All posts by BBG Al Ilmu

Imam Ibnu Sirin Saja Dibalas Walau Setelah 40 Tahun…

Sobat, terserah anda berbuat dosa sesuka hati dan nafsumu, namun ingatlah bahwa balasan Allah pasti menghampiri anda, walau anda telah lupa dengan dosa anda.

Dikisahkan, suatu hari Imam Ahli Hadits Muhammad bin Sirin mencemooh seseorang karena ia ditimpa kebangkrutan, dengan berkata: wahai orang pailit.

Ucapan itu berlalu begitu saja, seakan tidak ada balasan, namun ternyata sungguh benar bahwa Allah tiada pernah lupa atau lalai.

Setelah 40 tahun ucapan beliau ini berlalu, beliau ditimpa kejadian serupa, beliau pailit dan harus mendekam dipenjara, karena dituntut oleh para klien beliau.

Bagaimana dengan diri anda dan berbagai dosa yang mungkin telah anda lupakan ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Meminta Kepada Malaikat Agar Dibangunkan Dari Tidur Di Akhir Malam, Bolehkah..?

SOAL:

Telah masyhur di kalangan sebagian orang awam, bahwa sebagian dari mereka mengatakan sebelum tidurnya; ‘wahai malaikat penjaga, bangunkan aku pada jam sekian, atau saat waktu ini’.

Syeikh Binbaz -rohimahulloh- menjawab:

“Ini tidak boleh, bahkan termasuk SYIRIK AKBAR, karena itu do’a (permintaan) kepada selain Allah dan do’a kepada sesuatu yang gaib, maka itu seperti meminta kepada Jin, berhala-berhala, dan orang-orang mati.

Ini berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala (yang artinya):
‘Sungguh masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (meminta) kepada siapapun bersama Allah’. [Al-Jin 18].

Begitu pula, (berdasarkan keumuman) firman Allah -subhanah- (yang artinya):
‘Itulah Allah Rabb kalian, hanya miliknya semua kekuasaan. Adapun orang-orang yang kalian mintai selain Allah, sama sekali mereka tidak memiliki meski hanya qithmir (selaput tipis pada biji kurma).

Jika kalian memanggil mereka, mereka tidak bisa mendengar kalian. Jika seandainya mereka mendengar kalian, mereka tidak akan bisa menyanggupi (permintaan) kalian. Dan pada hari kiamat nanti mereka akan mengingkari perbuatan SYIRIK kalian itu’. [Fathir: 13-14].

[Lihat Majmu’ Fatawa Syeikh Binbaz 7/180].

——

Faedah: bila meminta kepada malaikat dan jin saja tidak dibolehkan, apalagi meminta kepada mayit..!

Tidak ada yang menyangkal, bahwa malaikat dan jin itu hidup dan bisa berbuat sesuatu untuk manusia.. Tapi karena mereka itu ghaib, maka meminta kepada mereka termasuk kesyirikan.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa alasan sebagian orang yang membolehkan meminta kepada sebagian mayit dengan alasan dia HIDUP karena dia wali misalnya; ini adalah alasan yang sangat lemah dan sangat mudah dipatahkan.

Karena meminta kepada malaikat adalah kesyirikan padahal mereka jelas-jelas hidup.. meminta kepada jin juga kesyirikan, padahal mereka juga jelas-jelas hidup.. meminta kepada Nabi Isa -alaihissalam- juga kesyirikan, padahal beliau juga jelas-jelas masih hidup.

Walhasil, meminta kepada mereka termasuk perbuatan syirik, walaupun mereka dikatakan hidup, karena mereka gaib dari kita, dan meminta kepada sesuatu yang gaib, hanya dibolehkan kepada Allah ta’ala saja.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

Curahan Hati Untuk Istriku…

Maafkan aku wahai istriku…
Sudah berapa kali kubuat kau bersedih…
Sudah berapa kali hatimu kulukai…
Sudah berapa kali nasihatmu kutepis…
Sudah berapa kali teguranmu kutolak…
Sudah berapa kali tingkahku memberi luka…
Sudah seringkali aku berlaku kasar padamu…

Maafkan aku wahai istriku…
atas segala salah dan khilafku…
lahir dan batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, atas ucapan dan janji yang tak terpenuhi…

Maafkan aku wahai istriku…
jika yang ada pada diriku membuatmu kecewa…
jika yang kuperbuat sangat menyakiti hatimu…
aku hanyalah seorang lelaki biasa…
seorang suami yang lemah…
seorang suami yang banyak salah…

Tapi…

Yakinlah aku mencintaimu karena Allah…
aku sayang padamu wahai istriku…
engkau harta yang tak ternilai bagiku…

Wahai Istriku…
seandainya dirimu merasa pernah berbuat salah padaku, apapun itu, aku sudah ridho memaafkan semuanya, lahir dan batin…

Wahai Istriku…
aku kini menyadari bahwa hatimu begitu mulia…
mudah-mudahan ini kesadaran yang belum terlambat, hanya karena kebodohanku saja, serta hawa nafsu, sehingga aku menzhalimi dirimu…

Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui semua kebaikannya, maka berilah balasan yang baik dan berlipat atas segala kebaikannya…

Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba…
karena kejahilan hamba yang tidak bisa mengemban amanah memimpin rumah tangga…

Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, tutuplah aib-aib kami, serta jagalah dan lindungilah keluarga kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pelindung…

Ya Allah, jadikan istriku termasuk istri yang shalihah dan semakin shalihah, serta izinkan hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan…

Ya Allah, jadikanlah “ISTRIKU SURGAKU”, sebaik-baik kesenangan dunia, dan masukkanlah kami ke dalam Surga Firdaus yang Engkau janjikan sebagai rahmat-Mu…

Aamiin…

(dinukil dari buku “50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat”, hal 102-104)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

 

Orangtua Yang Sukses Mendidik Anak…

Saudaraku!
Ketahuilah, bahwa orangtua yang sukses mengasuh anaknya adalah mereka yang telah berhasil membimbing anaknya menjadi anak yang saleh..

Keberhasilan seorang anak di Dunia tidak bisa diukur oleh sesuatu yang hebat di Dunia..

Bahkan anak yang bersekolah dan bergelar tinggi ternyata tidak bisa menjamin kesalehannya..?!

Anak yang saleh tentu bisa menempatkan kedua orangtuanya pada kedudukan yang tinggi; dengan menghormatinya, menjaga perasaannya dan selalu berusaha membahagiakan hatinya serta senantiasa memberikan yang terbaik kepadanya..

Membahagiakan orangtua tidak harus dengan materi..

Anak yang saleh sangat mengerti apa yang terbaik bagi orang tuanya, bahkan ia selalu memberi yang terbaik bagi orang tua yang dicintainya tanpa harus diminta..

Bukankah ia selalu mendoakan kedua orangtuanya dengan do’a yang sangat dahsyat..

“Wahai Rabbku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku”

“Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku sejak kecil”

Ia selalu berdo’a siang dan malam untuk kedua orangtuanya..

Baginya apa yang terbaik menurut orangtuanya juga terbaik bagi dirinya..

Apa yang membuat bahagia atau sedih mereka, maka perasaan yang sama juga dapat ia rasakan.

Sungguh kebaikan anak yang saleh tidak hanya mengalir selama di Dunia, bahkan diakhirat pun tetap tercurah kepada kedua orangtuanya..

Simak hadist berikut ini..

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dikatakan kepada anak-anak saleh pada hari kiamat, “Masuklah kalian ke dalam Syurga, seraya mereka berkata,” wahai Rabb, kami tidak akan memasukinya sampai orangtua kami pun turut masuk syurga bersama kami, lalu mereka hanya mendekati syurga,

Dan Allah berkata, “kenapa mereka belum juga masuk ke syurga, masuklah ke dalam syurgaku” mereka pun berkata, “Wahai Rabb, kami tidak mau memasukinya kecuali bersama orangtua kami,

akhirnya Allah pun berfirman, “Masuklah kalian kedalam syurga bersama orangtua kalian”
(HR Ahmad dengan sanad yang hasan)

Ya Allah karuniakanlah kami anak yang saleh!

Ustadz Djazuli Ruhan Basyir Lc, حفظه الله تعالى

Curahan Hati Untuk Suamiku…

Wahai Suamiku…
Dikala susah, kau setia mendampingiku…
Ketika sulit, kau tegar di sampingku…
Saat sedih, kau pelipur laraku…
Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku…
Bila gundah, kau penyejuk hatiku…
Kala bimbang, kau penguat tekadku…
Jika lupa, kau yang mengingatkanku…
Ketika salah, kau yang menasehatiku…

Wahai Suamiku…
Telah sekian lama engkau mendampingiku…
Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai seorang istri…
Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu…? Dengan alasan apa aku perlu marah padamu…?

Wahai Suamiku…
Aku telah memilihmu untuk menjadi imamku…
Aku yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku…
Begitu besar harapan kusandarkan padamu…
Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu…

Wahai Suamiku…
Ketika aku sendiri, kau datang menghampiriku…
Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku…
Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku…
Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku…

Wahai Suamiku…
Tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku…
Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu…
Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu, bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anakmu…

Lalu…

Atas dasar apa aku tidak berterima kasih padamu…?
Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu…?
Seberapapun materi yang kau berikan, itu adalah hasil perjuanganmu…
Sungguh, kesungguhanmu beramal shalih telah membanggakanku…
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku…
Sekali lagi kukatakan, tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah benar-benar membahagiakanku…

Maafkan aku wahai suamiku…
Akupun akan memaafkan kesalahanmu…
Segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku…
Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah Ta’ala…
Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya…

Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah Ta’ala, segala puji hanya untuk Allah yang telah memberikanmu sebagai jodohku…

Ya Allah, lindungilah suamiku, bahagiakan dia di dunia dan di akhirat, perbaikilah dia dan berikanlah petunjuk kepadanya, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…

Ya Allah, jadikan aku sebagai penyejuk mata suamiku dan jadikan dia sebagai penyejuk mataku…

Ya Allah, jadikan aku cinta kepadanya dan jadikan dia cinta kepadaku, serta berikan kepada kami kecintaan untuk mencari keridhoan-Mu dan melaksanakan ketaatan kepada-Mu…

Ya Allah, kumpulkan aku bersamanya di Surga-Mu dan jadikanlah aku sebagai istri dan pendampingnya di dunia dan di akhirat yang kekal…

Aamiin…

(dinukil dari buku 50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat, hal 99-101)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Oh… Alangkah Besarnya Penyesalan…

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang masìh memungkinkan untuk berbuat durhaka atau taat kepada Allah selama hayat masih di kandung badan…

Keleluasaan yang ia minta, sebaliknya akan menjadi keterkungkungan yang ia terima…

Lalu di manakah letak nikmatnya kedurhakaan seseorang dan dimana jerih payah ketaatannya…?

Seseorang yang telah tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan begitu cepat menghampirinya dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak sudah penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?

Berapa besar kehinaan yang harus ia tanggung setelah kematiannya…?

Dan siksa yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya dihadapan Allah…

Dan itu semua disebabkan oleh kenikmatan yang sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu melupakannya…

Juga bagi orang yang telah melihat dengan mata kepala sendiri bahaya yang akan tersimpan di balik suatu persoalan, akan tetapi kemudian menutup mata darinya…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah…

Derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Manfaatkanlah waktu dan ketahuilah perbuatan apa saja yang mengiringi malam dan siangmu yang telah berlalu…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umurmu dalam tiga waktu : waktu untuk ilmu, waktu untuk beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajibanmu…

Ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah lalu, dan pikirkanlah tempat kembalinya dua kelompok di hadapan Allah. Satu kelompok di dalam Surga dengan ridha-Nya dan satu kelompok berada di Neraka dengan murka-Nya…

Kesenangannya Iblis bukan menjerumuskanmu dalam berbagai kemaksiatan, akan tetapi cita-citanya agar engkau masuk bersamanya ke tempat yang dia akan memasukinya, yaitu Neraka Jahannam…

Hindarilah maksiat hati yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…

“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…

“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

 

 

Mabit Di Mina Hanya Sebentar… Pelanggaran ?

PERTANYAAN:

Ada seseorang yang sedang menjalankan ibadah haji. Dalam prosesi terakhir ‘mabit di Mina’, ia bersama rombongan tidak menginap di Mina, melainkan di apartemen di wilayah Makkah dan berangkat lempar kerikil jam 1.30 malam dinihari dari Makkah.. dan setelah melempar mereka berdiam di Mina hingga setelah sholat Shubuh, baru balik ke apartemen di Makkah dan begitu terus sampai kemarin 12 Dzulhijjah…

1) Apakah ini sudah memenuhi persyaratan mabit di Mina Ustadz ? Hanya 3-4 jam saja.

2) jika tidak apakah ada yg bisa dilakukan ? Bayar Dam ?

3) Apakah bayar Dam itu untuk SETIAP pelanggaran ? Ataukah bisa 1 Dam untuk beberapa pelanggaran yang dilakukan selama Haji ?

Syukron Ustadz

JAWABAN:

Batasan terhitung mabit (bermalam) di Mina adalah menetapnya jama’ah haji lebih dari setengah malam di sana.

Waktu malam dihitung dari sejak terbenamnya matahari hingga terbit fajar.

Karena itu, dia harus menghitung waktu sejak matahari terbenam, hingga terbit fajar, berdasarkan waktu Mina.

1. Tidak memenuhi.
2. Bayar dam dengan kambing satu ekor
3. Untuk setiap pelanggaran. Kecuali mabit di mina misal 2 malam tidak mabit, maka damnya cukup 1 saja.

Allahu a’lam

Ustadz Abdullah Sya’roni,  حفظه الله تعالى