Nasihat Imam Asy Syafi’i Rohimahullah Bagi Wanita Yang Hendak Menghadiri Sholat Idul Fitri / Idul Adha

Al Imam Asy-Syafi’i rohimahullah memberikan panduan praktis kepada wanita yang hendak keluar melaksanakan sholat Id. Beliau mengingatkan agar para wanita tidak berlebihan dalam berhias agar tidak menimbulkan fitnah.

1. ANJURAN MENGHADIRI SHOLAT ID. Beliau menyukai (menganjurkan) bagi kaum wanita untuk menghadiri sholat dua hari raya (Idul fitri dan Idul Adha).

2. BERPAKAIAN SEDERHANA. Beliau menganjurkan agar wanita keluar dengan pakaian yang sederhana (tidak mencolok/pakaian sehari-hari yang sopan) dan tidak berlebihan.

3. MENJAGA KEBERSIHAN TANPA PARFUM. Disunnahkan membersihkan diri dengan air (mandi), namun tidak menggunakan wewangian saat keluar rumah.

4. MENGHINDARI PAKAIAN SYUHROH. Jangan mengenakan pakaian yang terlalu mewah atau unik yang tujuannya untuk menarik perhatian orang banyak (syuhroh).

5. TIDAK MENAMPAKKAN PERHIASAN. Beliau menasihati agar tidak memakai perhiasan emas atau perhiasan lainnya secara nampak (terlihat oleh orang yang bukan mahrom).

(Kitab Al Umm – 1/214)

Dua Sisi Hati Seorang Mukmin Di Akhir Ramadhan

Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily حفظه الله تعالى menjelaskan tentang dua sisi hati seorang mukmin dalam menghadapi hari raya Idul Fitri.

1. SISI KESEDIHAN (REFLEKSI DIRI)

– Perpisahan dengan musim kebaikan : Sedih karena kehilangan waktu di mana pahala dilipatgandakan.

– Ketidak-pastian Usia : Menyadari bahwa tidak ada jaminan kita akan bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan.

– Penyesalan yang positif : Merasa sedih atas kekurangan dan kelalaian dalam ibadah selama sebulan penuh. Kesedihan ini harus menjadi motivasi untuk memperbaiki diri di masa depan, bukan malah membuat putus asa.

2. SISI KEBAHAGIAAN (SYUKUR)

– Merayakan karunia Allah : Bahagia karena Allah telah memberikan taufik (kemampuan) kepada kita untuk menyelesaikan puasa dan sholat malam.

– Sesuai perintah Alqur’an : Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bergembira atas rahmat dan karunia-Nya (QS. Yunus: 58).

– Dua kebahagiaan puasa : Mengingat janji Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tentang kebahagiaan saat berbuka (termasuk merayakan Idul Fitri) dan kebahagiaan saat bertemu Allah kelak.

📌 Kesimpulan: Seorang mukmin yang bijak akan menyeimbangkan keduanya .. menyesal atas kekurangannya sehingga ia terus memperbaiki diri .. namun tetap bersyukur dan bahagia atas kesempatan ibadah yang Allah telah berikan kepadanya.

🎙
Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى

Masjid An Nabawi

SELESAI : Buka Puasa & Sahur Di 10 Malam Terakhir Ramadhan 1447 – 2026

JUM’AT PAGI – 20 MARET / 30 RAMADHAN

Alhamdulillah dengan izin Allah, program ifthor di 10 malam pertama dan ifthor+ sahur di 10 malam terakhir telah selesai. Jazaakumullahu khoyron kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dengan sebagian rezekinya, dengan tenaga dan do’a .. semoga Allah meridhoinya, aamiin.

**********
📌 PROGRAM RAMADHAN LAINNYA
wakaf 4 sumur bor, lahan masjid, mushaf : https://bbg-alilmu.com/archives/73048
santunan sembako janda dan dhu’afa : https://bbg-alilmu.com/archives/59605

**********

===============
BANK SYARIAH INDONESIA
748 000 4447
AL ILMU TA’AWUN

Informasi : https://wa.me/6283806624622

===============
1️⃣ SELESAI BUKA PUASA & SAHUR HARIAN – 10 MALAM TERAKHIR RAMADHAN – I’TIKAF

Insyaa Allah menghidangkan makanan dan minuman pembuka puasa dan Sahur bagi para muktakifiin (orang-orang yang i’tikaf) di :

– masjid Sulaiman Fauzan al Fauzan
– masjid assunnah Darul Hijrah
– masjid ponpes assunnah Ibnu Abbas
– masjid ibnu sirrin, sembalun

di Lombok Timur selama 10 malam terakhir Ramadhan .. TIDAK ADA batas minimal, silahkan berapapun partisipasinya .. semoga Allah mudahkan. Anggaran:
Tahap 1 : Rp. 60 Juta
Tahap 2 : Rp. 15 juta
Tahap 3 : Rp. 10 juta
Tahap 4 : Rp. 3 juta
Tahap 5 : Rp. 12 juta
Tahap 6 : Rp. 8 juta
Tahap 7 : Rp. 3 juta
——————————— +
TOTAL : Rp. 111 juta

SALDO – 10 MALAM TERAKHIR RAMADHAN
● 13 Mar – pkl. 16.00 wib :  Rp. 106.1 Juta
● tambahan partisipasi        Rp.        4.9 Juta
————————————————
● 14 Mar – pkl. 05.00 wib :  Rp.  111.0 Juta
————————————————
Persiapan i’tikaf di masjid Sulaiman Fauzan, hari selasa 10 maret 2026 – 20 ramadhan 1447

● Seseorang bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, “Orang yang berpuasa (yang mana) yang paling banyak pahalanya..?” Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Yang paling banyak dzikirnya..” (HR. Ahmad no 3/438)

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari dan mengajarkan Alqur`an..” (HR. Al Bukhari no. 4739)

Berdasarkan keumuman makna dari ke 2 hadits di atas, semoga Allah masukkan kita semua dan para muktakifiin ke dalam golongan orang orang yang :
– paling banyak dzikirnya,
– paling baik puasanya dan
– sebaik baiknya hamba

Dan semoga Allah memberikan kepada yang menyediakan hidangan pembuka puasa bagi para muktakifiin, balasan pahala puasa serupa pahala puasanya para muktakifiin berdasarkan sabda Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam,

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga..” (HR. At Tirmidzi no. 807).

📌 Diantara 10 malam terakhir Ramadhan, ada satu malam dimana ibadah yang dilakukan di malam tsb bernilai lebih baik dari 1,000 bulan (Laylatul Qodar) .. semoga Allah mudahkan kita semua dan para muktakifiin untuk menghidupkan ibadah di malam Laylatul Qodar dan semoga Allah memberikan balasan pahala yang lebih baik dari 1,000 bulan bagi mereka yang menyiapkan buka puasa dan sahur bagi para muktakifiin di malam Laylatul Qodar tsb.

===============
2️⃣ SELESAIBUKA PUASA HARIAN – 10 MALAM PERTAMA RAMADHAN

Insyaa Allah setiap hari menyediakan makanan dan minuman pembuka puasa bagi sekitar 800-an santri, pengajar, asaatidzah dan juga jama’ah masjid sulaiman di 2 ma’had, yaitu (1) ma’had assunnah dan (2) ma’had LKSA assunnah (santri yatim) selama 10 malam pertama Ramadhan 1447 – 2026, insyaa Allah

TIDAK ADA batas minimal, silahkan berapapun partisipasinya .. namun bila hendak berpartisipasi per porsi, maka nilai 1 porsi + ta’jil : Rp. 25,000.- Anggaran : Rp. 160 juta.

===============

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia..”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya..” (HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani)

FAQ :
Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Teman Karib Yang Sudah Meninggal
Siapa Saja Dari Ummat Islam Yang Bisa Dihadiahkan Pahala Sedekah..

Menutup Ramadhan Dengan Istighfar

Imam Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah menyebutkan hal berikut saat membahas akhir bulan Ramadhan.

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz menulis surat kepada kota-kota besar, memerintahkan mereka untuk menutup Ramadhan dengan memohon ampunan (istighfar) dan sedekah (maksudnya adalah zakat fitrah).

Karena zakat fitrah berfungsi sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan keji atau perbuatan sia-sia yang mungkin ia lakukan, sementara (Istighfar) memohon ampunan berfungsi untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh perkataan dan perbuatan buruk tersebut terhadap puasa.

Karena alasan inilah, sebagian ulama salaf berkata,

“Hubungan antara zakat fitrah dengan orang yang berpuasa adalah seperti hubungan antara sujud sahwi dengan sholat..”

(Lathoo’if al-Ma’aarif hal. 383)

Makna Al Afwu Di Dalam Do’a Laylatul Qodr

Terkait do’a Laylatul Qodr, Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohullah memberikan penjelasan sebagai berikut,

“Makna Al-‘Afuww (Maha Pemaaf) adalah Yang menghapuskan dosa dosa dan memaafkan kesalahan kesalahan.

Al-‘Afwu lebih dalam maknanya daripada Al-Maghfiroh.

Karena Al-Maghfiroh berarti menutupi dosa (agar tidak terlihat).

Sedangkan Al-‘Afwu berarti menghapusnya secara total dari catatan amal, sehingga seolah-olah dosa itu tidak pernah ada sama sekali..”

