All posts by BBG Al Ilmu

Bagaimana Para ‘Ulama Mengatur Waktu Mereka..?

Bagaimana para ulama mengatur waktu mereka antara mempelajari ilmu, mencari nafkah, isteri, anak, orangtua dll ? 

Az-Zubair bin Bakkar berkata : “Anak saudara perempuanku berkata kepada istriku : “Pamanku adalah sebaik-baik suami terhadap istrinya. Dia tidak mengambil istri lagi dan tidak membeli budak perempuan”. Istriku pun berkata : “Sungguh kitab-kitab ini lebih berat dan lebih sulit bagiku dari pada 3 orang madu”.

Suatu hari anak Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) meninggal dunia, lalu Abu Yusuf mewakilkan kepada tetangganya untuk memandikan dan menguburkan anak itu agar ia tidak ketinggalan pelajaran dari gurunya Abu Hanifah.

Masya Allah, lihatlah contoh dari 2 kisah diatas bagaimana semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu.

Yang satu istrinya lebih cemburu kepada kitab-kitab suaminya daripada 3 istri yang lain seandainya suaminya mau menikah lagi.

Yang satunya lagi Abu Yusuf tidak mau ketinggalan pelajaran yang disampaikan gurunya meskipun anaknya meninggal dunia, karena itu ia tetap hadir di majelis taklim.

Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah berkata :

“Ayahku mengajariku al-Qur’an seluruhnya dengan usahanya sendiri” (Manaqib al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi hal 496)

Malik bin Anas rahimahullah berkata :

“Dahulu para salaf mengajari anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar, sebagaimana mereka mengajari mereka al-Qur’an” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah hal 1240 no. 2325)

Para ulama itu tetap mencari nafkah yang halal, menyediakan waktu untuk istri, anak, orang tuanya dll. Tetapi memang kebanyakan waktunya habis untuk belajar dan belajar, menulis, beribadah serta berdakwah, sehingga akhirnya mereka memperoleh kemuliaan dan ketinggian dalam ilmu dan amal.

Dan untuk mencapainya tentu harus bersungguh-sungguh dalam mujahadah, pengorbanan, berdoa, mengikhlaskan niat dll sehingga menjadi barokah untuk dirinya dan manusia secara umum.

Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu peran istri yang shalihah dan qona’ah, yang ikhlas, zuhud dan sabar dalam pengorbanan, yang rela menyerahkan sebagian haknya dari sisi waktu yang terambil, dan terkadang dari sisi nafkah yang agak berkurang, karena banyaknya waktu yang dihabiskan oleh suaminya untuk menuntut ilmu.

Lihatlah contoh Imam al-Albani rahimahullah yang dalam sehari belajarnya sampai 12 jam. Sisa waktunya beliau gunakan untuk mencari nafkah, tidur, melakukan ibadah dll.

Seorang guru berkata : “Setiap penuntut ilmu hendaknya menyediakan waktu dalam sehari untuk belajarnya minimal 4 jam”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

“Hendaknya seorang penuntut ilmu memiliki semangat dalam belajar dan mengoptimalkan waktunya, baik siang maupun malam, saat muqim maupun safar. Waktunya tidak boleh berlalu tanpa ilmu, kecuali untuk keperluan yang mendesak, seperti makan dan tidur yang sekedarnya atau yang semisal dengan itu. Istirahat sebentar untuk menghilangkan kebosanan dan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak lainnya”

Saudaraku, lalu bagaimana dengan dirimu ?

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Dampak Maksiat Yang Engkau Lakukan…

Jika dampak maksiat yang kalau lakukan hanya menimpa dirimu maka perkaranya lebih ringan, namun masalahnya dampaknya bisa saja mengenai orang-orang dekat yang kau cintai, bisa berdampak pada keluargamu.

Maka jika engkau tidak perduli dengan dirimu terkena dampak maksiat, maka sayangilah orang-orang dekatmu, jangan sampai dampak maksiatmu mengenai mereka.

Dan pada hakikatnya keburukan maksiatmu yang mengenai keluargamu adalah musibah yang sedang menimpa dirimu.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Apakah Yang Dilakukan Seorang Wanita Jika Suaminya Wafat..?

(1). ia memasuki masa iddah 4 bulan 10 hari (Qs.2:234) dan bagi yang sedang hamil iddahnya sampai melahirkan (Qs.65:4)

(2). ia menetap di rumah, tidak ditempat orang tua atau lainnya, kecuali jika ada keperluan atau kebutuhan seperti ke rumah sakit, ke pasar membeli makanan dll yang mana tidak ada seorang pun yang bisa membantunya untuk mengerjakan hal itu atau boleh keluar rumah jika ia takut atas keselamatan dirinya atau khawatir rumahnya runtuh dll.

(3). tidak boleh safar seperti haji dll.

(4). tidak mengenakan pakaian-pakaian yang indah atau dengan warna-warna yang mencolok.

(5). tidak memakai celak atau pacar (cat kuku) atau sesuatu untuk mempercantik wajah dan tubuh.

(6). tidak boleh memakai wangi-wangian atau parfum.

(7). tidak memakai segala macam perhiasan di kalung, gelang, cincin dll.

(8). tidak dilamar secara terang-terangan, kecuali sekedar sindiran saja (Qs.2:235)

ANGGAPAN YANG SALAH SELAMA MASA IDDAH ◾

(1). seorang istri itu tidak boleh berbicara dengan laki-laki yang bukan mahram secara langsung atau via telpon meskipun ia ada kebutuhan.

(2). pakaiannya harus dengan warna hitam.

(3). mandi hanya seminggu sekali.

(4). tidak boleh jalan di rumah tanpa menggunakan alas kaki.

(5). tidak boleh berjalan di bawah cahaya rembulan.

(6). tidak boleh menuntut ilmu ke masjid, kampus dll.

(7). harus keluar dari 1 pintu dan masuk dari pintu yang lain ketika masa iddah selesai.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Takut Mati, Tapi Tidak Pernah Takut Hidup…

Sobat!
Kemaren sebelum anda terlahir, pernahkah anda merasa kawatir atau takut akan kehidupan? Mengapa setelah hidup, kini anda takut akan kematian? Padahal keduanya pasti anda jalani tanpa ada kesempatan menunda atau menghindar.

Barang kali anda berkata: karena dosa dosa saya banyak, sedang amal ibadah saya sedikit.

Betul, tapi apakah itu semua bsa menunda kematian atau menghalanginya ? Tentu saja tidak, mati pasti menghampiri, jadi tidak ada pilihan bagi anda kecuali menghadapinya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi.ya.

Kalau anda sadar bahwa dosa andalah yang menyebabkan anda takut mati, maka lawanlah dosa anda, hapuslah dosa anda, niscaya kondisinya berubah.

Segera ucapkan istighfar, bulatkan penyesalan dan ketuklah pintu rahmat Allah Taala, niscaya Allah mengampuni semuanya.

( وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, niscaya kalian mendapatkan kesuksesan. [Surat An-Nur 31]

Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Siapakah Aku..?

Dahulu..
Imam Yahya bin Ma’in rohimahullah pernah Dihina oleh tetangganya..
Maka beliau menangis sambil berkata, “dia benar.. siapalah aku.. aku tidak ada apa apanya..”
(Siyar a’laaminubala 6/450)..

Itulah ketawadlu’an ulama..
Syaikhul Islam rohimahullah pernah dipuji dihadapannya..
Beliau berkata, “aku sendiri sampai sekarang masih berusaha memperbaiki keimananku..
Keislamanku belum bagus..”
(Madarijussalikin 1/524)..

Bandingkanlah dengan diri kita yang sedikit saja punya kelebihan..
Kita berkata, “inilah aku..”

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

 

da290514-0609

 

Tentang Tahun Hijriyah…

1. Umar bin Khattab rodhiallohu menentukan awal tahun dengan waktu HIJRAH-nya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, bukan dengan KELAHIRAN Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dilakukan kaum Ahli Kitab. Untuk memberikan pengajaran kepada manusia bahwa kita adalah umat yang mementingkan amal, bukan umat yang mementingkan waktu atau kejadian bersejarah.

2. Penentuan awal tahun hijriyah diambil dari firman Allah ta’ala (yang artinya): “Sungguh masjid yang dibangun atas dasar ketaqwaan dari HARI PERTAMANYA…” [At-Taubah:108]

Allah menyebutnya hari pertama, dan hari itu adalah hari pertama tahun hijriyah sebagaimana disebutkan oleh Assuhaili dari para sahabat.

3. Tahun hijriyah adalah roda waktu yang berjalan, sama halnya dengan hari, pekan, bulan, dan abad. Tidak diketahui ada satupun dalil tentang ucapan selamat untuknya.

Kalau hanya berupa do’a dan kata pengingat, maka itu sesuatu yang baik.

4. Tidak ada hukum syariat yang berkaitan KHUSUS dengan akhir tahun dan awal tahun hijriyah, baik berupa ucapan (bacaan), atau amalan, atau keutamaan.

Dan tahun hijriyah ini belumlah diatur, kecuali ketika kekhalifahan Umar bin Khattab.

5. Setiap orang mempunyai tahun khusus sendiri, itu dimulai dari hari lahirnya, dan itulah umur hakikinya.

Adapun tahun hijriyah yang dimulai dari bulan Muharram; itu untuk menjadikan tahun hijriyah teratur saja.

Dan engkau akan ditanya tentang tahun khususmu, bukan tahun zaman (yang umum bagi manusia).

Diterjemahkan oleh Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Nasehat Untuk Berbakti Kepada Kedua Orangtua – Birrul Walidain

Apabila Anda ingin berhasil di dunia dan di akhirat, maka kerjakanlah beberapa pesan berikut ini:

1. Berbicaralah kepada kedua orang tua Anda dengan sopan santun. Jangan pernah berkata: “Ah!” kepada keduanya, jangan pernah menghardik mereka serta berkatalah kepadanya dengan ucapan yang baik.

2. Taatilah selalu kedua orang tua Anda selama tidak dalam kemaksiatan. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

3. Berlemah-lembutlah kepada kedua orang tua Anda. Jangan pernah bermuka masam di hadapannya, dan jangan memelototi mereka dengan marah.

4. Jagalah nama baik, kehormatan, beserta harta benda kedua orang tua. Janganlah mengambil sesuatu pun tanpa seizin mereka.

5. Lakukanlah hal-hal yang bisa meringankan pekerjaan orang tua, walaupun ini tanpa diminta oleh mereka. Belikan keperluan mereka dan sungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada mereka.

6. Musyawarahkanlah segala urusanmu dengan orang tua, dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa berselisih pendapat.

7. Bersegeralah memenuhi panggilan orang tua dengan senang dan berseri-seri.

8. Hormatilah sanak kerabat serta teman-teman orang tua, saat masih hidup maupun setelah meninggal.

9. Jangan pernah membantah orang tua, dan janganlah menyalahkan mereka. Jelaskanlah kebenaran dengan cara yang sopan lagi santun.

10. Janganlah pernah membantah perintah mereka dan jangan meninggikan suara Anda di hadapan mereka.
Dengarkanlah ucapan mereka, bersikap santun, dan hormatilah mereka.

11. Bangkitlah jika orang tua menemui Anda, salamilah dan sambutlah mereka dengan sebaik-baiknya.

12. Bantu ibu di rumah dan jangan terlambat membantu pekerjaan ayah.

13. Jangan meninggalkan orang tua jika mereka belum mengizinkan, meskipun untuk urusan penting. Jika terpaksa harus pergi, mintalah maaf kepada mereka dan jagalah hubungan dengan mereka.

14. Janganlah masuk ke kediaman atau kamar orang tua sebelum mendapatkan izin dari keduanya, terutama di waktu istirahat dan sewaktu tidur.

15. Jangan makan sebelum orang tua dan jangan mencela mereka jika berbuat sesuatu yang tidak Anda sukai.

16. Jangan mengutamakan istri dan anak-anak Anda atas orang tua. Selalu meminta restu serta ridha mereka sebelum mengerjakan sesuatu; karena ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan mereka.

17. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari tempat duduk orang tua dan janganlah bersikap congkak di hadapan mereka.

18. Jangan bersikap sombong kepada orang tua meski Anda seorang pejabat tinggi. Jangan ingkari kebaikan mereka dan jangan menyakiti perasaan mereka.

19. Jangan bersikap kikir/bakhil/pelit kepada orang tua. Jangan sampai mereka mengemis kepada Anda, sebab itu kehinaan bagi Anda. Dan Anda akan memperoleh balasan dari anak-anak Anda kelak. Sungguh apa saja yang Anda perbuat kini, maka Anda akan mendapat balasannya di dunia dan akhirat.

20. Seringlah mengunjungi orang tua dan berilah hadiah. Sampaikan rasa terima kasih Anda atas didikan serta jerih payah mereka. Lihat dan ambillah pelajaran dari anak-anak Anda, yaitu beratnya mendidik mereka.

21. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan dari Anda adalah ibu, baru selanjutnya adalah ayah. Ketahuilah, Surga berada di bawah telapak kaki ibu.

22. Jangan menyakiti orang tua dan membuat orang tua marah, yang dengan itu akan menjadikan diri Anda sengsara di dunia dan akhirat. Dan kelak, anak-anak Anda pun akan memperlakukan Anda sebagaimana Anda memperlakukan kedua orang tua Anda.

23. Apabila Anda hendak meminta sesuatu kepada orang tua, maka bersikaplah dengan lemah lembut, serta jangan lupa untuk berterima kasih kepada mereka. Maafkan dan berlapang dada jika permintaan Anda belum bisa mereka penuhi. Jangan terlalu banyak meminta sesuatu yang hal itu bisa merepotkan dan mengganggu mereka.

24. Apabila Anda mampu, maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tua Anda.

25. Orang tua memiliki hak atas Anda, dan istri Anda juga mempunyai hak atas Anda, maka tunaikanlah masing-masing hak mereka. Jika ada perselisihan, selesaikanlah segera dengan solusi yang terbaik.

26. Jika orang tua dan istri Anda berselisih, bertindaklah bijaksana, berilah masing-masing hadiah istimewa, dan damaikan kedua belah pihak.

27. Kalau terjadi perselisihan tentang urusan perkawinan atau thalaq (talak), maka selesaikanlah ia menurut hukum Islam, karena itu adalah sebaik-baik hukum.

28. Doa orang tua itu, baik atau buruk, dikabulkan oleh Allah. Maka itu berhati-hatilah terhadap doa mereka untuk keburukan.

29. Bersikap sopan-santun kepada orang tua orang lain. Jangan mencaci mereka, sehingga mereka mencaci orang tua Anda. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ . قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Di antara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orang tuanya.” Para Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang mencaci kedua orang tuanya ?” Beliau menjelaskan: “Benar. Ia mencaci ayah orang lain, maka orang itu akan mencaci ayahnya. Apabila ia mencaci ibu orang lain, maka orang itu akan mencaci ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

30. Kunjungilah kedua orang tua Anda, selama mereka masih hidup; dan ziarahilah kubur mereka setelah mereka wafat. Bersedekahlah atas nama mereka, serta berdoalah untuk kebaikan mereka.

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

“Ya Robbku, ampunilah aku dan juga kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil.”

Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang shalih dan shalihah, dan mudah-mudahan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya serta berbakti kepada kedua orang tua.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“…Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqân 74)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Robb kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim : 40)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“…Ya Robbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat men-syukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepada-ku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhoi; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS. Al-Ahqâf : 15)

Mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis, keluarga, para pembaca dan kaum muslimin.

Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, keluarga, para Sahabatnya, dan para pengikut beliau yang baik sampai hari Kiamat.

Ditulis oleh,
Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawaz,  حفظه الله تعالى

Sumber:
BIRRUL WALIDAIN (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)
Hlm. 100 – 106
Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii – Jakarta
http://pustakaimamsyafii.com/birrul-walidain.html

Puasa Pada Akhir Bulan Dzulhijjah..?

Apakah benar disunnahkan berpuasa sehari pada akhir bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal bulan Muharrom ? 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺁﺧِﺮَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺫِﻱ ﺍﻟﺤِﺠَّﺔِ ، ﻭَﺃَﻭَّﻝِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤُﺤَﺮَّﻡِ
ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺘَﻢَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟﻤَﺎﺿِﻴَﺔَ ﺑِﺼَﻮْﻡٍ ، ﻭَﺍﻓْﺘَﺘَﺢَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔُ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘْﺒِﻠَﺔُ
ﺑِﺼَﻮْﻡٍ ، ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻛَﻔَﺎﺭَﺓٌ ﺧَﻤْﺴِﻴْﻦَ سنة

“Barang siapa yang berpuasa (sehari) di akhir bulan Dzuhijjah dan (sehari) di awal bulan Muharrom, maka sungguh ia telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Allah akan menjadikan baginya kafarat (terhapusnya dosa) selama 50 tahun” (HR. Ibnu Majah, hadits dari Ibnu Abbas, lihat juga al-Maudhuu’aat II /566 oleh Ibnul Jauzi dan al-Fawaa-id al-Majmuu’ah hal 91 no.31 oleh asy-Syaukani).

Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’)

Di dalam sanadnya terdapat dua perowi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu al-Harwi al-Juwaibari dan Wahb.

Ibnul Jauzi berkata tentang keduanya, yaitu al – Harwi atau dikenal juga dengan al-Juwaibari dan Wahb bahwa keduanya adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits (lihat al-Maudhuu’ aat II / 566)

Asy-Syaukani berkata tentang hadits ini : “Di dalam hadits ini ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini” (lihat al-Fawaa-id al-Majmuu’ah hal 91 no. 31)

Adz-Dzahabi dalam Tartib al-Maudhuu’aat 181 berkata bahwa al-Juwaibari dan gurunya Wahb bin Wahb yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.

Hadits ini juga dianggap palsu oleh As-Suyuthi dalam Kitab al-Aala’i al-Mashnu’ah II/108, Ibnu ar-Raq dalam Tanziihusy Syari’ah II/148 dan ulama lainnya.

Maka tidak boleh bagi siapapun dari umat Islam yang “MENGKHUSUSKAN” puasa dan amalan- amalan ibadah lainnya seperti doa menyambut tahun baru hijriyah, dzikir berjama’ah, menghidupkan malamnya dengan qiyamul lail, bersedekah, membaca al-Qur’an, mengadakan pengajian dan selainnya pada awal dan akhir tahun Hijriyah, karena perkara itu bukanlah hal yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى