HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU TENTANG KEUTAMAAN PUASA DAN AMALAN-AMALAN DI BULAN MUHARRAM…Hadits No 4

HADITS KEEMPAT:

Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Maudhu’aat, bab Puasa di akhir dan awal tahun (baru Hijriyah) dengan isnadnya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan puasanya itu sebagai kafarat (penghapus dosa-dosanya) selama 50 (lima puluh) tahun.”

(Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at II/566, Ay-Syaukani dalam Al-Fawa-id Al-Majmu’ah I/96 no.31, dan selainnya).

(*) DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’). Karena di dalam sanadnya terdapat dua perowi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu:
1. Al-Harwi Al-juwaibari, dan
2. Wahb.

» Ibnul Jauzi rahimahullah berkata tentang kedua perawi tsb, yaitu Al-Harwi atau dikenal juga dengan Al-Juwaibari, dan Wahb bahwa keduanya adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. (Lihat kitab Al-Mawdhu’at II/566).

» Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Di dalam hadits ini ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.” (Lihat Al-Fawaa-id Al-Majmuu’ah I/96 no.31).

Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

da101113-0059

Balas Dendam Karena Dicaci…

A’isyah radliyallahu ‘anha berkata:

وما نِيل منه شيء قطُّ، فينتقم مِن صاحبه، إلا أن يُنْتَهك شيء مِن محارم الله، فينتقم لله عزَّ وجلَّ

Beliau jika dicaci dirinya tak pernah membalas (dengan mencaci) pelakunya kecuali jika dilanggar keharaman keharaman Allah, maka beliau membalas karena Allah Azza wajalla.” (HR Muslim)

Sungguh akhlak amat terpuji namun berat. Karena diri jika dicaci biasanya akan marah dan ingin membalas dendam. Tapi marah saat itu bukanlah marah yang terpuji.
Cukuplah kita mengingat bahwa ketika dicaci maka dosanya untuk yang mencaci dan kita mendapat pahala darinya dan pahala kesabaran.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,   حفظه الله تعالى

758. Tj Puasa 1 Muharram…

758. BBG Al Ilmu – 81

Tanya:
Apakah hari 1 Muharram di bolehkan puasa mohon pencerahannya ?.

Jawab:

Orang yang melakukan puasa tanggal 1 Muharam, ada 2 kemungkinan niat yang dia miliki:

PERTAMA, dia berpuasa tanggal 1 Muharam karena motivasi hadis yang menganjurkan memperbanyak puasa di bulan Muharam. Ini termasuk puasa yang bagus, sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

KEDUA, dia berpuasa tanggal 1 Muharam karena ’tahun baru’, atau mengawali tahun baru dengan puasa, atau karena keyakinan adanya fadhilah khusus untuk puasa awal tahun, dst, maka ini terlarang.

Perlu diperhatikan bahwa selama bulan Muharam, dianjurkan memperbanyak puasa, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim 1163).

Namun tidak boleh mengkhususkan hari tertentu dengan puasa pada hari terakhir tutup tahun dalam rangka perpisahan dengan tahun hijriyah sebelumnya atau puasa di hari pertama Muharam dalam rangka membuka tahun baru dengan puasa.

Orang yang mengkhususkan puasa pada hari terakhir tutup tahun, atau hari pertama tahun baru, mereka berdalil dengan hadis palsu/dusta dan kebohongan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena terdapat perawi bernama Ahmad bin Abdillah al-Harawi dan Wahb bin Wahb. As-Suyuthi menilai, keduanya perawi pendusta. (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/92). Penilaian yang sama juga disampaikan as-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (hlm. 96).

والله أعلم بالصواب

ref :
http://www.konsultasisyariah.com/hukum-puasa-1-muharam-
tergantung-niat/#

da052113-1426

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Perhatikan Apa Yang Membuat Hati Bahagia dan Sedih

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuzhotul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasyanya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Seharusnya Mereka Yang Meminta Ma’af Kepada Saya..(??)

Dosa mereka kepada saya lebih banyak dibanding dosa saya kepada mereka, maka seharusnya mereka yang meminta ma’af kepada saya ?

Islam tuh mengajarkan kita untuk senantiasa menjadi penebar kasih sayang. Semakin kita belajar dan bertambah iman, seharusnya kita semakin bertambah kasih sayang kepada semua saudara kita.

Belajar dan berdakwah untuk memperbanyak persamaan dan persahabatan agar semakin banyak yang beriman dan bertaqwa, bukan malah sebaliknya semakin belajar semakin banyak musuh dan semakin sempit dada anda karena dipenuhi oleh kebencian kepada masyarakat anda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di maki, diludahi, dilempari bebatuan dan diusir oleh kaum Tsaqif, namun ketika ditawari bantuan oleh Malaikat Jibril dan malaikat Penunggu Gunung, beliau malah menghadiahi do’a kepada orang orang yang menyakitinya agar mereka masuk Islam.

Beliau tidak menyibukkan diri dengan merencanakan dendam atau pelampiasan kebencian atau dendam.

Yang terjadi, beliau malah mengemukakan alasan ummatnya yang tiada lelah memusuhi dan menyakitinya.

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

كأني أنظر إلى رسول الله {صلى الله عليه وسلم} يحكي نبياً من الأنبياء ضربه قومه فأدموه وهو يمسح الدم عن وجهه ويقول اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

Sungguh seakan saat ini aku sedang menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan perihal seorang nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah darah. Sambil mengusap darah di wajahnya, beliau berdoa: “Ya Allah ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka adalah orang orang yang tidak tahu (bodoh).” Muttaafaqun ‘alaih.

Sobat! kemanakah selama ini kita dari mengamalkan hadits ini ? Mengapa lisan kita, tindakan kita dan hati kita dipenuhi dengan dendam dan emosi kepada saudara sendiri yang nyata-nyata beragama Islam, walau memang nyatanya banyak terdapat perbedaan.

Tidakkah kita bisa lebih bersabar, dan berlapang dada, bisa jadi saudara kita memusuhi dan menyakiti kita karena kurangnya kita dalam menunaikan hak-hak saudara kita berupa amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan cara-cara yang benar-benar ma’ruf, alias sesuai dengan keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa pentingnya saat ini kita untuk memperbanyak istighfar karena kurang mampu menunaikan hak-hak saudara kita dibanding menyibukkan diri dengan menginventaris kesalahan mereka kepada kita .

Percayalah, bila memang mereka bersalah, kepada anda, maka hak-hak anda akan anda dapatkan seutuhnya kelak di hari Qiyamat.

Namun jangan lupa pula bahwa walaupun kesalahan anda kepada mereka lebih kecil dibanding dosa mereka kepada anda, maka itu tidak menjadi jaminan bahwa anda akan selamat dari hisab dan terbebas dari siksa di dunia ataupun di akhirat.

Bisa jadi pula mereka memiliki kebaikan yang cukup untuk menebus dosa-dosa mereka kepada anda, sedangkan anda belum tentu memiliki cukup simpanan pahala untuk menebus dosa-dosa anda kepada mereka.

Jangan lupa sobat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berdakwah dengan cara yang paling sempurna, walau demikian, di akhir hayat beliau diperintahkan untuk memperbanyak istighfar, menyibukkan diri dengan kekurangan diri sendiri bukan dengan kekurangan dan dosa dosa orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ {1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا {2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (An Nasher 1-3)

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Waspadalah..!

Ketika kaki berat untuk melangkah menuju sholat..
Ketika hati riya berharap pujian manusia..
Ketika lisan jarang berdzikir kepada Allah..
Maka waspadalah karena penyakit munafiq telah ada di hati..

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang orang munafiq itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka riya (berharap pujian) manusia, dan mereka sedikit berdzikir kepada Allah.” (Annisaa:142)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil Haq – Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

Muqoddimah
Penghalang Ke-1

Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Kumpulan artikel dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuzhotul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasyanya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : 

  1. Yang Di Rahasiakan Dari Manusia Harus Lebih Baik Daripada Yang Di Tampakkan Kepada Manusia… 
  2. Bila Anda Sedang Bersendirian, Jangan Katakan…
  3. Bila Anda Sedang ‘FUTUR’, Maka…
  4. Perhatikan Apa Yang Membuat Hati Bahagia dan Sedih 
  5. Senantiasa Memperhatikan Apa Yang Masuk dan Keluar Dari Hatinya
  6. Allah Akan Tampakkan Kelak Di Akhirat Apa Yang Tersembunyi Di Hati…

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Bila Anda Sedang ‘FUTUR’, Maka…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

FUTUR : yaitu rasa malas, enggan, lamban dan tidak semangat, padahal sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat dalam menjalankan suatu ibadah. Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i dan penuntut ilmu.

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuzhotul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasyanya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Menebar Cahaya Sunnah