All posts by BBG Al Ilmu

Ulama Salaf dan Fakir Miskin…

1. Aun bin Abdillah rahimahullah
berkata:

” Aku berteman dengan orang-orang kaya, akan tetapi tidak ada orang yang lebih bersedih melebihi aku, meskipun aku melihat lelaki yang memakai pakaian yang lebih indah dan lebih wangi dariku…tapi itu semua membuat aku bersedih, kemudian aku berteman dengan orang-orang Fakir miskin, maka tentramlah hatiku”. (al-Hilyah: 2/95)

2. Dahulu Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah sangat mengagungkan orang-orang miskin dan tidak bermuka manis terhadap orang-orang kaya, di majelisnya orang miskin laksana orang kaya..dan orang-orang kaya di majelisnya tak ubahnya seperti orang miskin ( al-Jami’ al-Muntakhab: 82)

3. Dari Qobishah rahimahullah: tidak pernah aku melihat orang-orang kaya begitu terhina kecuali di majelisnya Sufyan Ats-Tsauri dan tidak pernah aku melihat orang orang miskin begitu terhormat dan dimuliakan kecuali di majelisnya Sufyan Ats-Tsauri. (Al-Hilyah-Tahdzibah: 2/363)

4. Dari Nadhir bin Syamil rahimahullah: ” tidak pernah aku melihat orang yang lebih penyayang terhadap orang miskin melebihi Imam Syu’bah rahimahullah, jika beliau melihat orang miskin, maka beliau selalu memandanginya… hingga si miskin hilang dari penglihatannya. (Al-Hilyah-Tahdzibah: 2/316)

5. Dahulu Imam Ali bin Husain rahimahullah jika datang pengemis kepadanya, maka beliau mengecup keningnya sebelum memberikan sedekah kepadanya (Az-Zuhdi li Imam Ahmad: 306)

Referensi: (Hayat as-Salaf, Ahmad bin Nashir at-Thayyar : 563-571)

Fadlan Fahamsyah,  حفظه الله تعالى

Faidah : Dzikir Setelah Safar…

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila pulang dari perang atau haji atau umroh beliau bertakbir setiap kali melewati tempat tinggi tiga kali dan mengucapkan:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير آئبون تائبون عابدون ساجدون لربنا حامدون صدق الله وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده

Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahulhamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qodiir. Aaiibuun taaibuun ‘aabiduun saajiduun lirobbina haamiduun. Shodaqollahu wa’dahu wanashoro abdahu wahazamal ahzaaba wahdahu

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Menurut jumhur ulama disyariatkan mengucapkan dzikir tersebut pada setiap safar apabila safarnya untuk ketaatan seperti silaturahmi, menuntut ilmu, dan semua yang termasuk ketaatan.


Ada yang berpendapat bahwa safar yang mubah pun boleh mengucapkannya karena safar seperti ini tidak berpahala sehingga diperbolehkan. (Fathul baari 11/189)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Persamaan Ustadz Dan Artis…

Dalam beberapa hal, kedua figur ini memiliki kesamaan, terutama sama sama memiliki banyak penggemar yang ngefans, pusat perhatian publik dan panutan mereka. Dan sebagai salah satu konsekwensi adanya sikap ngefans ialah adanya cikal bakal cinta yang suatu saat bisa berubah menjadi benih cinta yang dengan cepat tumbuh dan bersemi di hati para fans.

Bagi banyak orang ngefans tuh beda dengan cinta, namun semua sadar beda antara keduanya terlalu tipis, sehingga orang yang sudah ngefans akan mudah sekali jatuh cinta, apalagi bila orang yang dia fanskan merespon dan mengumbar sinyal – sinyal yang menggoda, aduuh bisa klepek klepek deh para fans.

Kondisi serupa juga berlaku pada para penyiar radio islam, tv islam dan panitia kajian, Suara mereka yang terdengar merdu, selalu membawakan petuah penyejuk hati, dan tutur katanya yang selalu terdengar santun, bisa jadi memakan korban, sebagian pendengar atau pemirsanya.

Kondisi ini bisa menjadi parah bila ternyata ustadz atau artis, atau penyiar tersebut berwajah cukup imut, atau gimana gitu.

Dalam banyak kasus ustadz atau penyiar tidak menyadari apa yang dirasakan oleh para fansnya, mereka merasa adem ayem, namun tidak demikian dengan orang yang terlanjut ngefans banget, sampai kebablasan rasa ngefansnya hingga nyangkut di sudut hatinya, panas dingin sering kali menyengat hatinya.

Karena itu, saya rasa ada baiknya bila pada saat ini saya mengingatkan semua dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِى النَّاسِ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Sepeninggalku nanti, tiada satu godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki dibanding godaan wanita. (Muttafaqun ‘alaih)

Waspadalah, senantiasa koreksi hati anda wahai para ustadz dam juga saudaraku sekalian yang terlanjur ngefans kepada seorang ustadz atau penyiar radio atau TV Islam.

Waspadalah, agar anda tidak ceroboh menebar angin surga bagi fans anda, kasihanilah mereka bisa tersiksa hidupnya karena tak kuasa menahan sengatan asmara yang tidak kesampaian.

Dan sebaliknya, waspadailah diri anda jangan sampai, sikap fans anda yang telah menjadi korban angin surga yang berhembus dari senyum manis dan tutur kata anda yang santun, menjadikan anda tersanjung hingga akhirnya angin surga berbalik bak bumerang bagi anda.

Tidak semua orang mampu tegar ketika diterpa angin surga yang berhembus sepoi sepoi selembut sutra, seharum kasturi dan seindah bunga, salah salah anda mabok kepayang, dan lupa daratan.

Ya Allah jauhkanlah kami semua dari godaan yang menyesatkan dan menyengsarakan.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaranku, dan dari kejelekan penglihatanku, dan dari kejelekan lisanku, dan dari kejelekan hatiku dan dari kejelekan air maniku. (ِAbu Dawud dan lainnya)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an ke 25 : Penjelasan Ketika Ada Kemungkinan Pemahaman Yang Salah dan Menghilangkannya…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy, rohimahullah.

Kaidah ke 25

Al Qur’an memberikan penjelasan ketika ada kemungkinan pemahaman yang salah dan menghilangkannya.

Diantara contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

إنما أمرت أن أعبد رب هذه البلدة الذي حرمها

Sesungguhnya aku diperintahkan untuk beribadah kepada pemilik negeri yang Dia haramkan ini.

Mungkin akan ada orang menyangka bahwa Allah pemilik negeri makkah saja.
Maka Allah berfirman setelahnya:

وله كله شيء

Dan milikNyalah segala sesuatu. (An Naml:91)
Sehingga hilanglah persangkaan tersebut.

Contoh lainnya adalah firman Allah:

لا يستوى القاعدون من المؤمنين

Tidak sama orang orang yang tidak ikut berperang..

Barangkali ada yang memahami bahwa orang yang tidak ikut berperang semuanya walaupun memiliki udzur.
maka Allah berfirman:

غير أولي الضرر

Kecuali orang yang memiliki udzur. (AnNisa:94)

Contohnya lainnya adalah firman Allah:

ولكن الله يهدي من يشاء

Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.

Barangkali ada yang mengira bahwa Allah memberi hidayah kepada siapa saja dengan seenaknya.
maka Allah berfirman:

وهو أعلم بالمهتدين

Dan Dia lebih mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah. (Alqashash:56)

Allah menjelaskan bahwa Dia memberi hidayah dengan ilmu dan hikmahnya. Siapa yang berhak mendapat hidayah karena kebersihan hatinya dan kesungguhannya mencari hidayah.

dan contoh contoh lainnya yang amat banyak.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 24 : Pada Asalnya Ikatan-Ikatan Yang Ada Pada Suatu Ayat..

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Kaidah ke 1 s/d Kaidah Terkini

Mau Dikemanakan Kulit Hewan Qurban..?

Banyak yang menanyakan masalah ini, karena di musim qurban seperti ini, jumlah kulit hewan akan banyak menumpuk, padahal sedikit dari para penerima yg bisa memanfaatkannya… Alhamdulillah masalah seperti ini tidak luput dari pembahasan para ulama.. Dan di bawah inilah pendapat yang penulis lihat paling kuat dan paling maslahat dalam hal ini:

Asy-Syaukani –rohimahulloh- mengatakan:

“Para ulama sepakat, bahwa daging qurban tidak boleh dijual, maka begitu pula (seharusnya) kulitnya. Tapi, menjual kulit kurban dibolehkan oleh Al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan itu termasuk salah satu sisi dari pendapat ulama syafi’iyyah, dan mereka mengatakan: ‘Hasil dari penjualan itu (harusnya) disalurkan kepada mereka yang berhak mendapatkan bagian dari qurban.'” [Nailul Author 5/153].

Sy. Shaleh Munajjid mengatakan:

“Karena itu, maka tidak mengapa memberikan kulit kepada yayasan-yayasan sosial agar mereka menjualnya dan hasilnya mereka sedekahkan, dan ini termasuk program yang bermanfaat, karena kebanyakan orang tidak bisa memanfaatkan kulit hewan kurban, maka dalam menjual kulit dan menyedekahkannya terdapat maslahat yamg diinginkan (oleh Syariat), yakni memberikan manfaat kepada kaum fuqoro’, sekaligus selamat dari tindakan terlarang yakni tindakan pelaku kurban untuk mengambil untung dari hewan qurbannya.


Perlu diperhatikan, bahwa bagian hewan qurban boleh diberikan kepada orang kaya sebagai hadiah, sehingga apabila pelaku qurban berniat untuk memberikan kulit sebagai hadiah kepada yayasan sosial yang bertugas untuk mengumpulkannya, maka hal itu tidaklah mengapa, kemudian pihak yayasan bisa menjualnya dan bersedekah dengan hasilnya, untuk kegiatan sosial apa saja yang dikehendaki, wallohu a’lam.”

https://islamqa.info/ar/110665
Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Tampakkanlah Kegembiraan di Momen Hari Raya..

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- mengatakan:

“Menampakkan kegembiraan di hari raya, adalah termasuk syiar Agama Islam.” [Fathul Bari 2/443].

———

Jadikanlah suasana hari raya ini meriah, ceria, dan penuh kegembiraan… Tentunya dengan tetap menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.

Berikanlah ucapan selamat berhari raya kepada kerabat, sahabat, dan saudara-saudara seiman, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan generasi salaf.

Tidak lupa, saya ucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H

Taqobbalallahu Minna Waminkum

Semoga Allah menjadikan hari raya kita ini penuh dengan keberkahan dan kebahagiaan.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Hari Pembebasan…

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak ada satu hari pun dimana jumlah hamba yang ALLAH bebaskan dari api neraka lebih banyak dari hari ‘Arafah…”
(HR. Muslim)

Saudaraku,
Hari ini adalah hari pembebasan dengan kuota terbanyak.

Hadirkan harapan dan kecemasan pada hari ini!
Perbanyaklah berdoa dan berdzikir pada hari ini!
Kerjakan amal shalih semaksimal mungkin pada hari ini!

Semoga saya dan anda semua termasuk ke dalam hamba-hamba yang dibebaskan dari siksa api neraka.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Para penonton Tinju Dalam Selimut Dakwah Salaf..

Akhir akhir ini terjadi banyak penolakan terhadap acara kajian atau tabligh akbar yang diadakan oleh teman teman kita, para penggiat dakwah salaf. Banyak analisa dan banyak pula kambing berwarna hitam yang telah dikorbankan. Namun, benarkah kambingnya berwarna hitam? dan benarkan analisa analisa yang ada mampu menyelesaikan masalah dan mencegah agar tidak terulang di kemudian hari?

Sobat! Hal pertama yang sepatutnya kita lakukan untuk mengurangi kejadian serupa, demi terciptanya ukhuwah yang benar-benar Islamy dan berlangsungnya dakwah yang sarah dengan hikmah dan mau’izah hasanah, adalah introspeksi diri: sudahkah anda ikhlas dalam setiap ucapan dan kegiatan anda? Yang pro dan kontra, sudahkah sikap anda karena Allah atau karena emosional sesaat dan fanatis golongan semata?

Hal kedua yang juga sepatutnya dilakukan ialah mewaspadai adanya porovakor, bisa dari dalam selimut anda sendiri dan bisa pula dari luar selimut anda. Dahulu dinyatakan dalam pepatah:

عدو عاقل خير من صديق جاهل

Memiliki musuh yang cerdas seringkali lebih menguntungkan dibanding memiliki teman yang pandir.

Betapa sering teman mendatangkan petaka dalam kehidupan anda, dan sebaliknya betapa sering musuh menjadikan anda sadar untuk waspada dan bersikap bijak dan semakin bijak.

Di antara hal yang barangkali menjadi biang kerok berbagai kejadian di masyarakat ialah adanya orang-orang yang hobi petentang petenteng seakan jagoan debat dan diskusi. Mereka hobi mendebat, memaki, dan menghina orang yang berbeda dengannya, baik via offline terlebih via online Betapa di berbagai media sosial dan net sering terjadi perdebadan kusir, dan caci maki yang mencerminkan akan rendahnya moral pelakunya.

Seakan mereka lupa firman Allah Ta;ala:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (Al Furqan 63)

Dan seakan mereka lupa bahwa perdebatan, makian dan perkelahian walau secara online dapat berbuntut panjang.

Dan kadang kala banyak murid yang puas bila ustadznya bersitegang atau menyerbu ustadz lain, dengan cara mengajukan pertanyaan yang sengaja di kondisikan agar ustadznya nyerang dan nyerang.

Karena itu dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada sahabatnya agar tidak bersikap seperti kawan yang pandir, mencelakakan kawan sendiri dengan dalih membelanya.

Suatu hari sahabat Mu’az bin Jabal meminpin sholat Isya’ dan karena ingin menyempurnakan sholat dan pahalanya, maka beliau membaca surat surat yang panjang.

Ditengah-tengah sholat ada seorang lalaki yang keluar dari shaf dan memisahkan diri dari jamah. Lelaki itu berprofesi sebagai petani yang seharian penuh bekerja di ladangnya, sehingga ia tidak sanggup untuk sholat dengan bacaan yang panjang.

Mengetahui kejadian ini, sahabat Mua’z bin Jabal berkata: sejatinya lelaki itu adalah seorang munafiq.

Merasa tidak terima dengan celaan sahabat Mua’z ini, lelaki itu kejadianya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menjelaskan duduk masalahnya dan berkata: Wahai Rasulullah, sejatinya kami pekerja keras, kerja dengan tangan sendiri (tidak punya karyawan), menyirami ladang dengan bantuan hewan ternak kami. Dan sesunguhnya tadi malam, Mu’az mengimami kami sholat isya’ dan ia membaca surat Al Baqarah, makanya aku mundur dan menyelesaikan sholatku sendiri. Kemudian ia menuduhkan sebagai seorang munafiq. 

( يا معاذ أفتان أنت – ثلاثا – اقرأ { والشمس وضحاها } . و { سبح اسم ربك الأعلى } . ونحوها )

Wahai Mu’az, apakah engkau hobi membuat kekacauan 3x, bacalah surat Was Syamsi wa Dhuhaaha, dan surat Sabihismarabbikal a’ala atau surat lain yang serupa dengannya. (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam kasus lain yang serupa , beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

Wahai ummat manusia, sesungguhnya sebagian kalian menyebabkan orang lain menjauh dari Islam (kebenaran), siapapun dari kalian memimpin sholat, hendaknya ia meringankan sholatnya, karena di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang tergesa gesa karena ada keperluan. (Muttafaqun ‘alaih)

Sudahkah anda menyadari keberadaan provokator dalam selimut anda? atau sudahkah anda mewaspadai setiap ucapan dan sikap anda agar tidak menjadi penyebab menjauhnya masyarakat dari kebenaran?

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى