All posts by BBG Al Ilmu

Allah Berada Di Atas Langit

Saudara-saudariku kaum muslimin dan muslimah yang dimuliakan oleh ALLAH سبحانه وتعالى ,diantara keyakinan yang terbesar didalam islam yang sudah hampir tidak lagi difahami/ diketahui oleh sebagian kaum muslimin yaitu menetapkan/meyakini degan seyakin-yakinnya bahwa sanya “ALLAH سبحانه وتعالى berada diatas langit”, sebab utama yang sangat mendasar sekali ialah kurangnya perhatiannya para da’i terhadap da’wah tauhid/ aqidah islamiyah yang merupakan asas da’wahnya para Nabi dan Rasul, bahkan merupakan perkara yang utama yang wajib disampaikan kepada manusia, ya’ni da’wah tauhid.

Maka bisa kita saksikan pada zaman kita ini, apabila kita bertanya kepada sebagian dari mereka (baik orang-orang awam, atau sebagian dari da’i-da’inya) tentan permasalahan aqidah terbesar diatas ya’ni kita bertanya kepada mereka:

“Dimanakah ALLAH??….”

Maka kita akan mendengar jawaban yang beraneka ragam diantara mereka, bahkan saling bertentangan.

Diantara mereka akan menjawab:
” ALLAH ada dihati”, adalagi yang menjawab “ALLAH ada dimana-mana”, bahkan ada diantara mereka yang mengingkari pertanyaanmu…dll, sedikit sekali bahkan sangat langkanya kita mendapatkan jawaban yang benar dari mereka.

Padahal kita sudah mengetahui dengan jelas baik dalil syar’i (alqur’an dan sunnah) maupun dalil aqli yang menunjukkan ALLAH itu berada diatas langit!

Bahkan al-imam adz-dzahabi memberikan penjelasan ttg sebuah hadits, yaitu: Rasulullah bertanya kepada seorang budak wanita, tentang dimana ALLAH? Kemudian budak tersebut mengatakan: “ALLAH diatas langit”

Dari hadits yang mulia ini, imam dzahabi mengatakan ada dua permasalahan:

1. Disyariatkan seorang muslim bertanya kepada muslim yang lainnya, “Dimana ALLAH???.

2. Yaitu, hanya memiliki satu jawaban atas pertanyaan diatas, yaitu “ALLAH di atas langit”

Maka barang siapa yang mengingkari dua permalahan ini, maka dia telah mengingkari Rasulullah صلى الله عليه وسلم .

(Tashfiyah wa tarbiyah, syaikh Ali hasan hafidzahullah)

By Ust. Ahmad Ferry N

Dicintai Allah dan Dicintai Makhluk

Tiada yang lebih membanggakan seorang hamba daripada menjadi seorang yg dicintai Allah & dihormati oleh manusia

Dalam hadist sahih, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

“Bersikap zuhudlah kamu terhadap Dunia, pasti Allah akan mencintaimu & jangan pernah kamu berharap kepada apa yg ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu”

Lalu Imam Ahmad berbicara ttng zuhud,”Zuhud itu ada 3 macam:

1. Meninggalkan segala yg haram

2. Tidak berlebihan terhadap perkara yg halal

3. Meninggalkan setiap yg melalaikan dari ibadah kpd Allah & ini adalah tingkatan zuhud yg tertinggi

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah pun berbicara ttng zuhud, seraya berkata,

“Inti zuhud terhadap Dunia yg Rasul shallallahu ‘alihi wasallam maksud adalah meninggalkan semua yg tdk bermanfaat di Akhirat”

“Ya Allah jadikanlah kami hamba-Mu yg meraih kecintaan-Mu & kecintaan makhluk-Mu dgn keridhoan-Mu!”

Lihat kitab Madarijussalikin karya Ibnul Qoyyim!

Awali Semua Yang Baik Dengan Bismillah

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Jangan jadi bangsawan : (bangsa sing keluar awan)

Rizqi yg berkah adalah rizqi yg mndorong kita untuk ibadah dan beramal sholeh.

Awali semua hal yg baik dg bismillah..

Abine RiyadL.

Hakikat Cinta Karena Allah

Oleh Ustadz Kholid bin Syamhudi al-Bantani

… mencintai
… d i c i n t a i
… saling mencintai

Kesemuanya adalah fitrah manusia yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala

Tahukah Anda hakikat cinta karena Allah?

