Boros

Ust. M A Tuasikal, حفظه الله

Disebut boros jika kita membelanjakan harta untuk tujuan tidak benar dan jalan maksiat.

Namun jika harta disalurkan untuk jalan ketaatan, untuk menunaikan kewajiban zakat, untuk menafkahi keluarga, untuk membeli buku agama bermanfaat, bukanlah boros.

Mujahid -seorang tabi’in- berkata:
Seandainya seseorang membelanjakan seluruh hartanya dalam kebaikan, itu bukanlah tabdzir (boros). Namun jika ia menyalurkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) untuk kejelekan, itulah yang disebut boros.

Selengkapnya di:
http://rumaysho.com/tafsir-al-quran/apa-yang-dimaksud-boros-2112

 Ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Tiga Tanda Kebahagiaan

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, Yang senantiasa diharapkan terijabahnya setiap do’a yang kita panjatkan kepada-Nya siang dan malam.

Semoga Allah melindungi kita semua di dunia maupun akhirat.

Semoga Allah senantiasa melapangkan/meluaskan segala nikmat-Nya baik secara zhahir maupun batin kepada kita semua.

Semoga Allah pula menjadikan kita menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur tatkala diberi nikmat oleh-Nya serta bersabar ketika ditimpa musibah dan memohon ampunan kepada Allah ketika kita terjerumus dalam lembah kenistaan yaitu dosa dan ma’siyat. 

Saudaraku…

Inilah tiga tanda kebahagiaan dan tanda keberuntungan seorang hamba di dunia dan akhiratnya ya’ni seorang hamba yang senantiasa akan berputar pada tiga kondisi ini.

Inilah tiga tanda bahagianya:
1. Bersyukur ketika diberi nikmat.
2. Bersabar ketika ditimpa musibah (cobaan) dan mengharapkan ganjaran disisi Rabbnya
3. Memohon ampun pada ALLAH ketika telah terjerumus dalam dosa.
Dan setiap kita akan selalu berputar dalam tiga kondisi ini.

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – (*) – – –

Tanda Bakti Seorang Anak

Ust. Firanda, حفظه الله

Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya…
Karena…

(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua.

(2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…

(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?

(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…

Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu….

Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.

Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

 Ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja MA حفظه الله تعالى

Mengintip Aib Diri

Ibnu Qudamah rohimahullah berkata,

“Siapa yang ingin mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya, maka ada empat cara:

1. Duduklah di hadapan seorang syaikh yang amat faham mengenal kesalahan diri. Ia akan memberitahumu dan memberi obatnya. Namun cara ini amat jarang di zaman ini.

2. Memiliki teman yang jujur yang mengingatkan kesalahannya. Dahulu Umar bin Khathab berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aib-aib kami.” Demikian pula salafushalih terdahulu suka bila ada yang mengingatkan kesalahannya. Sedangkan di zaman ini, orang yang mengingatkan kesalahan kita mungkin orang yang paling tidak kita sukai.

3. Mendengar dari lisan musuh. Karena mata yang memusuhi biasanya akan memperlihatkan aib sekecil apapun. Ini lebih bermanfaat untuk mengenal aib sendiri dibandingkan teman yang menjilat.

4. Bergaul dengan manusia.
Sesuatu yang tercela diantara mereka jauhilah.

(Mukhtashor Minhajil Qoshidin hal 156).

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc حفظه الله تعالى

Terjalnya Istiqomah

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Istiqomah amat kita butuhkan..
untuk meniti jalan kebenaran..
semua kita khawatir bila mati dalam keadaan suulkhatimah..
maka..
tiada jalan kecuali untuk berjuang..
menyelamatkan diri dari api Neraka..
bersabar sebentar di dunia..
meraih surga dambaan..
sedangkan bersabar di akhirat..
tak lagi berguna..

– – – – – •(*)•- – – – –

Hukum Shalat Tasbih Dan Tata Caranya

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Para ulama bersilang pendapaat tentang hukum shalat tasbih dalam tiga pendapat berdasarkan perbedaan mereka terhadap keabsahan hadits Al-Abaas bin Abdilmuthalib yang berbunyi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ لَكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَقَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ وَخَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَصَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرُ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ قُلْتَ وَأَنْتَ قَائِمٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُ وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Al-Abaas bin Abdulmuthalib: “Wahai pamanku! Maukan aku beri, maukah aku anugerahkan, maukah aku kasih dan maukah aku lakukan untukmu sepuluh perkara apabila kamu kerjakan maka Allah akan mengampuni seluruh dosa yang pertama hingga terakhir, yang lalu dan yang sekarang, baik yang dilakukan karena keliru ataupun sengaja, dosa kecil dan besar, tersembunyi dan yang terang-terangan. Sepuluh perkara itu adlah kamu lakukan shalat empat rakaat, kamu baca dalam setiap rakaat surat Al-Fatihah dan surat (Al-Qur`an). Apabila telah selesai dari membaca surat di awal rakaat, maka ucapkalah dalam keadaan kamu berdiri:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ sebanyak lima belas kali kemudian ruku’ lalu ucapkanlah dlam keadaan kamu ruku’ sepuluh kali, kemudian mengangkat kepalanya (berdiri) dari ruku’ lalu ucapkanlah tasbih tersebut sepuluh kali, kemudian turun sujud dan mengucapkan dalam sujudmu tasbih tsb 10 kali, kemudian bangkit dari sujud dan mengucapkan nya 10 kali. Kemudian sujud lagi dan mengucapkanya 10 kali lalu bangkit dan mengucapkan 10 kali. Sehingga jumlahnya 75 kali dalam satu rakaat.  Kerjakanlah empat rakaat apabila kamu mampu melakukannya dalamsetiap hari sekali maka kerjakanlah dan bila tidka mampu maka sekali dalam satu Jum’at apabila tidka mampu maka setiap bulan sekali dan bila tidak mampu maka sekali dalam seumur hidup.” (HR Abu Daud 1105 4/59 dan ibnu Maajah 1377  dan dimasukkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib dan At-Tarhib no 677 ).

Diantara ulama dan yang menghukumi hadits ini sebagai hadits dhaif (lemah) dan sebagian lainnya mengabsahkannya. Diantara ulama yang mengabsahkan hadits ini adalah Abu Daud,  Al-Haakim, Al-Baihaqi, ibnu Hajar, Ahmad Syakir dan Al-Albani.

Yang rajih –wallahu a’lam-  dari pendapat ulama tentang hadits ini adalah pendapat yang mengabsahkan riwayat ini.

Berdasarkan hal ini maka shalat tasbih termasuk shalat sunnah yang diperbolehkan dengan tata cara yang ada dalam hadits diatas.

Dapat disimpulkan tata caranya adalah:

1.    Bertakbir dan berdiri lalu membaca Al-Fatihah  dan surat dari Al-Qur`an kemudian membaca `15 tasbih yang berbunyi: سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

2.    Kemudian ruku’ dan membaca tasbih tersebut 10 kali

3.    Lalu berdiri i’tidal setelah mengucapkan sami’allahu liman hamidah mengucapkan tasbih 10  kali

4.    Lalu turun sujud dan membaca tasbih ini dalam sujudnya sebanyak 10 kali

5.    Lalu bangkit dari sujud untuk duduk diantara dua sujud dan mengucapkan tasbih ini 10 kali

6.    Kemudian sujud kedua dan mengucapokan dalam sujudnya tasbih ini 10 kali

7.    Kemudian bangkit dari sujud dan mengucapan tasbih sebanyak 10 kali. Sehingga totalnya adalah 75 kali tasbih.

8.    Kemudian bangkit untuk rakaat kedua, ketiga dan keempat seperti itu juga. Sehingga jumlah totalnya adalah 300 kali tasbih.

Demikianlah seputar shalat tasbih mudah-mudahan bermanfaat.

Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.

BAGAIAMANA ISLAM DALAM MENDIDIK ISTRI YANG NUSYUZ ?

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

ALLAH subhaanahu wa taala berfirman:

Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka maka berilah mau’izhah kepada mereka, boikotlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Namun bila kemudian mereka menaati kalian maka tidak boleh bagi kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (An-Nisa`: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t dalam tafsirnya berkata, “ALLAH berfirman, ‘Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka’, maksudnya mereka menarik diri dari menaati suami mereka dengan bermaksiat (tidak patuh) kepada suami, baik dengan ucapan ataupun perbuatan, maka suami hendaknya memberikan pengajaran/adab kepada si istri dengan cara yang paling mudah/ringan. Yang dimaksud dengan cara yang paling mudah/ringan.

Pertama;
“berilah mau’izhah/nasehat kepada mereka” (Nasehat yang baik serta lemah lembut dalam menasehatinya), dengan menerangkan hukum Allah dalam perkara ketaatan dan maksiat kepada suami dan memberikan anjuran untuk taat kepada suami serta menakuti-nakuti dengan akibat yang didapatkan apabila bermaksiat kepada suami. Bila si istri berhenti dari perbuatannya maka itulah yang diinginkan. Namun bila tetap terus dalam perbuatan nusyuznya, dalam artian nasihat yg sudah disampaikan tidak mempan, maka tahapan berikutnya yaitu

kedua:
Diboikot/didiamkan di tempat tidur mereka dengan tidak mau “tidur” bersamanya, serta tidak menggaulinya sekadar waktu yang dengannya tercapai maksud (istri menjadi sadar akan perbuatannya).

Ketiga:
Apabila tidak berhasil juga, barulah pindah ke tahap selanjutnya yaitu dipukul dengan pukulan yang tidak keras (pukulan yg tdk memberikan bekas dan tidak memukul wajahnya).

Apabila telah tercapai tujuan (istri tidak lagi berbuat nusyuz) dengan salah satu dari beberapa tahapan di atas dan istri kalian kembali menaati kalian, “maka tidak boleh bagi kalian (para suami) mencari-cari jalan untuk menyusahkan/menyulitkan mereka”, maksudnya adalah telah tercapai apa yang kalian sukai/inginkan, maka janganlah kalian mencela dan mencerca mereka dalam kesalahan-kesalahan mereka yang telah lalu, dan jangan menyelidiki/mencari-cari kesalahan yang akan bermudarat bila disebutkan serta menjadi sebab timbulnya kejelekan.

(Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 166)

Untuk itu ikhwah sekalian bersabarlah dengannya, bergaulah dg baik serta nasehatilah mereka dg lemah lembut serta doakan mereka dg kebaikan, sebagaimana Nabi mendoakan kebaikan untuk istri-istrinya
(ini yg kita sering lupakan, yaitu mendoakannya) dan didiklah mereka dengan bimbingan Alqur’an dan Sunnah, tentunya yg demikian bisa tercapai apabila dirimu (para suami) terdidik diatas bimbingan alqur’an dan sunnah.

Akhukum Ahmad Ferry Nasution

– – – – – •(*)•- – – – –

KASIH SAYANG DIANTARA PARA SAHABAT

Ust. Rochmad Supriyadi LC

Sahabat muliya Ali رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ bercerita,” Suatu hari datang kepadaku Abu Bakar dan Umar, beliau berdua berkata,” Alangkah baiknya engkau datang menemui Rosulullah صلى الله عليه وسلم dan engkau meminang putri Nya Fa’thimah”.

Maka aku pun bersegera melakukan anjuran Abu Bakar dan Umar, mendatangi Baginda Rosulillah صلى الله عليه وسلم , maka Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepadaku,” Pergilah, dan jual perisaimu dan segera kembali dg hasil jualanmu, hingga aku segera persiapkan putriku Fa’thimah agar Aku nikahkan denganmu”.

Maka aku segera pergi menjual tameng/perisai yg aku miliki kepada Utsman ibnu Affan dengan harga 400 dirham. Tatkala aku bergegas pergi meninggalkan Utsman maka ia berkata,” Bukankah sekarang perisai ini milikku sekarang? Maka Aku jawab; iya. Utsman lalu berkata; “perisai ini saya hadiyahkan kepada mu”.

Aly berkata; “Maka aku membawa uang dirham dan perisai kehadapan Nabi صلى الله عليه وسلم dan aku hadapkan di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم , dan aku ceritakan apa yg dilakukan utsman kepadaku, maka Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa kebaikan untuk Utsman”.

Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم mengambil uang dirham dan memangil Abu Bakar agar membeli sesuatu utk persiapan dan perbekalan pernikahan putri nya Fa’thimah dirumah nya.

Nabi memerintahkan kepada Anas رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ agar mengundang Abu Bakar, Umar, Utsman, Tholhah, Zubair, dan beberapa orang anshor, tatkala semua hadir maka Nabi صلى الله عليه وسلم berkata,” Bersaksilah untuk Ku bahwa aku menikahkan putriku Fa’thimah bersama Aly dengan mahar 400 mitskol dari perak”.

– Hukbah minal Ta’rikh hal 8-9, syeh Utsman Al-Khomist-

– – – – – •(*)•- – – – –

Mayat Hidup

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Hudzaifah bin Al Yaman berkata, “Orang yang telah mati dan beristirahat bukanlah mayit, akan tetapi mayit itu adalah mayat hidup.”

Ditanya, “Wahai Abu Abdillah, apakah mayat hidup itu?”

Beliau berkata, “Yaitu orang yang hatinya sudah tidak lagi mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran.”

Riwayat ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya (15/172-173).

By: Ustadz Abu Yahya Badrusalam

– – – – – •(*)•- – – – –

Kemuliaan Seorang Mukmin

Ust. Badrusalam LC, حفظه الله

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أتاني جبريل فقال يا محمد عش ما شئت فإنك ميت و أححبب من شئت فإنك مفارقه اعمل ما شئت فإنك مجزي عنه و اعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل وعزه استغناءه عن الناس

“Jibril datang kepadaku dan berkata..

Ya Muhammad..
Hiduplah semaumu..
Sesungguh engkau akan mati..
Cintailah siapa yang engkau suka..
Sesungguhnya engkau kelak akan berpisah dengannya..

Berbuatlah sekehendak hatimu..
Sesungguhnya engkau akan diberikan balasan..

Ketahuilah..
Sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin..
Terletak pada sholat malamnya..

Dan keperkasaannya..
Terletak pada ketidak butuhannya kepada manusia..

(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul iman..
Dan dishahihkan oleh syaikh Al AlBani.. Dalam shahih Jami’ no 73).

– – – – – •(*)•- – – – –

Menebar Cahaya Sunnah