(Fiqhu al-Ad’iyah wal Adzkaar 2/254)

Belum Berakhir Sampai Benar Benar Berakhir

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya malam itu (Laylatul Qodr) malam yang ke 27 atau ke 29. Sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir)..“

(HR. Ahmad 2/519 no.10745)
Lihat Shohiih Al Jaami’ no.5473

======================

● Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah berkata,

​Sekelompok ahli ilmu berpendapat bahwa Laylatul Qodr :

– pada setiap bulan Ramadhan jatuh pada malam ke-21,

– yang lain berpendapat pada malam ke-23 di setiap Ramadhan, dan

– yang lain lagi berpendapat pada malam ke-27 di setiap Ramadhan,

sementara yang lainnya berpendapat bahwa malam tersebut berpindah-pindah di setiap malam ganjil pada sepuluh malam terakhir .. dan ini, menurut kami, adalah pandangan yang benar, insyaa Allah.

​(At-Tamhiid – 14/431)

======================

● Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata,

Janganlah kalian menyangka bahwa malam ke-27 adalah akhir dari pencarian Laylatul Qodr.

Sungguh, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda, ‘Carilah ia di malam-malam ganjil..’ dan malam ke-29 termasuk di dalamnya.

Bahkan, malam ke-29 adalah malam ganjil terakhir di bulan ini.

Maka, barangsiapa yang bersungguh sungguh di dalamnya, ia sedang menutup bulannya dengan amalan terbaik.

(Majalis Syahri Ramadhan – 176/178)

======================

📌 Ramadhan masih belum berakhir kawan .. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mencari malam Laylatul Qodr hingga pada malam terakhir .. semoga Allah memberikan kemudahan ..

semangaat..

Jika Tidak Terampuni Di Bulan Ramadhan, Maka Jangan Salahkan Siapapun Kecuali Diri Sendiri

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh terhina seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu sebelum ia diampuni..”

(HR. At Tirmidzi & Al Hakim)

📌 Al Imam Ash Shonʿani rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya ini (Ramadhan) adalah bulan di mana dosa-dosa diampuni dan amal ketaatan dilipat-gandakan.

Tidaklah bulan ini berlalu kecuali Allah telah mengampuni mereka yang berbalik menuju ketaatan kepada-Nya dan telah memaafkan perbuatan buruk mereka.

Maka, barangsiapa yang tidak diampuni, ia hanyalah mendatangkan (kerugian) itu pada dirinya sendiri, dan tidaklah ada yang berakhir binasa kecuali orang yang membinasakan dirinya sendiri.

Dengan demikian, ia menjadi layak menerima do’a agar Allah menghinakannya karena kelalaiannya terhadap hak Allah dan karena ia justru berpaling kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diridhoi-Nya..”

(At Tanwir Sharh Al Jaami‘ Ash Shoghiir 6/249)

➡️ Catatan : Ungkapan bahasa Arab dalam hadits tersebut secara harfiah berarti “semoga hidungnya tersungkur ke tanah/debu” .. yang bermakna penghinaan dan perendahan (karena kerugian yang sangat besar).

Saat Imam Memimpin Do’a Dalam Sholat

Shaykh al-Islam Ibnu Taymiyyah berkata,

“Seorang imam wajib menggunakan bentuk jamak dalam do’a qunut dan mendo’akan para jamaah, bukan untuk dirinya sendiri saja.

Dan apabila seorang makmum mengamini do’a imam, maka imam hendaknya berdo’a dengan kata ganti bentuk jamak (kita/kami), sebagaimana do’a dalam surah Al-Fatihah pada firman-Nya: (Ihdinash-shiroothol mustaqiim) ‘Tunjukkanlah kami jalan yang lurus..’

Karena sesungguhnya makmum mengamini do’a tersebut semata-mata karena keyakinannya bahwa imam sedang mendo’akan mereka semua.

Jika imam tidak melakukan hal itu (berdo’a untuk bersama), maka sungguh ia telah mengkhianati makmum.

Adapun pada bagian-bagian di mana setiap orang berdo’a untuk dirinya sendiri, seperti :
– do’a pembuka (Istiftah),
– do’a setelah Tasyahud, dan sejenisnya,
maka sebagaimana makmum berdo’a untuk dirinya sendiri, imam pun berdo’a untuk dirinya sendiri.

Sebagaimana pula makmum bertasbih saat rukuk dan sujud, (imam juga bertasbih untuk dirinya sendiri)..”

(Majmu al-Fatawa 23/118)

Apabila Malam Ini ..

Allah Ta’ala berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Turun para malaikat dan Jibril pada malam itu dengan izin Robb mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan keselamatan sampai terbit fajar.” (Al-Qodr: 4-5)

● Syaikh Al Albani rohimahullah berkata,

“Dan di antara masa/waktu, ada yang telah Allah jadikan seluruh amalan baik padanya lebih utama (dari waktu-waktu selainnya), seperti pada sepuluh Dzulhijjah .. dan pada malam Laylatul Qodr yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu seluruh amalan pada malam itu lebih utama (lebih baik) dari amalan selama seribu bulan (yang) tidak ada Laylatul Qodr di dalamnya..”

(Ats-Tsamrul Mustathab – 2/576)

JUMLAH MALAIKAT YANG TURUN DARI LANGIT

Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى

“Sesungguhnya malaikat di malam tersebut di muka bumi lebih banyak dari jumlah batu-batu kerikil..” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah rodhiyallahu ’anhu, Ash-Shohiihah: 2205)

● Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Banyaknya malaikat yang turun di malam tersebut karena keberkahannya yang melimpah, dan malaikat turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/444)

📌 Sebagian ulama menjelaskan bahwa saking banyaknya jumlah malaikat yang turun di malam Laylatul Qodr menyebabkan cahaya matahari di pagi harinya tidaklah menyilaukan, karena banyaknya jumlah malaikat yang kembali ke langit.

Maka bahagialah dan bersyukurlah kepada Allah bagi siapa yang telah diberikan anugerah hidayah untuk memperbanyak ibadah di malam Laylatul Qodr yang pahalanya lebih baik dari 1,000 bulan (83 tahun dan 4 bulan).

Keutamaan & Beberapa Adab Dalam Membaca Alqur’an

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berdabda,

“Orang yang mahir membaca Alqur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Alqur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala..” (HR. Muslim)

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda,

“Sesungguhnya jika seorang hamba bersiwak, kemudian melakukan sholat, maka ada seorang malaikat yang berdiri di belakangnya untuk mendengarkan bacaannya. Malaikat itu akan mendekat kepadanya hingga meletakkan mulutnya pada mulut orang tersebut. Dan tidaklah keluar dari mulut orang tersebut berupa bacaan Alqur‘an kecuali akan masuk ke dalam perut malaikat, maka bersihkanlah mulut kalian bila hendak membaca Alqur‘an..”

(HR. Al-Bazzar, hasan)

● Ibnus Ṣalaḥ rohimahullah berkata,

“Membaca Alqur’an adalah sebuah kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan umat manusia. Para malaikat tidak diberikan (keistimewaan) ini, dan mereka sangat berhasrat untuk mendengarkannya dari manusia..”

(Al-Itqan fī ʿUluum Alqurʾ’an 1/275 – As Suyuti)

📌 Dalam kitabnya tsb, Al Imam As Suyuti rohimahullah menjelaskan beberapa adab yang seharusnya dijaga oleh seorang pembaca Alqur’an,

1. KONDISI FISIK DAN TEMPAT

Bersuci (Wudhu) : Disunnahkan dalam keadaan suci. Meskipun boleh membaca tanpa menyentuh mushaf bagi yang berhadats kecil, namun dalam keadaan suci adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Siwak : Membersihkan mulut sebelum membaca sebagai bentuk pemuliaan terhadap kalimat-kalimat Allah.

Menghadap Kiblat : Memilih posisi duduk yang sopan, tenang, dan jika memungkinkan menghadap ke arah kiblat.

2. MENGAWALI DENGAN ISTI’ADZAH DAN BASMALAH

Membaca Isti’adzah (A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim) untuk memohon perlindungan dari gangguan setan agar fokus terjaga.

Membaca Basmalah di setiap awal surat (kecuali Qs At-Taubah).

3. TARTIL DAN TADABBUR (PERENUNGAN)

Tartil : Membaca dengan perlahan, tidak terburu-buru, dan sesuai dengan hukum tajwid.

Tadabbur : Menghadirkan hati untuk memahami makna ayat. Al Imam As Suyuthi rohimahullah menekankan bahwa tujuan utama membaca adalah untuk memahami pesan Allah.

Menangis : Berusaha untuk tersentuh hatinya hingga menangis saat membaca ayat-ayat tentang adzab atau rahmat Allah sebagai tanda kelembutan hati.

4. MERESPONS AYAT – SAJDAH DAN DO’A

Sujud Tilawah : Melakukan sujud ketika melewati ayat-ayat sajdah.

Berdo’a : Disunnahkan memohon rahmat saat membaca ayat tentang surga, dan memohon perlindungan saat membaca ayat tentang neraka.

(Al-Itqan fī ʿUluum Alqurʾ’an)

Menebar Cahaya Sunnah