836. Larangan Menutup Dinding Dengan Kain

836. BBG Al Ilmu – 359

Tanya:
Kenapa ada larangan menutupi dinding dengan kain ?

Jawab:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah liat (dinding).” (HR Muslim 2107).

Salim bin Abdullah berkata, “Aku mengadakan pesta pernikahan sewaktu ayahku masih hidup. Maka ayahkupun mengundang orang-orang. Dan Abu Ayyub termasuk orang yang diundang. Sementara rumahku sudah ditutupi dengan permadani dinding berwarna hijau. Lalu Abu Ayyub masuk dan melihatku sedang berdiri. Ia memperhatikan dinding rumahku yang sudah ditutupi dengan permadani dinding berwarna hijau. Ia berkata, ‘Ya Abdullah apakah kalian yang menutupi dinding dengan permadani?’ Dengan malu ayahku berkata, ‘Kami dikendalikan kaum wanita wahai Abu Ayyub.’ Lalu ia berkata, ‘Tadinya aku kawatir kaum wanita mengendalikan perkara ini namun aku tidak kawatir mereka mengendalikan dirimu. Aku tidak akan makan makanan kalian dan tidak akan masuk ke rumah kalian.’ Kemudian ia pun keluar.” (HR Bukhari 9/249).

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, ia berkata, “Abdullah bin Zaid diundang untuk menghadiri jamuan makan. Ketika ia menghadirinya, ia melihat rumah tersebut penuh dengan hiasan. Kemudian ia duduk di luar sambil menangis, ditanyakan kepadanya: ‘Apa yang membuatmu menangis ?’ Ia menjawab: ‘Dahulu apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempersiapkan pasukan dan tiba saatnya berpisah beliau mengucapkan: ‘Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan akhir dari amalanmu.’

Abdullah bin Zaid kembali melanjutkan: ‘Pada suatu hari beliau melihat seorang laki-laki mengangkat burdahnya dengan sepotong (kayu).

’ Beliau bersabda: ‘Hadapkanlah ke arah matahari terbit.’ Ia berkata: ‘Seperti ini.’  Yakni dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, Affan juga mengangkat kedua tangannya, seraya berkata: ‘Sesungguhnya dunia datang menghampiri kalian.’ (3x). Yakni telah datang. Hingga seakan-akan kami mengira dunia akan menimpa kami. Lalu beliau bersabda:

“Apakah keadaan kalian hari ini lebih baik ataukah ketika makanan dan pakaian kalian melimpah ruah hingga kalian melapisi dinding rumah kalian kain sebagaimana halnya Ka’bah ?”

Abdullah berkata: “Bagaimana aku tidak menangis ternyata aku masih hidup ketika kalian melapisi rumah kalian dengan kain seperti Ka’bah.” (Shahih diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Syaikh Salim bin’Ied Al Hilali mengatakan sanadnya shahih).

Dalam Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/238-239, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali menulis:

1. Haram menutupi dinding dengan permadani ataupun yang selainnya sebab hal itu termasuk pemborosan dan perhiasan yang tidak dianjurkan syari’at.

Al-Baihaqi berkata (VII/273), “Agaknya hukum seperti itu disebabkan adanya unsur-unsur pemborosan di dalamnya. Allahu a’lam.”

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan, “Hadits Abdullah bin Zaid memberi catatan lain bahwa tidak boleh satu rumah pun yang menyerupai Baitullah, dengan alasan bahwa kiswah hanya dikhususkan untuk Ka’bah bukan untuk rumah lainnya.

2. Mengingkari perbuatan yang mungkar dan tidak menganggapnya remeh, sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para salaf enggan masuk ke dalam rumah yang dindingnya ditutupi kain.

Ref:

** “Ensiklopedi Larangan” oleh Syaikh Salim bin’Ied Al Hilali, hal 240.

** https://bbg-alilmu.com/archives/473

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Apakah Makna : Pasangan Memiliki Agama?

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

• Untaian Nasehat.
Pertanyaan :

Assalaamu`alikum,
Ustadz mohon penjelasannya dari hadits Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, yang menyatakan bahwasanya dalam memilih pasangan maka kita harus mengutamakan bagi mereka yang mempunyai agama. Apa yang dimaksud dengan mempunyai agama tersebut dalam hadits?
Wassalamu alaikum

Alif – Lampung:

Jawaban: 

Maknanya adalah taqwa dan kesalehan. Punya ketaqwaan artinya secara dhahir dia tampak rajin shalat lima waktu berjamaah di masjid, perhatian terhadap agama sangat besar, sehingga akan tampak sifat-sifat seorang muslim pada dirinya. Itu minimal yang tampak oleh mata kita.

Belum lagi misalnya orang yang komitmen dengan sunnah Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, yang benci kisyirikan dan kebid`ahan, kemudian juga akhlaq. Karena agama juga akhlaq, karena ada orang yang sudah benci sama bid`ah benci sama syirik tapi akhlaqnya bubar. Tidak amanah tidak juga punya rasa sayang kepada sesama. Pokoknya semua sifat yang baik dan akhlaq mulia itu semua masuk ke dalam hal ini. Jadi agama bukan dia hafal al qur-an, agama dalam artian akhlaq seluruhnya. Akhlaq kepada Allah, akhlaq kepada diri sendiri, dan akhlaq kepada orang lain.

Wallahu a`lam bis shawab.

KLIK http://klikuk.com/apakah-makna-pasangan-memiliki-agama/

Semoga berguna
Sebarkan
Jazaakumullah khairan

www.KlikUK.Com
Titian Ilmu Penyejuk Qalbu

Jadi agama dalam artian akhlaq seluruhnya. Akhlaq kepada Allah, akhlaq kepada diri sendiri, dan akhlaq kepada orang lain.

Enam Fase Yang Dialami Hati

Ust. Ali Hasan Bawazier, حفظه الله

“Hati mengalami enam fase yang ia beredar di antaranya. Tiga fase adalah fase2 yang rendah dan tiga lagi adalah fase2 yang tinggi dan mulia,,
Fase2 yang rendah itu adalah: dunia yang berhias untuknya, nafsu yang menggoda dirinya dan musuh yang senantiasa meniupkan waswas di dalam hatinya. Inilah yang dialami oleh jiwa-jiwa yang rendah. Mereka berkubang di antara tiga fase ini.
Adapun fase yang tinggi dan mulia adalah: ilmu yang didalaminya, akal yang diselaraskannya dan Tuhan yang disembahnya. Inilah tempat bertenggernya jiwa-jiwa yang mulia.
Inilah enam fase beredarnya jiwa manusia.”
(Imam Ibnul Qoyim al Jauziyah)

– – – – – •(*)•- – – – –

Katakan “…Insya-Allah…”

Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang arti nya ,” Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu ,” Aku pasti melakukan itu besok pagi”, kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ ( jika Allah menghendaki ) “.

Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa’ul Bayan ,” Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan “Aku akan melakukan sesuatu esok hari”, kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yg terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى , olih karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.

Kalimat ” esok hari / besok pagi ” adalah ungkapan umum dan global untuk masa yg akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya’ir ; ” Dan aku mengetahui apa yg aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelum nya – Akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahui nya “. Sebab turunya Ayat muliya ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir kuraisy ,” Bertanya lah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Kurnain, dan tentang Ashabul Kahfi “.

Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab ,” Aku akan berikan jawaban besok “. Tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tdk turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan diatas.

Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman tatkala ia berkata ,” Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yg berjumlah 70

Dalam riwayat lain 90 , dalam riwayat lain 100 dan niscaya akan melahirkan setiap darinya Anak Laki-laki yg akan berperang dijalan Allah. Dan ia tdk mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ.

Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun dari nya terlahir, kecuali hanya satu dari istri nya yg hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia).

Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda ,” Demi jiwaku yang ada di tangan Nya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginan nya”. Dalam riwayat lain,” Niscaya masing-masing lahir anak lelaki semuanya berjuang dijalan Allah “.
– Adwa’ul Bayan 540 –

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Hukum Jama’ Qoshor

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

• Untaian Nasehat

» Pertanyaan :
Bismillah, Ustadz, ana safar lebih dari tiga hari di suatu tempat. Apakah lebih utama ana sholat fardu berjamaah bersama imam di masjid untuk setiap waktu sholat atau lebih utama ana menjalankan jama’ dan qoshor?

Penanya : Mubarok – Semarang
Email: mubaroxxx@plasa.com

» Jawaban :
Seorang musafir yang bepergian disyari’atkan mengqashar sholat. Artinya meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat sedangkan yang tiga rakaat tetap seperti sedia kala. Selama berada dalam hukum safar maka diperbolehkan melakukannya apabila sholat sendiri atau menjadi imam tanpa dibatasi jumlah hari tertentu.

Namun bila menjadi makmum kepada imam yang mukim maka menyempurnakannya empat rakaat sama dengan imamnya. Demikian juga ketika ia menjadi masbuq dan hanya menjumpai imam dua rakaat, mak ia harus menyempurnakannya menjadi empat rakaat sama dengan imamnya.

Sedangkan jama’ tidak harus dilakukan bersama qashar, karena keduanya berbeda hukum. Memang kadang keduanya berkumpul pada musafir yang membutuhkan untuk menjama’ sholat. Menjama’ dua sholat disyari’atkan kalau ada kebutuhan atau masyaqqah (kesusahan) untuk melaksanakan sholat pada setiap waktunya. Jadi tidak terbatas hanya pada musafir.

Tentang permasalahan yang saudara kemukakan, perlu melihat kepada keadaan saudara ketika dalam safar tersebut. Bila tidak ada kesusahan atau masyaqqah untuk hadir dimasjid berjamaah maka berjamaah bersama imam di Masjid lebih utama. Apabila ada kebutuhan atau keperluan dan merasakan kesusahan (masaqqah) bila sholat setiap waktu bersama imam masjid maka lebih baik menjama’nya. Hal ini karena Allah taala menginginkan kemudahan kepada hamba-Nya.

http://klikuk.com/hukum-jamaqoshor/

 Ustadz Kholid Syamhudi. Lc

Sebarkan
Semoga bermanfaat
Jazaakumullah khairan

www.KlikUK.Com
Titian Ilmu Penyejuk Qalbu.

Bila tidak ada kesusahan atau masyaqqah untuk hadir dimasjid berjamaah maka berjamaah bersama imam di Masjid lebih utama…

– – – – – •(*)•- – – – –

Manfaat Dzikir

Ust. MA Tuasikal, حفظه الله

Ibnul Qayyim berkata: Di antara manfaat dzikir adalah menghilangkan gelisah dan gundah gulana.~Al Wabilush Shoyyib~Tentu saja yang diamalkan adalah dzikir yang ada tuntunan dari Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Rumaysho.Com

– – – – – •(*)•- – – – –

Kondisi Muslimah Di Negeri Ini

Ust. MA Tuasikal, حفظه الله

Di Perancis dan Jerman
Negeri non muslim,
Namun wanita muslimah berlomba-lomba mengenakan jilbab bahkan ingin menutupi wajah,

Sampai-sampai mereka berseberangan dengan hukum negara yang melarang berhijab
Di Negara Indonesia
Negeri mayoritas muslim,
Namun wanita muslimah berlomba-lomba mengikuti mode, berjilbab atasnya, namun bawahnya bergaya ala barat dengan penuh ketat.
Sampai-sampai ada juga yang menentang jilbab.
Sungguh musibah.Wallahul musta’an.

Sungguh miris hati ini lihat kondisi wanita di negeri ini.
Semoga Allah memberi taufik untuk pada wanita muslimah di negeri ini untuk menutup aurat dengan benar.

www.rumaysho.com

– – – – – •(*)•- – – – –

Pesona Mukmin

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata:
Mukmin itu.. melihatnya untuk mengetahui..
Berbicaranya untuk memahami..
diamnya untuk menyelamatkan diri..
kesendiriannya untuk mendapat pahala..
(Hilyah auliya 2/103)

itulah mukmin..
hari harinya tak sepi dari menambah ilmu dan pahala…

Nabi shallallahu alaihi wasalla bersabda:
عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير إن أصابته السراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته الضراء صبر فكان خيرا له وليس ذلك إلا للمؤمن
mengagumkan urusan mukmin..
bila ia diberi kesenangan ia bersyukur..
maka itu kebaikan untuknya…
bila ia ditimpa kesulitan ia bersabar..
maka itu kebaikan untuknya…
itu semua tidak terjadi kecuali kepada mukmin..
(HR Muslim).

itulah mukmin..
kehidupannya tak lepas dari kebaikan..

– – – – – •(*)•- – – – –

Apakah Masih Lalai Untuk Bertaubat

Ustadz Fuad Hamzah Baraba’ LC

Apakah Masih Lalai Tuk Bertaubat, Padahal Allah Ta’ala akan menerima taubat para hamba-Nya sampai datangnya Hari Kiamat. Nabi صلى الله عليه و سلم menjelaskan dalam hadits riwayat Muslim,

قال صلى الله عليه و سلم: إن اللهَ عزّ وجل يبسطُ يده بالليل ليتوب مسيءُ النهار ويبسطُ يده بالنهار ليتوب مسيءُ الليلِ حتى تطلع الشمس من مغربِها صحيح مسلم: (٢٧٥٩)

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya δi waktu malam untuk menerima taubat orang Чαπƍ bebruat dosa δi waktu siang, dan membentangkan tangan-Nya δi waktu siang untuk menerima taubat orang Чαπƍ berbuat dosa δi waktu malam, sampai matahari terbit dari sebelah barat (hari kiamat). (HR. Muslim:2759).

Semoga bermanfaat…

Liahat: http://wp.me/pPlcC-jT

– – – – – •(*)•- – – – –

Rumah Idaman Dan Kuburan

Ust. Abu Tiyadl, حفظه الله

Rumah idaman?
Udah lunas..
Gede..
Perabot lengkap..
Permadani memenuhi lantai..
Ber ac brrrr
Halaman luas..
Taman yang indah..

Tapi… jika ia kosong dari bacaan quran oleh lisan pemiliknya maka ia tak berbeda dg kuburan.. yang pengap dan sempit serta gelap..

simak apa sabda nabi shalallahu’alaihiwasalam tentang rumah idaman ini:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ وَالَّذِي لَا يُذْكَرُ اللهُ قِيْهِ كَمَثَلِ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa radhiAllahu’anhu , dari Nabi shalallahu’alaihiwasalam  bersabda;
“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, seperti perumpamaan orang hidup dan mati.” Al-Bukhari (6407).
Rumah yg tak dilantunkan Alqur’an maka ia seperti quburan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Dari Abu Hurairah radhiAllahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu’alaihiwasalam bersabda,
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian pekuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.”
Shahih, diriwayatkan Muslim (780).

Walau kecil dan sempit tapi ia bagaikan surga di dunia.. jika penuh dg qur’an didalamnya..

Sudah berapa lembar yang anda baca pada hari ini dirumah?

Caranya mudah.. setiap selesai sholat fardhu jangan lupa anda isi dg membaca al qur’an atau sebelum sholat tiba.. maka anda akan dimudahkan tuk men tilawahnya..
Apalagi jika rutin.. bayangkan berapa banyak yang pahala yang anda dapat setiap 5 waktu sholat fardhu.. satu huruf 10 kebaikan..

InsyaAllah mudah dalam mengkahatamkan qur’an tiap pekan.. atau mungkin tiap bulan..
Barakallhu fikum..
…..

Sangat disayangkan.. sebagian ikhwan dan akhwat… semoga antum bukan termasuk… padahal mereka sudah rajin menimba ilmu lewat kajian dan lainnya.. jika untuk membaca alqur’an namun beratnya seakan memindah gunung merbabu dan merapi.. berattt dan malass..
Bagaiman hati akan dapat tuma’ninah dan selalu dapat memanfaatkan ilmu yang ia dapat..

Jika anda beralasan lelah.. maka ngobrol dg teman kok gak lelah..
Jika anda merasa ngantuk.. mengapa nonton TV anda gak ngantuk.. atau nyupir berjam jam di jalan anda kuat.. atau bbm bisa tahan bermenit menit or bisa berjam jam..
Depan komputer juga tahan lama jika ada kebutuhan..

Bukankah anda membutuhkan alqur’an..? Atau perasan diri yang kurang membutuhkan..
Ya itu jawabannya ada pada anda sendiri..
Berat memang untuk memulai.. tapi lebih berat untuk ISTIQOMAH..

Semoga pesan tadi tidak diabaikan.. seperti tiupan angin yang menerpa wajah sesaat..

Aminn

Menebar Cahaya Sunnah