All posts by BBG Al Ilmu

Istri-istri Kejam! Lebih Cinta Kepada Kulkasnya Dibanding Suaminya…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Bulan ramadhan adalah momentum istimewa untuk membuktikan nilai nilai ketakwaan kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama manusia. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kalian niscaya kalian menjadi orang orang yang bertaqwa.”  (Al Baqarah 183 )

Namun demikian, betapa disayangkan, pada kenyataannya, kini bulan Ramadhan malah menjadi momentum bagi sebagian kaum wanita untuk membuktikan kekejamannya kepada suami dan anak-anaknya.

Anda tidak percaya? Atau barang kali sebagia wanita, anda merasa tersinggung dengan ucapan ini?

Sobat! Izinkan saya membuktikannya, betapa banyak di bulan Ramadhan kaum ibu/wanita yang berkata kepada suami atau anak anaknya: “ayolah ayah, habiskan sisa hidangan yang tinggal sedikit, jangan sampai menuh menuhi kulkas kita”.
” ayolah nak, habiskan hidangannya, ibu malas kalau menyimpannya lagi di kulkas, kulkasnya sudah penuh.”

Anda pernah berkata demikian? Atau pernahkah istri saudara mengatakan demikian?

Sekilas nampak mencerminkan rasa sayang, namun sejatinyan menyimpan kekejaman yag luar biasa. Betapa tidak, istri atau ibu itu tanpa sadar lebih senang bila perut dan tubuh suami atau anak anak ya menjadi tempat penimbunan makanan yang tidak habis, namun mereka tidak rela bila kulkasnya dipenuhi atau terus menjadi tempat menimbun/menyimpan sisa makanan.

Akibatnya, di bulan ramadhan banyak orang yang kekenyangan& bisa jadi kolesterol dan gula darahnya meningkat.

Romadhan yang sehatusnya melatih kita untuk emngurangi konsumsi makan dan minum namun faktanya malah melipatgandakan jumlah makanan dan minuman yang kita santap. Mungkin inilah salah satu biang yang menjadikan kita merasa bahwa ramadhan terasa hampa.

Walau Carut Marut, Namun Mentari Harapan Pasti Bersinar…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Carut marutnya negri kita atau centang berentangnya masyarakat anda, bukanlah alasan bagi anda untuk pesimis, apalagi menyombongkan diri dengan merasa bahwa hanya anda yang benar atau selamat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

” إذا قال الرجل: قد هلك الناس، فهو أهلكهم

Bila ada orang yang berkata: semua masyarakat telah binasa, maka dialah sejatinya orang yang paling binasa. ( Ahmad dan lainnya )

Seburuk apapun kondisi yang ada, maka percayalah banyak kebaikan yang masih menyelimuti kehidupan kita. Bahkan bila direnungkan dengan baik, setiap keburukan yang terjadi maka sejatinya itu adalah nikmat dari sisi lain. Semuanya itu sederhana saja, yaitu dari mana anda memikirkan dan memandang kondisi yang ada? Bila anda memandangnya dari sudut yang negatif maka nampak negatif, namun bila anda memandangnya dari sisi yang positif, maka sekejap semuanya berubah menjadi nikmat dan indah.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal hal itu adalah baik untuk kalian, dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal hal itu adalah buruk bagi kalian. Dan allah mengetahui sedangkan kalian tidaklah mengetahui. ( Al Baqarah 216 )

Di saat anda ditipu seseorang, sesaat terasa menyakitkan, namun ketahuilah bahwa kejadian itu membawa sejuta kebaikan, anda menjadi lebih waspada dan mengenali bahwa orang yang selama ini anda puja dan sanjung ternyata musang berbulu domba, sehingga esok hari anda tidak tertipu untuk kedua kalinya. Karena itu dahulu Nabi shalallallahu alaihi wa sallam selalu memuji Allah atas segala kondisi yang menimpa beliau.

Tugas Dalam Sisa Waktu Di Bulan Sya’baan Untuk Menyambut Ramadhan…

Ustadz Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Berapakah umur anda?
Berapa Ramadhan yang telah anda temui?

Apakah seseorang yang sudah 20 tahun bertemu dengan Ramadhan memiliki perasaan yang sama dengan seorang muallaf yang akan menjumpai Ramadhan pertamanya sebagai seorang muslim?

* Kaidah mengatakan:

كثرة المساس تميت الاحساس

“Seringnya berinteraksi bisa mematikan sensitifitas”.

Dari kaidah diatas tahulah kita betapa pentingnya bagi kita yang sudah sering kali bertemu dengan bulan suci umat Islam, bulan penuh rahmat dan keberkahan, bulan penuh magfiroh dan ampunan, untuk tetap menjaga semangat kita agar tidak cenderung bosan dalam menyambut bulan istimewa ini.

Namun tahukah anda bahwa bulan yang sangat mulia ini ternyata bisa membuat kita celaka?

* Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له

“Celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan tidak diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala”.
[Hadits Imam Muslim]

Bulan suci Ramadhan bagaikan pisau bermata dua, yang apabila kita tidak memanfaatkannya maka akan membuat kita celaka. Berikut adalah PR (pekerjaan rumah) di akhir hari-hari Sya’ban untuk mensiasati penyambutan kita terhadap bulan Ramadhan :

1. PEMANASAN

Bulan Ramadhan adalah BULAN PERLOMBAAN BAGI AHLI TAQWA.

* Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”.
[QS. Al-Baqarah: 148]

Allah-lah yang menyatakan bahwa kebaikan adalah suatu perlombaan. Bagaikan seorang atlit yang akan bersiap untuk berlomba, seorang muslim harus bersiap untuk perlombaan di bulan penuh keberkahan.

Biasakanlah kembali membaca Al-Qur’an yang sudah lama tidak kita sentuh, bangunlah pada malam hari dan perpanjang durasi sholat malam anda, jadikan siang anda dalam keadaan berpuasa, amalkan amalan-amalan sunnah agar anda terbiasa ketika memasuki bulan Ramadhan.

2. KUMPULKAN ILMU YANG KOMPLIT TENTANG BULAN RAMADHAN

* Allah Ta’aala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”.
[QS. Al-Israa: 36]

* Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

العلم قبل القول و العمل

“Ilmu sebelum perkatan dan perbuatan”.
[Hadits Shahih Bukhori]

Kumpulkanlah ilmu mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan,
kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, hal-hal yang membatalkan puasa, dsb.

3. MEMPELAJARI HIKMAH AMALAN DI BULAN RAMADHAN

* Imam Al-Qurtubi mengatakan bahwa, ‘salah satu faktor kegagalan seseorang yang sudah beribadah adalah ketidaktahuannya.

Maka kita harus mencari hikmah dibalik amalan-amalan di bulan suci Ramadhan. Misalnya, sebagaimana kita menjaga diri kita dari perbuatan maksiat ketika berpuasa, Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan ini kita harus memiliki rem untuk perbuatan maksiat.

4. PERBANYAK ISTIGFAR DAN TAUBAT

Pernahkah anda merasa bahwa semakin hari ibadah Ramadhan anda semakin tidak maksimal? Bukankah semakin hari jamaah sholat subuh di masjid semakin maju, dikarenakan makmumnya hanya tinggal satu shaff ?

* Simak baik-baik firman Allah Ta’alaa berikut:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. [QS. Al-Mutoffifiin: 14]

Ma syaa Allah, ternyata yang membuat kita cepat merasa capek dalam melaksanakan ibadah adalah beban dosa yang menutupi hati kita. Maka perbanyaklah istigfar dan bertaubat sebelum dan ketika memasuki Ramadhan.

5. TAWAKKAL KEPADA ALLAH

* Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mewujudkan cita-citanya”. [QS. At-Talaq: 3]

Bertawakallah kepada Allah dalam menjalani ibadah bulan suci Ramadhan, dan janganlah mengandalkan diri kita. Sebagaimana bacaan doa dzikir pagi dan petang yang diajarkan Rasulullaah shallaahu ‘alaihi wa sallam:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومْ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, Wahai Rabb Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu)”.

6. DOKTRIN DIRI KITA BAHWA BISA JADI INI ADALAH RAMADHAN TERAKHIR KITA

Perbanyaklah mengingat bahwa bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita. Ingat akan hal ini saat canda tawa keluarga menghiasi waktu berbuka anda, saat bangun anda untuk bersahur, saat sujud anda dalam sholat tarawih, saat kebahagiaan menghiasi hati anda ketika bersedekah, syukuri setiap momen dalam bulan ini karena bisa jadi anda tidak akan pernah menjumpainya lagi.

7. BUAT TARGET IBADAH RAMADHAN

Berapa kali anda ingin khatam Al-Qur’an di bulan ini? Berapa lembar yang harus anda baca dalam sehari untuk mencapai target khatam anda? Buatlah jadwal untuk membantu menuntaskan target tersebut, dan korbankanlah aktifitas dunia di bulan Ramadhan, seperti mengurangi jadwal berbuka puasa bersama yang mengurangi waktu anda dalam beribadah di bulan dimana Allah membuka segala pintu kebaikan, dan meminimalisir segala bentuk kemaksiatan.

Sumber :
Catatan seorang jama’ah dalam kajian ‘Meet and Greet Ramadhan’ yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله تعالى pada hari Rabu 10 Juni 2015, dan disaksikan langsung oleh Admin.

Semakin Manusia Jauh Dari ISLAM; Cara Pandang Dan Praktek Hidup Mereka Akan Semakin Terbalik…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal itu sangat kita rasakan di zaman ini:

1. PAKAIAN kaum wanita semakin terbuka dan sempit, dibanding pakaian lelaki.

Celana lelaki melebihi mata kaki, yang wanita ngatung di atas mata kaki, bahkan hal itu tampak pada seragam resmi sekolah dan instansi antara lelaki dan wanita.

Padahal wanita harusnya lebih tertutup daripada lelaki.

2. KUBURAN orang saleh, lebih rame daripada masjid… Padahal, masjid rumah Allah yang Maha Hidup, sedang kuburan rumah makhluk yang sudah mati.

Kalau mereka menginginkan keberkahan, bukankah rumah Allah lebih pantas dijadikan tujuan, karena Allah adalah sumber semua keberkahan.

3. Lebih KHUSYU’ ketika berdoa di kuburan daripada ketika berdoa di masjid, bahkan lebih khusyu’ daripada ketika dia sedang sholat menghadap Allah.

Padahal harusnya dia lebih khusyu’ ketika menghadap Allah dan sedang berada di rumahNya, daripada ketika berdoa dalam ziarahnya menghadap mayat yang tak berdaya.

4. Memerintahkan orang yang taat beribadah, untuk MENGHORMATI orang yang meninggalkan ibadah… padahal harusnya sebaliknya…

Bahkan harusnya yang meninggalkan ibadah tanpa udzur itu diingkari dan ditindak secara hukum… begitu pula orang yang memberikan sarana untuk melanggar syariat ibadah.

5. Memerintahkan orang yang diserang dan dirusak rumahnya, agar arif dalam bermasyarakat dan toleran.

Padahal sebenarnya, siapakah yang sebenarnya tidak arif dan tidak toleran, yang dianiaya ataukah yang menganiaya… siapakah yang tidak rahmatan lil alamin.

Sungguh mengherankan, mereka bisa diajak toleran dengan orang kafir, tapi antipati bila diajak toleran dengan saudaranya sendiri.

6. Memandang aneh orang berjilbab besar atau cadaran, sedang mereka tidak menganggap aneh terhadap saudarinya yang berpakaian minim dan ketat.

Padahal, harusnya sebagai kaum muslimin, manakah yang lebih dicintai Allah dan Rosul-Nya shollallohu alaihi wasallam?

7. Mereka lebih zuhud terhadap akherat, daripada terhadap dunia… padahal mereka tahu, bahwa akherat itu lebih kekal dan lebih sempurna nikmatnya.

Bukankah seharusnya mereka lebih berzuhud terhadap dunia, daripada terhadap akherat?

8. Ortu lebih semangat memilihkan anak kecilnya untuk sekolah umum yang minim agama, daripada sekolah yang agamanya kuat… bukan karena keuangan yang kurang, tapi karena motivasi duniawi… padahal harusnya sebaliknya, karena akherat lebih penting daripada dunia.

9. Orang lebih sedih ketika kehilangan harta daripada saat kehilangan pahala… banyak kesempatan mendapatkan pahala mereka lewatkan tanpa sedikitpun ada rasa kecewa… bahkan mereka menikmati ghibah, yang dengannya pahalanya banyak yang hilang.

Coba, bila yang hilang itu adalah harta… bagaimana kecewa dan sedihnya mereka.

10. Kalau untuk masalah dunia penginnya yang wah… kalau masalah akherat ecek-ecek tidak ada yang salah.

11. Kalau untuk masalah agama, semua berhak bicara… kalau masalah dunia hanya orang ahlinya saja yang berhak bicara.

12. Kalau ingin berbuat baik, ada rasa malu.. bahkan berpenampilan islami saja malu.. padahal di sana banyak orang berbuat buruk dan bebas berpenampilan tak senonoh tanpa malu.

Selanjutnya, silahkan tambah sendiri..

Wahai kaum muslimin, berbenahlah… mendekatlah kepada Islam yang mulia… Dan pakailah kacamata Islam dalam memandang sesuatu, bila Anda mengaku sebagai bagian dari Islam.

Semoga bermanfaat…

Kesabaran Yang Tercela…

Ust. Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Kesabaran adalah amalan yang sangat mulia. Namun kesabaran juga dapat menjadi dosa jika tidak digunakan dengan tepat.

Para pelaku maksiat, pelaku kesyirikan, mereka juga bersabar dalam menjalankan kemaksiatan dan kesyirikannya tersebut, sehingga diikuti oleh banyak orang.

Lalu kenapa kita yang menyebarkan kebaikan tidak bisa untuk bersabar?

Dunia Dan Akherat, Manakah Yang Dominan Di Hati Anda…

Sayyar Abul Hakam -rohimahulloh- mengatakan:

Dunia dan akherat akan berkumpul di hati seorang hamba, maka mana yang dominan, berarti yang lain mengikutinya“.

[Hilyatul Auliya 8/313]

———

Oleh karenanya, jadikanlah akherat sebagai isi hati Anda yang dominan, agar dunia mengikutinya dan menjadi sarana untuk meraihnya.

Jangan sampai sebaliknya, sehingga akherat Anda hanya sebagai sarana untuk meraih dunia… sungguh musibah yang sangat dahsyat buruknya.

Bagaimana pantas kehidupan hakiki sebagai ganti dunia yang lebih rendah daripada seonggok bangkai?!

Suatu saat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam melewati BANGKAI anak kambing yang cacat telinganya, maka beliau menyabdakan:

Sungguh dunia di mata Allah, lebih hina daripada (bangkai) ini di mata kalian“.

[HR. Muslim: 2957].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Kisah Pencuri Di Rumah ‘Ulama… Sungguh Mengharukan…

Ustadz Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

SUBHANALLAH INDAHNYA AKHLAQ ORANG YANG BERILMU…

Akhlak yang mulia dan budi pekerti luhur itu memang lebih menyentuh daripada untaian kalimat. Nasihat dengan keteladanan lebih mengena daripada ucapan lisan. Itulah yang dipraktikkan oleh seorang ulama Rabbani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Selain menasihati umat dengan lisan dan tulisan, beliau juga membuat hati manusia tunduk dan jiwa-jiwa terketuk dengan keteladanan. Di antara contoh yang sangat mengagumkan dari keteladanan beliau adalah bagaimana beliau memperlakukan seorang pencuri yang tertangkap basah menyatroni rumahnya.

Salah seorang penuntut ilmu menceritakan:

Saat aku beri’tikaf di Masjid al-Haram di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, aku menghadiri majelisnya Syaikh Ibnu Utsaimin yang diadakan setelah shalat subuh usai. Ada seseorang bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan yang menurutnya terdapat kerancuan dan bagaimana pandangan Syaikh Ibnu Baz terhadap kasus tersebut. Syaikh Ibnu Utsaimin pun menanggapi si penanya dan memuji Syaikh Ibnu Baz rahimahumallahu jami’an.

Saat aku sedang hanyut dalam pembahasan pelajaran, tiba-tiba seorang laki-laki di sampingku –mungkin usianya akhir 30-an- sedang berurai air mata. Kemudian isak tangisnya mulai merambat ke telinga para peserta kuliah subuh itu.

Ketika pelajaran usai, kulemparkan pandanganku kepada laki-laki yang menangis tadi. Kulihat ia tengah memegang mush-haf dan tenggelam dalam kesedihannya. Kudekati dia meskipun terlihat ia tampak menghindar. Kuucapkan salam padanya dan kemudian aku bertanya, “Kaifa haaluka yaa akhi? Maa yubkiika?” (Apa kabarmu saudaraku? Apa yang membuatmu menangis?) Ia menjawab dengan suara parau yang tidak jelas. Terdengar hanya jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).

Aku pun mengulangi pertanyaanku, “Maa yubkiika akhi?” (Apa yang membuatmu menangis?).

Dengan wajah bersunggut-sunggut kesedihan ia menjawab, “Laa laa syai-a, innama tadzakkartu Ibnu Baz, fabakaitu” (Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat Ibnu Baz. Kemudian aku pun menangis.).

Aku menangkap logatnya, aku tahu ia adalah seorang yang berasal dari Pakistan walaupun ia mengenakan pakaian Saudi. Akhirnya ia pun bercerita:

Dulu aku mengalami sebuah kejadian bersama beliau. Sekitar 10 tahun yang lalu, aku bekerja sebagai seorang satpam di salah satu pabrik di Kota Thaif. Kemudian sepucuk surat dari Pakistan sampai kepadaku. Surat ini membawa kabar bahwa ibuku dalam keadaan sekarat/koma. Dokter menyatakan harus segera dilakukan operasi transplantasi ginjal. Dan biayanya sebesar 7.000 Riyal Saudi. Sedangkan aku hanya memiliki 1.000 Riyal. Tidak kutemui seorang pun yang dapat membantuku demikian juga dari perusahaan.

Jika operasi tidak dilakukan dalam waktu satu pekan, kemungkinan ibuku akan meninggal. Keadaannya benar-benar tinggal menghitung hari. Aku menangisi ibuku. Karena dialah yang mengasuhku. Yang bergadang di malam hari untuk menjagaku. Situasi kepepet ini pun membuatku nekad. Akhirnya aku melompat masuk ke salah satu rumah di dekat pabrik tempatku bekerja. Kumasuki tempat itu pukul dua dini hari.

Setelah aku berhasil meloncati pagar rumah itu, beberapa saat kemudian tanpa kusadari petugas keamanan telah menangkapku. Mereka melemparku ke dalam mobil. Saat itu, betapa gelap dunia ini kurasakan.

Kemudian, menjelang shalat subuh, datanglah seorang polisi. Ia mengembalikanku ke rumah yang kusatroni tadi. Yang hendak kujarah barangnya. Polisi itu menempatkanku di suatu tempat, lalu ia pergi berlalu.

Beberapa saat kemudian datang seorang pemuda dengan membawa makanan. Ia berkata, “Kul! Bismillah” (Makanlah dengan menyebut nama Allah).

Aku heran dan bingung. Sebenarnya aku sedang berada dimana?

Saat adzan fajar berkumandang, orang-orang di rumah itu berkata kepadaku, “Tawadhdha’ lish shalah” (Wudhulah untuk shalat). Rasa khawatir dan takut menggerayangi tubuhku.

Lalu muncullah seorang laki-laki yang sudah sepuh. Ia dituntun oleh seorang pemuda menuju padaku. Laki-laki tua itu menyalamiku kemudian mengucapkan salam. “Hal akalta?” (Sudah makan?) tanyanya. “Na’am” jawabku. Ia pun meraih tangan kananku lalu menggandengku pergi bersama ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.

Setelah shalat, kulihat laki-laki tua yang memegang tanganku itu duduk di sebuah kursi di baris depan masjid. Para jamaah dan pelajar pun mendekat, duduk di sekelilingnya. Mulailah Syaikh itu menyampaikan pelajaran.

Seketika itu kuletakkan kedua tanganku di kepala. Aku malu dan aku juga takut. “Ya Allaaah.. apa yang sudah aku lakukan??? Aku mencoba mencuri di rumah Syaikh Ibnu Baz” gumamku. Aku tahu, nama Syaikh Ibnu Baz karena beliau begitu tenar di negaraku Pakistan.

Setelah pelajaran usai, Syaikh kembali membawaku ke rumahnya. Dengan hangat, ia kembali menggapai tanganku dan mengajakku sarapan pagi. Sarapan yang dihadiri banyak orang-orang. Ia dudukkan aku di sampingnya. Sambil menyantap sarapan beliau bertanya, “Masmuka?” (Siapa namamu?) “Murtadha.” Jawabku.

Aku pun menceritakan kisahku kepadanya. Beliau menanggapi, “Hasanan.. sanu’thika 9.000 Riyal.” (Baik, akan kami berikan 9.000 Riyal untukmu). “Al-mathlub 7.000 Riyal” (Yang dibutuhkan hanya 7.000 Riyal).

Beliau menanggapi, “Sisanya ambillah untukmu. Tetapi jangan kau ulangi lagi perbuatan mencuri itu wahai anakku”. Aku pun mengambil uang itu. Kuucapkan terima kasih kepadanya. Dan kudoakan kebaikan untuknya.

Setelah itu aku pulang ke Pakistan untuk membiayai operasi ibuku. Alhamdulillah ibuku bisa kembali sembuh.

Lima bulan kemudian, aku kembali ke Saudi. Dan langsung menuju Riyadh. Aku mencari Syaikh dan kukunjungi kediamannya. Aku sudah mengenalnya sekarang. Begitu pula beliau, tidak lupa padaku. Beliau bertanya tentang ibuku. Lalu aku berikan kepada beliau 1500 Riyal. Segera beliau bertanya, “Maa hadza?” (Apa ini?) “Al-Baaqi” (Sisanya) jawabku. Lalu beliau berkata, “Huwa laka” (Uang itu untukmu).

Aku kembali mengajukan permintaan kepada Syaikh, “Syaikh, aku ada permintaan”. “Apa itu wahai anakku?” katanya.

“Aku ingin bekerja padamu. Jadi pembantu atau yang lainnya. Aku mohon Syaikh, jangan tolak permintaanku. Semoga Allah senantiasa menjagamu”. Pintaku. “Hasanan” (Baiklah) jawabnya.

Lalu aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga beliau rahimahullah wafat.

Salah seorang yang dekat dengan Syaikh mengabarkan kepadaku, “Tahukah engkau, saat kau melompati pagar rumah beliau. Beliau sedang shalat malam dan mendengar suara gaduh di halaman rumahnya. Lalu beliau menekan bel yang biasa ia gunakan untuk membangunkan orang-orang di rumahnya saat-saat shalat wajib saja. Mereka semua terbangun dan merasakan ada suatu kejanggalan. Lalu beliau memberi tahu bahwa ada suara ribut-ribut di halaman. Mereka pun menyampaikannya ke satpam, lalu satpam menelpon polisi. Tanpa menunggu lama mereka pun menangkapmu.

Syaikh pun bertanya apa yang terjadi. Orang-orang di rumahnya mengatakan ada pencuri, dan polisi telah menggelandangnya. Syaikh pun marah, lalu berkata, “Jangan, jangan.. bebaskan dia sekarang dari kantor polisi. Aku yakin dia tidak mencuri kecuali karena sangat terdesak. Kemudian kejadiannya sebagaimana yang sudah engkau ketahui”.

Aku (yang bertanya) berkata kepada sahabatku (yang bercerita), “Sekarang matahari telah terbit (sudah pagi). Seluruh umat ini terasa berat dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.
—–

Semoga Allah senantiasa merahmati Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan menempatkannya di surga yang penuh dengan kenikmatan.. Amin..

Sumber:
http://forum.islamstory.com/

1350. Do’a Dalam Sujud…

1350. BBG Al Ilmu – 199

Tanya :
Benarkah pada saat kita sujud sholat, kita diperkenankan untuk sekaligus berdo’a ?

Jawab :
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rohimahullah pernah ditanya pertanyaan serupa dan beliau menjawab : 

“Disyariatkan bagi seorang mukmin untuk berdo’a ketika shalatnya di saat yang disunnahkan untuk berdo’a, baik ketika shalat fardhu maupun shalat sunnah. Adapun saat berdo’a katika shalat adalah tatkala sujud, duduk di antara dua sujud dan akhir salat setelah tasyahud dan shalawat atas Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebelum salam…

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa (ketika itu)”

Di dalam Ash-Shahihian dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan tasyahud kepadanya berkata : “Kemudian hendaknya seseorang memilih permintaan yang dia kehendaki”

Dalam lafazh yang lain :  “Kemudian pilihlah do’a yang paling disukai lalu berdo’a”

Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak. Hal ini menunjukkan disyariatkannya berdo’a dalam kondisi-kondisi tersebut dengan do’a yang disukai oleh seorang muslim, baik yang berhubungan dengan akhirat maupun yang berkaitan dengan kemaslahatan duniawiyah. Dengan syarat dalam do’anya tidak ada unsur dosa dan memutuskan silaturahim. Namun yang paling utama adalah memperbanyak do’a dengan do’a yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”

Ref : http://almanhaj.or.id/content/1560/slash/0/apakah-boleh-seseorang-berdoa-ketika-shalat-fardhu/

Contoh do’a dalam sujud, KLIK link berikut :
https://bbg-alilmu.com/archives/13470

Atau bisa memilih do’a-do’a lain dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, KLIK dan scroll down :
https://bbg-alilmu.com/archives/category/display-picture-dakwah

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1349. Ketika Keluarga Meminta Kita Ikut Acara Bid’ah…

1349. BBG Al Ilmu – 109

Tanya :
Assalamualaikum, mau tanya, saudara-saudara saya mau mengadakan acara pengajian/khaul ibu saya. Saudara saya minta saya untuk membantu atau patungan untuk acara tersebut. Saya tau acara tersebut merupakan bid’ah. Bagaimana saya menyikapinya ?, kalau saya tidak ikut patungan nanti dikira tidak peduli atau pelit. Mohon jawabannya akh. Syukron.

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Disampaikan saja secara terus terang, bahwa acara haul memperingati kematian tidak ada dalam ajaran agama islam, tidak pernah dilakukan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula di lakukan oleh para sahabat, dan generasi para Salafus-Sholih, dan tidak dilakukan oleh ulama Islam. Perbuatan tersebut adalah budaya dan adat istiadat yang mengikuti orang-orang hindu yang menjadi kebiasaan orang islam, dan semacam ini hendaknya di tinggalkan.

Bisa menasehati keluarga tersebut secara lisan, tulisan, media, dan sebagainya. Sekiranya anda memberikan sumbangan, maka niat kan untuk semata-mata sedekah, dan anda mengingat kan dengan nasehat, anda berlepas diri dari perbuatan yang mereka lakukan. Dengan demikian Anda dapat meminimalkan beban tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala kelak hari kiamat.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