All posts by BBG Al Ilmu

Kesempatan Menyantuni Janda Miskin…

Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc, hafizhohullah adalah Mudhir dan pengasuh pondok Tahfidz Ma’hadul Qur’an di Boyolali, Jawa Tengah… Dalil menyantuni janda dibawah ini…

Menyantuni janda, baik punya anak maupun tidak, termasuk amal sholeh yang bernilai pahala besar. Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ

“Orang yang bekerja agar bisa memberi sebagian nafkah kepada janda, dan orang miskin, sebagaimana orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang tahajud di malam hari, puasa di siang hari.“ (HR. Bukhari 5353 dan Muslim 2982).

Terlebih jika janda itu adalah kerabat anda, nilai yang akan anda dapatkan dua kali: nilai sedekah dan menyambung silaturrahmi. Dari Salman bin Amir radhiallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin (yang bukan keluarga) nilainya hanya sedekah, dan sedekah kepada kerabat, nilainya dua: sedekah dan silaturahmi.” (HR. An-Nasa’i 2582, Ibn Majah 1844, dan dishahihkan al-Albani)

Tergantung Hati…

Tahukah Anda..
Keselamatan kita di hari akhirat..
Tergantung kepada keselamatan hati kita..
Allah Ta’ala berfirman yang artinya..
Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak..
Kecuali orang yang datang membawa hati yang selamat..
Asy Syu’ara ayat 88-89..

Bahan renungan dan introspeksi kita..
Selamatkah hati kita dari Syirik..
Selamatkah dari sombong dan ujub..
Selamatkah dari dengki dan hasad..
Selamatkah dari penyakit cinta dunia..
Selamatkah dari mengutamakan hawa nafsu..
Dan seribu pertanyaan lainnya..

Cobalah tanyakan..
Selama ini, apakah kita lebih memperhatikan badan..
Ataukah keselamatan hati..
Pertanyaan yang sulit dijawab..
Bahkan mungkin dianggap remeh..
Padahal ia masalah besar..

Coba rasakan..
Ketika mendengar lantunan ayat ayat AL Qur’an..
Ketika berdzikir kepada Allah..
Ketika melakukan ketaatan..
Bila terasa gembira dan bahagia..
Bila terasa syahdu di dada..
Puji lah Allah..
Dan jika tidak demikian..
Ucapkan Inna lillaahi wa Inna ilaihi raji’un..
Karena cahaya iman telah mulai redup dalam hati kita..
Yaa Rabb..

Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

da290314

Hanya ALLAH Yang Tahu…

Bismillah
Akhi Ukhti…

Allah Mematikan yang hidup
Allah menghidupkan yang mati
Allah yang menerbitkan mentari dari Timur
Allah menenggelamkannya di barat

Umat islam harus sadar bahwa kekuatan mereka berada pada kedekatan mereka kepada Allah

Kemenangan mereka bukan karena strategi yang mereka susun
Bukan karena jumlah yang banyak
Bukan hanya karena usaha yang masif
Tapi karena Allah yang memberikannya

saatnya bertaubat
menyesali semua dosa
berlepas diri dari segala kekuatan
menyerahkan diri kepada Allah

HANYA ALLAH YANG BISA MEMBANTU DAN MENOLONG KITA
HANYA ALLAH YANG BISA MENYELAMATKAN KITA DARI MAKAR MUSUH
HANYA ALLAH YANG BISA MEMENANGKAN KITA

Allah berfirman…

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal. [QS Ali ‘Imraan : 160]

Maka bertawakkalah kepada Allah
Serahkan semuanya padanya dan yakinlah

HANYA DIA YANG BISA

Apa yang akan terjadi esok?

HANYA ALLAH YANG TAHU

perbanyak membaca

laa hawla wa laa quwwata illa billah

(tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya),

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Jangan Lupa Membacanya Mulai Malam Ini…

Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah.

Para ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa dengan membaca ayat tersebut imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut bisa sebagai pengganti dari berbagai dzikir karena di dalamnya sudah terdapat do’a untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat. Lihat bahasan Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha dalam Nuzhah Al-Muttaqin, hal. 400-401.

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa makna hadits bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah akan mencukupkan dari shalat malam. Atau orang yang membacanya dinilai menggantungkan hatinya pada Al-Qur’an. Atau bisa pula maknanya terlindungi dari gangguan setan dengan membaca ayat tersebut. Atau bisa jadi dengan membaca dua ayat tersebut akan mendapatkan pahala yang besar karena di dalamnya ada pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada Allah dan berisi pula do’a kebaikan dunia dan akhirat. (Ikmal Al-Mu’allim, 3: 176, dinukil dari Kunuz Riyadhis Sholihin, 13: 83).

Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan tentang keutamaan dua ayat tersebut ketika dibaca di malam hari, “Ketahuilah para ikhwan sekalian, kedua ayat ini jika dibaca di malam hari, maka akan diberi kecukupan. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah dijaga dan diperintahkan oleh Allah, juga diperhatikan dalam do’a karena dalam ayat tersebut terdapat doa untuk maslahat dunia dan akhirat.” (Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 2: 540-541).

Semoga bisa mengamalkan untuk membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah ini mulai dari malam ini. Semoga kita meraih kebaikan dan keberkahan. Semoga Allah memberi taufik.
Sumber : https://rumaysho.com/11085-keutamaan-membaca-dua-ayat-terakhir-surat-al-baqarah-pada-waktu-malam.html

Birrul Walidayn… LIVE NOW…

LIVE SEKARANG… BIRRUL WALIDAYN bersama Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA

Dikirim oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah M.A pada 18 April 2017

Jika Tidak Mampu Meninggalkan KEDUANYA…

Jika tidak mampu meninggalkan KEDUANYA (menerima suap + memilih yang kafir); jangan sampai melakukan dua-duanya!

=====

1. Saudaraku kaum muslimin, SUARAMU adalah amanah yang akan kalian pertanggung-jawabkan di hadapan Allah.. maka berikanlah suara itu kepada paslon yang dihalalkan oleh Allah.. jangan sampai memberikannya kepada paslon yang diharamkan oleh Allah.

“Wahai orang-orang yg beriman, janganlah kalian menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai Aulia”. [Almaidah:51].

Kata “aulia” bisa bermakna PEMIMPIN, teman setia, pelindung, penolong, pembela, dll.. itu semua tercakup dalam kata “aulia”.. Sungguh inilah kehebatan Al Qur’an kalamullah, dengan redaksi yang singkat, bisa mencakup makna yang sangat luas.

2. Menjual suara adalah tindakan mengkhianati amanah yang ada di pundak kita.. seharusnya ini tidak dilakukan seorang yang mengaku muslim.. pilihlah paslon berdasarkan dalil, dan juga bukti yang kuat akan mensejahterakan kita semua selama masa kepemimpinannya.. terutama kesejahteraan dari sisi Agama.

Jangan sampai memilih paslon karena uang yang diberikan saat pencalonan.. karena itu bukan uang halal, itu juga hanya sesaat dirasakan, setelah itu kita akan ‘diperas’ selama masa kepemimpinannya.

3. Bagaimana dengan pembagian uang atau sembako dari para paslon, bolehkah kita mengambilnya?

Itu adalah bentuk lain dari suap menyuap, dan ini merupakan dosa besar, sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:

“Allah MELAKNAT orang yg menyuap, dan orang yg menerima suap!”. [HR. Abu Dawud: 3580, shahih].

Pantaskah kita memilih calon yang jelas-jelas melakukan dosa besar di hadapan kita?!

Bagaimana jika dua-duanya melakukan dosa besar itu?
Kita pilih yang PALING SEDIKIT dalam menyuapnya.. mana yang lebih ringan keburukannya, itu yang kita pilih.

4. Bagaimana kalau kita sudah mengambil uang suap ?

Pertama: Kita harus bertaubat kepada Allah dari dosa besar tersebut.

Kedua: Kita harus mengembalikan uang itu bila dimungkinkan.

Bila tidak mungkin mengembalikan kepada penyuap, maka kita bisa memberikan kepada fakir miskin, atau lembaga yang menyalurkan harta haram tersebut untuk fasilitas umum -misalnya-.. dengan niat membebaskan diri dari harta haram.

5. Bagaimana jika sudah BERJANJI, bahkan sudah BERSUMPAH untuk memilih paslon tertentu, padahal Allah melarang kita memilihnya.

Jika hanya berjanji saja tanpa sumpah dg nama Allah, maka tidak menjadi masalah untuk mengingkari janji tersebut, karena itu adalah janji bermaksiat… bahkan “janji bermaksiat” SEHARUSNYA tidak kita tepati.

Jika pun kita sampai bersumpah dengan nama Allah, bahwa kita akan memilih calon yang diharamkan Allah, maka ini masuk dalam bab sumpah “ghomus”, yakni sumpah yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka.

Sumpah seperti ini harus TIDAK ditepati.. dan tidak ada tebusan untuk sumpah jenis ini.. kecuali bertaubat dan meminta ampun kepada Allah, karena bersumpah untuk melakukan kemaksiatan adalah perbuatan dosa.

6. Jika kita tidak kuat menolak “godaan suap”.. baik berupa uang atau sembako atau yang lainnya, karena berbagai alasan.. maka jangan sampai kita mengumpulkan dua keburukan sekaligus.

Jangan sampai kita “mengambil suap” dan memilih paslon yang diharamkan oleh Allah… Sungguh keduanya merupakan keburukan yang sangat nyata… Kalau kita tidak mampu meninggalkan dua-duanya, maka paling tidak jangan melakukan dua-duanya.

7. Kaum Muslimin -semoga Allah memuliakan kalian-… Penulis yakin masih ada kebaikan dan semangat iman di dada-dada kalian.. Di sisi lain, penulis juga yakin, bahwa kalian sadar betul, bahwa sangat jarang dari kaum nasrani dan etnis ‘tingho’ yang akan memilih paslon muslim.

Oleh karena itu, janganlah ragu untuk menguatkan barisan kaum muslimin dengan memilih pemimpin muslim.

Ingatlah, karena tugas dan kewajiban memilih pemimpin sudah ditaruh di pundak kita, maka wajib bagi kita menunaikan tugas kewajiban tersebut sebaik-baiknya.. Jangan sampai kita menyia-nyiakannya, atau bahkan mengkhianatinya, karena itu semua akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan-Nya.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى