All posts by BBG Al Ilmu

Berapa Wajah Anda..?

Wouw, ya jelas saja hanya satu, demikian barang kali jawab anda.

Tenang sobat, ketika anda bercermin, ada berapakah wajah anda saat itu? Coba pikirkan! Dan ketika anda ketemu dengan binatang buas, samakah wajah anda ketika ketemu dengan orang yang anda cintai ?

Jadi sebenarnya wajah anda ada berapa?

Kalau saya sih, berusaha untuk merasa wajah saya tetap satu, apapun yang saya hadapi dan dimanapun saya berada, adapun perubahan itu hanya sekedar ekspresi natural dari suasana hati, wajah mengekspresikan isi hati. Demikianlah idialnya orang yang beriman, jujur; sehingga lahir dan batinnya sama.

Berbeda dengan orang munafik, ia terbiasa bermain wajah, memasang wajah kawan kepada lawan, dan memasang wajah budak di depan atasan, dan wajah pengkhianat di belakangnya, demikian seterusnya.

Anda tahu, apa sebabnya mereka berbuat demikian ?

Sederhana, sebabnya mereka tidak punya harga diri, karena ia telah menjualnya dengan kepentingan dunia, harta, jabatan, wanita, dan lainnya, padahal kepentingan dunia terus berubah dan berpindah pindah, ya jadinya gitu itu, amit amit deh.

Adapun orang yang beriman, jiwa mereka teguh dengan imannya, hanya ada satu kepentingan baginya, yaitu mengabdi, takut, mengharap dan cinta hanya kepada Allah.

Dimanapun orang beriman berada, maka baginya hanya ada satu yang ia takutkan, murka Allah, hanya ada satu yang ia harapkan, ridha Allah, dan hanya ada satu yang ia harapkan, kasih sayang Allah. Allah Taala berfirman:

(يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا)

“Mereka merasa perlu untuk bersembunyi dari manusia, namun mereka tidak merasa perlu untuk bersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama mereka di saat mereka merencanakan ucapan ucapan yang tidak Allah ridhai, sedangkan Allah benar benar mengetahui apa yang mereka lakukan.” [Surat An-Nisa’ 108]

Jadi, sekarang anda merasa ada berapa wajah anda ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

Teruslah Belajar Wahai Saudaraku…

Alhamdulillah dakwah Sunnah mulai menyebar dimana mana, dan mulai banyak pula bermunculan da’i-da’i Sunnah di atas manhaj Salaf.

Tetapi ada yang benar-benar da’i Sunnah, dan ada juga da’i-da’i yang baru rujuk ke manhaj ini yang akhirnya saat mengisi kajian, pemahaman yang dia sampaikan masih campur sari, dan yang seperti ini tidak sedikit, yang menyusup ke dalam barisan da’i Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Akhirnya terjadilah benturan-benturan diantara para tholibul ilmi, yang terkadang permasalahan itu sudah jelas dan sudah baku dalam pokok manhaj Ahlus Sunnah, tapi diantara mereka masih ada yang belum tahu.

Maka inilah zaman yang penuh dengan fitnah, karena ternyata tidak semua ulama dan ustadz itu berada diatas Sunnah dan manhaj Salaf.

Saudaraku, tolak ukur yang di lihat bukannya sekedar lembaga ini dan itu, ustadz ini dan itu, dosen ini dan itu, tetapi lihatlah apakah mereka memang benar-benar ulama dan ustadz Sunnah di atas manhaj Salaf ?

Begitu banyak ustadz atau individu yang mengaku mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf, tetapi dalam lisan, tulisan dan perbuatan tidak semuanya terbukti.

Hendaknya penilaian kita itu bukan hanya karena mereka memulai kajian dengan menyebut innal hamda lillah, adanya jenggot, tidak isbal, adanya gelar lc dll, bicara tentang sunnah dan bid’ah atau mereka mengaku sendiri mengikuti manhaj Salaf dll, atau karena merasa pernah duduk di kajiannya 1 atau 2 kali sehingga dengan mudahnya lalu berkata bahwa ustadz ini telah mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf.

Adapun para jamaah umumnya awam, hanya sekedar berkata bagus cara penyampaiannya, lembut atau ceramahnya banyak di you tobe atau banyak yang hadir di taklimnya atau ada yang berkata bahwa da’i itu juga pakai dalil al-Qur’an dan al-Hadits dll.

Saudaraku, yang jadi masalah bukan hanya sekedar da’i itu memakai dalil al-Qur’an dan al-Hadits, tetapi kita juga harus tahu “Bagaimana ia memahami dalil itu”, dan harus dikembalikan kepada Rasul, para Sahabat, para Tabi’in dan ulama-ulama setelahnya dalam memahamiya.

Jika tidak tahu atau masih ragu, maka tanyakanlah kepada para ustadz Sunnah yang lebih senior untuk mengetahui siapa mereka dan apa manhajnya ? Karena biasanya yang tahu apa saja syubhat yang masih ada pada ustadz itu adalah para ustadz juga. Karena terkadang umat ini tidak berilmu sehingga tidak mengetahui.

Seandainya syubhat dalam memahami Islam, Sunnah dan manhaj Salaf masih ada pada ustadz itu, dan ia pun sudah dinasihati tetapi tetap belum juga mau rujuk darinya maka jelas ini berbahaya.

Adakah yang lebih berbahaya dari salah dalam memahami Islam dan menempuh manhaj Salaf ?

Sebenarnya ustadz Sunnah yang mengikuti manhaj Salaf dengan benar itu banyak, tetapi zaman ini penuh dengan fitnah, sehingga banyak ikhwan dan akhawat yang tergelincir dalam memahami Sunnah dan manhaj Salaf yang sebenarnya.

Jika terjadi saling tahdzir antara satu ustadz dengan ustadz lain atau satu ulama dengan ulama lain, padahal mereka sama sama mengusung manhaj salaf, maka yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu dalam menyikapi fenomena tersebut adalah tetap menuntut ilmu.

Bisa jadi mereka benar-benar sama dalam manhaj salaf lalu terjadi perbedaan pendapat yang bisa saja terjadi sebagai manusia, maka hendaknya penuntut ilmu hanya menyibukkan dirinya dalam belajar dan selalu sabar dalam menuntut ilmu dan jangan ikut-ikutan mentahdzir atau mencela.

Atau bisa jadi sebenarnya salah satu dari mereka tidaklah mengusung manhaj salaf, tetapi terlihat oleh orang awam seakan-akan sama manhajnya. Jika demikian maka tinggalkanlah mereka yang menyelisihi manhaj salaf itu.

Maka dari itu, janganlah ikhwan dan akhawat selalu bermudah-mudah dalam menyebarkan info dan ilmu dari para da’i yang manhajnya masih menyimpang, dan itu adalah perkara yang tidak diperbolehkan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada pemahaman serta pengamalan Islam dan Sunnah yang benar di atas manhaj Salaf…

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Orang Yang Meminta Hidayah BUKAN Berarti Dia Di Atas Kebatilan…

Mengapa Kaum Muslimin diperintahkan meminta hidayah ? Bukankah mereka yakin bahwa mereka di atas hidayah dan kebenaran ?!

Inilah pertanyaan sebagian musuh Islam dan Kaum Muslimin, dan pertanyaan ini tidaklah muncul melainkan karena kejahilan mereka terhadap Ajaran Islam yang sangat sarat dengan ilmu pengetahuan.

Pertanyaan ini telah dijawab oleh para ulama, diantaranya Ibnu Athiyyah -rohimahulloh-:

“Makna perkataan mereka: ‘berilah kami hidayah‘, bila dalam hal yang sudah ada di sisi mereka, maka maknanya adalah ‘meminta diteguhkan dan ditetapkan (di atasnya)’. Dan bila dalam hal yang belum ada di sisi mereka -mungkin karena kejahilannya atau keteledorannya dalam menjaganya- (maka maknanya) adalah ‘meminta ditunjukkan kepadanya’.” [Tafsir Ibnu Athiyyah 1/74].

Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- juga mengatakan:

“Jika dikatakan; bagaimana seorang mukmin meminta hidayah dalam setiap waktu, baik di dalam sholat maupun dalam waktu lainnya, padahal dia sudah berpredikat ‘mendapat hidayah’, apakah itu termasuk tindakan yag sia-sia?!

Maka jawabannya: TIDAK, jika bukan karena kebutuhannya untuk meminta HIDAYAH sepanjang siang dan malam, tentu Allah tidak akan mengarahkannya kepadanya.

Maka sungguh seorang hamba itu -di semua waktu dan keadaannya- sangat butuh kepada Allah untuk meneguhkannya, memantapkannya, mengingatkannya, dan meningkatkannya di atas hidayah.

Karena seorang hamba tidaklah kuasa mendatangkan manfaat ataupun mudhorot untuk dirinya kecuali atas kehendak Allah. Oleh karena itulah Allah ta’ala mengarahkannya untuk memohon kepadaNya agar Dia memberinya kemudahan, keteguhan, dan taufiq…

Allah ta’ala juga telah berfirman: “Wahai orang-orang yang BERIMAN, BERIMANLAH kalian kepada Allah, Rosul-Nya, kitab yang diturunkan kepada Rosul-Nya (Muhammad), dan kitab yang diturunkan sebelumnya”. [Annisa: 136].

Maka (dalam ayat ini) Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk beriman, dan itu bukanlah hal yang sia-sia, karena maksudnya adalah ‘meminta diteguhkan, ditetapkan, dan diistiqomahkan’ dalam amalan-amalan yang memudahkannya melakukan hal tersebut, wallohu a’lam. [Tafsir Ibnu Katsir 1/139].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da101114-1310

Saudaraku, Sembunyikan Amalmu…

Janganlah menceritakan kepada orang lain amal yang telah dilakukan, karena khawatir bisa membahayakan niat yang ada pada hati…

Siapakah yang bisa menjamin bahwa kita pasti akan terjaga niatnya ketika selesai menceritakan amal kepada orang lain ?

Dan itu bukanlah contoh dari perilaku orang-orang yang shalih. Bacalah kisah dibawah ini :

(1). Abdullah bin ‘Amru menceritakan hadits kepada Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, niscaya Allah akan perdengarkan amal tersebut kepada makhluk-Nya yang dapat mendengar. Dan Allah pun akan merendahkan dan meremehkannya”. Laki-laki itu berkata : “(Mendengar itu), menangislah mata ‘Abdullah (bin ‘Umar)” (Diriwayatkan oleh Ahmad II/195)

(2). Nu’aim bin Hammad menuturkan bahwa ia pernah mendengar Ibnul Mubarak berkata : “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih tinggi derajatnya dari pada Malik. Dia tidak banyak memiliki shalat dan puasa, namun dia memiliki banyak amal yang disembunyikan dan dirahasiakan” (Nuzhatul Fudhala’ II hal 621).

(3). Abu Bakar al-Marwazi berkata : “Suatu hari Ahmad bin Hambal menyebut-nyebut tentang Ibnul Mubarak dan ia berkata : “Allah tidak meninggikan derajatnya melainkan karena kerahasiaan yang dimilikinya” (Shifatus Shafwah IV hal 104).

(4). Yahya bin Ma’in berkata : “Aku tidak melihat orang seperti Ahmad bin Hambal. Aku menemaninya selama 50 tahun, dan ia tidak menyebutkan sedikitpun pada kami kebaikan yang ia lakukan”

(5). Semasa hidup Imam al-Mawardi, tidak ada satu pun karyanya yang dikeluarkan. Ia menulis karya dengan menghabiskan umurnya, berjaga pada malam hari dan tidak tidur, namun setelah semuanya rampung, dia inginkan agar buku-buku itu dilempar ke sungai Dajlah, karena dia takut riya’.

Dia berkata kepada seseorang :

“Jika aku dalam keadaan sakaratul maut, peganglah tanganku. Jika aku menggenggam tanganmu, maka ketahuilah ini berarti tidak ada satu pun karyaku yang diterima-Nya. Jika demikian, ambillah seluruh karyaku dan lemparkan semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari.

Jika aku membentangkan telapak tanganku dan tidak menggenggam tanganmu saat mati, maka ketahuilah bahwa karyaku diterima, sebab aku mendapatkan niat ikhlas yang kuharapkan.

Ternyata dia membentangkan telapak tangnnya dan tidak menggenggam tanganku. Aku pun tahu, ini tanda diterima amalnya. Sehingga setelah itu aku pun mengedarkan buku-buku hasil karyanya” (Siyar A’laamin Nubalaa’ oleh Imam adz-Dzahabi 18/66-67).

Mereka para imam saja seperti itu, khawatir amalnya tidak ikhlas sehingga lebih suka menyembunyikan amal kebaikannya. Lalu bagaimana dengan orang yang baru belajar dan mengamalkan Islam, kemudian merasa yakin akan selamat dari bisikan syaitan seperti riya, sum’ah dan ujub ?

Orang yang ikhlas adalah orang yang berusaha menyembunyikan berbagai macam kebaikannya, seperti ia menyembunyikan berbagai macam kejelekannya.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Tujuh Hal Yang Pahalanya Terus Mengalir…

(سبع يجري للعبد أجرهنّ وهو في قبره بعد موته)

Tujuh hal yang pahalanya mengalir kepada hamba sementara hamba itu di dalam kuburnya setelah ia meninggal dunia

عن أنس رضي الله عنه،قال:

Dari Anas semoga Allah meridhoinya:

قال رسولُ الله صلى الله عليه و سلم:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرهُنَّ،وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ:

TUJUH HAL yang pahalanya mengalir kepada hamba sementara hamba itu di dalam kuburnya setelah ia meninggal dunia

مَنْ عَلَّمَ عِلْماً،

Orang yang mengajarkan satu ilmu,

أَوْ أَجْرَى نَهراً،

Atau yang mengalirkan satu sungai,

أَوْ حَفَرَ بِئْراً،

Atau yang menggali sumur,

أَوْ غَرَسَ نَخْلاً،

Atau yang menanam sebatang korma,

أَوْ بَنَى مَسْجِداً،

Atau membangun sebuah masjid,

أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفاً،

Atau mewariskan (membagi) sebuah mushhaf al Qur’an,

أَوْ تَرَكَ وَلَداً يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ)).

Atau meninggalkan seorang anak yang akan mendo’akannya setelah ia meninggal.

[حسّنه العلاّمة الألباني رحمه الله،في صحيح الجامع ٣٦٠٢]

Hadis dihasankan oleh al Allamaj al Albani, di shahih al Jami’ 3602

كُنْ مِفْتَاحاً لِلْخَيرِ وَانْشُر

Jadilah anda sebagai pembuka kebaikan dan sebarkanlah…

Ustadz Muhammad Elvi Syam MA, حفظه الله تعالى

 

da110215-0951

Sahabatku… Musibah Itu Manis…

Ya… Musibah itu manis, bila Anda ingat firman Allah ta’ala:

“Mungkin saja kalian benci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian”. [QS. Albaqoroh: 216]

“Mungkin saja kalian benci sesuatu, padahal Allah menjadikan BANYAK kebaikan padanya”. [QS. Annisa’: 19]

Memang musibah itu manis, bila Anda ingat Sabda Nabi -shollallohu alaiahi wasallam-:

“Tidaklah musibah menimpa seorang muslim… melainkan Allah hapuskan dengannya dosa-dosanya”. [HR. Bukhori Muslim]

Memang, musibah itu manis… ketika Anda sadar bahwa ternyata nikmat Allah yang Anda terima jauh lebih banyak dan jauh lebih sering daripada musibah yang menimpa.

Percayalah, musibah itu manis… ketika Anda semakin hari semakin banyak menemukan hikmah-hikmah di balik musibah tersebut.

Sadarlah, musibah itu hal biasa dan dialami oleh siapapun… bahkan mungkin banyak orang di sekitar Anda mengalami musibah yang jauh lebih berat.

Bergembiralah, bahwa ternyata datangnya musibah pertanda Anda akan bahagia, karena musibah tidak mungkin selamanya.

Bahagialah, karena ternyata musibah itu bisa Anda NIKMATI… dan ternyata musibah itu banyak menjadikan manusia MENDEKAT kepada Allah.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da101214-0000

Perkara Yang Bukan Termasuk Manhaj Salaf

Asy-Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Umar Bazmuul hafizhahullah berkata :

ليس من منهج السلف العمل قبل العلم، إنما كانوا يبدأون بالعلم قبل العمل، قال تعالى: فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين) محمد19

(1). Bukan termasuk manhaj salaf, beramal sebelum berilmu. Dahulu salaf memulai dengan ilmu sebelum beramal. Allah Ta’ala berfirman : “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) selain Allah, dan meminta ampunlah atas dosamu dan juga kaum mukminin” [QS. Muhammad: 19]

ليس من منهج السلف : ترك العمل بالعلم، فقد ورد: “هتف العلم بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل

(2). Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan amal setelah berilmu. Disebutkan dalam sebuah riwayat : “Ilmu memanggil amal, apabila amal memenuhi panggilannya (maka ilmu akan tetap bersamanya), namun jika sebaliknya, maka ilmu akan pergi meninggalkannya”

ليس من منهج السلف أن يشتغل الطالب بأي شيء قبل القرآن والحديث، فإذا تفقه وتعلم ما يحتاجه لدينه طلب ما يريده بعد ذلك

(3). Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu sebelum (menghafal dan mempelajari) al-Qur’an dan hadits. Apabila seorang telah mempelajari ilmu yang ia butuhkan untuk agamanya, silahkan ia mempelajari ilmu yang ia inginkan.

ليس من منهج السلف الأخذ عن أي أحد إلا بعد النظر في حاله مع السنة. فكان يقال: “إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم”.

(4). Bukan termasuk manhaj salaf, mengambil (ilmu) dari setiap manusia kecuali setelah mengamati keadaannya apakah ia di atas sunnah. Dahulu dikatakan sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian.

ليس من منهج السلف ترك طلب العلم الواجب، وإهمال طلب العلم المستحب

(5). Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan thalabul ilmi yang sifatnya wajib, serta meremehkan thalabul ilmi yang sifatnya sunnah.

ليس من منهج السلف الاهتمام بالعلوم العقلية البحتة، إنما علمهم قال الله قال رسوله قال الصحابة

(6). Bukan termasuk manhaj salaf, lebih mementingkan ilmu-ilmu yang hanya bersandar pada akal. Ilmu salaf tidak lain adalah perkataan Allah dan Rasul-Nya, serta perkataan sahabat.

ليس من منهج السلف ترك الاحتجاج بحديث الآحاد في العقائد

(7). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau berhujjah dengan hadits ahad dalam permasalahan aqidah.

ليس من منهج السلف حصر افادة العلم في الحديث المتواتر

(8). Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi ilmu hanya diambil dari hadits mutawatir.

ليس من منهج السلف رد الحديث إذا لم تبلغه العقول والاعتراض عليه، بل منهجهم الاتباع والتسليم، لآمنا به كل من عند ربنا

(9). Bukan termasuk manhaj salaf, menolak dan mengkritik hadits apabila tidak masuk akal. Bahkan manhaj salaf adalah mengikuti, menerima dan beriman dengan hadits, serta seluruh apa yang datang dari Rabb kita.

