Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari Dauroh Sholat dan Wudhu di Masjid Al Barkah Cileungsi pada Bulan Agustus 2017.

Saya tuh ndak mau ceramah di TV, takut Riya’ = Riya’.
Saya ceramah di TV biar gimana gitu = Riya’
Saya tuh ikhlas = gombal
Riya’ = melakukan atau meninggalkan suatu ibadah karena selain Allah
Ikhlas = melakukan atau meninggalkan ibadah karena Allah semata.
La terus gimana dong?
Ikhlas tuh ndak usah dipropagandakan, disosialisasikan, atau diceritakan, ikhlas tuh diam saja, dan tetap takut terjerumus riya’ tanpa sadar.
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا…
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…” (QS. At-Tahrim [66]: 8)
Agar taubat diterima oleh Allah Ta’ala, maka seseorang harus memenuhi 8 syarat, yaitu :
(1). Menyesali dosa yang telah dilakukan, sehingga tidak ingin mengulanginya kembali.
(2). Memohon ampunan kepada Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran [3]: 135)
(3). Berniat dan bertekad untuk tidak lagi mengulangi perbuatan dosa.
(4). Meminta maaf kepada orang yang pernah di zhalimi atau disakiti, serta mengembalikan barang orang lain yang pernah diambil.
(5). Taubat dilakukan pada waktu masih terbukanya peluang untuk diterimanya taubat, yaitu sebelum ruh sampai di kerongkongan, atau sebelum matahari terbit dari arah barat, atau sebelum datangnya adzab sebagai balasan dari Allah Ta’ala.
(6). Memperbanyak amal shalih setelah bertaubat.
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
“Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya” (QS. Al-Furqan [25]: 71)
(7). Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.
(8). Seseorang yang bertindak sebagai penyeru kepada kesesatan, maka harus mengumumkan taubatnya dan menjelaskan kesalahannya.
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan (juga) menjelaskan (kebenaran), maka mereka itulah yang Aku terima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah [2]: 160)
Laksanakanlah 8 syarat diterimanya taubat di atas.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa” (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani, hadits dari Ibnu Mas’ud, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3145)
“Barangsiapa melakukan kebaikan pada usia yang masih tersisa, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan keburukan pada usia yang masih tersisa, maka dia akan disiksa karena dosa masa lalunya dan pada usia yang tersisa” (HR. Ath-Thabrani, hadits dari Abu Dzar, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3156)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
“Barangsiapa yang malu kepada Allah di saat dia hendak bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun malu untuk mengadzabnya di saat dia berjumpa dengan Allah. Dan barangsiapa yang tidak malu bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun tidak akan malu untuk mengadzabnya” (Al-Jawabul Kaafi hal 170)
Bertaubatlah, apa lagi yang kau tunggu…?
Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوٓءَ بِجَهٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولٰٓئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 17)
Penjelasan Ayat Di Atas :
Setiap orang yang melakukan kemaksiatan adalah orang yang pada hakikatnya bodoh, hingga ia meninggalkan kemaksiatan tersebut.
Dan kebodohan yang disebutkan dalam ayat ini yang menjangkiti pelaku kemaksiatan bukanlah kebodohan atau ketidaktahuan akan hukum kemaksiatan yang ia lakukan. Karena jika seseorang tidak mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya tersebut merupakan kemaksiatan maka tentunya ia tidak akan dihukumi oleh Allah. Akan tetapi yang dimaksud dengan kebodohan di dalam ayat ini adalah kebodohan yang hakiki.
Hakekat kebodohannya –sebagaimana keterangan para ulama- bisa ditinjau dari beberapa sisi, diantaranya :
– Tatkala bermaksiat sesungguhnya ia bodoh bahwasanya Allah sedang melihatnya, dan sedang mengawasinya, dan mencatat seluruh perbuatan maksiatnya tersebut
– Ia bodoh akan akibat buruk yang timbul dari perbuatan maksiatnya tersebut, di antaranya berkurangnya imannya atau bisa jadi menyebabkan hilangnya keimanannya
– Ia bodoh bahwasanya perbuatannya tersebut menyebabkan kemurkaan Allah
– Ia bodoh bahwasanya perbuatannya tersebut bisa menyebabkan siksaan yang pedih di akhirat kelak (lihat penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam Tafsirnya hal 171)
Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى
Manhaj Muwazanah adalah memperingatkan manusia dari penyimpangan seseorang atau kelompok bid’ah tetapi dengan menyebutkan juga kebaikan mereka, dan cara seperti ini TIDAK DIBENARKAN.
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhohullah berkata :
“Jika engkau menyebut kebaikan mereka berarti engkau mengajak (manusia) kepada mereka, tidak ; jangan engkau sebut kebaikan mereka ! Tetapi sebutkan kesalahan mereka saja, karena tugasmu bukanlah untuk mempelajari keadaan mereka dan menilainya… tetapi tugasmu adalah menyebutkan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat darinya, dan agar selain mereka menjauhi kesalahan itu. Demikian juga kesalahan yang ada pada mereka bisa jadi menghilangkan kebaikan mereka semuanya jika kesalahan itu berupa kekufuran atau kesyirikan, bisa jadi mengalahkan kebaikan mereka, dan bisa jadi itu adalah kebaikan menurut pandanganmu padahal sebenarnya bukanlah kebaikan di sisi Allah”
(Ajwibah Mufidah ‘An As’Ilatil Manahijil Jadidah hal 13-14)
Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari Kajian “Merayakan Cinta Bersamamu” bersama Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Silahkan saksikan video rekamannya berikut ini :
da060515-2101
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Simak juga artikel terkait berikut ini :
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :