All posts by BBG Al Ilmu

Tiga Manfaat Menundukkan Pandangan…

1⃣ Merasakan manisnya iman.
Karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik darinya.

2⃣ Mewariskan cahaya di hati dan kekuatan firasat.
Syah bin Syuja’ seorang ulama yang amat kuat firasatnya berkata, “Siapa yang menundukkan pandangannya. dari sesuatu yang haram, menahan dirinya dari syahwat, memakmurkan hatinya dengan selalu merasa di awasi oleh Allah, dan memakmurkan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, serta membiasakan memakan yang halal, maka firasatnya tidak akan salah.”

3⃣ Memberikan kekuatan hati dan ketegaran.
Karena pengikut hawa nafsu akan ditimpa kerendahan dan kehinaan pada jiwanya. Sebaliknya orang yang senantiasa mentaati Allah akan diberikan kemuliaan dan keperkasaan.
Al Hasan Al Bashri berkata, “Walaupun. ia berkendaraan yang mewah dan berjalan dengan bangganya, sesungguhnya kehinaan itu membelit lehernya karena Allah enggan kecuali menghinakan orang yang memaksiatinya.”

(Fiqih Nazhor hal 40-42).

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk selalu menundukkan pandangan..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

da2502140645

Ucapan Oleh Lidah Juga Dihisab…

Apa yang diucapkan oleh lidah juga dihisab oleh Allah sebagaimana amalan, lantas kenapa kita begitu berhati-hati dalam beramal namun tidak berhati-hati dalam berucap ?

⚉  Bukankah lidah lebih cepat beraktifitas dibandingkan amalan ? dalam satu menit terlalu banyak kata yang bisa dilontarkan oleh lidah, sedangkan amalan terbatas ruang geraknya.

⚉  Bukankah lidah bisa menyakiti orang yang sedang hidup maupun yang telah lama meninggal dunia bahkan para ulama (dengan menggibah mereka) ?, adapun amalan hanya bisa menyakiti orang yang masih hidup ?

⚉  Bukankah lidah bisa menyakiti orang yang tidak dihadapannya bahkan berada di tempat yang jauh di ujung dunia, sementara amalan hanya bisa menyakiti orang yang dihadapannya ?

⚉  Bukankah lisan merupakan salah satu sebab terbesar yang menjerumuskan orang dalam api neraka ?

Lantas kenapa kita bisa berpikir dan berhati-hati tatkala bertindak sementara tidak berfikir dan berhati-hati dalam berucap ?

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

da2405140017

 

 

Ingin MENILAI Seseorang…?

Yahya bin Abi Katsir -rohimahulloh-
mengatakan:

“Ada dua sifat, bila Anda melihat keduanya
ada pada diri seseorang, ketahuilah apa yang
di belakang keduanya pasti lebih baik lagi:

(1) Bila dia mampu mengendalikan lisannya.
(2) Dia selalu menjaga sholatnya”.

[Kitab: Ash-Shomt, Ibnu Abid Dunya, hal: 264].

———-

Mutiara salaf ini juga menunjukkan bahwa “siapa bilang kita tidak boleh menilai seseorang dari luarnya”, bila kita tidak boleh menilai seseorang dari lahirnya, lalu dari mana kita menilainya ?! Bukankah kita TIDAK mungkin menilai seseorang dari batinnya ?!

Bahkan Allah ta’ala telah menjelaskan ciri lahir para pengikut Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-, agar kita dapat menilai siapa saja yang pantas disebut sebagai para pecinta beliau yang sebenarnya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Muhammad adalah utusan Allah. Orang-orang yang bersamanya itu BERSIKAP KERAS terhadap orang-orang kafir tapi BERKASIH SAYANG terhadap sesama mereka. Kamu MELIHAT mereka banyak bersujud dan ruku’ untuk mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka TAMPAK tanda-tanda bekas sujud, demikianlah sifat mereka dalam Kitab Taurat”. [QS. Al-Fath: 29].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da0603151336

Walau Hanya Sedikit…

Imam Al Auza’iy rohimahullah berkata..
‘Atho’ bin Abi Robah adalah orang yang paling diridhoi oleh manusia..
namun yang menghadiri majelis taklimnya hanya tujuh atau delapan orang saja..’
(Tarikh Abu Zur’ah Ad Dimasyqi)

itulah salafushalih..
bukan kwantitas yang mereka pikirkan..
namun kwalitas..
walaupun hanya dihadiri tujuh atau delapan orang..
namun semuanya menjadi ulama besar..
sementara kita..
terkadang hanya melihat banyaknya yang hadir..
ratusan bahkan ribuan..
namun kwalitas terasa masih jauh..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

da1102160905

Bahaya Amalan RIYA…

Syeikh Al-‘Utsaimin -rohimahulloh- berkata :

“Umar bin Khottob -rodhiallohu ‘anhu- mengatakan: ‘Siapa yang memoles dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, niscaya Allah menampakkan keburukannya’…

Begitu pula orang yang memoles dirinya dengan ibadah, dia menampakkan kepada manusia bahwa dia seorang ahli ibadah, maka Allah ‘azza wajall pasti akan membongkarnya -semoga Allah melindungi kami dan kalian dari RIYA-.

