Ust. M Wasitho, حفظه الله
HADITS KETIGA:
Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul warits bin Ibrahim Abu Ubaidah Al-Askari, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ali bin Abu Tholib Al-Bazzaz, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al-Haishom bin Asy-Syuddakh, dar Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqomah, dari Abdullah (bin Mas’ud), dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:
مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِيْ سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ
“Barangsiapa yang melapangkan (nafkah) kepada keluarganya pada hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), niscaya ia akan senantiasa dalam kelapangan (rejekinya) selama setahun itu”. (Diriwayatkan oleh Ath-Thobrani X/77 no.10007, dan Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman VIII/312 no.3635).
(*) DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah).
» Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Hadits ini TIDAK SHOHIH.”
» Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini DHO’IF (Lemah).” (Lihat Tahqiq beliau terhadap Misykaatu Al-Mashoobiih, I/434 no.1926).
» Di dalam sanadnya ada seorang perowi yang majhul (Tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya), yaitu: Al-Haishom bin Asy-Syuddakh.
» Al-‘Uqoili berkata tentangnya: “Al-Haishom adalah perowi yang majhul, dan hadits ini tidak mahfuzh.”
# Keterangan:
Hadits Mahfuzh ialah kebalikan dari Hadits Syaadz. Dan Hadits Syaadz ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya yang bertentangan dengan perawi yang lebih terpercaya.
» Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Al-Haishom meriwayatkan hal-hal yang aneh dan berbahaya, tidak boleh berhujjah dengan (riwayat)nya.”
» Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah di dalam Al-Manar Al-Munif Fi Ash-Shohih wa Adh-Dho’if, I/111 no.223, dan Asy-Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, I/98 no.37).
(Bersambung dengan HADITS KEEMPAT) 🙂