All posts by BBG Al Ilmu

Sejauh Mana Pengorbananmu..?

Hakikat dari ibadah qurban yaitu untuk mengukur sejauh mana “KEIMANAN” seorang hamba kepada Allah, sejauh mana “KEPASRAHAN” hamba itu, sejauh mana “KETAATAN” hamba itu kepada-Nya, serta sejauh mana “KESABARAN” dan “KEIKHLASANNYA” dalam menjalani perintah Allah ‘Azza wa Jalla…

Hakikat dari ibadah qurban yaitu agar hamba tidak terlalu mencintai dunia sehingga melebihi cintanya kepada Allah. Karena cinta dunia, cinta harta, nafsu, syahwat dan cinta semu lainnya akan senantiasa menghalangi seorang hamba untuk taat kepada Allah Jalla Jalaaluh…

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 207)

Saudaraku, coba tanyakan pada dirimu…

Sudahkah aku berkorban untuk Allah…?
Sejauh mana pengorbananku untuk Allah…?
Sudahkah aku menyembelih hawa nafsu, cinta dunia dll yang dapat menjauhkan diri dari cinta kepada Allah…?

Sudahkah aku menjadikan cinta kepada Allah merupakan cinta yang tertinggi, sehingga ikhlas dalam mengorbankan hawa nafsu yang berbeda dengan apa yang Allah inginkan…?

Sudahkah aku termasuk seorang mukmin sejati yang selalu mengorbankan waktu, tenaga, fikiran, harta, jiwa dll untuk Allah…?

Sudahkah aku mengamalkan ayat :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’aam [6] : 162)

Barangsiapa yang ingin mengetahui bagaimana kedudukannya di sisi Allah, maka dia pun harus melihat bagaimana kedudukan Allah pada dirinya…

Mukmin sejati tidak hanya berqurban kambing, sapi dll yang hanya dilakukan setahun sekali, tetapi ia senantiasa berkorban dalam hidup dan kehidupannya yaitu dengan selalu menta’ati Allah dan Rasul-Nya…

Mukmin sejati selalu dapat merasakan hadirnya nikmat Allah di setiap desahan nafas, oleh karena itu ia pun memandang kecil semua ibadahnya…

Wahai saudaraku…

Sejauh mana kepedulianmu kepada Islam…?
Sejauh mana kepedulianmu kepada al-Qur’an…?
Sejauh mana kepedulianmu kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…?

Kapankah iri dengan seorang muslim yang bertambah imannya…?
Kapankah iri dengan seorang muslim yang bertambah hafalannya…?
Kapankah iri dengan seorang muslim yang bertambah ilmunya…?

Oh…betapa malunya diri yang selalu dipandang oleh Allah tidak bersyukur dan berkorban untuk-Nya, bahkan sedang bermaksiat kepada-Nya…

Oh…betapa sedikitnya ibadah dan PENGORBANAN yang dipersembahkan kepada Allah dalam keadaan ikhlas…

Oh…betapa malangnya hati yang buta, yang tidak sabar menahan kepahitan sesaat, dan lebih memilih kehinaan sepanjang abad dengan melakukan berbagai maksiat…

Ya Allah, jadikanlah kami selalu dapat berkorban untuk mendapatkan cinta-Mu dan ridho-Mu…

Ya Allah, jadikanlah kami selalu dapat berkorban untuk mendapatkan rahmat dan ampunan-Mu…

Ya Allah, berikanlah kepada kami taubat yang dapat memindahkan kami dari kehinaan maksiat menuju kepada kemuliaan taat kepada-Mu…

Aamiiin…

Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Ditolak, Ditentang, Dimusuhi, Dilawan, atau Dijauhi Itu Biasa, Tapi…

Sobat! Silahkan anda menjadi apapun dan seperti apapun, namun percayalah bahwa permusuhan atau bahasa lembutnya perseteruan akan terus terjadi. Bila anda adalah orang baik paling baik, maka sadarilah bahwa orang jahat paling jahat pasti membenci dan memusuhi, memaki, dan melawan anda.

Sebaliknya juga demikian, bila anda adalah orang jahat paling jahat, maka anda harus sadar bahwa orang bai paling baik pasti membenci dan memusuhi anda.

Bukan permusuhan atau perseteruan yang menjadi soal, karena itu telah menjadi sunnatullah. Namun yang menjadi masalah adalah: siapa yang memusuhi anda?

Kalau yang memusuhi anda adalah orang baik, maka itu satu pertanda anda adalah orang jelek bin jahat. Dan bila yang memusuhi anda adalah orang jahat, maka itu satu indikasi bahwa anda adalah orang baik.

Bisa jadi anda dimusuhi karena anda belum berhasil menjadi orang baik seutuhnya, kadang baik kadang jahat. Maka wajar bila kadang anda dimusuhi orang baik dan kadang dimusuhi orang jelek.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, andai beliau bersikap kaku dan keras hati, niscaya dijauhi oleh ummatnya, alias orang-orang yang seharusnya masuk Islam dan menerima dakwah beliau, bisa saja gagal dan menjauhi dakwahnya, bukan karena konten dan materinya salah, namun karena metode, sikap, dan akhlaq.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Ali Imran 159)

Jadi sepatutnya anda bercermin, bukan hanya pada muatan dan tujuan, tapi juga pada cara anda mengutarakan dan menjalankan niat baik anda.

Ingat ya, mengenali siapa musuh kita adalah satu pertanda siapa diri kita, bukan bukti valid satu-satunya yang tak terbantahkan, karena sering juga orang jahat memusuhi sesama orang jahat karena rebutan kepentingan dan wilayah. Sebagaimana sesama orang baik kadang juga terjadi perseteruan, karena salah paham, atau gagal paham atau ulah “adu domba” atau hasad, atau sikap melampaui batas atau lainnya.

DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bisikan Untuk Pendosa…

Wahai hamba yang durhaka…
Bertaubatlah, karena maut semakin tiba…
Tinggalkanlah hawa nafsu yang selalu memfitnah…
Jasad-jasad akan hancur berkalang tanah…

Malam dan siang berlomba beradu kecepatan…
Berapa dosa dan keburukan yang telah dilakukan…
Sedang engkau senantiasa mengabaikan…

Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin hamba yang mengetahui bahwa dirinya akan mati, lalu berani berbuat maksiat kepada Allah…?

Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin hamba berani makan rezeki Allah supaya kuat untuk berbuat kemaksiatan…?

Wahai para pendosa…
Sampai kapan kelalaian ini akan terus berlanjut…?
Kapan engkau akan mempersiapkan diri…?

Wahai hamba yang banyak dosa, dimanakah air mata yang mengalir…?
Wahai hamba yang memperlihatkan keburukan, dapatkah engkau bertahan menerima siksaan Neraka Hawiyah…?

Wahai hamba yang menjadi tawanan kemaksiatan, tangisilah dosa-dosa yang telah lalu dengan air mata yang mengalir deras…sesungguhnya air mata orang yang menangisi dosa-dosanya dapat memadamkan lautan api pada hari kiamat…

Wahai para pendosa…

Pernahkah memikirkan keadaan di akhirat…?

Pernahkah membayangkan berada dihadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan…?

Pernahkah merenungkan bagaimana nasibmu ketika menerima kitab catatan amal…?

Ingatlah, bahwa suatu saat nanti akan datang masa dimana engkau menyesali segala perbuatan yang telah dilakukan…

Ingatlah, bahwa Nabi Adam dikeluarkan dari Surga karena satu dosa, sedangkan engkau melakukan dan memperbanyak berbagai dosa, dan kau ingin masuk Surga…?!

Ingatlah, bahwa hari perhitungan sudah di ambang pintu, maka jauhilah segala perbuatan maksiat…
Sungguh adzab Allah telah dipersiapkan jika engkau tidak kembali kepada-Nya…

Janganlah engkau merasa bersedih dengan besarnya dosa, sehingga menghalangimu untuk kembali kepada Dzat Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib…

Karena segunung dosa bisa dilelehkan oleh taubat…
Maaf Allah itu lebih besar daripada dosa-dosa…
Ampunan-Nya itu lebih luas daripada kesalahan…
Dan rahmat-Nya lebih cepat daripada adzab-Nya…

Manusia yang paling bodoh adalah orang yang menghabiskan hidupnya dengan lupa kepada Allah, dan mengisi hari yang dilewati dengan perbuatan tanpa manfaat…

اللهم أعزني بطاعتك، ولا تذلني بمعصيتك ، وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوم وَذَنْبيِ زَئِدٌ
إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتاكَ ، مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ ، فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ ارْجُو سِوَاكَ

Ya Allah, muliakanlah diriku dengan mentaati-Mu, dan janganlah Engkau hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu, umurku berkurang setiap hari, sedangkan dosaku selalu bertambah…

Ya Allah, hamba-Mu yang durhaka telah datang kepada-Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada-Mu, tetapi jika Engkau menolak, lalu kepada siapa lagi aku mengharap selain kepada Engkau…?

Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Biarkan Allah Yang Membangunnya Kembali…

Al hamdulillah, bumi Allah luas, yang dilarang tuh rumah Allah, biarkan Allah yang akan membangun kembali rumah-Nya melalui hamba hamba-Nya yang lain.

Tugas kita adalah berdakwah, menjaga darah ummat Islam agar tidak tertumpah karena sikap dan pendapat pribadi, yang belum tentu sesuai dalil.

Sebagaimana sudah saatnya semua kita untuk memiliki kemampuan dalam memenej komflik: tidak semua lawan dihadapi hari ini, kalau bisa ditunda mengapa disegerakan?

Kini saatnya kita juga belajar membaca kemampuan diri dan tim kerja kita, sebagaimana kita juga perlu memahami kekuatan lawan kita. Boleh saja anda merasa kuat, namun bisa jadi lawan lebih kuat.

Sobat, sudah saatnya pula anda mendengar nasehat teman teman anda, karena walaipun anda sopir yang super mahir, tapi belum tentu anda menguasai jalur yang anda lewati atau kondisi kendaraan yang anda tunggangi.

Sobat, bisa saja pukulan anda kuat, namun sudahkah anda berhitung, kuatkah anda menahan pukulan lawan anda ?

Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat anda petik, agar semua ini tidak berlalu tanpa ada keuntungan besar yang anda petik. Dalam setiap kejadian, kalaulah anda harus merugi seribu, maka anda harus bisa mendapat sejuta keuntungan.

Semoga, bermanfaat.

DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى 

Satu Lagi Sunnah Yang Terlupakan Saat Makan

PERTANYAAN:

Ustadz, menghadapi lebaran penuh acara makan, apakah ada sunnahnya bahwa kita mengucapkan BISMILLAH SETIAP KALI menyuap satu makanan dan meminum minuman…  Lalu mengucapkan ALHAMDULILLAH SETIAP KALI kita menelan makanan dan minuman tsb ?

JAWABAN:

Ada sunnahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

38- عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((إن الله ليَرضى عن العبد أن يأكل الأَكلة، فيَحمده عليها، أو يشرب الشَّربة، فيحمده عليها))؛ رواه مسلم.

“Sesungguhnya ALLAH RIDHO kepada HAMBA YANG MAKAN SATU MAKANAN IA MEMUJI ALLAH, atau MEMINUM SATU MINUMAN IA MEMUJI ALLAH.”  (HR Muslim)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

NB : maksud dan tata caranya ada di penjelasan dalam video berikut – lihat menit ke 06-37 :

https://www.youtube.com/watch?v=4Ah8tf_OH9I

 

Memetik Pelajaran Dari Ibadah Haji dan Kurban – Ringkasan Khutbah Idul Adha…

Kaum muslimin wal muslimat yang saya cintai dan saya muliakan rahimakumullaah…

Diantara pelajaran yang bisa kita petik dari ibadah haji dan kurban adalah:

PERTAMA: Kewajiban Terbesar Setiap Hamba adalah Tauhid, yaitu Beribadah Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Menjauhi Perbuatan Syirik

Perhatikanlah jama’ah sekalian yang saya muliakan rahimakumullaah, mengapa kita berhaji, mengapa kita sholat Idul Adha dan mengapa kita berkurban, semua itu tidak lain dalam rangka menghambakan diri hanya kepada Allah ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan kita awal pembangunan kakbah dan perintah berhaji pertama kali,

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun, dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” [Al-Hajj: 26-27]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan pelajaran penting dari ayat ini,

هَذَا فِيهِ تَقْرِيعٌ وَتَوْبِيخٌ لِمَنْ عَبَدَ غَيْرَ اللَّهِ، وَأَشْرَكَ بِهِ مِنْ قُرَيْشٍ، فِي الْبُقْعَةِ الَّتِي أسسّتْ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ عَلَى تَوْحِيدِ اللَّهِ وَعِبَادَتِهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.

“Dalam ayat ini terdapat cercaan dan celaan yang keras terhadap mereka yang beribadah kepada selain Allah dan menyekutukan-Nya dari kalangan Quraisy, di tempat yang sejak awal dibangun untuk mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya yang satu saja, tiada sekutu bagi-Nya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/413]

Sebagaimana Allah ta’ala memerintahkan kepada kita untuk melakukan sholat Idul Fitri dan berkurban,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah hanya untuk Rabb-mu dan berkurbanlah hanya untuk-Nya.” [Al-Kautsar: 2]

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam Tafsir beliau menjelaskan makna ayat ini dengan menukil dari ulama Ahli Tafsir terdahulu,

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ: إِنَّ نَاسًا كَانُوا يُصَلُّونَ لِغَيْرِ اللَّهِ، وَيَنْحَرُونَ لِغَيْرِ اللَّهِ، فَأَمَرَ اللَّهُ نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ وَنَحْرُهُ لَهُ. وَقَالَ قَتَادَةُ وَعَطَاءٌ وَعِكْرِمَةُ: الْمُرَادُ صلاة العيد، ونحر الأضحية.

“Muhammad bin Ka’ab berkata: Sesungguhnya dahulu manusia melakukan sholat dan berkurban untuk menyembah selain Allah, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk sholat dan berkurban hanya untuk Allah. Dan berkata Qotadah, Atho’ dan Ikrimah: Sholat dan menyembelih yang dimaksud dalam ayat ini adalah sholat hari raya dan menyembelih hewan kurban.” [Fathul Qodir, 5/614]

KEDUA: Hendaklah Senantiasa Meneladani Sunnah dan Mengikuti Petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam

Kaum muslimin wal muslimat yang saya cintai rahimakumullaah, sejumlah ibadah yang kita kerjakan mengingatkan kita terhadap prinsip penting dalam hidup ini, yaitu senantiasa meneladani panutan kita Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, karena tidaklah mungkin kita dapat beribadah kepada Allah dengan benar tanpa petunjuk beliau.

Oleh karena itu dalam melaksanakan ibadah haji, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya,

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah manasik haji kalian dariku.” [HR. Muslim dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro, dan lafaz ini milik beliau dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Pada hari raya Idul Adha, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا ، وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya pertama kali yang akan kita kerjakan pada hari ini (Idul Adha) adalah sholat, kemudian kita kembali, lalu kita berkurban. Maka barangsiapa yang melakukan itu, berarti dia telah mengamalkan sunnah kami dengan tepat, dan barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat maka itu hanyalah daging biasa yang dia berikan untuk keluarganya dan bukanlah sebuah nusuk (ibadah kurban) sama sekali.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu]

KETIGA: Pentingnya Menuntut Ilmu Agama

Jama’ah sekalian yang saya hormati rahimakumullaah, cobalah kita renungkan kembali, mengapa kita mengetahui kewajiban berhaji dengan segenap tata caranya, mengapa kita mengetahui sholat hari raya dengan cara yang berbeda dari sholat lima, mengapa kita mengetahui syari’at berkurban dengan segenap aturannya, semua itu tidak lain karena kita menuntut ilmu agama, kita membaca Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita mendengarkan dari para Ustadz dan Kiai, sehingga kita pun mampu mengamalkannya dan menguatkan keimanan kita, apabila kita tidak tahu bagaimana mungkin kita bisa mengamalkannya?

Oleh karena itu jama’ah sekalian rahimakumullaah, semakin dalam ilmu agama yang kita pelajari maka semakin banyak yang dapat kita amalkan dan keimanan kita akan semakin kokoh insya Allah. Maka dari itu Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dengan agama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqoloni Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَمَفْهُومُ الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ

“Mafhum hadits ini adalah, siapa yang tidak melakukan tafaqquh fid diin (berusaha memahami agama), yaitu tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam dan cabang-cabangnya maka sungguh ia telah diharamkan untuk meraih kebaikan.” [Fathul Baari, 1/165]

KEEMPAT: Mengokohkan Persaudaraan dan Menguatkan Ikatan Kasih Sayang dengan Bersedekah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” [Al-Hajj: 28]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا

“Makanlah, simpanlah dan bersedekahlah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

KELIMA: Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103)وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

“(Ibrahim berkata): “Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih”. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, maka Ibrahim berkata: “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Ash-Shofat: 100-107]

Nasihat Khusus kepada Kaum Wanita

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِير

“Wahai para wanita bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun kepada Allah), karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian para wanita yang terbanyak menghuni neraka. Maka berkatalah seorang wanita yang pandai: Wahai Rasulullah, mengapa kami para wanita yang terbanyak menghuni neraka? Beliau bersabda: Karena kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, dan ini lafaz Muslim]

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى 

Sunnah Yang Terabaikan…

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengerjakan shalat sunnah sebelum shalat ied, namun jika beliau pulang dan sampai di rumah beliau shalat 2 raka’at.”

(HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, dihasankan oleh Imam Ibnu Hajar, Al Buushairi, Albani)

Ibnu khuzaimah mengatakan:
“Disunnahkan shalat di rumah selepas pulang dari shalat ied.”
(Shahih Ibnu Khuzaimah 2/362)

Silahkan lihat keterangan imam iibnu quddamah dalam al mugni 2/241 dan imam ibnu hajar dalam fathul baari 3/418

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

 

da250617-0826

Orang Yang Berniat Melakukan Amalan Shalih Namun Terhalang…

Orang yang berniat melakukan amalan shalih namun terhalang melakukannya bisa dibagi menjadi dua:

1.  AMALAN YANG DILAKUKAN SUDAH MENJADI KEBIASAAN ATAU RUTINITAS (RAJIN UNTUK DIJAGA). Lalu amalan ini ditinggalkan karena ada uzur, maka orang seperti ini dicatat mendapat pahala amalan tersebut secara sempurna. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika salah seorang sakit atau bersafar, maka ia dicatat mendapat pahala seperti ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar) atau ketika sehat.” (HR. Bukhari,no. 2996).

Juga kesimpulan dari hadits berikut.

Dari Jabir, ia berkata, dalam suatu peperangan (perang tabuk) kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan perjalanan perang, juga tidak menyeberangi suatu lembah, namun mereka bersama kalian (dalam pahala). Padahal mereka tidak ikut berperang karena kedapatan uzur sakit.” (HR. Muslim, no. 1911).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِلاَّ شَرِكُوكُمْ فِى الأَجْرِ

“Melainkan mereka yang terhalang sakit akan dicatat ikut serta bersama kalian dalam pahala.”

Juga ada hadits,

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ فِى غَزَاةٍ فَقَالَ « إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا ، مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلاَ وَادِيًا إِلاَّ وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ »

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu peperangan berkata, “Sesungguhnya ada beberapa orang di Madinah yang ditinggalkan tidak ikut peperangan. Namun mereka bersama kita ketika melewati suatu lereng dan lembah. Padahal mereka terhalang uzur sakit ketika itu.” (HR. Bukhari, no. 2839).

Contoh dalam hal ini adalah orang yang sudah punya kebiasaan shalat jama’ah di masjid akan tetapi ia memiliki uzur atau halangan seperti karena tertidur atau sakit, maka ia dicatat mendapatkan pahala shalat berjama’ah secara sempurna dan tidak berkurang.

2. JIKA AMALAN TERSEBUT BUKAN MENJADI KEBIASAAN, MAKA JIKA SUDAH BERNIAT MENGAMALKANNYA NAMUN TERHALANG, akan diperoleh pahala niatnya (saja). Dalilnya adalah seperti hadits yang kita bahas kali ini. Begitu pula hadits  mengenai seseorang yang  diberikan harta lantas ia gunakan dalam hal kebaikan, di mana ada seorang miskin yang berkeinginan yang sama jika ia diberi harta. Orang miskin ini berkata bahwa jika ia diberi harta seperti si fulan, maka ia akan beramal baik semisal dia. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Ia sesuai niatannya dan akan sama dalam pahala niatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2325. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).  (Lihat pembahasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 1:36-37).

Muhammad Abduh Tuasikal MSc,  حفظه الله تعالى 

Ref : https://rumaysho.com/16311-hadits-arbain-01-setiap-amalan-tergantung-pada-niat.html

Apa Yang Kita Ucapkan Di Hari Idul Adha..?

PERTANYAAN:

Apakah disyariatkan mengucapkan ucapan: taqobbalallahu minna wa minkum setelah sholat iedul adha yaa Ustadz ?
Syukron.

JAWABAN:

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

“Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bertemu pada hari ‘ied (‘Iedul Fithri atau ‘Iedul Adha), satu sama lain saling mengucapkan : “Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu)”

(lihat Fathul Bari II/446 oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani, Imam al-Albani dalam Tamaamul Minnah hal 354, Ahkaamul ‘Idain oleh Syaikh Ali Hasan hal 61, Fathul Baari oleh Imam Ibnu Rajab VI/167-168, Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni II/259 dll).

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Do’a Di Hari Arafah…

PERTANYAAN:

Ustadz, amalan utama apa ataukah ada do’a khusus di hari Arofah ini yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam ? dan apakah ada waktu utama di hari ini untuk berdo’a ? Syukron

JAWABAN:

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Sebaik-baik do’a adalah do’a di hari Arafah, dan sebaik-baik dzikir yang aku ucapkan, dan juga diucapkan para Nabi sebelumku adalah :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

(HR. At-Tirmidzi, hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, lihat Shahihut Targhib wat Tarhiib no. 1536)

Waktu untuk membacanya bagi yang tidak berhaji yaitu ketika masuk tanggal 9 dzulhijjah sampai terbenamnya matahari (Maghrib).

Allahu a’lam

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى