All posts by BBG Al Ilmu

Menanyakan Amalan Orang Lain…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Bila ada teman menanyakan apakah kita telah berbuat suatu amalan seperti tahajjud, membaca AlQur’an atau lainnya, bagaimana menjawabnya, apakah harus jujur atau bolehkah kita berdusta (untuk menjaga dari perasaan ujub dan riyaa’) ?

Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini :

Heh.. Si Fulan Itu Wali Lho…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Heh.. Si fulan itu wali lho… dia punya banyak KAROMAH.. Masa dia salah?

Itulah yang sering kita dengar saat kita menyampaikan tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang telah menjadi asing di tengah-tengah masyarakat zaman akhir ini. Padahal karomah itu tidak menjadikan pemiliknya maksum.

Sekaliber Imam Syafi’i -rohimahulloh- saja mengatakan:

“Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi SUNNAH rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, maka ambillah perkataan beliau itu, dan TINGGALKAN perkataanku!” [Siyaru A’lamin Nubala’ 10/34].

Jika Imam Syafi’ saja demikian, bagaimana dengan orang yang di bawah beliau…

Dan tentang KAROMAH para wali dan kekasih Allah ini, Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:

“Karomahnya orang-orang saleh itu menunjukkan kebenaran agama (Islam) yang dibawa oleh Rosul, dia TIDAK menunjukkan bahwa wali itu maksum, TIDAK pula menunjukkan bahwa wali itu harus dita’ati dalam semua perkataannya.

Dari sinilah banyak orang dari kaum nasrani dan yang lainnya tersesat, karena orang-orang hawariyyun (pembela Nabi Isa alaihissalam) dan yang lainnya, mereka dahulu memiliki banyak karomah, sebagaimana orang-orang saleh dari umat ini memiliki banyak karomah.

Kemudian mereka mengira bahwa karomah tersebut menjadikan mereka maksum, sebagaimana mukjizat para nabi menjadikan mereka maksum, sehingga mereka mengharuskan mengikuti para pemilik karomah tersebut dalam semua ucapan mereka.

Dan ini kesalahan, karena Nabi itu wajib diikuti semua perkataannya, karena beliau seorang nabi yang mendakwakan kenabian, dan mukjizat itu sebagai bukti kejujurannya, dan Nabi adalah seorang yang maksum.

Adapun karomah, dia tidaklah menunjukkan kenabian, tapi menunjukkan (benarnya) mengikuti Nabi dan benarnya agama Nabi, oleh karenanya karomah itu tidak menjadikan pengikut Nabi (pemilik karomah) itu menjadi maksum”.

[Kitab: Annubuwwat 1/143].

———

Keterangan di atas bukan bertujuan merendahkan kedudukan karomah para wali, TAPI untuk mendudukkannya pada tempatnya yang layak, sehingga dapat menyelamatkan kaum muslimin dari godaan setan yang sangat lihai memanfaatkan karomah ini untuk menyesatkan manusia.

Semoga Allah menjaga dan meneguhkan kita di atas jalan-Nya yang lurus, amin.

Do’a Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir…

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Ada sebuah do’a sederhana yang jaami’ (singkat dan syarat makna) yang sudah sepatutnya kita menghafalkannya karena amat bermanfaat. Do’a ini berisi permintaan agar kita terhindar dari penyakit hati yaitu ‘syuh’ (pelit lagi tamak) yang merupakan penyakit yang amat berbahaya. Penyakit tersebut membuat kita tidak pernah puas dengan pemberian dan nikmat Allah Ta’ala, dan dapat mengantarkan pada kerusakan lainnya. Do’a ini kami ambil dari buku “Ad Du’aa’ min Al Kitab wa As Sunnah” yang disusun oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah.

Do’a tersebut adalah,

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

/Allahumma qinii syuhha nafsii, waj’alnii minal muflihiin/
“Ya Allah, hilangkanlah dariku sifat pelit (lagi tamak), dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung”

Do’a ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surat Ath Taghabun ayat 16,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Kosakata

“الشح”

berarti bakhl (pelit) lagi hirsh (tamak/ rakus). Sifat inilah yang sudah jadi tabiat manusia sebagaimana Allah berfirman,

وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ

“Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir” (QS. An Nisa’: 128).

“الفلاح”

artinya beruntung dan menggapai harapan. Yang dimaksudkan al falah (beruntung/menang) ada dua macam yaitu al falah di dunia dan di akhirat. Di dunia yaitu dengan memperoleh kebahagiaan dengan hidup yang menyenangkan. Sedangkan kebahagiaan di akhirat yang paling tinggi adalah mendapat surga Allah.

Kandungan Do’a

Do’a ini berisi hal meminta berlindung dari sifat-sifat jelek yang biasa menimpa manusia yaitu penyakit “syuh” yakni pelit dan tamak pada dunia. Orang yang memiliki sifat jelek ini akan terlalu bergantung pada harta sehingga enggan untuk berinfak atau mengeluarkan hartanya di jalan yang wajib atau pun di jalan yang disunnahkan. Bahkan sifat “syuh” ini dapat mengantarkan pada pertumpahan darah, menghalalkan yang haram, berbuat zhalim, dan berbuat fujur (tindak maksiat). Sifat ini “syuh” ini benar-benar akan mengantarkan pada kejelekan, bahkan kehancuran di dunia dan akhirat. Oleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan adanya penyakit “syuh” ini dan beliau menjelaskan bahwa penyakit itulah sebab kehancuran. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ: أَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Waspadalah dengan sifat ‘syuh’ (tamak lagi pelit) karena sifat ‘syuh’ yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat itu memerintahkan mereka untuk bersifat bakhil (pelit), maka mereka pun bersifat bakhil. Sifat itu memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan, maka mereka pun memutuskan hubungan kekerabatan. Dan Sifat itu memerintahkan mereka berbuat dosa, maka mereka pun berbuat dosa” (HR. Ahmad 2/195. Dikatakan Shahih oleh Syaikh Al Arnauth)

