Al Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah berkata,
“Maafkanlah saudaramu. Apa keuntungan yang engkau dapatkan jika Allah menghukum saudaramu sesama Muslim hanya karena (urusan dengan) dirimu..?”
(Siyar A’laam al-Nubalaa’ – 11/262)
Nasehat Al Imam Ahmad rohimahullah tersebut di atas berakar kuat pada prinsip-prinsip utama dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
📌 Balasan Sesuai Jenis Amal
Alqur’an mengajarkan bahwa jika kita menginginkan ampunan dari Allah, maka kita harus memulai dengan mengampuni hamba-Nya.
“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu..? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (Qs. An-Nuur: 22)
📌 Pahala Yang Menjadi Urusan Allah Secara Langsung
Biasanya, pahala amal ibadah sudah disebutkan ukurannya. Namun, untuk orang yang memaafkan dan memperbaiki hubungan, Allah menjanjikan pahala yang langsung menjadi dari Allah.
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zholim .” (Qs. Ash-Shuraa: 40)
📌 Sifat Penghuni Surga
Dalam Alqur’an, Allah menyebutkan ciri-ciri orang bertaqwa yang dipersiapkan untuk masuk surga, salah satunya adalah :
“…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan..” (Qs. Aali ‘Imran: 134)
📌 Memaafkan Meningkatkan Kemuliaan, Bukan Kehinaan
Banyak orang merasa bahwa memaafkan adalah tanda kelemahan. Namun Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menegaskan hal yang sebaliknya dalam sebuah hadis :
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan derajatnya..” (HR. Muslim)