tersedu-Sedu

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Pernahkah anda mendengar lantunan ayat ayat suci Al Qur’an, lalu tanpa sadar air mata anda berlinang dan berderai derail ?

Pernahkah anda mendengar ceramah seorang ustadz atau muballigh yang begitu bagus, hingga anda menangis tersedu sedu karenanya?

Atau bahkan, pernahkah anda menghadiri satu acara pengajian lalu seorang muballigh yang begitu menyentuh hati, penceramahnya menangis sesenggulan dan akhirnya anda dan juga mayoritas pendengar hanyut dalam lautan isakan tangis?

Sobat! Izinkah saya bertanya kepada anda, apakah sejatinya yang menyebabkan anda menangis ?

Benarkah anda menangis karena anda memahami makna ayat dan hadits yang dibacakan? Ataukah anda menangis karena terbawa oleh merdunya suara sang qori’ ?

Benarkah anda menangis karena anda takut kepada ancaman Allah yang termuat pada ayat-ayat yang anda dengar atau anda rindu kepada surga yang tergambar pada ayat ayat tersebut ?

Bukankah sebelumnya anda telah membaca dan mendengar ayat-ayat yang sama namun mengapa anda tidak menangis? Ayat-ayat tersebut berlalu begitu saja seakan tidak ada apa apa ?

Mungkinkah anda menangis hanya karena hanyut dalam suasana haru, alias karena muballighnya menangis, dan orang di sekitar anda menangis, akhirnya andapun terharu dan turut menangis ?

Sobatku! Sekali lagi, izinkan saya kembali bertanya: tahukah anda bahwa para penggemar musik ketika menghadiri konser penyanyi yang mereka idolakan juga banyak yang menangis terharu ?

Sobat! Bila anda menyadari bahwa ternyata yang menjadikan anda menangis hanyalah merdunya suara, maka tangisan anda ini pantas untuk anda tangisi dan sesali, karena ternyata tangisan anda menyerupai tangisan penggemar musik.

Adapun tangisan orang orang yang beriman ialah tangisan karena memahami kandungan ayat ayat yang ia baca atau ia dengar, sehingga mereka menangis walaupun suara yang membacanya blero alias tidak merdu. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sejatinya orang orang yang beriman ialah mereka yang bila dibacakan kepada mereka ayat ayat-Nya, mereka bertambah iman dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakkal.” (Al Anfal 2)

https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

– – – – – •(*)•- – – – –

View

 

Ikutilah Jalan Petunjuk Meski Sedikit Orang yang Menempuhnya

IkIbnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku, seislam yang saya cintai …Janganlah kebanyakan orang itu, kita jadikan sebagai ukuran sebuah kebenaran atau bagusnya sebuah amalan. Janganlah kebanyakan orang itu dijadikan pegangan atau dasar bagi ucapan, keyakinan dan amalan kita. Mengapa demikian? karena :

Kebanyakan orang itu beriman dalam kondisi mempersekutukan Alloh Ta’aala.

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada اللّـﮧ, melainkan dalam keadaan mempersekutukan اللّـﮧ (dengan sembahan-sembahan lain). ~QS. Yusuf ayat 106~

Kebanyakan orang itu malah menyesatkan orang lain.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan اللّـﮧ . Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap اللّـﮧ). ~QS. Al An’aam ayat 116~

Akan tetapi..ikutilah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan apa yang diajarkannya. Karena mengikuti beliau itulah yang diperintahkan اللّـﮧ kepada semua hamba yang mengaku-ngaku cinta kepada-Nya. Dan dengan mengikuti beliau maka اللّـﮧ akan mencintai dan mengampuni kita.

Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai اللّـﮧ, ikutilah aku, niscaya اللّـﮧ mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. اللّـﮧ Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. ‘Aali Imron ayat 31

Al-Fudhoil bin Iyadh ~rohimahulloh~ mengatakan :

عليك بطريق الهدى وإن قل السالكون، واجتنب طريق الردى وإن كثر الهالكون

“Wajib atas kalian untuk mengikuti jalan petunjuk meskipun sedikit orang yang menempuhnya, dan jauhilah jalan kesesatan, meskipun banyak orang-orang yang binasa.”
Semoga اللّـﮧ menjadikan penulis dan pembaca risalah ini termasuk hamba-hamba-Nya yang selamat di dunia & akhirat kelak,
أميــــن يــارب العـالــمي

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jangan Galau

Ust. DR. Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Akhi.. ukhti
Galau ???
Biasanya akan cari teman ngobrol.