Sepandai apapun manusia menutupi, Allah tetap mengetahui, dan Dia akan membongkar kedok orang yang beramal bukan karenaNya.

Jadi timbanglah semua amalanmu dengan perkataan Umar -rodhiallohu ‘anhu- ini !”

[Syarah Hilayatu Tholibil Ilm, Hal: 49-50].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2311140733

MUTIARA SALAF : Menceritakan Semua Yang Dilihat

Kholid bin Ma’dan rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk orang-orang yang menyukai   tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum  yang beriman.”

“Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, me­reka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allahlah yang Maha Tahu dan kamu semua tidaklah menge­tahui” (QS. an-Nuur: 19).”

[Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 71)]

Kholid bin Ma’dan rohimahullah adalah seorang Ulama yang wafat pada tahun 104 Hijriyah.

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Semoga Tiga Hal Ini Ada Pada Diri Kita…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Hendaknya seorang mukmin mendapati tiga hal ini
dari Anda :
⚉  jika Anda tidak bisa memberi manfaat kepadanya,
janganlah memberinya mudhorot;

⚉  jika Anda tidak mampu membuatnya gembira,
janganlah membuatnya sedih; dan

⚉  jika Anda tidak memberi pujian kepadanya,
janganlah mencelanya.”

[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab al-Hanbali,
hlm. 456]

Amal Yang Paling Berat Ada Tiga…

Imam asy-Syafi’i rohimahullah berkata,

“Amal yang paling berat ada tiga,

⚉  dermawan ketika kondisi serba sedikit,

⚉  bersikap waro’ atau menjauhi keharaman
tatkala bersendirian, dan

⚉  mengucapkan kebenaran di hadapan orang
yang diharapkan dan ditakuti.” 

[Al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, Hal. 133]

Imam asy-Syafi’i rohimahullah wafat di tahun 204 Hijriyah. Beliau adalah seorang Ulama besar, pendiri dan pemrakasa madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab yang banyak dianut di bumi pertiwi nusantara ini.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syaafi’ bin As-Saaib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yaziid bin Haasyim bin Al-Muthollib bin ‘Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaaf kakek buyut Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Muthollib adalah saudaranya Hasyim ayahnya Abdul Muthholib kakek Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kepada Syafi’ bin As-Saaib penisbatan Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 10/5-6 dan Tobaqoot Asy-Syaafi’iyah Al-Kubro 2/71-72)

 

Kaidah Ushul Fiqih Ke 62 : Setiap Perkara Yang Tidak Ada Batasannya Dalam Syariat Maka…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-61) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 62 🍀

👉🏼  Setiap perkara yang tidak ada batasannya dalam syariat maka batasannya adalah dengan ‘urf (kebiasaan). Seperti redaksi dalam akad.

Penjelasan :
Perkara perkara agama ada yang telah diberi batasannya dan tata caranya oleh syariat. Seperti tata cara sholat, haji, shoum dan sebagainya.
Ada juga yang tidak diberi batasan oleh syariat, maka jenis seperti ini batasannya dikembalikan kepada adat kebiasaan masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariat.

⚉  Contohnya redaksi akad. Atas pendapat yang rajih boleh dikembalikan kepada kebiasaan di sebuah masyarakat.

⚉  Contohnya lagi jarak safar. Tidak ada batasannya dalam syariat, maka dikembalikan kepada ‘urf yang ada.

⚉  Contohnya lagi berbakti kepada orang tua. Tidak ada batasannya dalam syariat. Maka semua yang menurut ‘urf termasuk berbakti maka itu disyariatkan.

👉🏼  Tapi jika bertabrakan dengan syariat maka haram, seperti berbakti kepada orang tua dengan cara sujud dan ruku kepada keduanya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Itulah Amal

Tholhah bin ‘Ubaidillah berkisah..

“Ada dua orang dari daerah Baliy datang ke Rosulullah..
Keduanya pun masuk islam..
Namun yang pertama lebih bersungguh-sungguh dari yang kedua..

Suatu ketika yang pertama ikut perang dan mati syahid..
Sedangkan yang kedua hidup setelahnya setahun, lalu meninggal..”

Tholhah berkata..
“Lalu aku bermimpi seakan aku berada di sisi pintu surga..
Kedua orang itu ada di sana..

Keluarlah seseorang dari surga..
Ia menyuruh (orang) yang kedua untuk masuk surga..
Setelah itu (orang) yang pertama baru diizinkan masuk surga..”
Lalu dikatakan kepadaku: “Pulanglah, belum waktunya untukmu..”

Di pagi harinya Tholhah menceritakan mimpinya ke orang-orang..
Mereka merasa heran..

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda..
“Mengapa kalian heran ?”

Mereka berkata:
“Wahai Rosulullah..

(orang) yang pertama lebih bersungguh sungguh dan mati syahid..
sedangkan (orang) yang kedua ternyata masuk surga dahulu..”

Beliau bersabda:
“Bukankah ia hidup setelahnya (selama) setahun..?

Bukankah ia mendapati ramadhan dan sholat sekian banyak dalam setahun..?!” (dalam riwayat Ahmad: “1800 kali sholat..”)

Mereka berkata: “Benar..”

Beliau bersabda: “Derajat keduanya sejauh langit dan bumi..”

[HR. Ibnu Majah no 3925]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى