Jangan Bertetangga

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Umar bin Al Khathab menulis surat kepada Abu Musa:

“Perintahkan para karib kerabat itu untuk saling berkunjung, dan jangan saling bertetanggaan.”(Al ‘Aqdul Fariid 2/164).

Kata orang..Saudara itu kalau jauh sewangi bunga..Tapi kalau berdekatan sebau tinja..bisa jadi benar..karena..Hubungan kekerabatan amat rawan retak..Mudah putus..Kecuali orang yang dirahmati oleh Allah..

– – – – – •(*)•- – – – –

Hakikat Taubat

Hakikat taubat sebagaimana yang telah ditegaskan Imam Raghib Al-Ashfahani rahimahullah adalah

1. Meninggalkan dosa karena keburukannya.

2. Menyesali dosa yang telah dilakukan.

3. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.

4. Berusaha melakukan apa yang bisa menjadi penggantinya (kebaikan).

Jika keempat hal itu terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna. (Mufradat al fadil al qur’an, al-Asfahani, hal.169)

Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kaum muslimin.

Muslim.or.idHakikat taubat

Tidak Lari Mengapa Dikejar & Tidak Hilang Mengapa Kawatir ?

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Biasanya anda berlari karena mengejar sesuatu agar tidak menjauh. Sebagaimana biasanya sesuatu bila ditinggal atau diabaikan akan hilang, sehingga anda kawatir setiap kali ketinggalan sesuatu.

Namun anehnya selama ini anda berlari mengejar rejeki, padahal untuk urusan rejeki, ia tidak pernah lari. Sebaliknya, anda menjadi gundah, lagi panik bila menyadari ada dari sebagian harta anda yang ketinggalan di suatu tempat karena anda kawatir kehilangan.

Sobat! ketahuilah sikap semacam ini sejatinya adalah kesalahan besar yang selama ini melilit diri anda.

Percayalah bahwa rejeki anda tidak akan pergi menjauh sehingga tidak ada perlu anda berlari tunggang langgang mengejarnya.

Sebaliknya rejeki anda juga tidak akan hilang dipungut orang walaupun telah ketinggalan di suatu tempat.

Cukuplah anda berusaha sewajarnya yaitu dengan tetap mengindahkan batasan dan hukum syari’at, niscaya seluruh rejeki anda pasti berhasil anda dapatkan dan nikmati.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الروح الأمين نفث فى روعى أنها لا تموت نفس حتى تستوفى رزقها فأجملوا فى الطلب

Sejatinya Malaikat Jibril (Ruhul Qudus) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa tiada seorang jiwapun yang meninggal dunia hingga ia benar-benar telah
mengenyam jatah rizkinya, karena itu tempuh jalan-jalan yang baik dalam mencari rizki. (Ibnu Aii Syaibah, Al Baihaqy dan lainnya).

percayalah sobat! niscaya anda bahagia.

¤ Nasehat ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi ¤

Jika Anda Menjadi Qadhi

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Dua hari yang lalu Fulan baru saja kehilangan barang. Ponsel seharga puluhan juta rupiah itu raib saat ia tiduran di masjid. Tiba-tiba Fulan melihat Alan sedang asyik bermain ponsel yang mirip dengan ponselnya yg hilang.

Fulan langsung mendekati Alan. Diperhatikannya ponsel Alan dengan seksama. Ternyata, ponsel itu memiliki ciri yang persis dengan ponsel Fulan yang hilang. Fulan yakin itu adalah ponselnya.

Emosi Fulan langsung meluap. Fulan merebut ponsel dari tangan Alan. Alan tidak terima ponselnya direbut Fulan. Keributan terjadi. Fulan menuduh si Alan mencuri. Alan mengelak. Ia mengaku telah membeli ponsel itu dari temannya yang dua bulan lalu datang dari luar negeri.

Fulan tidak punya saksi. Tapi Alan pun juga tidak punya bukti kwitansi.

Keduanya sepakat mencari penengah sebagai Qodhi untuk menghakimi. Dan ternyata, keduanya mendatangi Anda.

Lantas, Apa yang akan Anda lakukan ?

Simak penjelasan Ust Abu Yahya Badrusalam ,Lc.

http://m.salamdakwah.com/videos-detail/seri-arbain-annawawiyah—hadits-33.html

Mengapa Anda Pilih Yang Hina ?

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Sholat tahajjud supaya karirnya dilancarkan. Puasa senin kamis agar lulus ujian. Rutin sholat dhuha untuk penglaris dagangan. Rajin berdzikir berharap bertambahnya kekayaan. Padahal itu semua adalah amal ibadah yang seharusnya dilakukan untuk mengharap pahala dari sisi Allah taala.

Orang yang beribadah dengan tujuan dunia berarti dia menyamakan kehidupan akhirat yang Allah janjikan sama nilainya dengan dunia yang dia harapkan. Padahal tidak pantas menyamakan dunia dengan akherat.

Tidakkah dia tahu, seandainya dunia itu bernilai disisi Allah meskipun hanya seberat satu sayap nyamuk, tentulah orang-orang kafir tidak akan Allah beri minum walapun hanya seteguk. Tidakkah dia tahu, Rosulullah pernah mengambarkan bahwa dunia itu hina seperti bangkai kambing yang cacat telinganya. Bahkan, Rosulullah pernah menggambarkan dunia itu seperti kotoran manusia. Pantaskah dia mengharapkan yang hina dan meninggalkan yang mulia ? Bagaimana dgn kita?

Simak penjelasan Ust Abu Yahya Badrusalam,Lc. Klik http://m.salamdakwah.com/videos-detail/keikhlasan-1.html#Mengapa Anda Pilih Yang Hina?#

– – – – – •(*)•- – – – –

Antara Dokter Dan Ustadz

Ust Firanda Andirja, MA -hafizhahullah-

Jika menjadi dokter beresiko…, maka demikian juga menjadi da’i/ustadz maka lebih sangat beresiko. Jika sang dokter salah memberi resep bisa semakin memperparah derita pasien atau bahkan menyebabkannya meninggal…

Maka demikian juga jika ustadz salah memberi fatwa… tergesa-gesa… tidak menganalisa terlebih dahulu… maka bisa menyesatkan di dunia dan di akhirat menyebabkan penderitaan di akhirat.

Maka sungguh wajar jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para ustadz yang demikian :

فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhari no 100 dan Muslim no 2673)

Maka jika masyarakat marah tatkala melihat dokter yang materialistis (padahal dokter bekerja mencari penghasilan…) apalagi sampai salah memberi resep…

Maka masyarakat lebih utama untuk marah kepada ustadz yang
materialistis (yang memasang tarif, apalagi tarif yang tinggi…!!!), apalagi sampai berfatwa menyesatkan umat atau membela firqoh sesat…!!

Tentunya seorang dai/ustadz yang telah berusaha dan berijtihad lantas salah dalam fatwanya, maka ustadz seperti seharusnya dimaafkan oleh masyarakat.

Maka demikian pula seorang dokter yang sudah berusaha menganalisa penyakit, bahkan mungkin bermusyawarah dengan para dokter yang lain, kemudian ternyata salah memberi resep atau salah mengambil tindakan, maka dokter ini bukan hanya dimaafkan akan tetapi juga dihargai atas usahanya, sebagaimana ustadz yang salah berfatwa namun dibangun diatas ijtihad dan usaha, maka ia mendapatkan satu pahala.

Jika Ustadz tidak ada yang maksum, maka terlebih lagi dokter tidak ada yang analisanya selalu tepat dan benar !!!, Apalagi kesembuhan hanya dari Allah…sebagaimana hidayah hanya milikNya…

– – – – – •(*)•- – – – –

Kelezatan Pada 3 Pintu

Ust. Badrusalam, حفظه الله

قال الحسن البصري رحمه الله : ” تفقدوا الحلاوة في ثلاثة أشياء : في الصلاة وفي الذكر ، وفي قراءة القرآن ، فإن وجدتم .. وإلا فاعلموا أن الباب مغلق ” ..

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:”Carilah kelezatan pada tiga: pada sholat, dzikir dan membaca alqur’an.” Jika kalian menemukan kelezatan padanya (maka itu kebaikan). Jika tidak, berarti pintu masih tertutup. ” (Hilyah auliya 4/318).

– – – – – •(*)•- – – – –

Ikhlas

Ust. Ferri Nasution, حفظه الله

Mukmin yang ikhlas kepada ALLAH merupakan manusia yang paling baik hidupnya, paling tentram pikirannya, paling lapang dadanya dan paling bahagia hatinya. Inilah surga yang disegerakan sebelum surga yang abadi.

(Ad-daa’waddawaa’)

– – – – – •(*)•- – – – –

Islam Kok Kumuh

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Mungkin itu ucapan yang kadang terucap dari lisan sebagian ummat Islam. Atau ada pula yang berkata : islam kok malas, atau islam kok menipu ….. dst.

Sobat ketahuilah bahwa ucapan di atas pastilah tidak tepat karena Islam tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk hidup kumuh, malas, menipu atau tindakan menyimpang lainnya.

Islam hanya mengajarkan kebaikan, dan jalan hidup yang paling bagus lagi lurus sehingga pasti akan berakhir di pintu surga Allah.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sejatinya Al Qur’an ini menunjukkan kepada jalan yang paling lurus dan membawa kabar gembira bagi orang orang yang beriman lagi beramal shaleh bahwa mereka pastilah mendapatkan pahala yang besar. (Al Isra’ 9)

Rasulullah صلى اللّه عليه وسلم bersabda:
أكمل المؤمنين إيمانا، أحسنهم خلقا
Orang beriman yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaqnya. (Ahmad dan lainnya)

Adapun ummat Islam, maka dari mereka ada yang kumuh, malas, bodoh, kaku, kejam dan lainnya. Namun tentu itu semua tidak mewakili islam, itu adalah penyimpangan mereka semua dari syariat Islam. Bahkan bisa jadi kita, saya atau anda adalah salah satu oknum muslim yang melakukan sebagian dari perilaku menyimpang di atas.

Andai kita semua menjalankan islam seutuhnya niscaya semua itu tida terjadi, simaklah firman Allah berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai orang orang yang beriman masuklah kalian semua kedalam islam secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan, sejatinya setan itu adalah musuh kalian yang nyata. (al Baqarah 208)

Ust. Dr Muhammad Arifin Badri

Tujuan Ibadah

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:”Wahai manusia.. Beribadahlah kepada Rabbmu.. Yang telah menciptakanmu..Dan menciptakan orang-orang sebelum kamu..Agar kamu bertaqwa..Al Baqarah ayat 21..

Ini menunjukkan bahwa tujuan ibadah adalah taqwa..Maka ibadah yang tidak menimbulkan ketaqwaan..tanda Allah tidak menerimanya..Ibnu Umar berkata, “Bila aku mengetahui sholatku diterima..Itu lebih aku sukai dari dunia dan seisinya..Karena Allah berfirman yang artinya.. “Sesungguhnya Allah hanyalah menerima dari orang-orang yang bertaqwa saja.”Al Maidah ayat 27..

– – – – – •(*)•- – – – –

Menebar Cahaya Sunnah