All posts by BBG Al Ilmu

Berteduh Di Bawah Payung Ulama’ Besar…

Dari dulu, salah satu cara praktis menjadi orang terkenal ialah ikut berteduh di bawah payung orang besar, cepat deh dikenal dan punya pengikut..

Dulu washil bin atha’ juga demikian, ikut hadir di majlis ulama’ besar semisal Al Hasan Al Bashri. Setelah mulai dikenal, barulah ia menampakkan taring dan bisanya, meruntuhkan apa yang dibangun oleh gurunya sendiri. Imam Hasan Al Bashri mengajarkan akidah ahlussunnah wa al jamaah, sedangkan washil bin atha’ mengajarkan idiologi mu’tazilah.

Metode ini nampaknya digunakan oleh sebagian orang yang gurunya mengajarkan anti fanatik, anti taasshub, menggalang persatuan, eeeh ada saja sebagian orang yang berhasil berteduh di bawah payung besar sang guru untuk melancarkan gerakan yang berlawanan arah.

Guru menyeru agar ummat islam meninggalkan fanatik, pendompleng tersebut dengan bahasa lembut menyeru agar ummat islam fanatik kepada sang guru.

Guru pontang panting, peras keringat dan banting tulang menyatukan ummat islam di bawah islam yang benar, eeh murid malang melintang dibawah naungan payung sang guru menjadi tukang kepruk. Ia memanfaatkan rindangnya payung sang guru untuk menciptakan perpecahan dan permusuhan semu antara sang guru dengan guru guru lainnya.

Kalau memang mau jadi murid, bukan sekedar pendompleng, apalagi moto moto, mbok yo niru gurunya, fokus dan santun, bukan malah jadi tukang kepruk, kepruk sana , kepruk sini, dan penabuh genderang permusuhan semu antara sang guru dan guru guru lainnya.

Ya Allah satukanlah ummat islam dinatas agama-Mu dan jauhkanlah kami dari para penebar kebencian

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Memberi Udzur Kepada Saudara Yang Bersalah

Ibnu Hibban rohimahullah berkata :

الإعتذار يُذهب الهموم، ويُجلي الأحزان، ويَدفع الحقد، ويُذهب الصدّ..
فلو لم يكن في اعتذار المرء إلى أخيه خصلة تحمد إلا نفى التعجب عن النفس في الحال لكان الواجب على العاقل أن لا يفارقه الاعتذار عند كل زلة

“Memberi udzur (kepada orang lain) menghilangkan kegelisahan, melenyapkan kesedihan, menolak kedengkian, menyirnakan penghalang dari saudara…

Seandainya sikap memberi udzur kepada saudara (yang bersalah) hanya memiliki satu keutamaan yang terpuji yaitu menghilangkan sikap ujub dari jiwa seketika itu juga, maka wajjb bagi orang yang berakal untuk tidak meninggalkan sikap memberi udzur kepada saudara pada setiap kekeliruan…”

(Roudhotul ‘Uqolaa’ hal 186)

Orang yang suka memberi udzur apalagi memaafkan saudaranya yang bersalah maka akan mensucikan jiwanya dan membahagiakan hatinya.

Adapun jika tidak suka memberi udzur apalagi suka mencari cari kesalahan dan suka mendendam maka hanya menyiksa hati dan menjadikannya ujub.

Penulis :
Ustadz Dr. Firanda Andirja MA,  حفظه الله تعالى 

Saudari Perempuanmu… (silaturahmi yang terkadang terlupakan)

Sambunglah silaturahmi dengan berkhidmat kepadanya…
Berbuat baiklah kepada anak-anaknya (yang merupakan keponakanmu)…
Sisihkan dan korbankanlah waktu untuk mengantarnya ke pasar dll…
Waktumu yang terbuang untuknya itulah silaturahmi… demikian juga hartamu yang kau keluarkan untuk membuatnya bahagia…

Buatlah ia bangga bahwa engkau adalah kakaknya atau bangga engkau adalah adiknya…
Telponlah dia..tanyakan tentang kabarnya…

Jangan sampai istrimu membuatmu lupa bahwa kau punya saudara perempuan yang harus kau berbuat baik kepadanya…

Diantara bentuk bakti kepada ayah jika ayah telah meninggal adalah memperhatikan saudari-saudari perempuanmu.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu rela menikahi janda dan tidak menikahi gadis demi untuk memperhatikan adik-adik perempuannya.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Menasihati Penguasa Dengan Etika Islam…

Islam memiliki etika tersendiri dalam menasihati pemimpin, bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan; sebab, pemimpin tidak sama dengan rakyat.

Apabila menasihati kaum muslimin, secara umum memerlukan kaidah dan etika, maka menasihati para pemimpin lebih perlu memperhatikan kaidah dan etikanya.

Dari Ibnu Hakam meriwayatkan, bahwa Nabi bersabda, ”Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan melakukannya secara terang-terangan.

Akan tetapi, nasihatilah dia di tempat yang sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik. Dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasihat kepadanya.” [HR Imam Ahmad].

Sangat tidak bijaksana mengoreksi dan mengkritik kekeliruan para pemimpin melalui mimbar-mimbar terbuka, tempat-tempat umum ataupun media massa, baik elektronik maupun cetak.

Yang demikian itu menimbulkan banyak fitnah. Bahkan terkadang disertai dengan hujatan dan cacian kepada orang per orang.

Seharusnya, menasihati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat rahasia, sebagaimana yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasihati Utsman bin Affan, bukan dengan cara mencaci-maki mereka di tempat umum atau mimbar.

Imam Ibnu Hajar berkata, bahwa Usamah telah menasihati Utsman bin Affan dengan cara yang sangat bijaksana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.

Imam Syafi’i berkata,
”Barangsiapa yang menasihati temannya dengan rahasia, maka ia telah menasihati dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasihatinya dengan terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan merusaknya.”

Imam Fudhail bin Iyadh berkata,
”Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia; dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.”

Syaikh bin Baz berkata,
”Menasihati para pemimpin dengan cara terang-terangan melalui mimbar-mimbar atau tempat-tempat umum, bukan (merupakan) cara atau manhaj Salaf.

Sebab, hal itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin.

Akan tetapi, (cara) manhaj Salaf dalam menasihati pemimpin yaitu dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan nasihat tersebut.”

Zainal Abidin,  حفظه الله تعالى 
Posted by Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Orang-Orang Kafir Itu Membuat Tipu Daya dan Allah Membalas Tipu Daya Mereka…

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran/3 : 54 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”

Sebagian orang merasa berat memahami makna dari ayat ini. Bagaimana kita memahami bahwa Allah itu pembuat tipu daya yang terbaik ? Sementara tidak ada ta’wil untuk ayat tersebut ?

Jawaban.
Dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah masalah tersebut mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu bahwa tipu daya itu tidak selamanya jelek dan tercela dan sebaliknya tidak selamanya baik.

Misalnya ada seorang kafir yang akan membuat tipu daya terhadap seorang muslim, tetapi karena si muslim ini kebetulan seorang yang cerdik dan selalu waspada, maka dia balik membikin tipu daya agar niat jahat si kafir tersebut tidak sampai mengenai dirinya. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak bisa dikatakan bahwa si muslim ini telah berbuat kesalahan dan melanggar syari’at.

Hal ini akan lebih jelas ketika kita perhatikan sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الحَرْبُ خُدْعَةٌ

“Perang adalah tipuan” [1]

Kata “tipuan” dalam hadits ini sama sifatnya dengan kata “tipu daya” pada ayat di atas. Seorang muslim yang menipu saudaranya sesama muslim jelas hukumnya adalah haram, tetapi seorang muslim yang menipu orang kafir yang merupakan musuh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam (di dalam peperangan), maka hal seperti itu tidaklah haram, bahkan hukumnya wajib.

Demikian juga tipu daya seorang muslim terhadap orang kafir yang lebih dulu berniat membuat tipu daya terhadap dirinya dengan tujuan untuk menyelamatkan dirinya seperti ini jelas tidak tercela, bahka ini adalah tipu daya yang baik. Tipu daya ini dilakukan oleh seorang manusia. Lalu bagaimana kalau tipu daya tersebut berasal dari Dzat yang menguasai seluruh alam ? Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana, Apakah mungkin tipu daya-Nya tercela ?.

Kesimpulan.
1. Tipu daya itu ada yang jelek dan ada yang baik

2. Segala sesuatu yang tercela menurut angan-angan kita, maka akan menjadi terpuji (menjadi sebaliknya) apabila disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Angan-angan/anggapan yang tidak dikembalikan kepada Allah (tidak berdasarkan dalil) merupakan suatu kesalahan.

4. Ayat di atas mengandung pujian terhadap Allah, bukan mengandung sesuatu yang tidak boleh di-nisbat-kan (disandarkan) kepada Allah.

[Disalin kitab Kaifa Yajibu ‘Alaina Annufasirral Qur’anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur’an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, Penerjemah Abu Abdul Aziz, Cetakan April 2002/Shafar 1423H]
_______
Footnote
[1]. Shahih Bukhari No. 3030, Shahih Muslim No. 1740

Sumber: https://almanhaj.or.id/356-orang-orang-kafir-itu-membuat-tipu-daya-dan-allah-membalas-tipu-daya-mereka.html

Sebuah Nasehat Untuk Pemberi Nasehat

Sambil memberi nasehat, berusahalah untuk sedikit demi sedikit memperbaiki diri.

Sebagian ulama mengatakan:
“Ada TIGA ayat dalam Al Qur’an yang hendaknya selalu ada di depan mata seorang penuntut ilmu..”

Ayat pertama:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Aku tidaklah ingin melanggar larangan yang telah kusampaikan kepada kalian..” [QS. Hud: 88]

Ayat kedua:

لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُون

“Mengapa kalian katakan; apa yang tidak kalian lakukan..” [QS. Ash-Shoff:2]

Ayat ketiga:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُون

“Apakah kalian memerintahkan manusia berbuat kebaikan, namun kalian lupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Alkitab?! Tidakkah kalian berpikir..?!” [QS. Albaqoroh: 44]

[Oleh: Syeikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhohulloh, dalam Syarah Kitab Kabair, 35].

———

Janganlah Anda gunakan pesan ini sebagai penghalang menasehati orang lain… Tapi manfaatkanlah sebagai penyemangat dalam mengubah diri ke arah yang lebih baik.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, baik dalam menuntut ilmu, mengamalkan, maupun menyebarkannya, aamiin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dua PERANG Yang Diabadikan Oleh Allah Dalam Al Qur’an…

Dua perang itu adalah perang Uhud dan perang Hunain.

Kaum muslimin menderita kekalahan pada dua perang tersebut.
Allah abadikan untuk dijadikan pelajaran bagi orang orang yang berfikir.

Adapun Perang Uhud, kekalahan akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di jabal rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah.
Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan.

Allah berfirman:

أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أني هذا قل هو من عند أنفسكم

Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata: “Bagaimana kami bisa kalah? Katakan, “(Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri.
(Ali Imron: 165)

Allah tidak mengatakan: Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat.
Tapi akibat kesalahan kalian sendiri…
Sebuah renungan yang perlu dicamkan..

Di Perang Hunain sebaliknya, jumlah kaum muslim 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak.

Allah berfirman:

لقد نصركم الله فى مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما ربحت ثم وليتم مدبرين

Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang.
(At Taubah: 25)

Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain. Subhanallah…

Maka jadikanlah dua peperangan itu sebagai pelajaran berharga untuk kita bahwa betapa pentingnya pengokohan aqidah dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan RasulNya. Itulah sebab kemenangan dan kejayaan.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Menuntut Ilmu Yang Tidak Pada Tempatnya…

Ibnu Qutaibah -rohimahulloh- mengatakan:

“Dahulu seorang penuntut ilmu mendengarkan (kajian) untuk mendapatkan ilmu, dia mendapatkan ilmu untuk diamalkan, dan dia mencari ilmu Agama Allah untuk mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada yang lain.

Tapi sekarang, penuntut ilmu mendengar untuk mengumpulkan (ilmu), dia mengumpulkan (ilmu) agar disebut-sebut, dan dia menghapal agar bisa menang (dalam debat) dan membanggakan diri”
[Ikhtilaful Lafzh, 18]

———

Subhanalloh… ini beliau katakan di zamannya, padahal beliau meninggal tahun 276 H, lalu bagaimana keadaannya di zaman ini, yakni: lebih dari SEBELAS ABAD setelahnya.

Semoga kita menjadi golongan pertama, bukan golongan kedua, aamiiin.

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Keajaiban Do’a

Syaikh Ali Musthofa Thonthowi rohimahullah mengisahkan,

“Dahulu, aku menjabat sebagai hakim di wilayah Syam.

Disuatu senja, aku dan beberapa kawan pergi menikmati sejuknya malam. Namun tiba-tiba aku merasakan pernafasanku begitu sesak.

Akupun pamit kepada kawan-kawan untuk pulang. Akan tetapi mereka meminta supaya aku tetap ikut bersama mereka.
Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa menemani mereka lagi. Aku ingin pulang dan mencari hawa yang baik.

Aku menyusuri gelapnya malam yang baru saja dihantarkan senja.

Tiba-tiba aku mendengar tangisan seorang wanita dari balik bukit kecil.

Suara tangis itu terdengar begitu keras, aku mendekat ke arah dimana suara itu berasal.
Ternyata kudapati seorang wanita yang sedang menangis dengan wajah yang memendam kesedihan yang mendalam. Dalam tangisnya ia tak henti-hentinya berdo’a.

Lalu akupun bertanya, “Saudariku. .. apa yang membuatmu menangis .?

Wanita itu menjawab:
“Suamiku adalah orang yang sangat keras dan suka menzhalimiku, dia mengusirku dari rumah dan merampas anak-anak dariku. Dia juga bersumpah untuk tidak akan melihatku selama-lamanya. Sementara aku tak punya siapa-siapa. Tak ada tempat untukku kembali.

Aku bertanya lagi “Mengapa engkau tidak mengadukannya kepada Hakim. .?”

Wanita itu menjawab: “Bagaimana mungkin wanita biasa sepertiku bisa sampai kepada seorang hakim.?”

Sambil menangis Syaikh melanjutkan kisahnya,

“Wanita itu berkata seperti itu, padahal dia tidak menyadari bagaimana Allah menghantarkan seorang hakim untuknya (maksudnya beliau).

Subhanallah.. siapa yang menuntun hakim tersebut keluar ditengah gelapnya malam, untuk kemudian berdiri didepan wanita malang dan menanyakan sendiri apa keperluannya..?

Do’a apa yang telah dipanjatkan wanita malang itu, sehingga dengan cepat dijawab oleh Allah dengan cara seperti ini.. ?

Wahai engkau yang merasa dirundung duka dan mengira bahwa dunia begitu gelap hingga tak lagi dapat mengantarkanmu pada jalan keluar..

Angkatlah tanganmu ke langit dan jangan bertanya, “Bagaimana masalaahku akan diselesaikan.?”
Apakah engkau masih akan merasa bahwa hidup itu sempit..?

Jangan lagi.. khusyu’lah dengan penuh tunduk kepada-Nya. Dialah yang Maha Mendengar langkah seekor semut yang berjalan di tengah kegelapan malam.

Yakinlah.. bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.
Tidaklah Allah mengujimu dengan suatu ujian melainkan disana ada kebaikan untukmu, meskipun engkau menduga sebaliknya. .

Lapangkan dadamu.
Kalau bukan karena ujian, maka Yusuf tetap menjadi seorang anak yang manja dipangkuan ayahnya.
Namun setelah melewati ujian, ia kemudian menjadi penguasa Mesir.
Apakah engkau masih merasa bahwa hidup itu sempit..?

Yakinlah..
Bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.

Ada keajaiban yang menantimu untuk membuatmu lupa betapa pahitnya ujian hidup..”

(Rowaa’i At-Thonthowi)