Makna Dari Kalimat Laa Hawla Walaa Quwwata Illaa Billah

Sufyan ats-Tsauri rohimahullah menjelaskan bahwa kalimat ini bukan hanya sekedar dzikir lisan, melainkan juga sebuah pengakuan atas ketidak-berdayaan manusia tanpa pertolongan Allah. Beliau berkata,

أتدرون ما تفسير: لا حول ولا قوة إلا بالله؟

يقول: لا يعطي أحد، إلا ما أعطيت؛ ولا يقي أحد، إلا ما وقيت.

“Tahukah kalian apa tafsir (makna) dari Laa hawla walaa quwwata illaa billah..?”

(maknanya adalah), “Tidak ada seorang pun yang bisa memberi, kecuali apa yang telah Engkau (Allah) berikan; dan tidak ada seorang pun yang bisa menjaga (melindungi), kecuali apa yang telah Engkau jaga..”

(Hilyatul Auliyaa’ – 7/140)

LAA ḤAWLA (tidak ada daya) : Maknanya adalah tidak ada kemampuan bagi seorang hamba untuk menghindari kemaksiatan atau berpaling dari keburukan, kecuali dengan perlindungan dan penjagaan dari Allah.

LAA QUWWATA (tidak ada kekuatan) : Maknanya adalah tidak ada kekuatan atau energi bagi seseorang untuk melaksanakan ketaatan atau ibadah, kecuali dengan taufik dan bantuan dari Allah.

📌 Baik itu meninggalkan dosa (daya) maupun mengerjakan pahala (kekuatan), keduanya membutuhkan modal dasar yang sama, yaitu izin dan bantuan Allah, maka perbanyaklah do’a kepada Allah memohon perlindungan dari bermacam keburukan dan memohon bantuan kekuatan dalam beribadah.

Menyikapi Penurunan Intensitas Ibadah Setelah Ramadhan

Syaikh Shalih Al-Ushaimi hafizhohullah berkata,

“Disyariatkan bagi seseorang untuk meningkatkan ketaatan mereka di bulan Ramadhan dan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, karena kedua waktu tersebut adalah saat-saat di mana Syariat menekankan pentingnya amal ibadah. Adapun bulan-bulan lainnya, kedudukannya adalah sama.

Mereka yang berbicara dalam masalah ini sering kali tidak membedakan antara dua aspek :
– pertama, adalah pelaksanaan ibadah itu sendiri, dan
– kedua, adalah kegigihan/kesungguhan (ekstra) dalam melakukannya.

Anda akan mendapati sebagian pendakwah mencela dan menegur orang-orang karena penurunan ibadah mereka setelah Ramadhan.

Teguran semacam itu adalah hal yang kurang tepat, karena Syariat sendirilah yang telah menekankan kegigihan/kesungguhan (ekstra) dalam ibadah (di waktu waktu tertentu). Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam di bulan Ramadhan bersungguh-sungguh dengan cara yang tidak beliau lakukan di waktu-waktu lainnya sepanjang tahun.

Maka celaan itu seharusnya hanya ditujukan bagi mereka yang meninggalkan ibadah sama sekali.

Adapun jika seseorang berkata dalam nasihatnya, ‘Dahulu kalian mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali di bulan Ramadhan, tapi sekarang kalian hanya mengkhatamkannya sebulan sekali..’

Maka kekurangan ini sebenarnya bukanlah sebuah kekurangan (yang tercela). Sebab, kegigihan/kesungguhan (extra) dalam ibadah di bulan Ramadhan memang tidak sama dengan bulan-bulan lainnya.

Siapa pun yang ingin menasihati orang lain, hendaknya ia menegur mereka ketika mereka meninggalkan dan melalaikan ibadah .. mencela mereka karena meninggalkan pelaksanaan ibadah tersebut.

Namun terkait berkurangnya intensitas kegigihan/kesungguhan (dalam beribadah), maka jiwa manusia itu memiliki masa semangat dan masa jenuh .. jiwa akan bersemangat pada waktu waktu yang utama dan menguatkan diri untuk beribadah.

(Ta’liq ‘alaa Hukm Shaum Rojab wa Sya’ban” karya Al-’Allamah Ibnu Al-’Aththar)

Nasihat Setelah Ramadhan

Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahullah memberikan nasihat yang sangat mendalam mengenai fenomena mengendurnya semangat ibadah setelah berlalunya bulan Ramadhan.

Berikut adalah poin-poin inti dari nasihat beliau dalam pertemuan tersebut:

1. ISTIQOMAH ADALAH TANDA DITERIMANYA AMAL
Syaikh menekankan bahwa tanda diterimanya amal sholeh seseorang di bulan Ramadhan adalah adanya perubahan positif dan keistiqomahan setelah bulan tersebut berakhir. Beliau mengingatkan bahwa Allah yang disembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama yang disembah di bulan-bulan lainnya.

2. BAHAYA APABILA HANYA MENJADI ‘HAMBA RAMADHAN’
Beliau memberikan peringatan keras terhadap sikap seseorang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan namun langsung meninggalkan ketaatan begitu Syawwal tiba. Beliau menyebutkan bahwa seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja.

📌 Ibadah bukanlah musiman, melainkan kewajiban sepanjang hayat hingga maut menjemput.

3. KONSISTENSI DALAM AMAL YANG SEDIKIT
Beliau menasihati agar seseorang tidak memaksakan diri melakukan amalan sebanyak di bulan Ramadhan jika memang tidak sanggup, namun yang terpenting adalah kontinuitas (keajegan). Beliau mengutip hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dilakukan meskipun sedikit.

4. MENJAGA PUASA SUNNAH DAN SHOLAT MALAM
Sebagai solusi praktis agar iman tidak merosot tajam, beliau menyarankan untuk melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal (Puasa Syawwal).

Tetap menjaga sholat Witir dan sholat malam, meskipun tidak sepanjang sholat Tarawih.

📌 Tetap menjaga interaksi dengan Al-Qur’an walau hanya beberapa lembar sehari.

5. DO’A MEMOHON KETEGUHAN HATI
Syaikh mengingatkan jama’ah untuk senantiasa berdo’a memohon keteguhan hati. Beliau menjelaskan bahwa hati manusia berada di antara jari-jemari Allah, maka memohon perlindungan dari sifat malas setelah semangat adalah hal yang sangat penting.

Nasihat ini beliau tutup dengan mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan singkat, dan perlombaan yang sesungguhnya adalah bagaimana kita mengakhiri hidup dalam keadaan taat.

(Al-Liqo’ asy-Syahri, Pertemuan ke-43)

=====

Tempat Peristirahatan Masa Depan

Syaikh Ali Ath Thanthawi rohimahullah berkata,

Setiap hari kita mengantar jenazah ke liang lahat, namun kita pulang seolah-olah kita baru saja mengantar mereka ke stasiun kereta api untuk bepergian dan akan kembali lagi.

Padahal, kita baru saja melihat tempat peristirahatan kita sendiri di masa depan.

(Fushul Fii al-Adab wa al-Ijtima’ – 59)

Tanda Ampunan Yang Nyata

Yahya bin Mu’adz Ar Razi rohimahullah berkata,

Siapa yang beristighfar dengan lisannya namun hatinya masih bertekad untuk kembali bermaksiat setelah Ramadhan, maka puasanya tertolak dan pintu ampunan tertutup baginya.

Namun, siapa yang berazam (bertekad kuat) untuk tidak kembali berdosa, maka itulah tanda ampunan yang nyata.

(Al Mawa’izh wal Majalis – Ibnul Jauzi 188)

Hari Raya Bagi Pemaaf

Syaikh Ali Ath Thanthawi rohimahullah berkata,

Hari Raya (Idul Fitri) bukanlah hari bagi mereka yang hatinya masih menyimpan dendam atau yang jiwanya masih keruh.

Tetapi Idul Fitri adalah hari bagi mereka yang mampu memaafkan kesalahan orang lain sebelum mereka meminta maaf, dan yang melapangkan dadanya bagi seluruh manusia.

(Fushul Fii al ‘Aqidah – 142)

Mulailah Hari Raya Dengan Menundukkan Pandangan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh jika kepala seorang pria ditusuk dengan jarum dari besi, (itu) lebih baik baginya daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya..”

(HR. Ath Thabrani – al-Mujamul Kabîr no.486, 487) Syaikh Al Albani berkata : hadits hasan

📌 Beberapa sahabat Sufyan ats-Tsauri berkata,

Kami keluar bersama ats-Tsauri pada hari raya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya, hal pertama yang akan kita mulai pada hari kita ini adalah menundukkan pandangan..’

Hasan bin Abi Sinan keluar untuk melaksanakan sholat Id, dan ketika ia kembali, istrinya bertanya kepadanya,

“Berapa banyak wanita cantik yang engkau lihat hari ini..?”

Setelah istrinya terus mendesak, ia menjawab, “Aku tidak melihat apa pun kecuali jempol kakiku sejak aku keluar hingga aku kembali kepadamu..”

(Al-Tabshiroh – Ibnul Jauzi – 61/106)

Amalan Amalan Sunnah Terkait Idul Fitri


📌 AMALAN-AMALAN SUNNAH TERKAIT IDUL FITRI

1. BERHIAS DI HARI RAYA

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengenakan jubah merah pada hari raya..” (Silsilah ash-Shohihah no. 1279)

(Catatan: Wanita tidak boleh menampakkan perhiasan mereka di depan laki-laki dan harus mengenakan hijab yang benar).

2. MANDI DI HARI RAYA SEBELUM KELUAR RUMAH

Nafi’ rohimahullah berkata, “Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa biasa mandi pada hari raya sebelum berangkat ke tempat sholat..” (Al-Muwattho’ 384).

3. MEMAKAN KURMA DALAM JUMLAH GANJIL SEBELUM SHOLAT ID

Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tidak akan keluar pada hari raya Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya dalam jumlah ganjil..” (Shohih al-Bukhari no. 953).

4. BERJALAN KAKI MENUJU TEMPAT SHOLAT

Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam biasa keluar untuk sholat Id dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki..” (Sunan Ibnu Majah no. 1078).

5. MENGAMBIL JALAN YANG BERBEDA SAAT PERGI DAN PULANG SHOLAT

Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila hari raya, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengambil jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang)..” (Shohih al-Bukhari no. 986).

6. MENGUMANDANGKAN TAKBIR SEJAK KELUAR RUMAH HINGGA SHOLAT ID DIMULAI

Al-Zuhri rohimahullah berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam keluar pada hari raya dan terus bertakbir hingga sampai ke tempat sholat. Beliau juga terus bertakbir hingga sholat selesai. Setelah sholat selesai, beliau berhenti bertakbir..” (Silsilah ash-Shohihah 171).

7. MENDENGARKAN KHUTBAH

Abdullah bin al-Sa’ib rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku menghadiri sholat Id bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan beliau mengimami kami. Kemudian beliau bersabda, ‘Kami telah menyelesaikan sholat. Barangsiapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan barangsiapa yang ingin pergi maka silakan..’ (Shohiih al-Jaami’ 4376).

8. SALING BERTUKAR UCAPAN SELAMAT

Jubair bin Nufayr rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Para sahabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengucapkan satu sama lain ketika bertemu di hari raya: Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian)..” (Tamaam al-Minnah 354).

Menebar Cahaya Sunnah