Lupa bahwa teman kita hanya insan yang juga menyimpan banyak kegalauan.

Ingatlah dengan doa Nabi Yunus

لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين

Siapa yang membacanya niscaya akan hilang kegalauannya dan dimudahkan urusannya, kiranya seperti itu pesan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam.

HANYA SANG PENCIPTA YANG DAPAT MENGUSIR KAGALAUAN JIWA

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Cerdas Dalam Memilih Maslahat Dan Mudarat

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Tidak selamanya seseorang mengambil yang semuanya baik, kadang ia harus menaruh pilihan pada yang terbaik di antara dua pilihan.

Suatu waktu bisa pula dihadapkan dengan dua mudarat sehingga ia harus mengambil yang mudaratnya lebih ringan.

Jika seseorang bisa mengambil yang terbaik di antara dua pilihan dan bisa mengambil yang lebih ringan dari dua pilihan, itulah seseorang yang disebut cerdas.
Demikianlah kesimpulan dari Ibnu Taimiyah di mana beliau pernah berkata,

لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ

“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.
Ia pun bersyair,

إنَّ اللَّبِيبَ إذَا بَدَا مِنْ جِسْمِهِ مَرَضَانِ مُخْتَلِفَانِ دَاوَى الْأَخْطَرَا

“Orang yang cerdas ketika terkena dua penyakit yang berbeda, ia pun akan mengobati yang lebih berbahaya.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 54).

Jadi ada pilihan yang sama buruk dan baiknya, namun beda kelas. Jadi ada yang baik dan ada yang lebih baik, juga ada yang buruk dan ada yang lebih buruk lagi.
Syaikh As Sa’di melantunkan syair dalam pelajaran kaedah fikih beliau,

فإن تزاحم عدد المصالح
يقدم الأعلى من المصالح

“Apabila bertabrakan beberapa maslahat…
Maslahat yang lebih utama itulah yang lebih didahulukan.”

وَضِدُّ تَزَاحُمُ المفَاسِدِ
يُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ المفَاسِدِ

“Lawannya, jika bertabakan dua mafsadat (kerusakan),…
Pilihlah mafsadat yang paling ringan.”

Contoh cerdas dalam memilih:

1- Jika seseorang yang terluka dan ketika sujud pasti akan keluar darah dan itu bisa membahayakannya. Ketika itu ia memilih untuk shalat dalam keadaan duduk dan memberi isyarat untuk sujud. Meninggalkan sujud ketika itu lebih ringan daripada keluarnya darah -bagi yang menganggap darah itu najis-.

2- Bolehnya membelah perut ibu yang telah mati dan masih mengandung janin, di mana masih ada harapan hidup untuk bayi tersebut.

3- Ketika ada kapal yang hendak tenggelam, maka pilihan yang cerdas adalah membuang barang-barang yang berat biar kapal bisa selamat.

Semoga bermanfaat.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Kiat Sabar

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Ketika sabar diperintahkan Allah سبحانه وتعالى
kepada kita semua, maka Diapun adakan sebab-sebab yang membantu dan memudahkan seseorang untuk sabar.

Demikian juga tidaklah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan sesuatu kecuali membantu dan mengadakan sebab-sebab yang memudahkan dan membantu pelaksanaannya sebagaimana Ia tidak mentaqdirkan adanya penyakit kecuali menetapkan obatnya. Sabar walaupun sulit dan tidak disukai jiwa, apalagi bila disebabkan kelakuan dan tindakan orang lain. Akan tetapi kesabaran harus ada dan diwujudkan.

Ada beberapa kiat yang dapat membantu kita dalam bersabar dengan ketiga jenisnya, diantaranya:

1. mengetahui tabiat kehidupan dunia dan kesulitan dan kesusahan yang ada disana, sebab manusia memang diciptakan berada dalam susah payah, sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. 90:4)

2. beriman bahwa dunia seluruhnya adalah milik Allah dan Dia memberinya kepada orang yang Dia sukai dan menahannya dari orang yang disukaiNya juga.

3. mengetahui besarnya balasan dan pahala atas kesabaran tersebut.

Diantaranya:

a. Mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firmanNya: Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 2:249)

b. Mendapatkan sholawat, rahmat dan petunjuk Allah, sebagaimana firmanNya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)

c. Sabar adalah kunci kesuksesan seorang hamba, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. 3:200).

4. yakin dan percaya akan mendapatkan pemecahan dan kemudahan sebab Allah telah menjadikan dua kemudahan dalam satu kesulitan sebagai rahmat dariNya. Inilah yang difirmankan Allah: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. 94:5-6)

5. Memohon pertolongan kepada Allah dan berlindung kepadaNya, karena Allah satu-satunya yang dapat memberikan kemudahan dan kesabaran,

6. Beriman kepada ketetapan dan takdir Allah dengan meyakini semuanya yang terjadi sudah merupakan suratan takdir. Sehingga dapat bersabar menghadapi musibah yang ada.

7. Ikhlas dan mengharapkan keridhoan Allah dalam bersabar. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS.Al Ra’d 13:22)

8. Mengetahui kebaikan dan manfaat yang ada dalam perintah dan keburukan yang ada dalam larangan. Ibnul Qayyim menyatakan: Apabila seorang mengetahui kebaikan yang ada pada amalan yang diperintahkan dan akibat buruk dan kejelekan yang ada pada amalan yang dilarang sebagaimana mestinya. Kemudian ditambah dengan tekad kuat dan motivasi tinggi serta harga diri maka insya Allah akan dapat bersabar dan semua kesulitan dan kesusahan menjadi mudah baginya.

9. Menguatkan faktor pendukung agama dalam setiap kali menghadapi perintah, larangan dan musibah yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan empat perkara:

a. Mengagungkan Allah yang maha mendengar dan meilhat. Seorang yang senantiasa ada di hartinya pengagungan terhadap Allah, tentunya dapat bersabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Bagaimana Dzat yang maha agung dimaksiati padahal Dia maha melihat dan mendengar?

b. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, sehingga ia melaksanakan perintah dan meninggalkan kemaksiatan karen mencintai Allah. Demikian juga akan bersabar atas ujian kekasihnya. Hal ini disebabkan orang yang mencintai tentu akan menaati kekasihnya dan tidak ingin dimurkai serta dapat menahan diri atas semua ujian yang diberikan kepadanya.

c. Menampakkan dan mengingat nikmat dan kebaikan Allah, sebab orang yang mulia tidak akan membalas kebaikan orang lain dengan kejelekan. Oleh karena itu mengingat nikmat dan karunia Allah dapat mencegah seseorang dari bermaksiat karena malu denganNya dan memotivasi melaksanakan perintahNya serta merasa semua musibah yang menimpanya merupakan kebaikan yang Allah karuniakan kepadanya.

d. Mengingat kemarahan, kemurkaan dan balasan Allah, karena Allah akan marah bila hambaNya dan bila murka tidak ada seorangpun yang dapat menahan amarahNya. Sehingga dengan melihat sepuluh kiat dari kiat-kiat bersabar dalam tiga jenis kesabaran ini, mudah-mudahan dapat menjadikan diri kita termasuk orang-orang yang bersabar.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Sahabat Sejati

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Sahabatmu yang menasehatimu adalah sahabat yang sayang padamu sehingga ingin kebaikan bagimu, adapun sahabat yang membiarkanmu dalam kesalahan tanpa menasehatimu adalah sahabat yang telah menipumu.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Banyak Berdoa

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Sesungguhnya hamba yang paling tinggi di sisi Allah adalah hamba yang paling merasa butuh kepada Allah.

Oleh karenanya berdoa merupakan ibadah yang sangat agung (dikabulkan atau tidak) tetap menadapat ganjaran besar disisi Allah, karena tatkala berdoa nampaklah kerendahan dan kebutuhan hamba kepada Yang Maha Kuasa….

Yuk banyak berdoa…

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Wahai Diriku

Ust. Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Wahai diriku..
Bersyukurlah kepada Allah yang telah menciptakan dirimu sebagai manusia..padahal jika Ia menghendaki, engkau diciptakannya sebagai belatung, kecoak, tikus atau…. bahkan sebagai Iblis yang dilaknati.

Wahai diriku..
Allah menciptakan dirimu agar engkau hanya beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun..agar engkau bersungguh-sungguh dalam mentaati-Nya..agar engkau tak ragu dalam meninggalkan apa-apa yang mengundang murka dan siksa-Nya..semua itu bukanlah untuk menambah kemuliaan dan kerajaan-Nya, akan tetapi semua itu agar engkau dicintai dan diridhoi-Nya..agar engkau diselamatkan dari kehinaan dan siksa dunia-akhirat..dan agar engkau pantas memasuki surga dan mendapatkan semua kenikmatan yang Ia siapkan di dalamnya..

Wahai diriku..bagaimanapun banyaknya keinginan dan tingginya cita-cita yang engkau canangkan, semua itu belum tentu engkau dapatkan. Akan tetapi kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti akan mendatangi kamu.

Maka pilihlah olehmu di antara dua perkara ini; bersungguh-sungguh dalam perkara yang belum tentu kamu dapatkan, atau bersungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian yang pasti datangnya itu..

Wahai diriku..pilihlah keridhoan Allah dan kecintaan-Nya..meski ia tak semudah membalik telapak tangan, jika itu engkau lakukan dengan kejujuran dan kesungguhan niscaya Dia tak akan membiarkan hamba yang mau mendekat kepada-Nya itu tersesat atau kebingungan..Ia pasti gembira menyambut hambanya itu..dan jika apa yang dilakukan hamba itu mengundang kegembiraan Robb-nya, niscaya hamba itu tak akan dimurkai dan mendapatkan siksa-Nya..

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Tips Menjadi Bidadari Dunia Dan Akhirat (Untuk Sang Istri)

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

1. Segera menyahut dan hadir apabila diajak untuk berhubungan.

2. Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat.

3. Tidak bermasam muka terhadap suami.

4. Senantiasa berusaha memilih perkataan yang terbaik ketika berbicara.

5. Tidak memerintahkan suami untuk mengerjakan pekerjaan wanita.

6. Keluar rumah hanya dengan izin suami.

7. Berhias hanya untuk suami.

8. Tidak memasukkan orang ke dalam rumah tanpa seijin suami.

9. Menjaga waktu makan dan waktu istirahat suami.

10. Menghormati mertua serta kerabat keluarga suami. Terutama ibu mertua.

11. Berusaha menenangkan hati suami jika suami galau.

12. Segera minta ma’af jika melakukan kesalahan kepada suami.

13. Mencium tangan suami tatkala datang dan pergi.

14. Mau diajak oleh suami untuk sholat malam, dan mengajak suami untuk sholat malam.

15. Tidak menyebarkan rahasia keluarga terlebih lagi rahasia ranjang!!

16. Tidak membentak atau mengeraskan suara di hadapan suami.

17. Berusaha untuk bersifat qona’ah (nerimo) sehingga tidak banyak menuntut harta kepada suami.

18. Sedih dan bergembira bersama suami dan berusaha pandai mengikuti suasana hatinya.

19. Perhatian akan penampilan, jangan sampai terlihat dan tercium oleh suami sesuatu yang tidak disukainya.

20. Berusaha mengatur uang suami dan tidak boros.

21. Tidak menceritakan kecantikan dan sifat-sifat wanita lain kepada suaminya.

22. Berusaha menasehati suami dengan baik tatkala suami terjerumus dalam kemaksiatan, bukan malah ikut-ikutan.

23. Menjaga pandangan dan tidak suka membanding-bandingkan suami dengan para lelaki lain.

24. Lebih suka menetap di rumah, dan tidak suka sering keluar rumah.

25. Jika suami melakukan kesalahan maka tidak melupakan kebaikan-kebaikan suami selama ini. Karena ini sebab terbesar wanita masuk neraka.

(Semoga bermanfaat dan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari kita)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menebar Cahaya Sunnah