Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى
Mari berziarah kubur… TAPI tinggalkanlah amalan yang tidak dicontohkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- saat berziarah.
=======
Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:
“Amalan-amalan yang tidak sesuai tuntunan ketika di kuburan ada beberapa tingkatan:
Yang paling jauh dari syariat adalah MEMINTA hajat kepada mayit, dan beristighosah kepadanya untuk meminta hajatnya sebagaimana dilakukan banyak orang.
Mereka itu sejenis dengan para penyembah berhala, oleh karenanya kadang setan menampakkan dirinya dengan rupa si mayit atau orang (yang diagungkannya) yang jauh darinya, seperti yang dilakukan setan terhadap para penyembah berhala.
Dan inilah yang terjadi pada orang-orang kafir dari kaum musyrikin dan ahli kitab, ada dari mereka yg meminta kepada orang yang diagungkannya, lalu setan menampakkan dirinya dengan rupanya. Dan kadang setan itu mengabarkan kepada mereka sebagian dari kabar gaib.
Begitu pula BERSUJUD kepada kuburan, mengusap-usapnya, dan menciuminya.
Tingkatan KEDUA: meminta (di sisi kuburan) kepada Allah azza wajall dengan (menyebut) mayit.
Ini dilakukan oleh banyak orang yang datang belakangan, padahal ini merupakan bid’ah sebagaimana disepakati kaum muslimin.
** Contoh: “Ya Allah ampunilah dosa hamba dengan (kemuliaan dan kehormatan) si fulan”
Tingkatan KETIGA: meminta (di sisi kuburan) kepada Allah untuk dirinya sendiri.
Tingkatan KETIGA: menganggap bahwa berdoa di sisi kuburan itu mustajab, atau menganggap doa di sana lebih afdhol daripada berdoa di masjid, sehingga dia menziarahi kuburan itu dan sholat di sisinya untuk tujuan meminta hajat-hajatnya.
Ini juga merupakan kemungkaran yang diada-adakan sebagamana disepakati kaum muslimin. Ini diharamkan, dan aku tidak tahu ada perselisihan antara para imam dlm masalah ini, meskipun banyak orang-orang yang datang belakangan melakukannya.
(Bahkan) ada dari mereka yang mengatakan: ‘kuburan si fulan adalah tempat yg telah terbukti (mustajab)’.
Dan hikayat yang dinukil bahwa IMAM SYAFII dahulu menyengaja pergi ke kuburan Abu Hanifah (untuk berdoa di sana) adalah DUSTA yang nyata.
[Ighotsatul Lahafan, Ibnul Qoyyim, 1/217-218]
NB:
Ziarah yang disyariatkan dengan melakukan tiga hal:
1. Mengucapkan salam kepada ahli kubur.
2. Mendoakan kebaikan untuk ahli kubur.
3. Mengingatkan diri kepada kematian dan hari akhir.