Silakan simak penjelasannya disini KLIK http://m.klikuk.com/cinta-karena-allah/

SALAFIYAH MADZHAB BARU DAN BID’AH

(Oleh Ust.Firanda Andirja MA حفظه الله )

Diantara syubhat yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang membenci salafiyin adalah bahwasanya salafiyah sendiri adalah madzhab yang baru dan bid’ah.

Yang sangat dikenal menggembar-gemborkan syubhat ini adalah seorang yang bernama Muhammad Sa’id Romadhon Al-Buthy dalam kitabnya Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah (artinya : Tidak bermadzhab merupakan bid’ah yang paling berbahaya yang mengancam syari’at Islam). Dalam kitab tersebut terlalu banyak kedustaan yang dituduhkan oleh Al-Buuthy kepada salafiyin (Ahlus Sunnah wal Jam’ah sejati). Alhamdulillah buku ini telah dibantah dengan jelas dan lugas oleh Syaikh Muhammad ‘Ied ‘Abbaasy (salah seorang murid Syaikh Al-Albani rahimahullah) dalam kitabnya Bid’at at-Ta’sshub Al-Madzhabi (artinya : Bid’ahnya fanatik madzhab, silahkan didownload di http://www.4shared.com/get/JXqDBNC2/___online.html;jsessionid=6A96B9F4D8183B8C501CF7FD6AE762D5.dc516), silahkan juga baca artikel berikut http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/ahmad-sarwat-al-buuthiy-dan-al-albaaniy.html)

Sebagian orang menyangka bahwa salafiyah adalah madzhab baru yang menyelisihi empat madzhab yang masyhur (madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).

Bahkan sebagian orang menuduh bahwa salafiyin merendahkan para imam madzhab tersebut. Sungguh ini jelas-jelas merupakan kedustaan yang sangat-sangat nyata. Akan tetapi anehnya selalu saja kedustaan yang sangat nyata ini masih tetap terus digembar-gemborkan oleh sebagian kaum aswaja.

Sangat nampak kedustaan tuduhan ini dari sisi-sisi berikut :

Selengkapnya di :
http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/409-salafiyah-madzhab-baru-dan-bid-ah

Sabar Dan Sholat

Oleh Ust. Badrusalam Lc

Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah berkata:
.. Dan dari ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa diberitakan kepada Rasulullah kematian saudaranya yaitu Qutsam, sementara beliau berada dalam perjalanan.

Beliaupun mengucapkan istirja’ lalu menyepi dari jalan dan sholat dua raka’at yang beliau panjangkan duduknya.
Kemudian beliau berdiri sambil membaca ayat:

واستعينوا بالصبر والصلاة

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam tafsirnya dengan sanad yang hasan.

Dan dari Hudzaifah radliyallahu ‘anhu ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ada perkara yang menyusahkan, beliau segera shalat.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan juga.

(Al Fawa-id al muntaqoh min fathil baari hal 115).

Mengenal Dalil Yang Umum

Diantara faidah menguasai bahasa arab adalah memahami sebuah kata yang bermakna umum, sebuah contoh misalnya hadits :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa-apa yang aku larang jauhilah dan apa-apa yang aku perintahkan lakukanlah semampu kamu”. (HR Muslim).

Kata “maa” yang artinya apa mempunyai makna umum, maka semua yang diperintahkan oleh beliau hendaknya kita lakukan baik yang hukumnya wajib maupun yang hukumnya sunnah, karena sesuatu yang sunnah termasuk perkara yang diperintahkan oleh syari’at yang mulia ini.

Demikian pula semua yang dilarang hendaknya kita tinggalkan baik yang hukumnya haram maupun makruh.

Diantara kata yang menunjukkan kepada makna umum juga adalah kata “كل ” yang artinya setiap atau semua, contohnya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Dan jauhilah perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan di dalam api Neraka”. (HR Ahmad).[1]

Kewajiban kita adalah mengamalkan apa yang ditunjukkan oleh keumuman makna dan tidak boleh menghususkan kecuali dengan dalil.

Imam Asy Syafi’I rahimahullah berkata: “Semua perkataan yang umum dalam sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dibawa kepada keumumannya sampai diketahui hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa yang diinginkan darinya adalah sebagian makna tanpa yang lainnya”.[2]

Berkata Az Zarkasyi: “Yang wajib adalah mengamalkan yang umum sampai ia mendapatkan dalil yang mengkhususkan karena pada asalnya yang mengkhususkan itu tidak ada, dan juga dugaan adanya pengkhususan adalah dugaan yang masih lemah, sedangkan lahiriah makna yang umum adalah dugaan yang kuat, sedangkan mengamalkan yang kuat adalah wajib berdasarkan ijma’”.

Ust. Badrusalam Lc

Selengkapnya di :
http://cintasunnah.com/mengenal-dalil-yang-umum/

SIKAP BIJAK DAN TAWADHU’ SEORANG MUSLIM KEPADA SAUDARANYA SEISLAM

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata:

» “Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah (di dlm dirimu): “Dia telah mendahuluiku dlm memeluk agama Islam dan melakukan amal sholih. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah (di dlm dirimu); “Aku telah mendahuluinya dengan perbuatan dosa n maksiat. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat teman-temanmu memuliakan n menghormatimu, maka katakanlah (di dlm dirimu); “Mereka telah melakukan suatu nikmat.”

» Dan Jika engkau melihat kekurangan atau kelalaian dari mereka terhadap dirimu, maka katakanlah (di dlm dirimu); “Hal ini disebabkan dosa yang aku lakukan.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akbaar, karya Ibnu Qutaibah, I/267).

Inilah wasiat mulia dari seorang ulama sunnah kpd kita semua, yaitu agar kita senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah diri) dan tidak merasa lebih mulia, sombong n bangga diri di hadapan orang lain dengan kekayaan, kedudukan n jabatan yg tinggi, popularitas, ilmu n amal, atau banyaknya pengikut kita. Karena semakin seorang hamba bersikap tawadhu’, maka semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah n di hadapan manusia.

» Di dlm hadits yg shohih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(Wa Maa Tawaadho’a ahadun Lillaahi illaa Rofa’ahu)

Artinya: “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 6 April 2013)

» SUMBER: BBG Majlis Hadits, chat room Faedah & Mau’izhoh Hasanah.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

———¤•¤•¤———-

Wajibnya Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua, Baik Keduanya Masih Muda Apalagi Memasuki Usia Lanjut

Saudara-saudariku kaum muslimin dan muslimah…

Berbakti kepada kedua orang tua kita adalah merupakan kewajiban seorang anak!

Baik kita mulai dari kecil, sampai kita beranjak dewasa bahkan apabila kita sudah menikah dan mempunyai cucu sekalipun! Tetapi wajib bagi kita berbakti kepada keduanya dan jangan sekali-sekali kita durhaka dan menyakiti hati keduanya apalagi ketika mereka keduanya berada diusia lanjut!!

Ikhwan dan akhwat sekalian yang kami hormati..

Ingatlah selalu sebuah hadits Nabi yang mulia صلى الله عليه وسلم yg mewakili sekian banyak tentang ancaman bagi setiap anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Nabi bersabda:
“Tidak akan masuk syurga seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya”
(Shohihah: 675)

Hadits tersebut memberikan pelajaran yang sangat besar kepada kita tentang haramnya durhaka kepada kedua orang tua dan baginya terancam tidak akan masuk syurga!

Ikhwan dan akhwat sekalian diantara bentuk durhaka kepada kedua orang tua yang terbesar kita saksikan pada zaman kita ini, ialah:

1. Berkata kasar kepada kedua orang tua, padahal ALLAH سبحانه وتعالى melarang seorang mengatakan “ah” atau “cis” kepada kedua orang tuanya.
Perhatikan!!
Apabila berkata yang demikian saja terlarang didalam islam bagaimana sikap seorang anak yang membentak ibu dan bapaknya!!
Mencaci maki keduanya!!
Membanting pintu dihadapan orang tuanya!!
Menghentakkan kaki dihadapan keduanya!!
Semua ini adalah sifat dan akhlaknya anak yang durhaka.
Dan harus anda ingat, anak yang durhaka tidak akan bahagia dunia dan akhirat.

2. Diantara bentuk durhaka kepada kedua orang tua yang sering dilakukan oleh setiap anak yang merasa dirinya kuat/sukses didunia yang fana ini ialah, MENITIPKAN kedua orang tua di PANTI-PANTI JOMPO.

Jelas ini merupakan perbuatan durhaka kpd kedua orang tua.
Yg semestinya dia gunakan kesempatan yang ALLAH berikan kepadanya untuk meraih syurga namun mereka sia-siakan.

Semoga bermanfaat,

By.Ust.Ahmad Ferry Nasution

Sabar

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ ».

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda” :

“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum Dia menguji mereka, maka barangsiapa ridha maka baginya keridahaan dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan.”

(HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah)

Sabar itu kalimat ringan namun berat aplikasinya..

Gak gampang dalam menjalaninya.