All posts by BBG Al Ilmu

Tanya Kenapa…

Tanyalah diri Anda, mengapa dia lebih rajin membaca status di FB, WA, BB, dst… tapi dia malas membaca Al Qur’an ?!

Saya bantu jawab ya, “karena dia lebih SENANG kepadanya, sehingga dia lebih rajin membacanya”

Tanya juga dia, mengapa dia malas membaca Al Qur’an, sedang orang lain rajin membacanya ?!

Dan jawablah sendiri, “alasan paling mungkin adalah karena orang itu lebih mencintai Al Qur’an daripada Anda”

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Benih-Benih Syirik & Kultus Mulai Bersemi di Sebagian Majlis Taklim…

Dahulu, dan hingga akhir zaman, syirik itu mulai tumbuh berkembang dari sikap ghuluw, kekaguman dan sanjungan yang berlebih atau kelewat batas.

Mau tidur ingat dia, mau makan ingat dia, dan setiap disebut namanya atau mendengar suaranya, jantung berdejak keras, dag dig dug der.

Bahkan di kalangan wanita, melihat foto ustadznya seakan menjadi aktifitas rutin, rasanya rinduuuu gitu untuk bertemu, padahal dia sudah bersuami. Nama ustadznya lebih sering disebut dan menyejukkan hatinya dibanding nama suaminya.

Bisa jadi ada wanita wanita bersuami yang berbisik di hatinya: andai aku tidak menikah dengan dia, niscaya kini aku kan menawarkan diriku kepada sang ustadz pujaan hati. Anehnya, para suami bungkam seribu bahasa seakan tiada rasa cemburu atas sikap istrinya. Hiiih ngeriiii…

Diantara indikator benih benih cinta ekstrim mulai bersemi, adalah adanya sebagian orang yang jungkir balik demi dapat berselfi atau mencium tangan sang ustadz.

Subhanallah tauhid mulai luntur, pintu kultus kepada orang Sholeh dan cinta ekstrim mulai bersemi, sudah waktunya benih kultus semacam ini dikubur dalam dalam.

Ayo, kita ngaji tauhid, bukan hanya teorinya namun ayo berusaha menerapkan tauhid dalam setiap ucapan dan tindakan kita.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam murka ketika ada yang menyanjung beliau, dan segera tanpa ditunda sedikitpun beliau mengingkari pelakunya: 

قولوا بقولكم او ببعض بقولكم ولا يستجرينكم الشيطان

“Ucapkan kalian ini atau sebagian ucapan kalian ini, dan jangan sampai setan menyeret kalian kepada kesesatan.” ( Abu Dawud dan lainnya)

Pada hadits lain beliau bersabda: 

لا تطروني كما اطرت النصارى عيسى بن مريم انما انا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku, sebagaimana orang orang Masyarakat berlebih lebihan dalam memuji Isa putra Maryam. Sejatinya aku hanyalah seorang hamba Allah dan utusannya.” ( Bukhari)

Beliau dengan tegas menegur para pemuji yang berlebihan di tempat , tanpa menunda, atau dengan kata kata yang melankolis yang malah semakin mengobarkan sanjungan para pemuja “masyaAllah semakin nampak tawadhu’ “.

Saudaraku! Mari kita tebarkan tauhid, jaga tauhid ummat, dan berkorban demi murninya tauhid. Kita berjuang untuk mengikis syirik, kultus kepada figur yang berujung pada kesyirikan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Akupun Ingin Bahagia Seperti Dia…

Akupun ingin bahagia seperti dia…

Sobat, mungkin kata di atas adalah kata yang terucap di lisan anda atau paling kurang di batin anda tatkala melihat orang lain yang nampak begitu bahagia.

Atau bisa saja anda berkata: akupun ingin kaya, di saat anda melihat orang lain sedang menikmati kekayaannya.

Namun, mungkinkah kebahagian dan kekayaan segera menjadi kenyataan hanya bermodalkan ucapan dan keinginan anda itu?

Tentu saja tidak, alih-alih bahagia atau menjadi kaya, seringkali ucapan di atas semakin menambah derita dan sengsara pada diri anda.

Sobat! Tahukah anda bahwa bisa jadi ketika anda sedang terkagum-kagum kepada mereka ternyata mereka juga sedang terkagum-kagum kepada anda.

Bisa jadi merekapun pada saat yang sama berkata : akupun ingin bahagia; bebas dari beban pikiran dan beban pekerjaan seperti dia, kemanapun, kapanpun pergi dan berbuat apapun tidak ada yang mempermasalahkan .

Sobat! Sadarilah bahwa apapun yang terjadi pada diri anda sejatinya adalah ujian dari Allah. Jalanilah semua itu dengan lapang dada dan berbahagialah dengannya. Simak sabda Nabi shallah alaihi wa sallam berikut:

إن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضى ومن سخط فله السخط

“Sejatinya bila Allah mencintai suatu kaum niscaya Allah menimpakan suatu ujian kepada mereka. Barang siapa yang rela menjalani ujian itu maka Allahpun ridho kepada mereka. Namun sebaliknya siapapun yang benci dengan ujian itu maka Allah pun benci kepada mereka” (At Tirmizy dan lainnya).

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Amalan Yang Bisa Berpahala TANPA Niat

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika seseorang melakukan perbuatan yang MUBAH dan dia tidak meniatkannya untuk ibadah, maka tidak ada pahala padanya.

KECUALI bila ada manfaatnya bagi makhluk lain, misalnya: ketika seseorang memberikan nafkah kepada orang yang wajib dinafakahinya, maka mungkin saja dia tidak menghadirkan niat TAPI dia mendapatkan pahala.

Begitu pula jika seseorang menanam biji, atau menanam pohon, lalu sebagiannya dimakan oleh burung atau hewan melata, atau orang, maka sungguh dicatat baginya pahala kebaikan..”

[Liqo’ bab maftuh 5/53].

———-

Bila tanpa niat saja berpahala, bagaimana bila diniatkan untuk ibadah.. Bagaimana bila niatnya adalah tujuan-tujuan baik yang bisa bermacam-macam.. Oleh karenanya ada perkataan yang bagus: “Niat adalah ladang bisnisnya para ulama..”

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Merenungi Perang Jamal…

Tahukah anda apakah perang jamal itu?
Ia adalah perang antara pasukan Ali dan pasukan Aisyah radliyallahu ‘anhum..

Padahal Aisyah keluar dari kota Madinah dengan pasukannya bukan untuk berperang..
tetapi untuk mengishlah kaum muslimin yang disaat itu bertikai..

Mendengar Aisyah membawa pasukan menuju Kufah, Ali pun keluar membawa pasukannya untuk menyambut kedatangan ibunda kaum muslimin..

Namun, rupanya musuh-musuh islam menyusup dan ingin melakukan kerusuhan. Mereka membagi dua kelompok lalu saling melempar. Sehingga pasukan Ali mengira bahwa pasukan Aisyah yang memulai peperangan…
Pasukan Aisyahpun mengira pasukan Ali yang memulai perang..

Maka berkecamuklah perang dan gugurlah dua shahabat mulia yaitu Thalhaj bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam..

Renungkankanlah ini..

Bila pasukan para shahabat bisa dimasuki provokator untuk berbuat kerusuhan..
Maka aksi demo, unjuk rasa atau semisalnya yang isinya banyak kaum awamers amat lebih mudah lagi dimasuki provokator..
waspadalah saudaraku…

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Tanya Hadits…

Pertanyaan :
Bagaimana status hadits ini:
Dari ibnu Abbas RA tentang keislaman Umar bin Khathab RA:

قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ إِنْ مُتْنَا وَإِنْ حَيِينَا؟ قَالَ: بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ عَلَى الْحَقِّ إِنْ مُتُّمْ وَإِنْ حَيِيتُمْ، قَالَ: فَقُلْتُ: فَفِيمَ الِاخْتِفَاءُ؟ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَتَخْرُجَنَّ، فَأَخْرَجْنَاهُ فِي صَفَّيْنِ، حَمْزَةُ فِي أَحَدِهِمَا، وَأَنَا فِي الْآخَرِ، لَهُ كَدِيدٌ كَكَدِيدِ الطَّحِينِ، حَتَّى دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ، قَالَ: فَنَظَرَتْ إِلَيَّ قُرَيْشٌ وَإِلَى حَمْزَةَ، فَأَصَابَتْهُمْ كَآبَةٌ لَمْ يُصِبْهُمْ مِثْلَهَا، فَسَمَّانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ الْفَارُوقَ، وَفَرَّقَ اللهُ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ ”

*Umar berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran baik saat kita mati maupun kita hidup?” Beliau menjawab, “Tentu, demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, kalian berada di atas kebenaran baik saat kalian mati maupun saat kalian hidup.” Umar berkata, “Kalau begitu, untuk apa kita bersembunyi-sembunyi? Demi Allah Yang mengutus Anda dengan kebenaran, Anda harus keluar secara terang-terangan.” Maka kami mengeluarkan Rasulullah SAW (dan para sahabat) dalam dua barisan. Hamzah memimpin satu barisan, dan aku (Umar) memimpin barisan lainnya. Suara (langkah barisan kami) seperti deru mesin giling, sampai kami memasuki Masjidil Haram. Aku melihat orang-orang Quraisy menatap kepadaku dan kepada Hamzah. Mereka dilanda kesedihan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Sejak hari itu, Rasulullah SAW menjuluki aku Al-Faruq, dan Allah memisahkan (dengan perantaraanku) antara kebenaran dan kebatilan.”
*(HR. Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyatul Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ dan Abu Ja’far bin Abi Syaibah dalam At-Tarikh. Hadits yang semakna diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Aslam maula Umar dari Umar RA. Lihat Tahdzib Hilyatil Auliya’ wa Thabaqatil Ashfiya’, juz I hlm. 63 dan Fathul Bari bi-Syarh Shahih Al-Bukhari, juz VIII hlm. 383)

Jawab:

Hadits tersebut jalan jalannya berporos pada Ishaq bin Abdillah bin Abi Farwah.
Imam An Nasai dan AdDaroquthni berkata: matruk haditsnya.
Yahya bin Main berkata: tukang dusta.
imam Bukhari berkata: tarokuuh (para ulama meninggalkannya).
Jadi hadits ini sangat lemah.
Yang menguatkan kelemahan kisah tersebut adalah tidak ditemukan kisah tersebut dalam riwayat riwayat yang shahih tentang keislaman Umar. Seperti yang disebutkan oleh ibnu Katsir dalam Al Bidayah dari jalan ibnu Ishaq.

wallahu a’lam

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Air Beriak Tanda Tak Dalam…

Pepatah kuno warisan nenek moyang, penuh dengan hikmah dan pertanda kebijaksanaan.

Coba, pepatah ini diterapkan, mayoritas ummat Islam bangun subuh, sholat lima waktu, berbondong bondong aksi damai yaitu dengan mengadakan kajian, menghadiri kajian Islam, memupuk subur Iman, membersihkan kotoran mata dari noda noda yang ditabur oleh bangsa JIN.

Adapun urusan hukum, aparat, dan pemerintah dipercayakan kepada perwakilan dari kalangan tokoh masyarakat, tokoh ormas, ulama’, insyaAllah menjadikan orang kafir gentar. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An Nisa’ 83)

Betapa tidak, sekejap semua toko ditutup, yaitu setiap kali azan dikumandangkan.

Semua orang berbondong-bondong ke masjid, aparat, pegawai sipil, karyawan, swasta dan lainnya melakukan hal ini, masjid bergemuruh dengan suara @Aamiin@ di saat imam usai membaca surat Al Fatihah.

Pasar, kantor, jalan jalan, menjadi riuh dengan suara ummat Islam menjawab seruan muazzin, Allahu Akbar, Allahu Akbar, syahadat, laa haula wa la quwwata illa billah …. dst.

Semua muslimah sekejap menutup auratnya dengan jilbab, ….dst

Pusat pusat kemaksiatan sepi senyap, lembaga riba gulung tikar, bar tutup, tempat karauke sunyi, dan….. dan ….

Andai ini terwujud, niscaya orang orang kafir panik dan bingung lalu lari tunggang langgang.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Siapa yang Bilang..?

Siapa yang bilang Ulama Islam dahulu sudah IJMA’ (konsesus/sepakat) tidak bolehnya memilih pemimpin KAFIR ?

=====

Beberapa ulama Islam telah menegaskan adanya Ijma’ dalam masalah ini, diantaranya:

1. Ibnul Mundzir -rohimahulloh- (w 319 H):
“Telah ber-ijma’ semua ulama yang diketahui bahwa seorang kafir tidak boleh ada kekuasaan di atas seorang muslim sama sekali.” [dinukil oleh Ibnul Qoyyim dalam Ahkamu Ahlidz Dzimmah 2/787].

2. Ibnu Hazm -rohimahulloh- (w 456 H):
“Para ulama telah bersepakat, bahwa imamah (kepemimpinan) tidak boleh (diberikan) kepada … seorang kafir, maupun anak kecil.” [Marotibul Ijma’, hal: 208].

3. Qodhi ‘iyadh -rohimahulloh- (w 544 H):
“Para ulama telah ber-ijma’ bahwa imamah (kepemimpinan) tidak akan sah untuk orang kafir.” [dinukil oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 6/315].

Bahkan bila ada pemimpin muslim, kemudian murtad, maka para ulama juga telah IJMA’ kepemimpinannya harus dicopot.

Qodhi ‘Iyadh -rohimahulloh- mengatakan:

“Para ulama telah ber-ijma’ bahwa .. jika ada pemimpin muslim menjadi kafir; hilang jabatannya.” [dinukil oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 6/315].

Alhafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- (w 852 H):
“Bahwa imam (pemimpin) menjadi hilang jabatannya karena sebab kekafiran, berdasarkan IJMA.'” [Fathul Bari 13/123].

Dan ini sangat selaras dengan hadits Ubadah bin Shamit -rodhiallohu anhu-:

“Kami dulu telah dibaiat (oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam) agar mendengar dan patuh (pada pemimpin), di saat kami senang maupun sedih, di saat kami susah maupun mudah.

Bahkan di saat pemimpin mengambil hak semaunya, agar kami tidak menggugat kepemimpinannya, KECUALI bila kalian telah melihat KEKAFIRAN YANG NYATA padanya.” [HR. Bukhori: 7056, Muslim: 1709].

Semoga bermanfaat… dan silahkan dishare..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى