Di Surga Tidak Ada Matahari dan Bulan..?

TANYA:

Benarkah di surga tidak ada matahari dan bulan? Seperti yang disebutkan di surat al-Insan ayat 13. Sy pernah mendengar ini dr seorang ustad… mohon penjelasan…

JAWAB:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita mengimani firman Allah sebagaimana yang Dia nyatakan dalam al-Quran,

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا

Di dalam surga mereka duduk bertelekan di atas dipan, di dalamnya mereka tidak merasakan matahari dan tidak pula zamharir.” (QS. al-Insan: 13)

Penjelasan ahli tafsir,

[1] Keterangan Ibnul Jauzi,

قوله تعالى : { لاَ يرَوْنَ فيها شمساً } فيُؤذيهم حَرُّها { ولا زمهريراً } وهو البرد الشديد . والمعنى : لا يجدون فيها الحَرَّ والبرد . وحكي عن ثعلب أنه قال : الزمهرير : القمر، أي : لم يطلع القمر .

Firman Allah, (yang artinya) “di dalamnya mereka tidak merasakan matahari” sehingga mereka terganggu dengan teriknya matahari. Dan tidak merasakan zamharir, yaitu cuaca dingin yang kuat. Maknanya, mereka tidak merasakan panas dan dingin. Sementara Ibnu Tsa’lab menyebutkan bahwa Zamharir maknanya adalah bulan. Sehingga maksud ayat, tidak terlihat bulan. (Tafsir Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 6/104).

[2] Keterangan Ibnu Katsir,

أي: ليس عندهم حَرّ مزعج، ولا برد مؤلم، بل هي مزاج واحد دائم سَرْمَدْيّ

Artinya mereka tidak mengalami kepanasan yang terik dan dingin yang berat. Namun tergabung menjadi satu, terus seperti itu selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/290).

Makna zamharir, dipahami banyak ulama tafsir dengan cuaca sangat dingin. Diantara dalil yang mendukung makna ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قَالَتِ النَّارُ رَبِّ أَكَلَ بَعْضِى بَعْضًا فَأْذَنْ لِى أَتَنَفَّسْ. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِى الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِى الصَّيْفِ فَمَا وَجَدْتُمْ مِنْ بَرْدٍ أَوْ زَمْهَرِيرٍ فَمِنْ نَفَسِ جَهَنَّمَ وَمَا وَجَدْتُمْ مِنْ حَرٍّ أَوْ حَرُورٍ فَمِنْ نَفَسِ جَهَنَّمَ

Neraka mengadu, ‘Ya Rabbi, kami antara satu dengan yang lain saling memakan, maka izinkan aku untuk menghembuskan nafasku.’ Lalu Allah izinkan untuk bernafas dua kali. Nafas ketika musim dingin dan nafas ketika musim panas. Cuaca dingin atau zamharir yang kalian jumpai, itu dari nafasnya jahanam. Sementara kondisi panas terik yang kalian jumpai, itu dari nafasnya jahanam. (HR. Muslim 1434).

Dalam hadis di atas ada penyebutan zamharir sebagai kesamaan dari cuaca dingin.

Sehingga kita mengimani seperti yang Allah beritakan. Dan ayat di atas dipahami kebanyakan ahli tafsir sebagai kenikmatan surga dalam bentuk mereka tidak kepanasan dan tidak kedinginan. Apakah di surga ada matahari dan bulan? Allahu a’lam kami tidak tahu pernyataan yang menegaskan itu…

Wal ilmu ‘indallah…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى.

Ref:  https://konsultasisyariah.com/31121-di-surga-tidak-ada-matahari-dan-bulan.html

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-17

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH KE-16 bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 17 🌼

Bahwa mereka menyuruh kepada perbuatan yang ma’ruf dan melarang dari perbuatan yang mungkar DENGAN ILMU, dengan SIKAP LEMAH LEMBUT, dengan SABAR, dengan tujuan untuk memperbaiki.

Berdasarkan dengan firman Allah [QS Al-Imran : 104]

‎وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ

Hendaklah diantara kalian ada sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan, beramar ma’ruf nahi mungkar

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beraabda:

‎إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ

Sesungguhnya ALLAH  itu LEMBUT dan CINTA KELEMBUTAN

‎وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Dan Allah memberikan pada kelembutan apa yang Allah tidak berikan kepada sikap keras dan kasar.”

Maka dari itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata dalam mad muftafawa jilid 13 halaman 96:

Maka apabila (kata beliau), kita tidak bisa menghasilkan kebaikan yang banyak kecuali dengan melakukan kebaikan yang sedikit, maka kita lakukan kebaikan yang sedikit itu. Bila kita tidak bisa menghasilkan kebaikan yang banyak.”

Dan apabila kita tidak bisa menghilangkan keburukan sama sekali, dimana kita di hadapkan pada dua keburukan yang satu lebih besar dan satu lebih kecil, maka tentunya lebih kecil lebih kita pilih.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul untuk menghasilkan maslahat dan menyempurnakannya dan meniadakan mafsadat/menyedikitkannya.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahkan manusia dengan sesuai kemampuan.
Dan orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, hendaklah mempunyai sifat-sifat yang tadi telah di sebutkan:

1. DIA HARUS BER-ILMU terhadap yang ia perintah dan larang.
2. DIA MEMPUNYAI SIFAT LEMBUT dan bukan orang yang kasar dan harus dengan punya sifat sabar.

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar dalam kitab Minhajus Sunnah An Nabawiyah jilid 5 halaman 256. Kata beliau:
“..maka melaksanakan kewajiban berupa dakwah yang wajib membutuhkan kepada syarat-syarat yang harus terpenuhi..”

Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar harus mempunyai sifat:
1. BER-ILMU terhadap dengan apa yang ia perintahkan, juga apa-apa yang ia larang.
2. LEMBUT dengan cara memerintahkan dan melarang.
3. HALIM (tidak cepat emosi), punya kesabaran dalam menahan emosi, ketika ia beramar ma’ruf nahi mungkar.

👉🏼 Maka SEBELUM KITA MENYURUH orang lain kepada kebaikan atau melarang dari keburukan KITA WAJIB BER-ILMU TERLEBIH DAHULU.
Sambil kemudian kita perbaiki dengan tata caranya penuh kelembutan dan kita harus siap untuk menahan emosi di saat kita di caci maki, di saat kita beramar ma’ruf nahi mungkar.

👉🏼 Adapun KALAU TIDAK TERPENUHI SYARAT-SYARATNYA maka TIDAK BOLEH ia melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-18

Sebarkan SALAM #4

Bismillahirrohmaanirrohiim…

ASSALAAMU ‘ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “SEBARKANLAH SALAM DIANTARA KALIAN, NISCAYA KALIAN AKAN SALING MENCINTAI .”

(HR. Al Hakim – lihat Shohiihul Jaami’ no. 1086).

Salah satu ADAB DALAM BERDO’A yang Allah ajarkan kepada kita di dalam Al Qur’an adalah ketika kita mendo’akan kebaikan untuk orang lain (termasuk mendo’akan orangtua) maka kita mulai dengan mendo’akan diri kita dahulu baru orang lain (termasuk orangtua).
.
Dalam QS Ibrahim : 41 : ROBBANAGH-FIRLI WALI-WAALIDAYYA WALIL-MUKMINIIN…
.
Dalam QS Nuh : 28 : ROBBIGH-FIR-LII WALI-WAALIDAYYA WALIMAN DAKHOLA BAYTIYA MUKMINAN WAL MUKMINIINA WAL MUKMINAATI…
.

Susah Diam, Retorikanya Bagus, Tapi Jahil…

Inilah cobaan yang sangat berat bagi banyak orang di zaman ini, zaman medsos, zaman dimana setiap orang bisa memiliki panggung bicara sendiri-sendiri… anak SD pun bisa punya panggung bicara sendiri untuk bicara apapun yang dia sukai, dan hampir semuanya punya pendengar yang mendukungnya.

Bagi orang yang susah diam, retorikanya bagus, tapi jahil… sungguh zaman ini adalah zaman yang sangat berat… karena banyak hal yang akan dia komentari, banyak orang yang akan mendukungnya, padahal dia jahil, sehingga akan banyak terjerumus dalam kesalahan… dan biasanya orang yang demikian akan sulit memperbaiki kesalahannya, karena mengakui kesalahan itu tidak hanya butuh ilmu, tapi juga butuh jiwa yang besar dan kesatria.

Sungguh sangat tepat perkataan yang disebutkan oleh At-Thufi -rahimahullah-:

إن أشد الناس شقاء من بلي بلسان منطلق، وقلب منطبق، فهو لا يحسن أن يتكلم، ولا يستطيع أن يسكت.

Sungguh orang yang paling celaka adalah orang yang diuji dengan lisan yang liar (susah diam) dan hati yang tertutup (oleh kejahilan), sehingga dia tidak bisa berbicara dengan baik (ngawur), dan juga tidak bisa diam“. [Syarah Mukhtashar Raudhah 3/41].

Semoga kita semua Allah jauhkan dari ujian ini, amin.

Jika kita sudah tahu ada orang yang diuji oleh Allah dengan ujian ini, maka jangan sampai kita memperparah keadaan dia, sehingga dia semakin terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam.

Misalnya, jika ada orang yang sangat getol memusuhi dan menjatuhkan ustadz-ustadz salafi dengan sebutan talafi, maka jangan sampai kita menyebarkan tulisannya, atau menjadikannya semakin terkenal… Diamkan saja hal itu agar dia tenggelam dengan sendirinya. Tidak perlu digubris, dan anggaplah apa yang dikatakannya sebagai angin lalu.

Sebaliknya, sibukkan diri untuk terus menuntut ilmu dan menguatkan akidah dan manhaj yang benar, semakin kuat ilmu kita, maka semakin kuat pertahanan kita terhadap pengaruh buruk dari luar.

Tidak perlu risau dengan ocehannya dan orang-orang yang semisalnya, karena orang sepertinya tidak hanya ada di zaman ini saja, dari dulu juga ada orang-orang seperti itu, dan akhirnya mereka tenggelam oleh zaman, tapi Islam tetap Allah jaga dengan baik dan utuh. Ingatlah selalu firman Allah ta’ala:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

Adapun buih, dia akan hilang (dengan sendirinya) sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Adapun yang bermanfaat bagi manusia, dia akan tetap ada di bumi“. [Ar-Ra’d: 17].

Ingatlah, bahwa siapa yang bertakwa dalam ucapannya dan perbuatannya, maka dialah yang akan Allah menangkan, dan diantara bentuk ketakwaan kita adalah meninggalkan orang-orang yang demikian untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi kita.

Sungguh sangat pas bagi kita perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada kaumnya yang diabadikan Allah dalam Alqur’an:

اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Mohonlah kalian pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sungguh bumi ini milik Allah dan Dia akan mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa“. [Al-A’raf: 128].

Iya, hasil akhir yang baik akan selalu Allah berikan kepada orang yang bertakwa… siapa yang lebih bertakwa, dialah yang akan Allah menangkan… Jadi berlomba-lombalah untuk menjadi yang paling bertakwa, baik dalam ucapan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin… Pasti Allah memenangkan kita dan memuliakan kita.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

Kita Berada Di Golongan Yang Manakah..?

APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN 1 :

1.  (أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ)  “Kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 243)

2.  (أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ)  “Kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 187)

3.  (أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ)  “Kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Huud: 17)

 

APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN 2 : 

1.  (أَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ)  “Kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Aali Imran: 110)

2.  (أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ)  “Kebanyakan mereka tidak berakal.” (QS. Al-Maa-idah: 103)

3.  (أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ)  “Kebanyakan mereka bodoh.” (QS. Al-An’aam: 111)

4.  (أَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ)  “Kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah.” (QS. An-Nahl: 83)

5.  (أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُم مُّعْرِضُونَ) “Kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (kebenaran), karena itu mereka berpaling.”(QS. Al-Anbiyaa’: 24)

 

APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN 3 :

1.  (وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ)  “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

2.  (وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ)  “Ternyata orang-orang beriman yang bersamanya hanya sedikit.” (QS. Huud: 40)

3.  (ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ – وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ)  “Banyak dari orang-orang yang terdahulu dan sedikit dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waaqi’ah: 13-14)

 

Yuk.. PUASA TIGA HARI..


BOLEHKAH BERPUASA TIGA HARI DI SETIAP BULAN HIJRIYAH (di luar ROMADHON) SELAIN DI TANGGAL 13, 14 dan 15 ?
.
Silahkan baca Tanya-jawab berikut yang terjadi beberapa tahun lalu saat mendekati hari raya Idhul Adha. Namun yang dibahas bersifat umum dan berlaku kapanpun hingga saat ini dan in-syaa Allah di masa yang akan datang. Allahu a’lam.
.
PERTANYAAN :
.
Ustadz, saya kan biasa berpuasa tiga hari setiap bulan. Sementara tanggal 13 di bulan ini masih hari tasyriq. Bolehkah saya berpuasa pada tanggal 14,15, dan 16 ?
.
.
JAWABAN :
.
Yang perlu diketahui bahwa BERPUASA TIGA HARI SETIAP BULAN TIDAK KHUSUS DI TANGGAL 13,14,15 saja. Namun boleh dilakukan kapan saja baik di awal bulan atau tengah bulan atau di akhir bulan. Namun yang paling utama adalah pada hari hari biidl tgl 13,14 dan 15.
.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

صيام ثلاثة أيام من كل شهر صيام الدهر

BERPUASA TIGA HARI DI SETIAP BULAN BAGAIKAN BERPUASA SELAMANYA.” (HR An Nasai).
.
Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Apakah puasa tiga hari setiap bulan itu harus di tanggal biidl 13,14,15 saja ? Atau boleh di hari apa saja ?
.
Beliau menjawab:

يجوز للإنسان أن يصوم في أول الشهر ، أو وسطه ، أو آخره ، متتابعة ، أو متفرقة ، لكن الأفضل أن تكون في الأيام البيض الثلاثة وهي : ثلاثة عشر ، وأربعة عشر ، وخمسة عشر ،

قالت عائشة رضي الله عنها : كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم من كل شهر ثلاثة أيام ، لا يبالي أصامها من أوله ، أو آخر الشهر ” انتهى .

DIPERBOLEHKAN BERPUASA TIGA HARI di AWAL BULAN atau TENGAHNYA atau AKHIRNYA. BOLEH secara TERUS MENERUS atau SECARA TERPISAH. Namun YANG PALING UTAMA ADALAH di TANGGAL 13,14,15

A’isyah radliyallahu anha berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan, TIDAK PEDULI APAKAH DI AWAL BULAN ATAU DIAKHIRNYA.
Selesai.”
.
(Majmu fatawa ibnu utsaimin jilid 20 no 376)
.
Jadi diperbolehkan berpuasa di tanggal 14,15,16.
.
Wallahu a’lam
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى
.
Ref
http://bbg-alilmu.com/archives/21823

.

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-16

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH KE-15 bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 16 🌼

Bahwa mereka meyakini, bahwa kekokohan di muka bumi itu pemberian dari Allah semata.
Allah berikan kepada siapa yang melaksanakan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya berupa ilmu yang bermanfaat dan beramal sholeh

Sebagaimana firman Allah [QS An-Nur : 55]

‎وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ

Allah berjanji, Allah mengatakan ini janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Apa janji-Nya ?

‎لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ

Allah akan berikan kepada mereka khilafah di muka bumi, sebagaimana Allah memberikan khilafah kepada orang-orang sebelum mereka.

Allah akan kokohkan tuk mereka agama mereka yang Allah ridhai untuk mereka.
Dan Allah akan gantikan setelah rasa takut dengan rasa aman .

Kapan itu terjadi ?
Yaitu ketika mereka hanya beribadah kepada-Ku saja dan tidak mempersekutukan Aku sedikitpun juga.

Lihat di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji dan ini merupakan janji Allah.
Kapan janji Allah terbukti ? Dan untuk siapa ?
Untuk orang yang beriman dan beramal sholeh.

Apa janjinya ?” Yaitu KHILAFAH.
Apa syaratnya ?” Yaitu:
1. mereka hanya beribadah kepada Allah dan menjauhkan kesyirikan.
2. Mereka beriman dan beramal sholeh
👆Ini syarat yang harus di penuhi.

Adapun kemudian berkoar-koar menegakkan khilafah, bukanlah itu manhaj para nabi. Kenapa ?
Karena bukanlah tujuan dakwah para nabi untuk menegakkan Khilafah. Tapi tujuan dakwah para nabi adalah AGAR MANUSIA men-TAUHID-kan ALLAH SAJA.

Maka dari itulah manhaj salaf berkeyakinan bahwa khilafah itu adalah pemberian dari Allah, murni.

Ketika kita beriman, beramal sholeh, berilmu, beramal dan hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan maka Allah akan berikan kepada kita apa yang Allah janjikan tersebut.

Dalam ayat tersebut Allah memberikan syarat agar kita di berikan kekokohan di muka bumi dan keamanan itu adalah mentauhidkan Allah dan sesuai dengan syaria’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah juga berfirman [QS Al-Hajj :41]

‎الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ

Yaitu orang-orang yang apabila kami kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat, ber-amar ma’ruf nahi mungkar, itu orang-orang seperti itu.”

Ketika mereka di kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat.
Kenapa ?
Karena sebelumnya mereka memang sudah menegakkan sholat dan membayar zakat.
Sehingga dengan mereka senantiasa menegakkan syari’at Allah pada diri-diri mereka, Allah pun tegakkan syari’at di negri-negri mereka.
👉🏼 Jadi ini adalah merupakan janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Maka Khilafah tidak mungkin di berikan kepada kaum muslimin, kecuali dengan mengikuti manhaj Khulafa Ar-Rasyidin yang pertama, manhaj Nabawiyah, sebagaimana di sebutkan dalam hadits An Nu’man bin Basyir:
Nanti akan ada kenabian kemudian setelah itu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah kemudian kerajaan yang menggigit, kemudian setelah itu kerajaan yang diktaktor, kemudian kembali kepada Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.”

Jadi akhowat islam bahwa Khilafah adalah murni janji dari Allah.
Kalau kita ingin mendapatkan janji itu maka laksanakan syariat-syariatnya, yaitu BERIMAN, BERAMAL SHOLEH.

Dan tidak mungkin beriman dan bermal sholeh kecuali dengan
👉🏼 ilmu yang bermanfaat dari Alqur’an hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
👉🏼 mengikuti manhaj salafusholeh
Terutama itu mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Maka dari itulah dakwah salafiyah, sangat menitik beratkan kepada TAUHID.
Karena itu merupakan azas atau pokok segala amal.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-17

Menebar Cahaya Sunnah