All posts by BBG Al Ilmu

Menggapai Kekhusyuan, Ketenangan, dan Kewibawaan …

Imam Malik -rahimahullah- berbagi pengalamannya:
Majelis-majelis ilmu akan mengasuh kekhusyuan, ketenangan, dan kewibawaan seseorang.”
(Al Madkhal ilas Sunanil Kubro No. 697)

Lalu bagaimana jika kita tetap gelisah, panikan dan heboh dalam bersikap dan berbicara sedangkan kita aktif hadir di berbagai majelis-majelis taklim?!

Mari kita evaluasi diri kita. Duduklah bersama ilmu dengan kebeningan hati, niscaya anda akan merasakan perubahan mendasar dalam diri anda.

Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk anda yang duduk di majelis ilmu dengan penuh keikhlasan:
“…Ketenangan akan turun ditengah mereka…”
(HR. Muslim 2699)

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Belajarlah Mencintai Karena Allah

Jika engkau mencintai istrimu karena Allah -selain karena pesona paras wajahnya- niscaya kecintaanmu akan lebih langgeng, meskipun usia istrimu semakin bertambah.. niscaya engkau lebih menerima kekurangan yang ada pada istrimu.. niscaya engkau lebih mudah menjaga pandangan matamu..

Jika engkau mencintai sahabatmu karena Allah.. niscaya engkau tetap baik kepadanya karena berharap wajah Allah meskipun ia kurang bersikap baik kepadamu. Karena persahabatanmu bukan dibangun di atas hubungan timbal balik antara engkau dengannya, akan tetapi karena mengharapkan kecintaan Allah padamu.

Penulis,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

Sudah Ditanggung Allah

Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.

Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.

Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,

“وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”

Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” QS. Hud (11): 6.

Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.

Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.

Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?

Penuhi syarat-Nya!

Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.

Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.

Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,

“وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”

Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh.” QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.

Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.

Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.

Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.

Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya. Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.

Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.

Semoga renungan singkat ini bermanfaat…

Penulis : Ustadz Abdullah Zaen MA,  حفظه الله تعالى

Posted by : Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Murid Jadi Soko Guru, Guru Jadi Murid Kecil…

Banyak dari masyarakat yang merasa dirinya kurang ilmu atau bodoh, namun tanpa sadar dia telah menobatkan dirinya menjadi orang paling berilmu.

Kok bisa?

Ya, ngakunya awam, tidak berilmu namun pada kenyataannya : membanding-bandingkan dalil, atau membanding-bandingkan pendapat atau ulama’. Mereka berkata: kalau menurut saya: pendapat ini yang lebih kuat atau ulama’ ini lebih berilmu dibanding yang itu.

Kok bisa ya, ngakunya tidak berilmu tapi bisa membandingkan bahkan menghakimi perbedaan pendapat atau memvonis bahwa ulama’ ini lebih berilmu dibanding ulama’ itu.

Ilmunya saja ndak punya, kok bisa mengatakan ini lebih berilmu dibanding itu, ini lebih benar dibanding itu?

Jawabannya sederhana: perasaannyalah dalil dan ilmunya, tatkala cocok dengan perasaannya maka dianggap benar dan kuat, namun tatkala tidak sesuai dengan perasaan atau seleranya, maka dianggap aneh bin lemah atau salah.

Logikanya: orang yang berilmu tuh bisa mengenali orang bodoh, karena sebelum menjadi orang berilmu, dia adalah orang bodoh, namun orang bodoh mana mungkin bisa mengenali kadar ilmu ulama’, padahal ia belum pernah menjadi orang berilmu walau hanya sehari saja.

Lalu siapakah yang bisa mengenali ulama’ bahkan ulama’ paling alim ? ya tentu saja ulama’, karena itu dahulu tradisi di kalangan para ulama’, tiada seorangpun yang berani berfatwa atau mengajar kecuali yang telah mendapat rekomendasi dari para ulama’ senior yang ada di zamannya.

Imam Malik berkata:

وليس كل من أحب أن يجلس في المسجد للحديث والفتيا جلس حتى يشاور فيه أهل الصلاح والفضل وأهل الجهة من المسجد فإن رأوه أهلاً لذلك جلس وما جلست حتى شهد لي سبعون شيخاً من أهل العلم أني موضع لذلك

Tidaklah pantas bagi seseorang untuk duduk berceramah di masjid atau memberi fatwa hingga ia bermusyawarah dengan orang-orang sholeh, para pemuka agama dan tokoh setempat. Bila mereka menganggapnya layak untuk melakukan hal itu. maka silahkan ia melakukannya, Dan aku tidaklah duduk di masjid untuk berceramah dan memberi fatwa sampai mendapatkan rekomendasi dari 70 orang syeikh ahli ilmu bahwa aku pantas melakukannya. (Ad Dibaaj Al Muzhab oleh 1/10)

Kini sebaliknya yang terjadi, murid yang merekomendasi guru, bila mereka cocok maka guru diundang, bila tidak cocok maka guru ditendang.

Murid mendesak guru agar berfatwa dan bersikap sesuai selera murid, bahkan sering kali murid pesan fatwa kepada gurunya., hasbunallahu wa ni’mal wakiil. Inilah wolak waliknya zaman, semoga Allah melimpahkan istiqomah kepada kita dan menjaga kita semua dari fitnahnya zaman, amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Kiat Mudah Menjadi ORANG SAKTI..

Banyak orang terkagum kagum melihat seseorang memiliki “kesaktian” alias mampu melakukan satu hal yang tidak dapat dilakukan orang lain atau orang biasa.

Bagi banyak orang asal mampu membuat kagum, maka serta merta dianggap wali, orang shoooleh, dan segera dieluk-elukkan dan diikuti.

Seakan lupa, bahwa setan bisa saja membantu pemujanya melakukan hal-hal yang di luar kemampuan manusia normal. Bila demikian, akankah anda mengangap para pemuja setan sebagai orang sholeh atau wali Allah Ta’ala ?

ٍSobat! ketahuilah bahwa kesaktian yang sejati ialah tatkala anda mampu menundukkan nafsu anda dan sebagaimana anda juga begitu sakti sehingga mampu mengalahkan bisikan setan dan godaannya, bukan tatkala anda menjadi budak atau pemuja setan dengan perantara membakar kemenyan dan menyuguhkan sesajian, hingga akhirnya setan membantu anda.

Imam Syafii berkata:

إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء أو يطير في الهواء فلا تصدقوه ولا تغتروا به حتى تعلموا متابعته للرسول صلى الله عليه وسلم

Bila engkau menyaksikan seorang lelaki yang dapat berjalan di atas air, atau terbang di udara, maka janganlah engkau mempercayainya, dan jangan pula engkau terperdaya dengannya, hingga engkau benar-benar mengetahui bahwa ia benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (ِAdabussyafii wa manaqibuhu oleh Ibnu Abi Hatim 141)

Jadi untuk jadi orang sakti tuh bukan dengan menggandakan uang, atau bisa terbang atau berjalan di atas air, atau bisa sholat subuh di jawa dan jum’atan di Makkah, lalu Ashar di jawa kembali, namun bila anda dapat istiqamah di atas agama Allah Ta’ala dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan selamat dari gadaan syahwat, harta, jabatan dan lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنْ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kagum kepada seorang pemuda yang tegar dan tidak tergoda oleh nafsu mudanya. (Ahmad dan lainnya)

Ya Allah, limpahkanlah istiqamah kepada hamba-Mu yang lemah ini.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Beberapa Jam Saja Untuk Membersihkan Dosa Selama 1 Tahun Ini…

Nabi -shallallahu ’alaihi wa sallam- ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura(10 almuharram)? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim 1162)

Sebuah penawaran yang sangat menarik bagi kita yang berlumur dosa. 1 tahun adalah waktu yang cukup lama dalam menumpuk dosa-dosa kecil (*) dan dapat kita putihkan dengan puasa beberapa jam saja.

Tidak heran jika sebagian ulama-ulama klasik kita (seperti Ibnu ‘Abbas, Abu Ishaq, Azzuhri) berusaha berpuasa di tanggal 10 Al Muharrom walaupun mereka sedang safar, bukan mewajibkan namun semangat untuk meraih ampunan dan keutamaan.(**)

* Syafah Muslim Nawawi 4/179, Al Furuu’ 3/83
** Lathooiful Ma’aarif 53, At Tamhid 7/215.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Ketika Ada Perubahan Tanggal 10 Muharram 1438 H, Apa Yang Bisa Dilakukan …?

Pemerintah hari ini menetapkan 10 Muharram jatuh pada hari Selasa tanggal 11 Oktober 2016.

**********************************

Bagaimana jika sempatnya melakukan puasa 10 dan 11 Muharram?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya, “Apa hukum puasa Asyura? Apakah afdhol berpuasa bersama satu hari sebelumnya ataukah sesudahnya ataukah digabungkan berpuasa sekaligus tiga hari (9, 10, 11 Muharram)? Ataukah kita berpuasa Asyura saja pada tanggal 10 Muharram saja? Kami butuh penjelasan akan hal ini, jazakumullah khoiron.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjawab,
“Hukum puasa Asyura ialah sunnah berdasarkan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengindikasikan hal itu. Hari Asyura adalah hari saat Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, juga binasanya Fir’aun dan pengikutnya sehingga orang Yahudi berpuasa Asyura saat itu. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berpuasa pada hari itu sebagai bentuk syukur pada Allah. Beliau pun memerintahkan untuk berpuasa saat itu dengan menggabungkan hari sebelum atau sesudahnya.

Berpuasa pada 9 dan 10 Muharram lebih afdhol. Adapun berpuasa 10 dan 11 Muharram, itu pun sudah mencapai maksud untuk menyelisihi Yahudi dalam berpuasa. Jika berpuasa tiga hari sekaligus, yaitu 9, 10, dan 11 Muharram tidaklah masalah. Untuk puasa tiga hari tersebut telah didukung dalam berbagai riwayat, “Berpuasalah Asyura ditambah hari sebelum dan sesudahnya.” Adapun jika berpuasa pada hari kesepuluh saja, itu dimakruhkan. Wallahu waliyyut taufiq.”

(Sumber: Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz)

Bagi yang tidak sempat melaksanakan puasa pada 9 dan 10 Muharram, boleh memilih 10 dan 11 Muharram. Karena yang kedua ini pun sama-sama mencapai maksud untuk menyelisihi Yahudi dalam melaksanakan puasa Asyura.

Semoga Allah beri kemudahan kepada kita untuk semangat dalam kebaikan.

Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى 

https://rumaysho.com/9360-hukum-puasa-10-dan-11-muharram.html