All posts by BBG Al Ilmu

Resep Membuka Pintu Rejeki…

Berbagai cara, dan kiat bisa jadi telah anda lakukan untuk bisa kaya raya, namun setiap kali anda berusaha keras membukanya, seakan anda bertambah miskin bukan bertambah kaya. Benarkah demikian sobat ?

Saudaraku, sadarilah bahwa itu semua terjadi karena salah anda sendiri, andai anda membuka pintu kekayaan yang benar niscaya anda benar benar kaya raya.

Anda mau aku tunjukkan di mana pintu tersebut ?

Pintu itu adalah pintu akhirat. Lo kok bisa, mau kaya di dunia kok malah diajak membuka lintu akhirat, mana bisa jadi kaya ?

Tenang sobat, bila anda sibuk mengetuk dan berupaya membuka pintu akhirat maka Allah-lah yang akan membukakan pintu dunia anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته ، كفاه الله هم دنياه ، ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا ، لم يبال الله في أي أوديتها هلك 

“Siapapun yang menyatukan seluruh orientasinya pada urusan akhiratnya, niscaya Allah cukupi urusan dunianya. Adapun bila ia memecah orientasinya pada berbagai urusan dunianya, maka Allah mencampakkannya, sehingga tiada berkenan menolongnya, di manapun ia ditimpa binasa.” (Ibnu Majah)

Ingat sobat, anda diciptakan untuk beribadah, sedang dunia diciptakan untuk anda, karena itu jangan sibukkan diri anda dengan urusan dunia, namun sibukkan diri anda dengan tujuan hidup anda, yaitu mengabdi kepada Pencipta anda.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Perbedaan Di Hari ‘Asyuro…

Kaum Yahudi, menampakkan kesenangannya dengan nyanyian dan tarian.
Kaum Syiah, menampakkan kesedihan dengan ritual bid’ah dan kezaliman.
Kaum Muslimin Ahlussunnah, BERSYUKUR dengan ibadah puasa sesuai tuntunan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam

=====
Lihatlah bagaimana kaum syiah mengumpulkan dua keburukan di hari itu.
Sebaliknya Kaum Muslimin Ahlussunnah mengumpulkan dua kebaikan di hari itu, walhamdulillah atas kenikmatan ISLAM.

Masihkah ada yang berharap keduanya bisa bersama dan rukun?!

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da221015-2030

Apakah Orang Sakit, Wanita Haidh Masih Bisa Mendapat Pahala Puasa ‘Asyuro..?

Orang yang ada udzur dalam meninggalkan puasa –seperti haidh, nifas sakit dan safar- sementara kebiasaannya berpuasa hari itu, atau dia mempunyai niat puasa hari itu. Maka dia akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatannya.

Sebagaimana diriwayatkan Imam Al Bukhori (2996) dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu berkata, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Ketika seorang hamba sakit atau bepergian, maka ditulis baginya (pahala) seperti dia melakukannya  saat menetap dan sehat..”

● Ibnu Hajar rohimahullah mengatakan,

“Ungkapan ‘ditulis baginya (pahala) seperti dia melakukan dalam kondisi menetap dan sehat..’ Hal itu bagi orang yang hendak melakukan ketaatan namun terhalang, sementara niatnya –jika tidak ada penghalang- dia akan terus melakukannya..”

(Fathul Bari)

● Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah ditanya :

“Wahai fadhilatusy syaikh! Ada seorang wanita yang berniat untuk menunaikan puasa Asyura, namun pada hari tersebut dia mendapati hari kebiasaan haidhnya. Apakah dia perlu mengqadha (mengganti) puasa tersebut atau tidak..?”

Jawaban:
“Wanita  tersebut tidak perlu meng-qodhonya karena puasa ‘Asyuro adalah puasa yang dilakukan khusus pada waktu tertentu. Jika seseorang mendapati hari ‘Asyuro, maka kerjakanlah puasa pada hari itu. Jika dia tidak melakukannya, maka tidak ada qodho baginya..

Akan tetapi aku berharap mudah-mudahan dia mendapatkan ganjaran –insyaa Allah (jika Allah Ta’ala menghendaki)- disebabkan karena niat dan tekadnya. Dia tidak bisa menunaikan puasa ini karena ada udzur syar’i (alasan yang dibenarkan oleh syariat)..”

(Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 125: 15)

Sumber :

https://islamqa.info/id/146212
https://rumaysho.com/127-puasa-asyura-datang-haidh.html

 

Apakah Ada Landasannya Dalam Syariat Islam Hari Raya Atau Lebaran Anak Yatim Setiap Tanggal 10 Muharram..?

[ A ]. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

“Barangsiapa yang mengusapkan tangannya ke kepala anak yatim di hari Asyuro’ (10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat”

Hadits ini terdapat dalam kitab Tanbiihul Ghaafiliin no.475 dan dinyatakan maudhu’ atau “PALSU” oleh para ulama, karena dalam jalur sanadnya terdapat nama “Habib bin Abi Habib”, seorang perawi yang tertuduh pernah berdusta dan memalsukan hadits. Oleh karenanya status perawi ini adalah matruk (ditinggalkan).

Para ulama memberikan komentar tentangnya :

– Ahmad bin Hanbal berkata : “Pendusta” (Lisaanul Miizaan II/168/752 oleh Ibnu Hajar).

– Ibnu Ady berkata : “Ia pernah memalsukan hadits” (Al-Maudhuu’aat II/571).

– Ibnul Jauzi berkata : “Ini adalah hadits palsu dengan tanpa keraguan” (Al-Maudhuu’aat II/571)

– Adz-Dzahabi berkata : “Tertuduh berdusta” (Talkhis Kitab al-Maudhuu’aat hal 207).

– Adz-Dzahabi berkata : “Pendusta” (Miizaanul I’tidaal I/451/1693).

– Abu Haatim berkata : “Ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya” (Al-Maudhuu’aat II/571).

– Asy-Syaukani berkata : “Hadits palsu” (Al-Fawaa-idul Majmuu’ah hal 92 no.33)

– lihat juga al-La’aali al-Mashnu’ah II/109 oleh as-Suyuthi, at-Tanziih asy-Syari’ah II/149-150 oleh Ibnu ‘Arraq al-Kanani dll.

[ B ]. Berbeda dengan “Agama Syi’ah” dalam menyambut bulan Muharram. Mereka menjadikan hari Asyuro’ (10 Muharram) sebagai hari berkabung, bersedih, menangis, meratap bersama dan menyakiti anggota badan lainnya dengan melukai kepala atau memukulkan pedang ke atas kepala atau dengan memukulkan rantai ke bagian punggung hingga berdarah sebagai tanda berkabung atas syahidnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Mereka berpawai di jalan-jalan raya dan tempat-tempat umum dengan memakai pakaian hitam-hitam sambil mengulang-ngulang nyanyian berisi pujian-pujian kepada Husain.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ritual Asyuro’ oleh syiah ini dimulai tahun 352 H. Pencetusnya adalah Dinasti Buwaih beraliran syi’ah yang mewajibkan penduduk Irak untuk melakukan ratapan terhadap Husein. Yaitu dengan menutup pasar, melarang memasak makanan, dan para wanita mereka keluar kemudian menampar-nampar wajah serta membuat fitnah di hadapan manusia.

Hal ini kemudian diikuti oleh Dinasti Fathimiyah yang merayakannya dengan tindakan serupa. Pada hari itu, khalifah duduk dengan muka masam sambil memperlihatkan kesedihan, begitu juga para hakim, da’i, dan pejabat pemerintah. Para penyair membuat syair dan menyebutkan riwayat dan kisah-kisah karangan tentang pembunuhan Husein.

Mereka menganggap bahwa pada hari itu Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan banyak dari kaum muslimin laki-laki yang terbunuh, sehingga banyak dari anak-anak mereka yang menjadi yatim. Maka mereka pun menjadikan hari itu sebagai tradisi memperingati hari anak yatim yang dibenarkan dalam “Syariat Agama Syiah”.

Mereka merobek-robek pakaian dan meneriakkan ucapan berlebihan kepada Husain. Bukankah Husain mati syahid dan akan mendapatkan tempat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala ? Lalu kenapa ia diratapi seperti itu ?

Demikianlah “Agama Syi’ah” dalam memperingati hari terbunuhnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang sangat mereka agung-agungkan. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya melarang perbuatan demikian.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah” (HR.Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Buruknya lagi, cerita kematian Husein pun telah mereka palsukan. Padahal kaum syi’ah sendirilah yang telah membunuhnya.

Salah seorang ulama besar syi’ah, murtadha muthahhari berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Kufah adalah pendukung Ali dan yang membunuh Imam al-Husein adalah pendukungnya sendiri” (Al-Mahamatul Husainiyah I/129, oleh al-Khamis, 2014: 255).

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menyalahkan penduduk Irak sebagai pembunuh Husain dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 5994 :

‏ ‏ ‏عن ‏ ‏ابن أبي نعم ‏ ‏قال كنت شاهدا ‏ ‏لابن عمر ‏ ‏وسأله رجل عن دم البعوض فقال : ممن أنت ؟ فقال : من ‏ ‏أهل ‏ ‏‏العراق ، ‏قال انظروا إلى هذا يسألني عن دم البعوض وقد قتلوا ابن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ،‏ ‏وسمعت النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول ‏ ‏هما ريحانتاي من الدنيا


Dari Ibnu Abi Nu’min, dia berkata : “Saya menyaksikan Abdullah bin Umar ketika ditanya oleh seseorang tentang darah nyamuk, maka Ibnu Umar bertanya : “Engkau berasal dari mana ?”. Dia menjawab : “Dari penduduk Irak”. Ibnu Umar berkata : “Lihatlah kepada orang ini ! Dia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk padahal merekalah yang telah membunuh cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib). Aku telah mendengar Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mereka berdua (yaitu Hasan dan Husain) adalah bunga raihanku di dunia”

Islam tidak pernah mengajarkan tanggal 10 Muharram diisi dengan perbuatan nista seperti “Agama Syiah”. Asyura’ tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri seperti syiah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengajarkan untuk berpuasa sunnah pada hari Asyura’.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Kitabnya al-Bidaayah wan Nihaayah VIII/221 :

“Setiap muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu karena ia adalah sayyid-nya (penghulunya) kaum muslimin, ulamanya para sahabat dan anak dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Fathimah yang merupakan puteri terbaik beliau. Husain adalah seorang ahli ibadah, pemberani dan orang yang murah hati. Akan tetapi kesedihan yang ada janganlah dipertontonkan seperti yang dilakukan oleh syi’ah dengan tidak sabar dan bersedih yang semata-mata dibuat-buat dan dengan tujuan riya’ (cari pujian, tidak ikhlas). Padahal ‘Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Husain. ‘Ali pun mati terbunuh, namun ia tidak diperlakukan dengan dibuatkan ma’tam (hari duka) sebagaimana hari kematian Husain. ‘Ali terbunuh pada hari Jum’at ketika akan pergi shalat shubuh pada hari ke-17 Ramadhan tahun 40 H.

Begitu pula ‘Utsman, ia lebih utama daripada ‘Ali bin Abi Thalib menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ‘Utsman terbunuh ketika ia dikepung di rumahnya pada hari tasyriq dari bulan Dzulhijjah pada tahun 36 H. Walaupun demikian, kematian ‘Utsman tidak dijadikan ma’tam (hari duka). Begitu pula ‘Umar bin Khatthab, ia lebih utama daripada ‘Utsman dan ‘Ali. Ia mati terbunuh ketika ia sedang shalat shubuh di mihrab ketika sedang membaca al-Qur’an. Namun, tidak ada yang mengenang hari kematian beliau dengan ma’tam (hari duka). Begitu pula Abu Bakar ash-Shiddiq, ia lebih utama daripada ‘Umar. Kematiannya tidaklah dijadikan ma’tam (hari duka).

Lebih daripada itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah sayyid (penghulu) cucu Adam di dunia dan akhirat. Allah telah mencabut nyawa beliau sebagaimana para Nabi sebelumnya juga mati. Namun tidak ada satu pun yang menjadikan hari kematian beliau sebagai ma’tam (hari kesedihan). Kematian beliau tidaklah pernah dirayakan sebagaimana yang dirayakan pada kematian Husain, seperti yang dilakukan oleh (syi’ah) rafidhah yang jahil”

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Apakah Puasa Asyura Itu Boleh Di Tanggal 10 dan 11 Muharram..?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan yaitu puasa di bulan Allah Muharram” (HR. Muslim no.1163, hadits dari Abu Hurairah).

“Sesungguhnya puasa pada hari ‘asyuro (10 Muharram) bisa menghapus dosa setahun dan puasa pada hari arofah bisa menghapus dosa 2 tahun” (HR. Muslim no.1162, hadits dari Abu Qotadah).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Ketika Rasulullah berpuasa hari Asyuro’ (10 Muharram) dan memerintahkannya, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan kaum Yahudi dan Nashrani”. Lalu Rasulullah bersabda : “Pada tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9 (juga)”. Ibnu Abbas berkata : “Sebelum tiba tahun depan Rasulullah telah wafat” (HR. Muslim no.1134)

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata :

“Bershaumlah pada hari ke-9 dan ke-10, selisihilah kaum Yahudi !” [HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf­ no.7839, al-Baihaqi IV/287 dan at-Tirmidzi no. 755]

Imam Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa disunnahkan menyatukan puasa hari ke 9 dan hari ke 10 agar tidak menyerupai kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke 10 saja” (Az-Zarqoni dalam Syarah al-Muwaththa’ II/237)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

“Para sahabat kami dan lainnya berpendapat sunnah puasa ‘Asyuro (hari ke 10 muharram) dan puasa Tasu’a (hari ke 9 muharram)” (lihat al-Majmu’ VI/383).

Adapun untuk hadits “Berpuasalah sehari sebelumnya (tanggal 9) dan sehari sesudahnya (tanggal 11)” ADALAH HADITS YANG DHO’IIF karena ada rawi yang bernama Dawud bin Ali.

Ibnu Hibban berkata : “Dia sering keliru”.

At-Tirmidzi meriwayatkan 1 hadits darinya dan ia menjadikan haditsnya hadits yang gharib.

Imam adz-Dzahabi berkata : “Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah” dan cacat yang lain yaitu adanya rawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Ali Ya’la.

Imam Ahmad berkata : “Dia perawi yang buruk hafalannya dan haditsnya muththarib (tidak menentu pada matannya), begitu pula perkataan Syu’bah, Ibnu Hibban dll.

Hadits ini telah dianggap dho’iif oleh Imam al-Albani di dalam kitabnya Dha’iiful Jaami’ ash-Shaghiir no.3506, Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Imam Ahmad IV/52, al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaaid III/191, asy-Syaukani dalam Nailul Authar IV/330, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaani dll.

Karena haditsnya dho’if maka tiada pengkhususan puasa di tanggal 11 muharram, tetapi cukup hanya tanggal 9 dan 10 Muharram saja sebagaimana pendapat mayoritas ulama.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Prinsip Seorang MUSLIM…

Prinsip seorang MUSLIM = Untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan, maka tempuhlah dengan jalan KESALEHAN.

=======

Seringkali kita lihat, orang ingin mendapatkan kedudukan atau kekuasaan menggunakan jalan pintas dan cara-cara kotor.

Memang, cara itu BISA JADI menyampaikan mereka kepada tujuannya… namun setelah itu, dia akan terseret dan tersandera untuk melakukan cara-cara kotor lainnya, sehingga kekuasaannya tidak membawa kebaikan dan keberkahan, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakatnya.

Sungguh sangat merugi, bila kekuasaan itu malah mencemarkan nama kita, merendahkan kedudukan kita, bahkan mendatangkan doa buruk masyarakat kepada kita.

Oleh karenanya, jangan hanya berpikir bagaimana sampai ke tampuk kekuasaan, tapi berpikirlah bagaimana sampai ke tampuk pimpinan dengan cara yang baik dan mendatangkan kebaikan dan keberkahan.

Jadilah diri yang saleh, niscaya Allah memudahkan jalanmu menuju tampuk pimpinan. Camkanlah ayat-ayat berikut ini:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Telah Kami tetapkan di dalam Kitab Zabur setelah (tertulis) di dalam Adz-Dzikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh para hamba-Ku yang SALEH. [QS. Al-Anbiya’: 105].

إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Sungguh bumi itu milik Allah, Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang dikehendaki dari para hambanya, dan kesudahan yang baik adalah bagi mereka yang BERTAKWA. [QS. Al-A’rof: 128].

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal SALEH, bahwa Dia pasti benar-benar akan menjadikan mereka BERKUASA di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. [QS. Annur: 55].

Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da280715-0606

Kenapa Berbuat Maksiat Setelah Bermaksiat..?

Hati yang sarat galau…
Jiwa berteman gelisah…
Sanubari yang dipenuhi kehampaan serta berbagai rasa yang tidak mengenakkan…

Itulah tanda hati sedang sakit dan dapat membutakan pandangannya, dan bisa jadi semuanya disebabkan oleh kemaksiatan atau dosa-dosa yang telah dilakukannya…

Kemaksiatan dan dosa membuat hati gelisah, resah dan rasa tidak aman yang tidak jelas ujung pangkalnya, dan harta sebesar apa pun tidak akan dapat mengobatinya…

Kemaksiatan adalah kegelapan…
Manakala kegelapan itu semakin menguat, maka semakin bertambah pula kebingungan yang dirasakan…

Kemaksiatan akan melemahkan keinginan pelakunya untuk taat dan berbuat baik, dan menjadikan keinginan untuk berbuat maksiat semakin kuat, sehingga keinginan bertaubat pun akan luntur…

Kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan lainnya, dan pada saat itu keburukan menjadi watak, karakter dan sifat yang melekat di dalam diri seseorang…

Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang melakukan kejahatan (maksiat dan dosa), niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan (maksiat dan dosa)…” (QS. An-Nisaa’ [4]: 123)

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

“Dan balasan suatu kejahatan (dosa) adalah kejahatan (dosa) yang serupa…” (QS. Asy-Syuura’ [42]: 40)

Maksiat mengantarkan pada maksiat lainnya…

Demikianlah keadaan seorang hamba, ketika ia melihat suatu yang haram, lantas tidak terbetik dalam dirinya untuk “BERTAUBAT”, maka dosa berikutnya akan tumbuh. Dalam hatinya pun ingin terus melakukan maksiat atau dosa besar selanjutnya…

Kemaksiatan akan menutup hati pelakunya hingga berkarat. Dan jika karat hati itu bertambah maka ia akan menutupi hati hingga terkunci dan di saat itu hati tak lagi sanggup melihat kebenaran sebagai kebenaran…

Akhirnya…

Kemaksiatan menyebabkan pelakunya dilupakan oleh Allah, dan bahkan seorang hamba pun lupa akan dirinya sendiri…

Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu susah untuk taat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu saja bermaksiat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu tidak bersemangat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini mau saja mengikuti langkah-langkah syaithan yang jahat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini petunjuk dan hidayah tidak didapat…

Wahai Saudaraku…

Jika seluruh kenikmatan di dunia ini disatukan, maka itu tidak akan sepadan dengan kemurungan dan penyesalan pelaku maksiat di hadapan Allah…

Segeralah bertaubat…
Sebelum ajal dicabut Malaikat…
Sehingga tidak menyesal di akhirat…

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka” (QS. At-Taubah [9]: 67)

Hidup di dunia ini hanya 3 hari…

Hari kemarin, sudah dilalui dan tidak akan kembali…
Hari ini, dijalani dan tidak akan abadi…
Hari esok, tidak pernah tahu apa yang terjadi, bisa jadi sudah mati…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

TIPUAN YANG PALING BESAR adalah bersikap tenang dalam berbuat dosa dengan mengharap ampunan tanpa adanya PENYESALAN…

Dan mengira telah mendekatkan diri kepada Allah tanpa melakukan ketaatan, menunggu hasil dari SURGA dengan menanam benih API NERAKA…

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah [5]: 74)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Untuk Siapa..?

Allah Ta’la berfirman:

ﺇﻥ ﺃﺣﺴﻨﺘﻢ ﺃﺣﺴﻨﺘﻢ ﻷﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﺇﻥ ﺃﺳﺄﺗﻢ ﻓﻠﻬﺎ

“Jika kalian berbuat ihsan, maka itu untuk kalian.
Dan jika kalian berbuat buruk, itupun untuk kalian juga.” (Al Israa: 7).

Amal sholeh tidak menguntungkan Allah..
Maksiat hamba pun tidak merugikan Allah..
Disana ada manusia yang sengaja memaksiati Allah..
Ia tak mau shalat..
Tidak berpuasa ramadlan..
Ia menyangka telah merugikan Rabbnya..
Padahal..
Kemaksiatan itu merugikan dirinya sendiri..
Sebaliknya..
Disana ada orang yang bangga dengan ketaatannya..
Ia merasa mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi
Allah..
Ia memandang telah berjasa kepada Allah..
Dengan membela agamaNya..
Dengan ketaatan dan amalan shalih..
Ia pun menjadi angkuh karenanya..
Padahal..
Kalau bukan karena Allah yang memberinya
kekuatan..
Tentu ia akan tersesat jalan..

Saudaraku..
ketaatan yang menimbulkan keangkuhan..
Lebih buruk dari pada maksiat yang menimbulkan
taubat dan ketundukan..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

da130314-1319

Jangan Lupa Yaa…

Saling mengingatkan…
.
Allah berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT BULAN HARAM (DZUL QO’DAH, DZUL-HIJJAH, MUHARRAM, RAJAB). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
.
.
Al Hafizh Ibnu Katsir rohimahullah berkata dalam tafsirnya:
.
“Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana dosa maksiat di negeri al haram juga dilipatgandakan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25)

.
Maka demikian pula dalam bulan-bulan haram, dosa-dosa di dalamnya dilipatgandakan.”
.
Lalu beliau (Al Hafizh Ibnu Katsir rohimahullah) membawakan atsar dua sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu Ibnu Abbas dan Abu Qatadah rodhiyallahu ‘anhum yang menguatkan ucapan beliau.
.
Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Allah menjadikan dosa di dalam bulan-bulan haram itu lebih besar serta menjadikan amalan saleh dan pahala juga lebih besar.” (Latho-if Al Ma’arif- 207)
.
Abu Qotadah rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Kezhaliman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dibandingkan kezhaliman pada bulan-bulan lainnya.”
.
Wallahu a’lam