Dijawab oleh Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :
All posts by BBG Al Ilmu
Menata Futur : Rasa Malas, Enggan, Dan Jenuh Beribadah Dimana Sebelumnya Rajin
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga…
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Ta’ālā yang telah memberikan karunia dan hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam beserta keluarga, shahabat, dan umatnya yang senantiasa istiqamah di jalan Sunnah.
Seorang wanita akan merasa sempurna jika telah menjadi istri. Seorang istri akan merasa sempurna jika ia telah menjadi seorang ibu dan seorang ibu akan merasa lebih bahagia jika ia dapat melayani suaminya, merawat, mendidik serta melihat tumbuh kembang anaknya sendiri. Semua itu bisa dilakukan jika wanita itu menjadi ibu rumah tangga.
Jika seorang wanita ditanya perihal apa pekerjaannya kemudian ia menjawab ibu rumah tangga, mungkin ada rasa minder karena sudah lulus S1 tetapi tidak bekerja di perusahaan untuk mengaplikasikan ilmunya. Bahkan orang lain beranggapan, percuma saja lulus kuliah kalau akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga. Padahal, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia karena ia membangun dan memperkuat pondasi masyarakat yaitu sebuah keluarga.
Wanita Lebih Baik dan Lebih Banyak di Rumah
Menetap dan tinggalnya wanita di rumah merupakan perkara yang disyariatkan oleh Allah Ta’ālā. Allah Ta’ālā berfirman, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu,” (QS. Al-Ahzab:33). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullāh menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah menetaplah kalian di rumah kalian sebab hal itu lebih selamat dan lebih memelihara diri kalian.Tinggalnya wanita di rumah berarti dia melaksanakan urusan rumah tangganya, memenuhi hak-hak suami, mendidik anak-anaknya, dan menambah amal kebaikan. Sedangkan wanita yang sering keluar rumah, akan membuatnya lalai dari kewajiban.
Wanita yang sering keluar rumah, dapat menimbulkan fitnah. Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian dengan fitnah dunia dan fitnah wanita. Sesungguhnya fitnah terhadap bani Israil terjadi dari wanita,” (HR. Muslim). Dalam sabdanya yang lain, “Tidak aku tinggalkan fitnah yang paling berbahaya sepeninggalanku bagi laki-laki melebihi fitnah wanita,” (HR. Bukhari).
Hendaknya sebagai wanita kita harus senantiasa menjaga diri agar tidak menimbulkan fitnah, Karena jika seorang wanita keluar rumah maka setan akan menghiasinya dan membuat orang lain indah memandangnya.Kendati demikian, wanita boleh keluar rumah jika ada kebutuhan. Rasulullah bersabda, “Telah diizinkan bagi kalian kaum wanita keluar rumah untuk keperluan dan kebutuhan kalian,” (HR. Al-Bukhari).
Banyak di rumah bukan berarti wanita akan menjadi “katak dalam tempurung”. Di dalam rumah dia bisa melakukan aktivitas bermanfaat untuk kehidupan dunia-akhiratnya.
Selengkapnya:
https://muslimah.or.id/7230-bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga-2.html
Kaidah Bagus
Sebelum salam = banyak berdo’a.
Setelah salam = banyak berdzikir.
========
Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya:
Manakah yang lebih afdhol untuk do’a “Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik..” dibaca sebelum salam atau sesudah salam, ataukah yang lebih afdhol dibaca di dua waktu itu..?
Beliau menjawab:
Yang lebih afdhol do’a itu dibaca sebelum salam, karena seperti itulah dia datang dalam sebagian riwayat, dan karena do’a itu tempatnya sebelum salam, sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud, setelah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menyebutkan tasyahud, beliau menyabdakan: “kemudian hendaklah dia memilih sebagian do’a-do’a yang dia kehendaki..”
Berdasarkan keterangan ini, maka seorang yang sholat membaca do’a “Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik” sebelum salam.
Adapun setelah salam, apa yang Allah firmankan..?
Dia berfirman (yang artinya): “Apabila kalian telah selesai sholat, maka BERDZIKIRLAH kalian kepada Allah..” [An-Nisa’: 103]. Di ayat ini, Allah TIDAK mengatakan: “maka berdo’alah kalian kepadaNya..”
[Sumber: Liqo’ul babil maftuh 22/255].
Dalam kesempatan lain beliau juga mengatakan:
“Sesungguhnya Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah mengarahkan kita tentang waktu berdo’a di dalam sholat, beliau -‘alaihis sholatu wassalam- mengatakan saat mengajari Abdullah bin Mas’ud tentang tasyahud “kemudian setelah itu, hendaklah dia memilih sebagian do’a-do’a yang dia kehendaki..” Ini menunjukkan bahwa tempat do’a adalah sebelum salam, bukan setelahnya.
Kemudian penalaran yang lurus juga menunjukkan hal ini, yakni bahwa do’a itu waktunya sebelum salam, karena selagi engkau dalam sholatmu, maka engkau sedang bermunajat kepada Allah ‘azza wajall. Kemudian setelah engkau bersalam, maka terputuslah munajat dan hubungan antara engkau dengan Allah.
Maka, manakah yang lebih baik, berdo’a ketika engkau dalam keadaan bermunajat kepada kepada Allah… ataukah berdo’a setelah selesai sholat dan setelah hubungan itu putus..?! Tentunya keadaan pertama yang lebih baik.
Oleh karena itu, bagi yang ingin berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala, maka berdo’alah sebelum salam..”
wallohu a’lam.
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Apakah Anda Sudah Mengenal Karakter Utama Suami/Istri Anda …?
Bagi anda para Suami dan Istri, apakah anda sudah mengenal karakter utama pasangan anda ? ….simak penjelasan dari Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى berikut ini… Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum….
Karakter utama Suami yang harus diketahui dan dimaklumi istri :
Karakter utama Istri yang harus diketahui dan dimaklumi suami :
Penghalang Dikabulkannya DO’A
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Keutamaan Memaafkan…
Ketika engkau ragu untuk memaafkan
dan mengampuni (kesalahan orang lain),
janganlah engkau melihat seberapa
besar penderitaan dan musibah yang
menyusahkan yang diberikan kepadamu.
Akan tetapi, lihatlah seberapa besar
pahala dan pemberian yang akan kau
dapatkan (berupa kebaikan di dunia dan
kenikmatan di akhirat).
Khalid Al Mushlih, حفظه الله تعالى
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Merasa Diawasi Allah…
Pada suatu malam ada seorang lelaki yang merayu seorang wanita di tengah padang pasir. Akan tetapi wanita itu enggan memenuhi ajakannya.
Lelaki itu berkata, “Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.”
Wanita itu berkata, “Lalu dimanakah yang menciptakan bintang-bintang itu?!”
(lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 33)
Courtesy of Mutiara Risalah Islam
Belajar BERSABAR bersama Syeikhul Islam (18-20, selesai)…
Selanjutnya yang bisa membantu orang untuk bersabar dan memaafkan orang lain adalah dengan memahami hal-hal berikut ini:
18. Bahwa sikap sabar dan memaafkan akan menjadi pasukan terkuatnya dalam mengalahkan musuhnya… terutama dari sisi perasaan lawannya.
Musuh itu akan merasa hina di hadapannya dan merasa takut kepadanya… bahkan dia akan takut kepada manusia, karena mereka tidak akan diam melihatnya, walaupun yang dizalimi mendiamkannya.
Tapi apabila dia membalas, semua ini akan hilang darinya… makanya, biasanya orang yang mencela atau mengganggu orang lain, dia akan berharap musuhnya membalasnya… bila musuhnya sudah membalas, hatinya akan tenang dan merasa terbebas dari beban yang dipikulnya sebelumnya.
19. Apabila kita memaafkan, maka musuh akan merasa bahwa kita di atasnya, dia akan melihat dirinya selalu di bawah kita… dan inilah bukti nyata dari sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam:
وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا
“Tidaklah Allah memberikan seorang hamba dari sikapnya memaafkan, melainkan kemuliaan”.
20. Jika kita memaafkan, maka itu akan menjadi kebaikan, yang nantinya akan menelurkan kebaikan lainnya, lalu kebaikan lainnya itu akan menelurkan kebaikan lainnya, dan begitu seterusnya.
sehingga kebaikannya akan selalu bertambah, karena diantara balasan dari kebaikan adalah kebaikan lainnya, sebagaimana balasan dari keburukan adalah keburukan lainnya.
Dan bisa jadi sikap sabar dan memaafkannya itu menjadi sebab selamatnya dia dari neraka, dan kebahagiaan abadinya di surga Allah ta’ala.
Jika dia membalas, maka hilanglah semua kebaikan itu darinya, wallohu a’lam.
Demikian, semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, untuk menjadi hamba yang selalu bersabar dan mudah memaafkan, serta selalu yakin dengan indahnya balasan… hingga Allah memasukkan kita semua dalam firdaus-Nya, amin.
Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى
Tentang ilmu Laduni…
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :

