All posts by BBG Al Ilmu

1356. Pakaian Yang Ada Noda Darah Luka, Apakah Bisa Dipakai Untuk Sholat ?

1356. BBG Al Ilmu

Tanya :
Assalamu’alaykum ustadz, mau tanya, apakah darah itu najis ? Soalnya kemarin maghrib saya baru ingat bahwa sewaktu sholat ‘ashar sebelumnya, saya pakai celana yang ada noda darah dari luka di bagian tubuh.

1. Apakah saya ulangi sholat ‘ashar-nya ustadz ?

2. Dikemudian hari bila saya sadar ada noda darah di celana sebelum sholat dan gak bisa dihilangkan dengan air, apakah harus saya lepas ganti sarung atau boleh memakainya untuk sholat ?

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, Lc, حفظه الله تعالى

و عليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Darah (luka atau keluar dari tubuh kita) TIDAK najis. Makanya, seorang yang habis dibekam TIDAK disyariatkan mencuci badan yang terkena darah sebanyak 7x yang salah satunya dengan tanah (tathir syar’i).

Oleh karena itu, anda tidak perlu mengulangi shalat dan tidak harus melepas celana yang terkena darah untuk dipakai shalat.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1355. Sudah Sholat Di Waktu Syuruq, Perlukah Sholat Dhuha ?

1355. BBG Al Ilmu

Tanya :
Assalamu’alaykum Ustadz, bila kita sudah sholat syuruq tadi pagi, apa masih harus melakukan sholat dhuha lagi ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Sebagian ulama berfatwa jika telah melakukan sholat syuruq, maka cukup bagi nya untuk melakukan shalat dhuha. Kalimat syuruq masuk dalam waktu dhuha.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1354. Rumah Dan Tempat Kerja Di Dua Kota Yang Berjauhan, Bagaimana Dengan Sholatnya ?

1354. BBG Al Ilmu – 237

Tanya :
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Mau Tanya persoalan terkait safar. Saya tinggal di Kota A berjarak sekitar 200 km dari Kota B. Namun saya kerja di Kota B (nge-kos) dan setiap Jum’at saya pulang ke kota A, senin pagi berangkat lagi kerja di Kota B, begitu seterusnya. Apakah saya dikatakan safar dan harus mengQoshor sholat wajib selama kerja di kota B dalam waktu yang tidak bisa ditentukan ?

*nb: saat ini saya sudah 8 bulan kerja di kota B.

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Jika ia telah menetap di kota B dengan kehidupan yang biasa sebagaimana halnya di rumah sendiri, maka ia di hukumi sebagai MUQIM, BUKAN sebagai MUSAFIR.

Sehingga dalam kesehariannya, ia tidak boleh qoshor dan tidak ada keringanan-keringanan musafir lain-nya. Kecuali tatkala dalam perjalanan pulang balik-nya, ia bisa mengambil hukum musafir.

Maksudnya, di kota A ia muqim secara hakiki, adapun di kota B ia muqim secara hukum. Musafir HANYA dalam perjalanan pergi dan pulangnya saja (antara ke 2 kota tersebut).

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1353. Seputar Durasi Dan Do’a Dalam Sujud

1353. BBG Al Ilmu – 237

Tanya :
Mau tanya terkait dengan lamanya ruku dan Sujud Dzikir apa yang sebaiknya di baca menurut Sunnah, ataukah Dzikir yang ada di baca ber ulang-ulang ?

Jawab :
Dalam Fatawa Syabakah islamiyah dinyatakan:
“Memperlama sujud, secara umum dibolehkan. Akan tetapi mengkhususkan sujud terakhir atau sujud tertentu lainnya adalah perkara yang tidak dinukil dari dalil. Jika terjadi sekali atau bertepatan dengan butuh banyak doa maka tidak masalah, dan tidak boleh dijadikan kebiasaan. Ini jika orang tersebut shalat sendirian. Adapun jika dia menjadi imam maka tidak selayaknya memperlama sujud, sehingga memberatkan orang yang berada di belakangnya.”

ref :http://www.konsultasisyariah.com/memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah/#

Mengenai lamanya ruku’, sujud, terdapat dalil berikut :
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan (yang artinya) :
“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” (HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471)

Tentang do’a dalam sujud :

* simak penjelasan (audio) Ustadz Badru Salam berikut ini : https://bbg-alilmu.com/archives/9978

* http://rumaysho.com/shalat/sifat-shalat-nabi-10-cara-sujud-7125.html

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1352. Anak Pindah Agama – Berdosakah Orangtuanya..?

1352. BBG Al Ilmu – 391

TANYA :
Asalamualaikum. Apakah hukum bagi orang tua (muslim) yang anaknya pindah ke nasrani..?

JAWAB :
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Pindah agama atau murtad adalah perbuatan yang terkutuk, yang dimurkai Allah Ta’ala, jika orang tua telah memberikan nasihat, menyampaikan jalan yang benar, berupa sekuat tenaga untuk menjaga agama nya, namun sang anak tetap memilih jalan neraka, maka sebagai orangtua tidak dibebankan dosa nya, karena anak memilih jalan sendiri, dan hakikatnya dia bukan anaknya.

Allah Ta’ala berfirman, tentang kisah Nabi Nuh ‘alayhissalaam bersama anak nya yang tidak mengikuti ajaran nya tatkala adzab datang,

” وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ٱبْنِى مِنْ أَهْلِى وَإِنَّ وَعْدَكَ ٱلْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ ٱلْحَٰكِمِينَ ﴿٤٥﴾

“45. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya..” (Q.S.11:45) ,

kemudian jawaban Allah Ta’ala,

” قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيْرُ صَٰلِحٍ ۖ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ ﴿٤٦﴾

“46. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan..” Q.S.11:46)

والله أعلم بالصواب

=======

Berikut adalah jawaban Ustadz Firanda Andirja MA, terkait pertanyaan serupa.

 

1351. Kertas Tulisan Do’a Dalam Dompet…

1351. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, ana punya tulisan do’a buka puasa/setelah makan dan saya taruh di dompet agar mudah mempelajarinya. Yang saya mau tanyakan, dompet itu biasanya ada di saku belakang, dan dompet yang ada do’a-do’a tadi otomatis terduduki juga, apakah ini dosa ustadz ? Syukron ustadz

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, حفظه الله تعالى

Itu tidak mengapa, sepanjang anda tidak berniat melecehkan do’a-do’a tersebut.

Anda berdosa jika tahu bahwa yang anda duduki adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Karena kita diwajibkan untuk menghormati dan mengagungkan Al-Qur’an (ta’zhimul Qur’an). Wallahul muwaffiq.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Nasehat…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba’du :

Sesungguhnya perkara yang paling utama, amalan yang paling agung, urusan yang sepatutnya kaum mukminin berlomba-lomba, adalah memberikan nasihat, mengingatkan orang yang lupa, memberikan teguran kepada orang yang berbuat kesalahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

” Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S.51 Adz-Dza’riyat : 55)

Sebaik – baik nasihat ,wasiat dan peringatan adalah menyampaikan ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana Lukman ber wasiat kepada putra – putra nya, yang berisikan kebajikan urusan dunia dan akhirat, wasiat pertama kali yang disampaikan adalah memperingatkan dari terjerumus ke dalam dosa syirik, yaitu mempersekutukan Allah Ta’ala dengan makhluk, menyelewengkan jenis ibadah kepada selain Allah Ta’ala, mengharapkan sesuatu manfaat, menolak suatu mudhorot, menyeru dan berdoa kepada selain Allah Ta’ala, baik kepada malaikat, orang saleh, jin, kuburan, pohon, batu dan selainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S.31 Lukman:13)

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit?…..

MUTIARA SALAF : Agar Pahala Puasa Anda Terjaga, Maka Berpuasalah Dari DOSA

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Orang yang berpuasa adalah orang yang anggota badannya berpuasa dari dosa-dosa..

lisannya berpuasa dari kedustaan, kekejian, dan penipuan..

Perutnya berpuasa dari makanan dan minuman..

Kemaluannya berpuasa dari tindakan keji.

Sehingga bila berbicara; dia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat menodai puasanya, dan apabila berbuat; dia tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak puasanya..

Sehingga semua perkataannya bermanfaat dan baik, begitu pula amal-amalnya..

Dia seperti bau yang dicium oleh orang yang duduk bersama orang yang membawa parfum misik..

Begitu pula orang yang duduk bersama orang yang berpuasa, dia akan mendapatkan manfaat dari duduk bersamanya, dia juga akan selamat saat duduk bersamanya dari kata tipuan, kedustaan, kekejian dan kezaliman..

Inilah puasa yang disyariatkan, bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman..

Jadi, puasa adalah puasanya anggota badan dari dosa dan puasanya perut dari makanan dan minuman..

Maka, sebagaimana makanan dan minuman bisa membatalkan puasa dan merusaknya, begitu pula dosa bisa membatalkan pahalanya dan merusak buahnya, sehingga dia seperti orang yang tidak berpuasa..”

[Alwabilush Shoyyib, hal 32-32]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Manfaatkan Bulan Ramadhan Ini Sebaik-Baiknya

Bismillah.

Generasi ulama as-salafus sholih merupakan generasi yang paling agung dan utama dari umat Islam sebagaimana yang dikabarkan Oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah generasi yang paling lurus aqidah dan manhajnya, paling baik ibadah dan akhlaknya, serta paling semangat dalam memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata:

“Barangsiapa yang ingin mengambil teladan, maka teladanilah (petunjuk) orang-orang mukmin yang telah meninggal dunia (yakni Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama para sahabat, pent), sebab orang yang masih hidup tidak (ada jaminan) aman dari tertimpa fitnah (syahwat maupun syubhat, pent)..”

(Lihat Tafsir Al-Baghowi I/284, I’lamul Muwaqqi’iin karya Ibnul Qoyyim II/202-203, Ighotsatul Lahfan I/159, Madarijus Salikin III/436).

Jadi, dalam memahami dan mengamalkan syari’at Islam yang sempurna ini, hendaknya kita meneladani dan menggabungkan diri kita hanya bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, dan para ulama yang setia mengikuti jejak mereka dengan baik. Bukan dengan cara menggabungkan diri bersama Si fulan dan Si Alan, atau kelompok ini dan kelompok itu.

Berikut ini adalah perkataan dan sikap para ulama as-salafus sholih terhadap waktu.

1. Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah aku menyesal terhadap sesuatu sebagaimana menyesalku ketika pada hari yang matahari telah tenggelam sementara umurku berkurang padahal amalanku tidak bertambah pada hari itu..”

2. Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Para penghuni Surga tidaklah menyesal melainkan karena suatu waktu yang pernah mereka lalui (ketika di dunia) tanpa berdzikir kepada Allah azza wajalla..” (Lihat Al-Wabilu Ash-Shoyyib, Hal.59).

3. Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Sesungguhnya setiap majlis yang mana seorang hamba Tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka majlis itu Akan menjadi penyesalan baginya pada hari Kiamat..” (Lihat Al-Wabilu Ash-Shoyyib, Hal.59).

4. Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah berkata: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya kamu itu adalah seperti hari-hari, jika satu hari telah pergi, maka telah hilanglah sebagian dari dirimu..”

5. Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah juga berkata: “Wahai anak Adam! Waktu siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah kepadanya, karena sesungguhnya jika kamu berbuat baik kepadanya, dia akan pergi dengan memujimu, dan jika kamu bersikap jelek padanya, maka dia akan pergi dalam keadaan mencelamu, demikian juga waktu malammu..”

6. Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah juga berkata: “Dunia itu ada tiga hari: (1) Adapun kemarin, maka dia telah pergi dengan amalan-amalan yang kamu lakukan padanya, (2) adapun besok, mungkin saja kamu tidak akan menjumpainya lagi, (3) dan adapun hari ini, maka ini untukmu, maka beramallah pada saat itu juga..”

7. Mu’awiyah bin Qurroh rohimahullah berkata: “Manusia yang paling berat hisab (penghitungan Amal)nya pada hari kiamat ialah orang sehat yang memiliki waktu luang (namun ia tidak menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat, pent)..” (Lihat Iqtidhoul ‘Ilmi Al-‘Amal, Hal.103).

8. As-Suri bin Al-Muflis rohimahullah berkata: “Jika kamu merasa sedih karena hartamu berkurang, maka menangislah karena berkurangnya umurmu..”

9. Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata: “Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat daripada kematian. Karena Menyia-nyiakan waktu Akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian itu hanya akan memutuskanmu dari kehidupan dunia dan para penghuninya.” (Lihat Al-Fawa’id, Hal.44).

Demikian faedah ilmiyah Dan mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sebutkan pada hari ini. Semoga kita semua bisa meneladani generasi as-Salafus Sholih dalam memanfaatkan sisa umur kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Amiin.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

(Klaten, 1 Romadhon 1436 H).

Marhaban…

Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى

Bismillah,

Saudaraku..

Dalam hitungan jam ke depan إن شاء الله kita akan kembali memasuki bulan Ramadhan.

Suatu hari Nabi صلى الله عليه وسلم pernah keluar menemui para Shahabatnya dan bersabda:

اتاكم شهر مبارك

Telah datang pada kalian bulan yang diberkahi.
(HR.An Nasaa’i no.2106,dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dlm Shahihut Targhib no.999).

Berdasarkan hadits tadi sebagian Ulama (seperti Imam Suyuthi dalam kitabnya “Wushuul Amaanii fii Ushuulit Tahaanii”,dan juga Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali-rahimahumallah) berpendapat disunnahkannya untuk memberikan ucapan selamat (tahni’ah) ketika memasuki bulan Ramadhan.

Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halaby hafizhahullah, mengatakan sebagian ‘Ulama lainnya juga membolehkan ucapan:

بارك الله لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kalian semua di bulan ini.

Oleh karenanya, saya juga ikut berdoa:

بارك الله لنا و لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kita semua semua di bulan ini

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah di bulan yang mulia ini.

Menjadikan siangnya untuk puasa, malamnya untuk Qiyamul lail, membaca Al Qur’an, shadaqah dan juga yang lainnya..

Allahumma Aamiin

Sumber:
(Ceramah Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halaby yang berjudul “Min Fiqhis Shiyaam”).

Kami sekeluarga menghaturkan,

بارك الله لنا و لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kita semua semua di bulan ini.