All posts by BBG Al Ilmu

1346. Ketika Shof Ke 2 Tidak Dimulai Dari Tengah

1346. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, kalau kita masbuk sholat berjama’ah dan dapat di shaf kedua atau dibelakangnya kita mendapatkan shaf itu baru terisi beberapa jama’ah dan letaknya agak menjauh ke kanan atau ke kiri dari belakang imam apakah kita ikut shaf melanjutkan di kanan jamaah paling kanan atau agak misah dan berdiri lurus dengan imam ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Jika mendapatkan barisan shof, agak ke kiri atau ke kanan, maka hendaknya mengisi dengan menyeimbangkan shof tersebut, tanpa memutuskan dengan memisahkan diri, akan tetapi tetap menyambung dengan mengisi di sebelah kiri/kanan yang mendekati posisi imam.

Memisahkan diri dan mulai shof dari tengah adalah kesalahan karena itu memutus shof.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Kelembutan Sebuah Hati

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala’ Rosulillah, wa ba’du :

Sesungguhnya lembut dan khusyuknya sebuah hati serta tunduknya dihadapan Al-Ka’liq Subhaanahu Wa Ta’ala merupakan karunia dan semata-mata anugrah dari Allah Ta’ala, yang membuahkan ampunan dan magfiroh sekaligus menjadikan perisai dan benteng dari berbuat tugyan dan kemaksiyatan.

Tidaklah seseorang yang lembut hatinya dan tunduk kepada Allah Ta’ala melainkan ia tergolong orang-orang yang bersegera dalam berbuat kebajikan, senantiasa meraih ketaatan dan keridhoan dan bersemangat untuk mengerjakan perbuatan taat dan perkara yang mendatangkan kecintaan Allah Ta’ala, ketika ia diingatkan, maka ia segera ingat dan kembali, tatkala ditunjukkan kebenaran, ia segera sadar dan mengikuti, hatinya selalu tenang mengingat Allah Ta’ala, lisannya senantiasa memuji dan mensyukuri, jauh dari perbuatan maksiat dan durhaka.

Hati yang lembut adalah hati yang tunduk kepada Allah Ta’ala, merasa takut dan khawatir atas keagungan dan keperkasaan Dzat Yang Maha Kuasa, para penyeru setan tidaklah berhenti dari menyerukan jalanya kecuali dikarenakan rasa takut kepada Allah Ta’ala, demikian pula seorang penyeru kesesatan dan hawa nafsu berhenti dari jalan yang mereka tempuh kecuali karena takut kepada Allah Ta’ala.

Maka seseorang yang memiliki hati yang lembut mereka merupakan teman setia, kawan yang baik hati, akan tetapi perlu diingat, siapakah yang menjadikan seseorang memiliki hati yang lembut, memiliki hati yang bersih, siapakah yang menjadikan hatinya takut kepada Tuhan nya, siapakah yang melembutkan hatinya tatkala ia menyebut Robb nya, khusyuk terhadap ayat ayat Tuhan nya. ..? Tidak lain adalah Allah Ta’ala tiada Ilah melainkan hanya Dia Maha Suci dari segala sekutu dan tandingan.

Tatkala engkau menjumpai seseorang yang memiliki hati yang sangat keras dan kaku, akan tetapi Allah Ta’ala memberikan limpahan karunia dan hidayah Nya, sehingga dalam waktu sekejap,

Ia berubah menjadi hati yang lembut, sehingga menumbuhkan iman yang kokoh, dan Allah Ta’ala memilih diantara para hamba Nya, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, membolak balikkan hati dari yang sebelumnya memiliki hati yang keras dan keruh menjadi hati yang lembut dan bersih, dari hati yang kelam dan mati menjadi hati yang bersinar dan bercahaya, dari yang sebelumnya tidak mengenal makruf dan mengetahui mungkar, kecuali hanya mengikuti hawa nafsunya, tiba-tiba ia mengharapkan diri kepada Allah Ta’ala secara lahir dan batin.

Ikhwati fillah, sesungguhnya ini merupakan suatu nikmat yang tiada bandingnya di muka bumi ini, yang lebih besar dan agung dari nikmat kelembutan hati, ber – inabah kepada Allah Ta’ala, dikarenakan Allah Ta’ala telah memberikan kabar bahwasanya seseorang yang tidak memiliki sifat kelembutan hati, ia terancam oleh adzab dan siksa yaitu neraka .

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya, ”  Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S.39: Azzumar : 22)

Yaitu, siksa dan neraka bagi mereka yang hatinya membatu, keras, tidak tersentuh iman, tidak memiliki rasa takut dan khawatir atas keperkasaan Allah Ta’ala, dan dahsyatnya adzab hari kiamat, dan sebaliknya, berbahagialah orang orang yang senantiasa jiwa dan hatinya lembut, tunduk dan patuh kepada syariah Allah Ta’ala, sehingga tidak menerjang batasan dan larangan yang telah digariskan.

Oleh karena itu, sepantasnya seorang mukmin yang benar-benar memiliki iman, ia berusaha maksimal untuk mendapatkan nikmat yang agung ini, berupaya untuk meraih kelembutan hati, sehingga dirinya menjadi kekasih dari kekasih-kekasih Allah Ta’ala, meraih ridho Allah Ta’ala, sehingga ia tidak kenal lelah, letih, sunyi, gembira, kecuali jika menggapai kecintaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena ia sadar dan yakin, bahwasanya jika ia terhalangi dari nikmat ini, maka ia terharamkan kebaikan yang tiada tara, sehingga betapa banyak orang-orang saleh masa dahulu, mereka membutuhkan waktu sejenak untuk berupaya melembutkan hatinya, karena hati merupakan sesuatu yang sangat mengherankan, di waktu tertentu ia lembut dan ringan melakukan kebajikan, sekiranya diminta untuk menginfakkan seluruh hartanya karena Allah Ta’ala , ia segera menunaikan, sekiranya ia berjuang dan berperang di jalan Allah Ta’ala, niscaya ia bersedia mengorbankan nyawanya karena Allah Ta’ala, waktu-waktu tertentu, hatinya tertanam untuk mengerjakan ketaatan, dan lain waktu, hatinya jauh dari Allah Ta’ala, keras, bahkan membatu, dan kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari segala keburukan.

Ditulis oleh,
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Rahasia Di Balik Lamanya Ruku’ Dan Sujud Dalam Sholat

Mungkin orang Indonesia yang pernah pergi ke dua tanah suci heran dengan lamanya ruku’ dan sujud saat sholat di sana.

Melamakan ruku’ dan sujud itu bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan sandaran dari tuntunan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, simaklah hadits berikut ini:

Suatu hari Abdullah bin Umar -rodhiallohu ‘anhumaa- melihat seorang pemuda sedang sholat, dia memanjangkan sholatnya dan melamakannya, maka beliau bertanya: “siapa yang kenal orang itu..?” Maka ada yang menjawab: ” saya..”

Beliaupun mengatakan: “seandainya aku mengenalnya, tentu aku akan menyuruhnya untuk MEMANJANGKAN ruku’ dan sujudnya, karena aku pernah mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

Sungguh, jika seorang hamba berdiri untuk sholat, semua dosanya didatangkan, dan diletakkan di atas pundaknya. Maka setiap kali dia ruku’ dan sujud, dosa-dosa tersebut menjadi berjatuhan..”

[Lihat Silsilah shohihah: 1398, sanadnya shohih].

Ternyata semakin lama kita ruku’ dan sujud, semakin banyak dosa kita yang dilepaskan dari kita, tidak inginkah dosa Anda banyak diampuni..?!

Maka lamakanlah ruku’ dan sujud Anda.

Silahkan disebarkan, semoga bermanfaat.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Beriman Kepada TAKDIR Itu Ada 4 Derajat…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini yang diambil dari kitab “Al-Irsyad ila Shahih Al-Itiqad” karya Asy Syaikh Al Allamah Dr Shalih Al Fauzan, حفظه الله تعالى

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Jika Anda Sepertiku, Maka Berubahlah Sebelum Terlambat

Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

Shalat sunnah “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah sholat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali sholat sunnah fajar, itu pun tidak setiap hari.

Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan sholat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan.. berdalih denga sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil.. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan do’a kaffarotul majlis.

Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan.. tanpa rasa syukur.

Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yang terbawa arus lingkungan..?

Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi..?

Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing.. semoga Allah mengampuni keteledoran kita selama ini.

Sebagian ulama mengatakan:

“Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shoff terakhir melengkapi rokaat sholatnya yang tertinggal..”

Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kita dengan pesan ini.

[Terjemahan dari status berbahasa arab dengan sedikit penyesuaian].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban…

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يطلع الله تبارك وتعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Tabaraka wa ta’ala akan melihat kepada makhlukNya pada malam nishfu sya’ban, lalu mengampuni semua makhlukNya (yang beriman) kecuali musyrik dan orang yang sedang bertengkar.”
(Hadits shahih diriwayatkan oleh banyak shahabat yaitu Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amru, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar Ash Shidiq, Auf bin Malik dan Aisyah dan riwayat-riwayat ini saling menguatkan. Lihat silsilah shahihah no 1144).

Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu Sya’ban..
Namun tidak ada ritual ibadah tertentu di malam itu..

Adapun sholat nishfu sya’ban, haditsnya palsu..
Ibnul Jauzi berkata, “Hadits itu tidak diragukan lagi kepalsuannya..
Lihat kitab al maudlu’aat 2/127-129..

Imam Nawawi menyatakan bahwa sholat nishfu sya’ban adalah bid’ah..
Demikian dalam kitab fatawanya..

Lalu..
Ibadah apa yang bisa kita lakukan di malam itu..
Tentu ibadah apa saja yang disyari’atkan..
Seperti membaca al qur’an, shalat tahajjud dan sebagainya..

Moga kita termasuk yang mendapat ampunan di malam itu..
Amiin..

Gaduh Di Masjid…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Apa perasaan anda di saat anda sedang beribadah ; sholat atau berdzikir atau berdoa, sedangkan orang disekitar anda membuat kegaduhan?

Mungkinkah anda merasa nyaman menjalankan ibadah anda?

Bila anda merasa terusik dan terganggu dengan suara-suara keras yang terdengar di saat anda beribadah, maka sudah sepatutnya anda juga bersikap bijak; janganlah anda mengeraskan suara anda di saat orang lain sedang beribadah.

Sebagai aplikasi dari kepekaan sosial di atas ialah anda menjaga suasana masjid agar tetap tenang, dan kondusif bagi saudara saudara anda yang sedang menjalankan ibadah termasuk sholat sunnah. Mereka mendirikan sholat sunah yang disebut dengan sholat rawatib mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( من ثابر على ثنتي عشرة ركعة من السنة بنى له بيت في الجنة . أربع قبل الظهر وركعتين بعد الظهر وركعتين بعد المغرب وركعتين بعد العشاء وركعتين قبل الفجر )

“Barang siapa setiap hari dengan tabah mendirikan shalat sunnah sebanyak 12 rakaat, niscaya Allah membangunkan untuknya satu rumah di dalam surga; empat rakaat sebelum shalat zhuhur, dua rakat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya’ dan dua rakaat sebelum sholat fajar (subuh).” (Riwayat Ibnu Majah dan lainnya).

Dan kalaupun mereka tidak sedang mendirikan shalat, maka banyak dari mereka yang sedang berdoa atau berdikir kepada Allah Azza wa Jalla. Ketahuilah bahwa jeda waktu antara azan dan iqamah adalah salah satu waktu yang spesial untuk berdoa alias waktu yang mustajabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدعاء ﻻ يرد بين اﻷذان واﻹقامة

“Doa tidak akan ditolak bila dipanjatkan antara azan dan iqamah.” (Abu Dawud, At Tirmizy dan lainnya)

Dan bila anda berdalih bahwa kami sedang berdzikir dan berdoa seusai sholat maka ketahuilah bahwa anda berdzikir atau berdoa bukan alasan yang dapat dibenarkan untuk mengusik konsentrasi orang lain yang juga sedang berdzikir atau sholat.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:

أن النبي صلى الله عليه و سلم اعتكف وخطب الناس فقال أما إن أحدكم إذا قام في الصلاة فإنه يناجي ربه فليعلم أحدكم ما يناجي ربه ولا يجهر بعضكم على بعض بالقراءة في الصلاة

“Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’itikaf, lalu beliau menyampaikan peringatan dengan bersabda: Sesungguhnya bila salah seorang dari kamu sedang mendirikan sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Tuhannya, karena itu hendaknya engkau seutuhnya memahami apa yang engkau ucapkan kepada Tuhan-nya. Dan jangalah sebagian dari kalian ketika sedang sholat mengeraskan bacaannya sehingga mengganggu sebagian yang lain.” (Ahmad dan lainnya)

Bila anda dilarang mengeraskan bacaan dalam sholat sehingga menggangu kekhidmatan orang lain yang juga sedang sholat, tentu dengan alasan yang sama, bacaan bacaan lain lebih pantas untuk dilarang.

Apalagi bila anda hanya sebatas membaca bait bait syair atau bacaan lainnya guna memanggil masyarakat agar datang ke masjid maka ketahuilah bahwa panggilan sholat yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah seruan Azan dan iqamah. Dengan demikian, masih adakah alasan bagi anda untuk menyia-nyiakan waktu spesial antara azan dan iqamah?

Dan masihkah anda sampai hati untuk mengangkat suara keras-keras sehingga sedikti atau banyak mengusik konsentrasi orang yang sedang sholat sunnah atau sedang memanjatkan doa atau dzikir kepada Allah?

Tertidur Tatkala Menyusui Bayi, Saat Terbangun Didapati Bayi Itu Telah Mati…

Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid, حفظه الله تعالى

Tanya :                                                                                                                        Seorang ibu menyusui bayi perempuannya, lalu tertidur. Saat terbangun, ia dapati bayi itu telah mati?

 

 Jawab :
Alhamdulillah, saya telah bertanya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut, beliau menjawab sebagai berikut:
“…Jika tidak teringat olehnya bahwa ia telah menimpa bayi itu, maka tidak ada sanksi apapun atasnya. Wallahu a’lam…”

Hukum Berlangganan Majalah Yang Memuat Foto-Foto Makhluk Bernyawa…

Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid, حفظه الله تعالى

Tanya :                                                                                                                                   Apa hukumnya berlangganan majalah islami yang memuat gambar dan foto makhluk bernyawa?

 

Jawab :                                                                                                            Alhamdulillah, boleh-boleh saja berlangganan majalah islami yang memuat foto-foto makhluk bernyawa. Sebab ia berlangganan karena faidah yang terdapat di dalamnya bukan karena gambar dan foto-foto tersebut. Adapun majalah yang memang khusus diterbitkan untuk memuat gambar-gambar dan para pelanggan juga membelinya untuk itu tentu saja hukumnya haram, tidak boleh membelinya. Sebab malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar (makhluk yang bernyawa).

Dinukil dari kitab Liqa’ Al-Baab Al-Maftuh karya Syaikh Ibnu Utsaimin 52/52.

Dan ia boleh menyimpan majalah tersebut jika memang banyak faidahnya dengan catatan setelah mencoret gambar-gambar yang terpampang di sampulnya. Wallahu A’lam.

Ref : http://islamqa.info/id/1699