All posts by BBG Al Ilmu

1348. Apa Yang Dilakukan Ketika Tidak Sholat Malam Karena Tertidur ?

1348. BBG Al Ilmu – 199

Tanya :
Ustadz, saya biasanya sholat malam namun tadi telat bangun malam jadi tidak sempat sholat tahajjud. Saya pernah mendengar ada satu hadits dimana nabi shollallahu ‘alayhi wasallam pernah ketiduran dan tidak sholat malam (11 roka’at), namun menggantinya sebanyak 12 roka’at di waktu dhuha.

1. Bagaimana tata-caranya ? Maksud saya, apakah sholat dhuha duluan baru sholat qodho (tahajjud yang 12 roka’at) ? Atau sholat dhuha-nya sudah tidak perlu lagi karena sudah tergantikan oleh yang 12 roka’at qodho tadi ?

2. Apakah hadits yang 12 roka’at qodho tahajjud di waktu dhuha itu shahiih ? Syukron ustadz

Jawab :
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc, حفظه الله تعالى

Sholat yang 12 roka’at di waktu dhuha sudah mencukupi. Tidak perlu melakukan lagi sholat dhuha secara khusus.
والله أعلم بالصواب
Tambahan :
Mengenai hadits yang ditanyakan, itu adalah hadits shahiih, berikut lengkapnya :

Aisyah rodhiyallahu’anha mengatakan (yang artinya),“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau luput dari shalat malam karena tidur atau udzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang hari dengan mengerjakan 12 raka’at.” (HR Muslim no 746)

Ref : http://rumaysho.com/shalat/panduan-shalat-tahajud-762.html

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Apa Sih Makna Pernikahan…?

Ustadz Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

Akhi Ukhti…

Aku ingin mengajakmu untuk merenung

* Apasih makna sebuah pernikahan?

* Bila sebelumnya engkau telah menyentuh pasanganmu

* Engkau telah duduk bersanding dengannya

* Engkau telah berpelukan erat dengannya

* Engkau telah berjalan berduaan dengannya

* Engkau telah bersembunyi di balik tabir menutup pintu dari pandangan manusia bersamanya

* Yang lebih parah lagi engkau sudah pernah tidur di atas kasur berduaan dengannya

* Lalu apa artinya akad nikah?

Apa gunanya resepsi?

Apa gunanya saksi dan wali

Apa gunanya mengumumkan kepada khalayak ramai pernikahanmu?

Kalau semua orang telah mengetahui hubunganmu dengannya?
Dan Sang Pencipta telah melihat kelakuanmu selama ini

* Apa masih ada yang sakral dari pernikahan yang seperti ini?

* Hanya sekedar untuk mendapatkan buku hijau….namun semuanya sudah dilakukan sebelum akad nikah

* Jangan membohongi dirimu sendiri dengan berpura-pura menikah

Memulai lembaran baru sebagai pasutri

Yang dahulunya haram menjadi halal

Yang dahulu dilarang menjadi sebuah anjuran

Padahal sebelum akad nikah kau sudah menghalalkan semuanya

* Islam adalah agama yang menghargai wanita

* Menghormati dan menjaga putri Adam

* Wanita di dalam Islam bukan barang dagangan yang bisa kau pegang-pegang sebelum kau menikahinya

* Dia bukan pakaian yang bisa kau coba-coba untuk melihat keselarasannya

* Dia bukan makanan yang bisa kau cicipi rasanya

* Namun dia adalah mutiara indah di dalam cangkang kerang

Yang hanya boleh disentuh, dipegang, dibuka dan dibawa oleh yang telah melakukan ijab qabul

* Itulah keindahan pernikahan di dalam Islam

Kesakralan akad nikah

Itulah guna seorang wali dan saksi

Bukan hanya sekedar mendatangkan penghulu dan bertanda tangan di buku

* Sebagian manusia merasa berakal

Merasa berperadaban

Merasa lebih baik dari binatang

Namun perilakunya tak ubahnya seperti binatang

* Lihatlah ayam betina

Di mana bertemu pejantan dia dinaiki olehnya

Sebagian wanita hanya dengan kedipan mata

Atau rayuan gombal dia lupa harga dirinya

* Entah siapa yang salah, si laki atau si perempuan?

Kalau binatang itu suatu kewajaran

Apakah sampai seburuk itu perilaku manusia?

Allah berfirman

وَلَقَدْ ذَرَأْنا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِها وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِها وَلَهُمْ آذانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِها أُولئِكَ كَالْأَنْعامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولئِكَ هُمُ الْغافِلُونَ (١٧٩)

“Dan telah kami ciptakan sebagai penghuni neraka jahanam dari bangsa Jin dan manusia, mereka memiliki hati namun tidak berpikir dengannya, memiliki mata namun tidak melihat dengannya, memiliki telinga namun tidak mendengar dengannya, mereka ibarat binatang ternak, bahkan mereka lebih tersesat, mereka adalah orang-orang yang lalai”

* Kalau tidak ingin seperti binatang, cobalah berpikir dengan hatimu, dengarkan dengan telingamu, pandanglah dengan matamu, Allah tidak menciptakanmu sia-sia, Belajarlah agamamu kalau masih ingin disebut insan

* Kemarin aku habis menghadiri sebuah Walimah pernikahan di tengah ibu kota
Jakarta ……

* Suatu Walimah yang penuh makna

* Pasangan pengantinya belum pernah bersentuh tangan

* Belum pernah di atas motor berboncengan

* Belum pernah duduk berduaan

* Sentuhan mereka adalah sentuhan yang dibalut mawaddah dan Rahmah

Bersandingnya mereka karena perintah dan Ridha yang pencipta
Pelukan mereka bernilai sedekah

* Sungguh indah dan penuh berkah

* Semoga mereka berdua dan bersama keluarganya senantiasa dijaga Allah
Itulah pernikahan yang sebenarnya

* Untukmu yang menikah dengan tuntunan syariah, aku ucapkan

بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

Kewajiban Mengikuti Sunnah Nabi Sampai Mati…

Ustadz Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Mengikuti dan berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu alaihi wassalam adalah suatu kewajiban atas setiap individu muslim dan muslimah yang senantiasa mendambakan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Yang dimaksudkan dengan Sunnah Nabi ialah petunjuk dan tuntunan apa saja yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wassalam kepada kita dengan jalan periwayatan yang shohih (valid dan otentik), baik berkaitan dengan perkara aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak & adab, maupun selainnya dari perkara-perkara agama Islam.

Diantara dalil-dalil syar’i yang menunjukkan kewajiban mengikuti dan berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam setiap urusan agama ialah sebagai berikut:

»1. Firman Allah ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah tuntunan dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran: 31).

** Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”. Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla).

»2. Dan firman-Nya pula:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim (pemutus perkara dan penetap hukum) dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65).

»3. Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu anhu, ia berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا، وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هذِهِ سُبُلٌ ]مُتَفَرِّقَةٌ[ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat satu garis (lurus) dengan tangannya, kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kiri garis tersebut, kemudian beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat), tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syetan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membacakan firman Allah Azza wa Jalla: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-berai-kan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” (QS. Al-An’aam: 153).

»4. Dan diriwayatkan dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

: ” لَا يُؤْمِن أَحَدكُمْ حَتَّى يَكُون هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْت بِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hashim dalam kitab As-Sunnah, Al-Hakam bin Sufyan dalam kitab Al-Arba’in, dan imam An-Nawawi dalam kitab Hadits Arab’in, dan beliau menilai derajatnya Hasan Shohih).

** Al-Hafizh Ibnu Rojab rahimahullah berkata: “Makna hadits ini ialah bahwa seseorang tidaklah beriman dengan iman yang sempurna sehingga hawa nafsu dan kecintaannya mengikuti apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, baik berupa perintah, larangan maupun selainnya. Maka, ia wajib mencintai apa yang beliau perintahkan dengannya, dan membenci apa yang beliau larang darinya. Dan di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang maknanya seperti hadits ini (seperti surat An-Nisa’ ayat 65, dan surat Al-Ahzaab ayat 36).” (Lihat kitab Jami’ul ‘Uluum Wal Hikam).

* Adapun atsar (perkataan) para ulama as-salafus sholih dari kalangan para sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya yang menunjukkan kewajiban mengikuti Sunnah Nabi shallallahu alaihi wassalam ialah sebagai berikut:

»5. ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hendaklah kalian mengikuti (Sunnah Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/69), al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/96 no. 104), ath-Thabrani dalam Mu’jaamul Kabiir (no. 8770), dan Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah (no. 175)).

»6. Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat tahun 157 H) mengatakan:

اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُواْ، وَكُفَّ عَمَّا كُفُّوْا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ.

“Bersabarlah dirimu di atas As-Sunnah, tetaplah tegak di atasnya sebagaimana para Sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan As-Salafush Sholih, karena ia (Sunnah Nabi) akan mencukupimu sebagaimana ia telah mencukupi mereka.” (Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah I/174 no. 315).

»7. Imam Al-Auza’i rahimahullah juga mengatakan:

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهُ لَكَ بِالْقَوْلِ.

“Hendaklah engkau berpegang kepada atsar-atsar (riwayat/perkataan) dari para ulama generasi As-Salafush Sholih meskipun orang-orang menolaknya. Dan jauhkanlah dirimu dari pendapat orang-orang meskipun mereka menghiasi pendapatnya dengan kata-kata yang indah.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah (I/445, no. 127) dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluww lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 138), Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/120) dan Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/1071, no. 2077).

»8. Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat tahun 110 H) berkata:

كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ: إِذَا كَانَ الرَّجُلُ عَلَى اْلأَثَرِ فَهُوَ عَلَى الطَّرِيْقِ.

“Mereka (para sahabat dan tabi’in) mengatakan: “Jika ada seseorang berada di atas atsar (Sunnah Nabi), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.’” (HR. Ad-Darimi (I/54), Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqatin Naajiyah (I/356, no. 242). Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah oleh al-Lalika-i (I/98 no. 109).

»9. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat tahun 241 H) berkata:

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعِ وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلاَلَةٌ.

“Prinsip (Aqidah dan manhaj) Ahlus Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dilaksanakan oleh para Sahabat Radhiyallahu anhum dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah oleh al-Lalika-i (I/176, no. 317).

»10. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

اِتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلاَ يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلاَلَةِ وَلاَ تَغْتَرْ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ.

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah Nabi), tidak akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan.” (Lihat al-I’tishaam oleh imam Asy-Syathibi (I/112).

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan semoga Allah memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita agar senantiasa mengikuti dan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam hingga akhir hayat. Amiin.

(Jakarta, 8 Juni 2015)

Amalan Yang LUAR BIASA Tapi Banyak Yang Melalaikannya

Itulah amalan membantu seorang JANDA, Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

“Orang yang membantu kebutuhan seorang JANDA dan seorang miskin; itu seperti orang yang berjihad perang di jalan Allah, atau seperti orang yang malamnya sholat siangnya puasa..”

[Muttafaqun Alaih, Bukhori: 5353, Muslim: 2982].

Subhanallah… pahala jihad atau pahala orang yang malamnya sholat siangnya puasa, ternyata bisa kita raih dengan membantu SATU orang janda..! Sungguh betapa maha pemurahnya Allah ta’ala.

Tidakkah Anda ingin mendapatkan keutamaan ini… Mari peduli dengan para janda yang ada di sekitar kita.. bantulah kebutuhannya dalam mengarungi sisa hidupnya, apalagi bila memiliki banyak anak yang menjadi tanggung jawabnya.

Bantulah dia karena Allah… sungguh kebutuhan kita terhadap pahala amalan ini, jauh lebih besar daripada kebutuhan dia terhadap bantuan kita.

Karena pahalanya disamping sangat besar, juga akan KEKAL menjadi milik kita.

Sedang bantuan kita, seringkali tidak seberapa dibanding kebutuhannya, itupun hanya akan dinikmatinya untuk sementara, wallohu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

=====
mau ikutan..?

Terbuka program Santunan Bulanan dalam bentuk sembako bagi sekitar 150 janda dan dhu’afa, info lengkapnya, silahkan baca artikel berikut :

https://bbg-alilmu.com/archives/59605

Begini Mereka Sholat..!

Sobat, banyak dari kaum muslim yang merasa bahwa urusan sholat dan tatacaranya adalah masalah yang sudah mereka kuasai.

Mereka menduga bahwa tidak perlu lagi masalah sholat diajarkan karena sudah basi dan tidak ada yang baru. Menurut mereka; masalah yang lebih mendesak untuk disampaikan adalah masalah seputar problematika pemerintah yang jauh dari syafiat Islam atau bahkan memusuhinya.

Sobat, berikut ada satu hadits yang menurut hemat saya dapat menjadi bukti kebenaran atau kesalahan persepsi di atas.

عن البراء بن عازب (كانوا يصلون مع رسول الله صلى الله عليه وسلم , فإذا ركع ركعوا , و إذا قال ; سمع الله لمن حمده ; لم يزالوا قياما حتى يروه قد وضع وجهه ( و في لفظ : جبهته ) في الأرض , ثم يتبعونه )

Sahabat Al Bara’ bin Aazib menceritakan bahwa dahulu para sahabat mendirikan sholat berjamaah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Dan bila beliau ruku’ maka para sahabat pun turut serta ruku’ dan bila beliau mengucapkan : “sami’allahu liman hamidahu” maka para sahabat akan tetap berdiri tegak (tidak segera sujud) hingga beliau benar benar telah meletakkan dahinya di lantai, barulah mereka turun untuk sujud. (Muslim dan lainnya)

Imam An Nawawi As Syafii rohimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar bahwa setelah i’itidal, makmum disunnahkan untuk sedikit menunggu dan tidak tergesa gesa sujud sampai imam benar benar sujud dengan meletakkan dahinya di lantai .. kecuali bila mereka kawatir akan ketinggalan karena sujud imamnya pendek/cepat.

Sobat, siapakah dari kita yang telah mengetahui sunnah ini..? Dan siapakah dari kita yang sudah menerapkan sunnah ini..?

Masihkah ada anggapan bahwa masalah shalat sudah basi untuk dipelajari..? Dan masihkah ada dari kita yang merasa bahwa sudah waktunya bagi kita untuk memimpin dunia..?

Sholat kita saja masih jauh dari praktek sholat yang dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam; apalagi yang lainnya..?

Karena itu marilah kita belajar dan belajar .. belajar ilmu dan belajar amal. Mulailah pembelajaran kita sejalan dengan urutan rukjn islam dan rukun iman kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

1347. Jual-Beli Dengan Konsep Tempo/Waktu

1347. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ana mau bertanya soal bermuamalah.

Ana jual barang dengan kontan lain harga dan jual barang yang sama dengan tempo waktu 2 minggu lain harga dan begitu pula jual dengan tempo waktu 1 bulan lain harga.

Pertanyaannya apakah boleh jual-beli ini ? (secara tempo bukan dengan kredit)

Jawab :
Ustadz Nuzul Dzikri, Lc, حفظه الله تعالى

BOLEH, tapi harus diingat bahwa tidak boleh ada PENALTI bila ada keterlambatan dalam pembayarannya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