ليس من منهج السلف التحزب والتحالف والإجتماع سراً دون الناس ؛ فقد ورد : “إذا رأيت من يجتمع في المسجد من دون الناس فاعلم أنهم على ضلالة

(10). Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kelompok-kelompok, persekutuan dan perkumpulan yang tersembunyi dari manusia. Diriwayatkan dari salaf : “Apabila engkau melihat orang-orang berkumpul di masjid secara sembunyi-sembunyi, maka ketahuilah bahwa mereka berada di atas kesesatan.

ليس من منهج السلف الابتداع والاختراع. وشعارهم : اتبعوا و لا تبتدعوا فقد كفيتم، وعليكم بالأمر العتيق

(11). Bukan termasuk manhaj salaf, mengada-adakan kebid’ahan dan perkara-perkara baru (dalam agama). Syiar salaf adalah “Ikutilah, janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah dicukupkan. Berpegang teguhlah dengan perintah Nabi”

ليس من منهج السلف ترك الاقتداء والاتباع للرسول عليه الصلاة والسلام

(12). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mencontoh dan mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ليس من منهج السلف الغلو في الرسول صلى الله عليه ، ومساواته بالله تعالى

(13). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ghuluw kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyamakan kedudukan Rasul dengan Allah Ta’ala.

ليس من منهج السلف : ترك الاتباع لما كان عليه الصحابة، واختراع معاني يخرج بها عما في الشرع

(14). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mengikuti jalan para sahabat, dan membuat kaidah-kaidah baru yang menyelisihi syariat.

ليس من منهج السلف الطعن في الصحابة أو أحد منهم

(15). Bukan termasuk manhaj salaf, mencela para sahabat nabi atau mencela salah seorang dari sahabat Nabi.

ليس من منهج السلف تهييج الناس على الحكام وتحريضهم على الخروج أو المظاهرات أو الثورات. أو الانتقاد العلني لهم ولوزرائهم أو عمالهم

(16). Bukan termasuk manhaj salaf, memprovokasi manusia untuk melawan pemerintah dan menghasung mereka untuk keluar dari ketaatan baik berupa demonstrasi, pemberontakan maupun menyampaikan kritikan terbuka kepada pemerintah dan jajarannya terkait kesalahan-kesalahan mereka.

ليس من منهج السلف السكوت عن النصيحة لله ولرسوله ولكتابه ولأئمة المسلمين وعامتهم

(17). Bukan termasuk manhaj salaf, diam dan enggan memberikan nasihat karena Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, serta nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dan manusia pada umumnya.

ليس من منهج السلف إحداث بيعة لغير الإمام المتولي شأن المسلمين وجماعتهم

(18). Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan bai’at kepada selain pemimpin yang menguasai urusan kaum muslimin.

ليس من منهج السلف إهمال الكلام في توحيد الله تعالى وتقرير ذلك في النفوس، فإنه الأساس الذي يقوم عليه بناء الإسلام في كل أحد

(19). Bukan termasuk manhaj salaf, meremehkan pembahasan tauhid dan tidak menanamkannya dalam jiwa, karena tauhid merupakan pokok agama setiap manusia yang Islam dibangun di atasnya.

ليس من منهج السلف أن يكون موضوع الدعوة الأساس توزيع الثروات ولو باسم الاصلاح الاثتصادي، و لا العمل السياسي ولو باسم الإصلاح السياسي

(20). Bukan termasuk manhaj salaf, memprioritaskan dakwah dengan menyebarkan kekacauan meskipun dengan alasan perbaikan ekonomi, demikian pula terjun dalam politik meskipun dengan alasan memperbaiki politik.

ليس من منهج السلف : الاشتغال بما لا نفع فيه في الآخرة

(21). Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.

ليس من منهج السلف الركون إلى الدنيا وترك العمل للآخرة

(22). Bukan termasuk manhaj salaf, merasa puas dengan kehidupan dunia dan meninggalkan beramal untuk akhirat.

ليس من منهج السلف الإكثار من الكلام والحديث، إنما كانوا يقولون: من كثر كلامه كثر سقطه. ويسكتون حتى يظن أن بهم عي وما بهم ذلك إنما خوف الله

(23). Bukan termasuk manhaj salaf, banyak berbicara dan bercakap-cakap. Dahulu salaf menyatakan barangsiapa yang banyak bicara, maka akan banyak kesalahannya. Mereka diam hingga orang-orang mengira bahwa ia memiliki cacat. Tidaklah mereka melakukan demikian melainkan karena takut kepada Allah.

ليس من منهج السلف الاستعلاء على الخلق، فهم دعاة خير، ورفق ورحمة

(24). Bukan termasuk manhaj salaf, menyombongkan diri terhadap makhluk. Salaf adalah para da’i yang menyeru kepada kebaikan, bersikap lembut lagi penyayang.

ليس من منهج السلف طلب الشهرة، والارتفاع على الناس، فإن حب الظهور يقصم الظهور، وإذا تسود الحدث فاته خير كثير

(25). Bukan termasuk manhaj salaf, mencari ketenaran dan kedudukan tinggi di tengah manusia, karena cinta ketenaran akan mematahkan punggung. Apabila seorang telah ditokohkan (sebelum waktunya), maka akan terluput darinya kebaikan yang banyak (maksudnya ia kehilangan kesempatan menuntut ilmu)

ليس من منهج السلف، الدخول في الكلام والجدال بل يستفرغون وسعهم في التفقه في الكتاب والسنة والعمل بهما والدعوة اليهما

(26). Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan dan perkataan yang sia-sia, bahkan salaf memfokuskan waktu mereka untuk mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah, mengamalkan keduanya dan mendakwahkannya.

ليس من منهج السلف : الخروج بدلالات النصوص عن أصول العربية وفهم السلف الصالح

(27). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak memahami nash-nash syariat berdasarkan pokok bahasa arab dan pemahaman salaf yang shalih.

ليس من منهج السلف : الكلام بالمجملات وترك التفصيل والبيان

(28). Bukan termasuk manhaj salaf, membahas sesuatu secara global, tanpa merinci dan memberikan penjelasan.

ليس منهج السلف الاستدلال بكل آية أو حديث، حتى تكون الآية محكمة والحديث سنة متبعة

(29). Bukan termasuk manhaj salaf, berdalil dengan setiap ayat dan hadits hingga diketahui bahwa ayat tersebut muhkam dan hadits tersebut merupakan sunnah yang diikuti.

ليس من منهج السلف وضع القواعد والضوابط بالرأي، وإنما كان سبيلهم تتبع ألفاظ القرآن والسنة . فلايغادر في الفتوى الآية أو الحديث ما امكنه

(30). Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kaidah-kaidah dan aturan agama berdasarkan akal. Jalan salaf adalah mengkaji lafazh-lafazh al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak tergesa-gesa dalam berfatwa terkait dengan ayat atau hadits sebisa mungkin.

ليس من منهج السلف التعصب للرأي والاعتداد به، فكان قائلهم يقول: ما أنا عليه صواب يحتمل الخطأ، وما مخالفي عليه خطأ يحتمل الصواب

(31). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ta’ashub dan ghuluw terhadap suatu pendapat. Salaf menyatakan : “Pendapat yang aku yakini benar, tapi ada kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang yang menyelisihiku salah, tapi ada kemungkinan benar”

ليس من منهج السلف المعاداة لمجرد وقوع اختلاف، فكانوا يفرقون في ذلك بحسب حال الرجل وواقع المسألة، فالاختلاف مع صفاء النية لا يفسد للود قضية

(32). Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan permusuhan hanya disebabkan oleh perselisihan. Salaf membedakan suatu perselisihan bergantung dengan keadaan seseorang dan permasalahan yang terjadi. Perselisihan yang dibarengi dengan niat yang bersih, tidak akan merusak kecintaan dan persaudaraan di antara mereka.

ليس من منهج السلف حصر الدين في مسألة فمن وافقني عليها هو سلفي ومن خالفني فيها فهو غير سلفي. فالسلفية منهج وليست مسألة

(33). Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi agama ini hanya dalam permasalahan tertentu, barangsiapa yang sejalan denganku dalam permasalahan tersebut, maka ia salafy, dan barangsiapa yang menyelisihiku dalam permasalahan tersebut, maka ia bukan salafy. As-Salafiyyah adalah manhaj, bukan permasalahan tertentu.

ليس من منهج السلف التقليد والتعصب بدون دليل

(34). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap taklid (mengikuti pendapat seseorang tanpa dalil) dan ta’ashub (fanatisme) tanpa disertai dalil.

ليس من منهج السلف تكفير الناس إلا بما ورد أنه كفر في الشرع

(35). Bukan termasuk manhaj salaf, (bermudah-mudahan) dalam mengkafirkan manusia, kecuali yang ditunjukkan oleh syariat bahwa hal itu adalah penyebab kekufuran.

ليس من منهج السلف الحكم على المعين بالكفر قبل إقامة الحجة بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

(36). Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis kafir seseorang sebelum menegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya.

ليس من منهج السلف الحكم على المعين ببدعته إلا بعد إقامة الحجة، بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

(37). Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis (mubtadi’) seseorang karena kebid’ahan yang ia lakukan, kecuali setelah ditegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya.

ليس من منهج السلف العذر بمطلق الجهل، إنما يعذرون بالجهل من بذل وسعه في التعلم وطلب العلم و لم يقصر وكان الذي صدر منه هو مبلغه من العلم

(38). Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan udzur jahl (kebodohan) secara mutlak, seorang diberikan udzur jahl hanyalah ketika ia telah berupaya untuk belajar dan menuntut ilmu, serta bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya. Dan penyelisihan yang ia lakukan berdasarkan kadar ilmu yang sampai kepadanya.

ليس من منهج السلف إعطاء العصمة لأحد غير رسول الله صلى الله عليه وسلم

(39). Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan sifat ma’shum kepada seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ليس من منهج السلف : ترك الرجوع للعلماء، بل كانوا يدعون الناس إلى مجالسة العلماء، ولزوم غرسهم

(40). Bukan termasuk manhaj salaf, enggan untuk kembali kepada ulama, bahkan dahulu salaf menyeru manusia untuk duduk kepada ulama dan terus menapaki langkah mereka.

ليس من منهج السلف : إعمال التعديل مع وجود الجرح المفسر إلا إذا ذكره المعدل ورده بعلم

(41). Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan ta’dil (pujian) saat terdapat jarh (kritikan) yang terperinci, kecuali apabila ulama yang men-ta’dil menyebutkan sebab jarh, kemudian menolak jarh tersebut dengan ilmu.

ليس من منهج السلف : إعمال الجرح المجمل في حق من ثبتت عدالته، إلا إذا فسر، أو صدر من إمام كبير، فالنفس أميل إليه

(42). Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan jarh yang masih global terhadap orang-orang yang telah nampak keadilannya, kecuali apabila jarh tersebut dirinci atau berasal dari seorang imam (ulama besar ahlus-sunnah), maka jiwa ini akan condong kepadanya.

ليس من منهج السلف أن يعرف الحق بالرجال، فكل ما جاء عن فلان فهو حق، بل شعارهم أعرف الحق تعرف أهله، أعرف الحق تكن من أهله

(43). Bukan termasuk manhaj salaf, mengukur kebenaran dengan seseorang yaitu setiap apa yang datang dari fulan, maka itulah kebenaran. Bahkan syiar salaf adalah kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal orang-orang yang berada di atasnya, dan kenalilah kebenaran, niscaya engkau termasuk ahlinya.

ليس من منهج السلف رد خبر الثقة، وعدم قبوله إلا مسموعاً أو مقروءا

(44). Bukan termasuk manhaj salaf, menolak khabar tsiqah, tidak mau menerimanya kecuali apabila khabar tersebut berupa rekaman suara atau tulisan.

ليس من منهج السلف أن يخوض كل طالب علم في الجرح والتعديل،فإن لكل فن رجاله فكما لا يؤخذ العلم عن كل أحد فإنه لا يتكلم في الجرح والتعديل أي أحد

(45). Bukan termasuk manhaj salaf, setiap penuntut ilmu berdalam-dalam dalam permasalahan jarh wat ta’dil, karena setiap cabang ilmu terdapat ahlinya, sebagaimana ilmu tidak diambil dari setiap orang, demikian pula setiap orang tidak berhak berbicara dalam permasalahan jarh wat ta’dil.

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

(46). Bukan termasuk manhaj salaf, menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat, kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya.

ليس من منهج السلف الهجوم على العلماء والكلام فيهم واطراح علمهم وكتبهم والدعوة إلى حرقها وإتلافها وتارك الرجوع إليها لمجرد خطأ وقعوا فيه

(47). Bukan termasuk manhaj salaf, memusuhi, melawan, membicarakan ulama, serta membuang ilmu dan kitab-kitab mereka. Demikian pula menyerukan untuk membakar kitab-kitab mereka, merusaknya dan tidak mengambil ilmu dari ulama hanya karena mereka terjatuh dalam kesalahan.

ليس من منهج السلف : الركون إلى أهل البدع، والتبسط إليهم

(48). Bukan termasuk manhaj salaf, bergaul bersama ahlul-bid’ah dan melapangkan majelis untuk mereka.

ليس من منهج ألسلف محبة أهل البدع، أو إحسان الظن بهم، لا يغرهم فصاحتهم و لا بيانهم، يعلمون أن المرء مع من أحب، كما في الحديث

(49). Bukan termasuk manhaj salaf, mencintai ahlul-bid’ah atau berprasangka baik kepada mereka, tidak tertipu oleh kefasihan lisan dan penjelasan mereka. Salaf mengetahui bahwa seorang bersama orang yang ia cintai sebagaimana disebutkan dalam hadits.

ليس من منهج السلف توقير صاحب البدعة

(50). Bukan termasuk manhaj salaf, memuliakan ahlul-bid’ah.

ليس من منهج السلف : الدخول في جدال مع أهل الباطل، فإن المسلم لا يعرض ديبنه للأهواء

(51). Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan bersama orang-orang yang berada di atas kebatilan, karena seorang muslim tidak mempertaruhkan agamanya demi mengikuti hawa nafsu.

ليس منهج السلف الاستشراف للفتن والخوض فيها، بل كانوا يتجنبونها ويحذرون منها.

(52). Bukan termasuk manhaj salaf, menjadi corong dalam fitnah-fitnah dan menyibukkan diri di dalamya. Bahkan dahulu salaf menjauh dan memperingatkan dari berbagai fitnah.

ليس من منهج السلف الوقوع في الفرقة والاختلاف والتباغض، وشعارالسلف لا تباغضوا و لا تدابروا وكونوا – عباد الله – إخوانا

(53). Bukan termasuk manhaj salaf, perpecahan, perselisihan dan saling membenci. Syiar salaf adalah “janganlah kalian saling membenci, saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

ليس من منهج السلف منازعة العلماء، في كلامهم، فالطالب يعلم أنه طالب وأن بحث هذه المسائل متروك للعلماء، فما بالكم بالنوازل والمسائل الكبار!

(54). Bukan termasuk manhaj salaf, mempertentangkan perkataan ulama. Seorang penuntut ilmu harus tahu bahwa ia hanyalah penuntut ilmu. Permasalahan kontemporer dan permasalahan yang besar hendaklah ditinggalkan dan diserahkan kepada ulama, seorang penuntut ilmu tidak diperkenankan membahas permasalahan-permasalahan tersebut.

Sumber: Twitter Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah (penterjemah Abul-Harits)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Menunggu Giliran

Allah Ta’ala berfirman

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya..” (Qs Ali ‘Imran, Ayat 185)

Setiap kita sedang menunggu giliran.. maka dari itu mari kita persiapkan bekal…

Ditulis oleh,
Ustadz Fuad Hamzah Baraba’ Lc,  حفظه الله تعالى

 

Saudaraku, Kemana Akalmu..?

Manusia sangat cerdas hingga mampu memecahkan rahasia alam yang sangat rumit, tapi terkadang manusia teramat bodoh, cobalah dipikirkan…

Semua orang yakin bahwa dirinya pasti mati…
Ia melihat saudaranya, juga teman-temannya yang mati, bahkan ia turut mengantarkan ke kuburan…

Namun tetap saja ia lupa akan mati dan tidak berusaha keras untuk mengumpulkan bekal akhirat. Bukankah manusia yang sedang mengantarkan juga menunggu giliran untuk mati…?

Dan sapi pun demikian. Meskipun tempat penjagalan hanya berjarak beberapa meter darinya, ia tetap saja makan rumputan segar dengan lahapnya…

Kalau saja sapi itu mau berfikir, tentu ia akan menyadari bahwa gilirannya dijagal mungkin tinggal beberapa menit lagi, ia tentu akan berupaya melarikan diri, atau setidak-tidaknya nafsu makannya akan hilang…

Lalu bagaimana dengan sikap manusia yang berakal, apakah mereka mau dipersamakan dengan para sapi yang terus melahap makanannya, padahal yang pasti akan mendatanginya yaitu KEMATIAN…!?

Qotadah rahimahullah berkata :

“Allah menciptakan Malaikat dengan akal tanpa syahwat, dan menciptakan hewan dengan syahwat tanpa akal, serta menciptakan manusia dan menjadikan baginya akal dan syahwat. Maka barangsiapa akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia bersama Malaikat, dan barangsiapa syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia seperti hewan” (‘Uddatush Shabirin 1/15)

Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata :

لو يعلم أحدكم حقيقة جهنّم لصرخ منها حتى ينقطع صوته ولصلّّى حتى ينكسر صلبه

“Seandainya salah seorang di antara kalian mengetahui hakikat Neraka Jahanam, niscaya dia akan menjerit sekeras-kerasnya (minta tolong kepada Allah) sampai suaranya terputus. Dan niscaya dia juga akan melakukan shalat sampai tulang punggungnya patah” (Zawaid az-Zuhd oleh Ibnul Mubarak no.1007)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Wanita Atau Pria Yang Lebih Banyak Masuk Surga..?

Coba anda tebak, mana yang lebih banyak. Bila anda wanita, barangkali anda berkata, wanita lebih banyak, dan bila anda pria, barang kali anda berkata: semoga pria lebih banyak masuk surga dibanding wanita.

Tenang sobat, sebelum lanjut baca status ini, ambil dulu segelas air minum, atau lebih sip bila anda menyeruput secangkir kopi hitam dulu, biar ndak gagal paham.

Suatu hari ada beberapa orang wanita dan pria yang memperdebatkan masalah ini. Mengetahui perdebatan ini, sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berusaha untuk menengahi dengan menyampaikan hadits berikut:

إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّتِى تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّىٍّ فِى السَّمَاءِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ وَمَا فِى الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Sesungguhnya gelombang pertama dari orang-orang yang masuk surga, wajah mereka bercahaya bagaikan rembulan di malam purnama. Gelombang selanjutnya bagaikan bintang langit yang paling terang. Masing-masing dari mereka memiliki dua istri. Sungsum tulang betis mereka dapat dilihat dari luar kulit mereka. Dan tidak seorangpun yang masuk surga dalam kondisi bujang tak beristri.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi kira kira menurut anda, siapa yang lebih banyak masuk surga, wanita atau pria ?

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى