All posts by BBG Al Ilmu

Kamu Thogut…

Thogut dari kata thogo yang artinya melampaui batas. Thogut adalah setiap hamba yang melampui batasannya sebagai hamba..
Semua yang disembah selain Allah adalah thagut..

Di zaman ini banyak orang lebih memfokuskan makna thogut untuk orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Sehingga mereka menganggap setiap hakim yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah thogut dan kafir harus diperangi.

Mereka menyempitkan makna berhukum dengan hukum Allah sebatas kepada hukum potong tangan, rajam, qishosh dan sejenisnya. Padahal hukum Allah itu mencakup semua permasalahan baik aqidah, hukum, mu’amalah dan lainnya.

Orang yang berbuat maksiat pasti telah berhukum dengan selain hukum Allah. Orang yang berzina, makan riba, mencuri, gibah dan sebagainya.
Apakah zina hukum Allah ?
Apakah riba hukum Allah ?
Apakah mencuri hukum Allah ?
Apakah gibah hukum Allah ?
Tentu jawabnya bukan.

Bila setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah disebut thogut kafir, berarti semua pelaku maksiat adalah thogut kafir. Bahkan kamu pun thogut jika melakukan maksiat. Inilah keyakinan KHAWARIJ.

Semua ulama sepakat bahwa siapa yang berhukum dengan selain hukum Allah tapi ia meyakini wajibnya berhukum dengan hukum Allah dan haram hukumnya berhukum dengan selain hukum Allah maka dia TIDAK KAFIR tetapi ia jatuh kepada dosa besar.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang hakim yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Ia bernama najasyi. Tetapi ketika ia meninggal, Nabi menyolatkan beliau dengan sholat gaib.

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan bahwa yang pertama kali lepas dari tali islam adalah hukum. Nabi bersabda:

لتنقضن عرى الإسلام عروة عروة، فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها، وأولهن نقضا الحكم وآخرهن الصلاة

Tali islam akan lepas seutas demi seutas. Setiap kali tali islam lepas, manusia akan memegang erat-erat tali berikutnya. Yang pertama lepas adalah hukum dan yang terakhir lepas adalah sholat. (HR Ahmad, hasan)

Bahkan Nabi mengabarkan akan adanya pemimpin pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Nabi bersabda:

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ
وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu ?”
Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim)

Tidak mau mengambil petunjuk Nabi tentunya akan mengambil selain petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam

Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Indahnya Berkholwat (Menyendiri) Dengan Allah…

Ketika engkau berkholwat dengan Allah..
Engkau bisa mengakui semua kesalahanmu tanpa khawatir konsekuensi dari pengakuan itu sedikitpun, karena Dia memang senang bila engkau mengakui kesalahan-kesalahanmu.. Sungguh betapa agungnya Engkau ya Allah.

Ketika engkau berkholwat dengan Allah..
Engkau tidak perlu merasa sungkan untuk berlama-lama bersama-Nya, karena Dia mencintaimu dan mencintai munajatmu.. Sungguh betapa besar rahmat-Mu ya Allah.

Ketika engkau berkholwat dengan Allah..
Engkau tidak perlu merasa malu jika banyak mengulang-ulang permintaan kepada-Nya, karena Dia memang menyukai orang-orang yang banyak mengulang permintaannya.. Sungguh betapa mulianya Engkau ya Allah.

Ketika engkau berkholwat dengan Allah..
Engkau tidak perlu membuat janji terlebih dahulu, bahkan semua waktu tersedia bagimu untuk itu, bahkan engkaulah yang menentukan waktunya.. Sungguh betapa pemurahnya Engkau ya Allah.

Sungguh Engkau telah memberikan semuanya kepada hambamu.. hanya saja banyak dari hamba-Mu yang tidak tahu diri!

Sadarkanlah kami ya Allah, bahwa semua tanpa-Mu bukanlah apa-apa.

Bahwa sebenarnya tidak ada yang pantas untuk disesali, kecuali kekurangan kami dalam mengabdi dan beribadah kepada-Mu, ya Rabb.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Kerugian Yang Nyata…

Kerugian yang nyata adalah ketika engkau mampu membaca apapun, kecuali Al Qur’an.

Setiap pesan yang datang di HP-mu selalu engkau baca, tapi aplikasi Al Qur’an yang juga ada di hp mu jarang engkau buka.

Padahal Al Qur’an itu adalah pesan-pesan Allah kepada kita sebagai hamba-Nya.. dan setiap hurufnya mendatangkan 10 kebaikan untuk kita.

Saudaraku…
Jadikanlah Al Qur’an sebagai bagian dari hidupmu, bukan bagian dari waktu senggangmu… Mari hargai AL QUR’AN dengan waktu berharga kita, dan di tempat yang berharga pula.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Kau Adalah Aku Yang Lain…

Sepertinya kata-kata indah yang baru ditemukan rangkaiannya oleh orang sekarang. Ternyata Nabi tercinta kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- sejak 14 abad yang lalu, telah merangkai kata yang lebih indah dari itu.

Itulah sabda beliau -shallallahu alaihi wasallam-:
“La yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhiihi ma yuhibbu li nafsih”.

“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian, sampai dia mencintai untuk saudaranya, apa yang dia cintai untuk dirinya”. [HR. Bukhari: 13, dan Muslim: 71].

Ya.. tidak hanya KAU adalah AKU yang lain, tapi DIA adalah AKU yang lain.. perlakukanlah dia sebagaimana kau senang diperlakukan, walaupun dia tidak di hadapanmu.

Saudaraku, ISLAM mempunyai segalanya yang baik, ia agama yang telah dijadikan ALLAH sempurna.. hanya saja kejahilan kita sering menjadikan kita tidak tahu keindahan dan kemuliannya.

Yuk, terus mendalami Islam, jangan sampai hanya puas dengan namanya saja.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Ulama Masih Berselisih…

” Inikan masih diperselisihkan , jadi tidak usah terlalu dibesar-besarkan ”

Demikianlah ucapan yang sering kita dengar ketika kita menegur atau mengingkari perbuatan yang mereka lakukan , sehingga perselisihan oleh para ulama dijadikan alasan untuk membenarkan pendapat yang ia pegang sekalipun pendapat tersebut sangat lemah , padahal alasan seperti bukanlah hujjah syar’i, bahkan kaidah yang tidak pernah ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’iah.

PERHATIKANLAH !

Al Hafidz Abu Umar Ibnu Abdil Barr berkata :
“Perselisihan ulama bukanlah hujjah/alasan menurut seluruh fuqoha yang saya ketahui, kecuali orang yang tidak mempunyai ilmu dan bashiroh dan pendapatnya tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.”
(Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi : 2 / 229)

Al Khaththobi berkata :
“Ikhtilaf (perselisihan) ulama bukan hujjah, menjelaskan sunnah itulah hujjah atas orang-orang yang berselisih dari dahulu sampai sekarang.”
(A’lamul Hadits : 3 / 2092)

Al Imam Asy Syathibi berkata :
“Perkara ini telah melebihi batasan semestinya, sehingga perselisihan ulama dijadikan alasan untuk membolehkan…. barangkali muncul fatwa yang melarang, lalu dikatakan :
” Mengapa engkau melarang , padahal masalah ini masih diperselishkan .”
Ini adalah sebuah kesalahan terhadap syarh’at , karena ia telah menjadikan sesuatu yang tidak layak dijadikan hujjah sebagai hujjah.”

(Al Muwafaqat : 4 / 141)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah didalam Majmu’ Fatawa : 26 / 202 – 203 , berkata :
“Tidak boleh bagi seorangpun berhujjah dengan pendapat seorang ulama dalam masalah-masalah yang diperselisihkan. Sesungguhnya hujjah itu hanyalah nash dan ijma’ serta dalil yang istimbath darinya yang pendahuluannya ditetapkan oleh dalil syari’at , bukan ditetapkan oleh pendapat sebagian ulama , karena pendapat ulama dapat dijadikan hujjah jika sesuai dengan dalil syari’at bukan untuk menentang dalil syari’at.”

Allahul Musta’an

Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Agar Anda Bisa Adil Kepadanya

Sadarilah bahwa Anda sedang diperlakukan secara diskriminatif.. maka balikkan arah perkataannya kepadanya, agar Anda bisa adil kepadanya.

=====

1. Kalau ada yang bilang “jangan sok suci”, karena nasehat yang kita sampaikan..

Katakan saja, “Anda juga jangan sok suci, sampai-sampai menasehati kita agar jangan sok suci”.

2. Kalau ada yang bilang “Jangan merasa benar”.. saat kita mengutarakan pendapat tertentu dengan dalilnya.

Katakan kepadanya, “Anda juga jangan merasa benar sendiri, kan bisa jadi kita yang benar”.

Kalau kita tidak merasa benar, berarti harusnya kita merasa salah ?! Atau kita harus bingung, tidak merasa benar dan tidak merasa salah?! Atau kita harus menutup akal kita, dan mengatakan semua orang yang melakukan maksiat dan orang yang melakukan ketaatan = benar, dan semuanya masuk surga ?!

3. Kalau ada yang bilang, “Jangan menyalahkan orang lain”

Balik saja “Kamu juga jangan menyalahkan kita”.

4. Kalau ada yang komplain, “Toleranlah dengan perbedaan pendapat”.

Balikkan saja, “Anda juga harusnya toleran dengan pendapat dan sikap kita”.

5. Jika ada yang mengatakan, “Jangan sok Islami”, karena penampilan kita yang mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Jawab saja, “Anda juga jangan sok tidak Islami”.

6. Jika ada yang mengatakan, “Jangan ke arab-araban”.

Kita bisa jawab: “Anda juga jangan ke barat-baratan”.

7. Jika ada yang komen, “Jangan kaku dalam mendakwahkan Islam”.

Bilang saja: “Anda jangan kaku menyikapi kita”.

8. Kalau ada yang mengatakan, “Tidak usah terlalu ekstrim dalam beragama”.. karena kita kuat dan teguh dalam memegang kebenaran.

Jawablah: “Anda juga tidak usah terlalu ekstrim dalam meninggalkan agama”.

9. Kalau ada yang mengatakan, “Emang kamu punya kaplingan di surga”.. ketika kita menjelaskan tentang siapa yang berhak dimasukkan ke dalam surga dan neraka.

Coba dijawab, “Emang kamu tidak ingin punya kapling di surga”.

Saudaraku kaum muslimin.. sadarlah bahwa kita semua sedang diperlakukan secara diskriminatif.

Di sana ada JIL, tapi mengapa tidak ada Jaringan Liberal di agama lain.

Banyak khutbah Jum’at di mata-matai, mengapa khutbah di tempat ibadah lain tidak demikian.

Kalau teroris hanya disematkan kepada oknum dari kaum muslimin.. dan tidak kita dapatkan sebutan teroris itu disematkan kepada non muslim.

Kaum muslimin dilarang menyebut non muslim sebagai kafir.. mengapa non muslim tidak dilarang menyebut kita domba yang tersesat, atau sebutan tidak terhormat lainnya.

Kaum muslimin, sadarlah bahwa kita sedang diperlakukan secara diskriminatif.. dan keadaan ini tidak akan berubah, jika kita tidak berusaha mengubah diri kita.

Kembalilah kepada Islam yang hakiki, Islam yang sesuai dengan kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau rodhiallohu ‘anhum.

Islam yang hakiki telah mampu memuliakan mereka.. tentu Islam yang seperti itu juga akan memuliakan kita semua.

“Kita adalah orang-orang yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka selama kita mencari kemuliaan dari yang lain, Allah pasti akan menghinakan kita”, begitu kata Amirul Mukminin Umar bin Khattab rodhiallohu ‘anhu.

Silahkan dishare.. Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jika Anda Menasehati Seseorang Namun Anda Malah Dicemooh…

Jika anda menasehati seseorang tapi anda malah dicemooh, jangan bersedih… Ingatlah firman Allah berikut ini…

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’rof : 178)

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena sedih terhadap mereka.” (QS. Fathir : 8 )

وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk baginya.” (QS. As Sajdah : 13)

Janji ALLAH Bagi Orang Yang Isbal… #1

Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Ada tiga GOLONGAN yang TIDAK AKAN DIAJAK BICARA OLEH ALLAH PADA HARI KIAMAT dan bagi mereka ADZAB YANG PEDIH. Rasulullah menyebutkan tiga golongan tersebut berulang-ulang sebanyak tiga kali, Abu Dzar berkata : “Merugilah mereka! Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “MUSBIL (ORANG YANG ISBAL), yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” [Hadits Riwayat Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa’i 4455, Lihat Irwa’: 900]

Inilah JANJI ALLAH UNTUK ORANG YANG ISBAL (sombong ataupun tidak, sama saja)… Masih berani ISBAL.. ?!

Dunia Dan Penciptanya

Barangsiapa mengorbankan dirinya untuk DUNIA, pada akhirnya dunia tidak akan memberikan kepadanya kecuali SEJENGKAL TANAH yang menjadi kuburannya.. itupun bisa jadi nanti ditempati orang lain lagi setelahnya.

Tapi barangsiapa mengorbankan dirinya untuk ALLAH, maka ALLAH akan memberikan kepadanya SURGA YANG LEBARNYA SEPERTI LANGIT DAN BUMI !!

Sungguh sangat tertipu, siapa yang memilih dunia dan meninggalkan Allah.

Allah ta’ala telah berfirman yang artinya:

“Tidaklah kehidupan dunia ini, melainkan kenikmatan sedikit yang menipu”. [QS. Alu Imron: 185]

“Jangan sampai kehidupan dunia ini menipu kalian”. [QS. Luqman: 33]

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Kebiasaan Itu Belum Tentu Benar…

Janganlah ini di salah pahami sebagai larangan ziarah kubur… janganlah dulu panas hati dan pikiran karena yang disampaikan ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam… ini bukanlah larangan ziarah kubur TAPI larangan ziarah Kubur KHUSUS KARENA HARI ‘ID … 

Harus dibedakan antara keduanya… Kami hanya mengingatkan bahwa ada larangan tersebut dan sekali lagi yang melarang itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Nabi yang kita semua cintai (Allahumma shollii’alaa Muhammad)…

Benar, Ziarah kubur itu adalah sebuah amalan yang disyari’atkan, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Buraidah Ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah” (HR Musim)

Namun itu berlaku kapan saja dan oleh sebab itu janganlah kita meng-KHUSUS-kan ziarah kubur dengan hari raya apalagi ada dalil yang melarangnya…. 

Lalu jika tidak menkhususkannya bagaimana ?…. dalam hal ini mungkin tetap kita tunda saja ziarah kubur di hari-hari lain agar tidak melanggar larangan ini dan agar kita tidak ‘terjebak’ dalam suatu amalan (ziarah kubur khusus di masa hari raya) yang dilarang… ‘terjebak’ ini maksudnya adalah ikut men-syiarkan, ikut meramaikan amalan ini. (*) Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat.

Dalam hadits juga disebutkan,

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang memberi petunjuk pada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. Aliran pahala atau dosa tadi didapati baik yang memberi petunjuk pada kebaikan atau kesesatan tersebut yang mengawalinya atau ada yang sudah mencontoh sebelumnya. Begitu pula aliran pahala atau dosa tersebut didapati dari mengajarkan ilmu, ibadah, adab dan lainnya.”

Sedangkan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Lalu diamalkan oleh orang setelah itu“, maka maksudnya adalah ia telah memberi petunjuk (kebaikan atau kesesatan) lalu diamalkan oleh orang lain setelah itu ketika yang contohkan masih hidup atau sudah meninggal dunia. Demikian penjelasan Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits di atas.

Intinya, dua dalil di atas menunjukkan dengan jelas bahwa siapa saja yang memberi petunjuk pada kejelekan, dosa atau maksiat, maka ia akan mendapatkan aliran dosa dari orang yang mengikutinya. Ini sudah jadi cukup bukti dari kaedah yang dibahas kali ini, yaitu siapa yang menolong dalam maksiat, maka terhitung pula bermaksiat…(*) Na’udzubillah…

Mari kita jadikan Syawwal ini momentum untuk HIJRAH… Hijrah seutuhnya dari segala bentuk perbuatan yang tidak sejalan dengan perintah ALLAH dan Rasul-Nya… 

Mari kita semua membuka hati dan pikiran kita dan menerima dan mematuhi semua perintah dan larangan ALLAH dan Rasul-Nya…. 

Ingatlah saudaraku, kebiasaan itu belum tentu benar… KEBENARAN itulah yang harus DIBIASAKAN… semoga dapat dipahami….

(*) paragraf diantara 2 bintang ini dari artikel di https://rumaysho.com/3555-menolong-dalam-maksiat-dihitung-maksiat.html.