Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
“Jika seseorang berbuat salah kepadamu lalu ia datang untuk meminta maaf atas kesalahannya, maka sifat rendah hati (tawadhu) mewajibkanmu untuk menerima permintaan maafnya, terlepas dari apakah ia tulus atau tidak, dan serahkanlah niat batinnya kepada Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam terhadap orang-orang munafik yang tidak ikut serta dalam peperangan.
Ketika mereka mendatangi beliau dengan berbagai alasan, beliau menerima alasan tersebut dan menyerahkan rahasia batin mereka kepada Allah.
Termasuk tanda kemurahan hati dan kerendahan hati adalah ketika engkau melihat adanya cacat (kebohongan) pada alasan yang mereka berikan, engkau tidak mendebat atau menyudutkan mereka.
Sebaliknya, ucapkanlah :
– Mungkin saja keadaannya memang seperti yang engkau katakan..
atau
– Jika sesuatu telah ditetapkan, maka ia pasti terjadi, dan apa yang telah ditakdirkan tidak dapat dihindari..
atau perkataan serupa lainnya..”
(Madaarijus Saalikiin – 3/81,82)