Diantara Rahasia Memperbanyak Sholawat Di Hari Jum’at

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Musin Al Badr, hafizhohumallah berkata,

“Sesungguhnya hari Jum’at adalah ‘Pemimpin Hari’ (Sayyidul Ayyaam) dan hari yang paling agung di sisi Allah.

Di antara rahasia diperbanyaknya sholawat di hari ini adalah karena setiap kebaikan yang didapatkan ummat ini di dunia maupun akhirat, hanyalah sampai melalui tangan beliau shollallahu ‘alayhi wasallam (sebagai perantara wahyu).

Maka, hari Jum’at sebagai hari kemuliaan adalah waktu yang paling tepat untuk membalas jasa beliau dengan memperbanyak sholawat dan salam..”

(Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkaar – 2/155)

*) bisa baca berulang ulang : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad.

Memuji Allah Saat Tertimpa Musibah

Dari Asy Sya’bi rohimahullah bahwa Syuraih rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya aku pernah ditimpa musibah.. maka aku memuji Allah karena EMPAT perkara..

– Kupuji Allah karena tidak diberikan musibah yang lebih berat dari itu..

– Kupuji Allah karena aku diberikan kesabaran..

– Kupuji Allah karena telah memberikanku taufiq untuk istirja’.. sehingga aku dapat berharap pahala..

– Kupuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku..”

(Siyar A’laam An Nubalaa 4/105)

=======

📌 Ada dua poin penting dari nasehat di atas:

1. Menemukan Sisi Positif di Balik Musibah
Syuraih rohimahullah mengajarkan kita untuk tetap bersyukur dengan melihat bahwa musibah tersebut bisa saja jauh lebih buruk. Syuraih rohimahullah memilih fokus pada apa yang tidak terjadi (musibah yang lebih berat) dan apa yang masih dimiliki (taufiq untuk bersabar dan beristirja’), daripada meratapi apa yang hilang.

2. Menjaga Keselamatan Iman sebagai Prioritas Utama
Syuraih rohimahullah menekankan bahwa musibah duniawi—seberat apa pun itu—masih jauh lebih ringan dibandingkan musibah yang menyerang agama seseorang. Selama iman dan ketakwaan masih terjaga, maka musibah tersebut pada hakikatnya adalah sarana penggugur dosa dan penambah pahala, bukan suatu kebinasaan yang abadi.

Balasan Yang Serupa

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang memperlakukan makhluk Allah dengan cara tertentu, maka Allah akan memperlakukannya dengan cara yang sama, baik di dunia maupun di akhirat. Allah memperlakukan hamba-Nya sebagaimana hamba tersebut memperlakukan makhluk-Nya.

Sebagaimana engkau bersikap, begitulah engkau akan diperlakukan .. (maka) jadilah seperti yang engkau inginkan, karena Allah akan memperlakukanmu sebagaimana engkau bersikap kepada-Nya dan kepada hamba-hamba-Nya..”

(Al Waabil Ash Shoyyib – 80)

📌 Beberapa poin penting dari nasehat ini :

PRINSIP BALASAN YANG SERUPA – AL-JAZA’ MIN JINSIL ‘AMAL
Poin utama nasehat ini adalah bahwa balasan yang diterima seseorang akan serupa dengan jenis perbuatannya. Jika kita memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusan kita. Sebaliknya, jika kita bersikap keras, kita pun akan menghadapi konsekuensi yang serupa.

KORELASI ANTARA HUBUNGAN VERTIKAL DAN HORIZONTAL
Ibnul Qoyyim rohimahullah menekankan bahwa hubungan kita dengan Allah sering kali dicerminkan melalui bagaimana kita memperlakukan sesama makhluk-Nya. Perlakuan kita kepada manusia menjadi tolak ukur bagaimana Allah akan memperlakukan kita.

CAKUPAN WAKTU YANG MUTLAK
Nasehat ini menegaskan bahwa hukum timbal balik ini tidak hanya berlaku di akhirat sebagai pengadilan terakhir, tetapi juga sudah dimulai sejak di dunia.

KONSISTENSI DALAM BERPERILAKU
Nasehat ini mendorong seseorang untuk selalu menjaga adab dan kasih sayang kepada sesama, karena setiap interaksi sosial pada hakikatnya adalah interaksi tidak langsung dengan ketetapan Allah atas diri kita.

Mewaspadai Kebaikan Yang Semu

Ibnu al-Jauzi rohimahullah berkata,

“Tahukah engkau siapa laki-laki sejati itu..?

Laki-laki sejati adalah ia yang mendapati dirinya :
– sendirian bersama kemaksiatan,
– memiliki kemampuan untuk melakukannya, dan
– syahwatnya mendesak untuk memuaskan dahaganya,
namun ia merenungkan bahwa Allah sedang memandangnya, sehingga ia merasa malu jika membuat-Nya murka, dan seketika itu pula keinginannya sirna.

Namun tampaknya, engkau hanyalah meninggalkan hal-hal yang memang tidak engkau sukai, atau hal-hal yang sejak awal memang tidak menarik bagimu, atau bahkan hal-hal yang memang tidak mampu engkau dapatkan..!

Inilah kebiasaanmu..!”

(Shoydul Khoothir – 352)

📌 Nasihat ini merupakan tamparan keras bagi jiwa yang merasa sudah “sholeh” hanya karena tidak melakukan maksiat tertentu, padahal ia memang tidak punya akses atau minat terhadap maksiat tersebut.

Dua poin penting :

IHSAN DI KALA SEPI
Inti dari nasihat ini adalah derajat Ihsan :
– beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya,
– atau yakin bahwa Dia melihatmu.
Ujian iman yang sesungguhnya bukan di keramaian, melainkan saat pintu terkunci dan kesempatan terbuka lebar.

KE-SHOLEHAN YANG SEMU
Ibnul Jauzi rohimahullah memberikan kritikan kepada :
– orang yang merasa suci karena tidak mabuk, padahal ia memang benci rasa alkohol, atau
– orang yang merasa terjaga pandangannya, padahal ia memang tidak punya akses ke tempat maksiat.

📌 Beliau rohimahullah menekankan bahwa meninggalkan maksiat yang sangat diinginkan karena takut kepada Allah jauh lebih bernilai daripada meninggalkan ribuan hal yang memang tidak kita inginkan.

jangan lupa adab sebelum berdo’a :
– puji Allah : yaa Hayyu yaa Qoyyuum
– baca sholawat : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad
– mulai berdo’a

Menyikapi Perlakuan Buruk Orang Terhadap Kita

Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah berkata,

“Janganlah engkau menyiksa dirimu dengan memikirkan apa yang dikatakan orang lain tentangmu. Jika apa yang mereka katakan itu benar, maka itu adalah penebus dosa bagimu.

Dan jika apa yang mereka katakan itu salah, maka itu akan menjadi kebaikan (pahala) yang dihadiahkan kepadamu tanpa engkau harus bersusah payah beramal..”

(Fushul fi al-Adab – 156/157)

📌 Beberapa poin penting dari nasehat di atas :

1. RIDHO SEBAGAI PERISAI. Beliau rohimahullah menjelaskan bahwa ridho terhadap gangguan orang lain adalah tanda kekuatan iman. Jika kita yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, maka hinaan orang lain tidak akan bisa menjatuhkan derajat kita di sisi-Nya.

2. KEUNTUNGAN SPIRITUAL. Beliau rohimahullah mengajak kita melihat “keuntungan” di balik perlakuan buruk. Orang yang menghina sebenarnya sedang mentransfer pahalanya kepada kita. Dengan pandangan ini, rasa marah akan berubah menjadi rasa kasihan atau minimal ketenangan.

3. MENJAGA FOKUS. Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah mengingatkan bahwa waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan dengan membalas keburukan. Beliau rohimahullah sering berkata bahwa “diamnya orang yang mulia adalah jawaban yang paling pedas bagi orang yang bodoh..”

Diantara Bentuk Rasa Malu Kepada Allah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla..”

Para sahabat menjawab, “Kami sudah merasa malu, wahai Rosulullah..”

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi barangsiapa yang benar-benar merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka dia harus :
– menjaga kepala beserta isinya,
– menjaga perut beserta isinya, dan
– dia terus mengingat kematian.
Orang yang menginginkan akherat, dia pasti akan meninggalkan keindahan dunia.

Barangsiapa melakukan ini berarti dia benar-benar merasa malu kepada Allah..”

(HR. Ahmad dan At Tirmidzi)

📌 Dalam hadits di atas, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan dengan gamblang sifat orang yang tertanam rasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam lubuk hatinya. Yaitu dia terus berusaha :
– menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tidak berbuat dosa dan maksiat,
– senantiasa ingat kematian,
– tidak punya keinginan yang muluk-muluk terhadap dunia dan tidak terlena dengan nafsu syahwat.

Orang yang merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia akan menjauhi semua larangan Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala kondisi, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memiliki rasa malu kepada-Nya dengan rasa malu yang sebenarnya, aamiin.

ref : https://almanhaj.or.id/61101-esensi-malu-dalam-kehidupan-2.html

Keutamaan Memperbanyak Sholawat Di Hari Jum’at

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam adalah pemimpin manusia (Sayyidun Naas), dan hari Jum’at adalah pemimpin hari-hari (Sayyidul Ayyaam).

Maka, bersholawat kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam pada hari tersebut memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hari lainnya..”

(Zaadul Ma’aad – 1/376)

Tiga Tujuan Harian Seorang Muslim

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”

[Dishohihkan oleh Al-Albani].
————————————

Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhohullah berkata,

“.. Seolah-olah, dengan memulai harinya dengan menyebutkan ketiga perkara ini dibandingkan perkara lainnya, ia (seorang muslim) sedang menetapkan target dan tujuan-tujuannya untuk hari tersebut..”

Syekh melanjutkan perkataannya,

“..dan dalam memulai dengan ilmu yang bermanfaat, terdapat hikmah nyata yang jelas bagi orang yang merenung; melalui ilmu yang bermanfaat, seseorang mampu membedakan antara amal yang sholeh dan amal yang tidak sholeh, serta mampu membedakan antara rezeki yang halal dan yang haram…”

“..(do’a ini) adalah bentuk (seorang muslim) memohon pertolongan kepada Robb-nya subhaanahu di pagi hari dan di awal harinya, memohon agar Dia :
– memudahkan yang sulit,
– menghilangkan hambatan-hambatan, dan
– membantunya dalam mencapai target-target yang diberkahi serta tujuan-tujuannya yang mulia..”

Khotbah tertanggal: [6/7/1423]
http://al-badr.net

courtesy of : https://t.me/ShaykhAbdurRazaqAlBadr

Saat Menghadapi Orang Yang Bodoh Dan Tidak Beradab

Al Imam Asy Syafi’i rohimahullah mengajarkan bagaimana bersikap saat menghadapi orang yang jahil atau tidak beradab. Beliau berkata,

“Apabila orang bodoh berbicara kepadamu, maka janganlah engkau menjawabnya, karena sebaik-baik jawaban baginya adalah diam.

Jika engkau melayaninya (menjawabnya), maka engkau telah melapangkan hatinya (memberinya kesenangan). Namun jika engkau membiarkannya, maka ia akan mati dalam kesedihan (karena merasa tidak dipedulikan)..”

(Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i – 45)

Hal Yang Menenangkan Hati

Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah berkata,

“Hidup ini tidak selamanya memberikan apa yang kita cintai, namun jika kita ridho dengan apa yang Allah tetapkan, maka Allah akan menjadikan kita mencintai apa yang Dia berikan.

Ketenangan itu bukan berarti hilangnya masalah, melainkan adanya Allah di dalam hati saat masalah itu datang..”

(Min Syawarid al-Fikr – 215)

Menebar Cahaya Sunnah