Sufyan Ats Tsauri pernah mengatakan, “Aku pernah melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah. Kemudian aku melihat seseorang berdo’a ‘Allahumma qinii syuhha nafsii’, dia tidak menambah lebih dari itu. Kemudian aku katakan padanya, ‘Jika saja diriku terselamatkan dari sifat ‘syuh’, tentu aku tidak akan mencuri harta orang, aku tidak akan berzina dan aku tidak akan melakukan maksiat lainnya’. Laki-laki yang berdo’a tadi ternyata adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf, seorang sahabat yang mulia. (Dibawakan oleh Ibnu Katsir pada tafsir Surat Al Hasyr ayat 10).

Lalu bagian do’a yang terakhir,

وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

/Waj’alnii minal muflihiin/
“Ya Allah, dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung“.

Maksud do’a ini adalahb jadikanlah orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Jika ia telah mendapakan hal ini, itu berarti ia telah mendapatkan seluruh permintaan dan selamat dari segala derita.

[Tulisan ini disarikan dari kitab “Syarh Ad Du’a minal Kitab was Sunnah lisy Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani”. Pensyarh: Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqaddam]

Ref :

http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/doa-agar-diselamatkan-dari-penyakit-kikir.html

Terus Diberi Peringatan, Akan Tetapi…

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Rambut mulai beruban, kulit mulai mengeriput, gigi mulai tanggal, mata mulai merabun…adalah sebagian peringatan Allah yang berulang-ulang agar kita tidak sombong dan lupa diri, agar tidak merasa kuat selalu, merasa hidup selalu, merasa hebat selalu…

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Ar-Ruum : 54)

Sakit, lemah, letih, tua, keriput, dll, semuanya peringatan bahwa engkau hanyalah sementara…

Sungguh merugi seseorang yang terus diberi peringatan akan tetapi ia tidak merasa sementara di dunia ini…

Ini MASALAH Bagi Yang Mengaku MUSLIM

Syeikh Abdul Karim Al Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:

“Sayangnya banyak dari kaum muslimin yang meninggalkan membaca Alqur’an karena sibuk dengan gosip, koran, majalah, dan nonton TV.

Kamu dapati sebagian penuntut ilmu siap menghabiskan koran semuanya, atau kamu dapati seorang pegawai muslim setelah pulang dinas hingga tidur dia membolak-balik koran, untuk apa..? Apa yang dia dapatkan dari koran itu..? Yang ini kabar buruk, yang itu bicara ‘ngawur’ tentang agama, yang lain menghina mereka yang taat, yang lain lagi gambar tak senonoh, ada juga tentang kabar. Apa semua ini..!

Meskipun begitu, tapi inilah kebiasaan banyak orang, sehingga berlalu waktu sehari, dua hari, seminggu, bahkan SEBULAN, sedang dia tidak membuka MUSHAF sekalipun..!

Paling-paling jika dia bisa hadir untuk sholat sebelum iqomat dua menit, tiga menit, atau lima menit, dia membaca dengan bacaan yang (kualitasnya) hanya Allah yang tahu. Dia paling membaca selembar, dua lembar, dan bosan.

Bahkan sebagian orang tidak tahu Alqur’an, kecuali di Bulan Ramadhan..! ini MASALAH..”

———-

Oleh karenanya jika ada yang bertanya kepada Anda, “Mengapa sedih..?”

Jawablah dengan jujur: “Karena aku menjauhi Alqur’an dan sedikit beristighfar..”

Tapi, pengakuan saja tidak akan berguna dan tidak akan memperbaiki keadaan.

Jika ingin keadaan berubah, maka mulailah berubah dari sekarang..

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Aku Bahagia Dan Bangga Menjadi Ahlus Sunnah…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata:

» “Jika engkau berbicara tentang Aqidah Tauhid, niscaya Ahli Syirik akan meninggalkanmu.

» Jika engkau berbicara tentang Sunnah (Tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), niscaya Ahli Bid’ah akan meninggalkanmu.

» Jika engkau berbicara tentang (kewajiban) taat kepada pemerintah (muslim) dalam hal yang ma’ruf, mendo’akan dan menasehati (kebaikan) untuk mereka, serta tentang Aqidah Ahlus Sunnah, niscaya orang-orang (yang berpemahaman) Khowarij dan yang fanatik terhadap aliran dan kelompok (sesat) akan meninggalkanmu.

» Ini adalah keterasingan yang luar biasa bagi Ahlus Sunnah.

» Mereka semua memerangi kita (Ahlus Sunnah) dengan berbagai media.

» Mereka memerangi kita melalui media massa cetak (buku, majalah, koran) maupun elektronik (televisi, radio, internet, dsb), sehingga keluarga dan sahabat-sahabat pun (ikut) memerangi “orang asing” ini yang senantiasa berpegang teguh dengan Al-Kitab & As-Sunnah.

» Namun meskipun demikian, kami (Ahlus Sunnah) merasa bahagia dan bangga dengan keterasingan ini. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Islam pertama kali datang dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing pula sebagaimana keadaan awalnya. Maka, kebahagiaan diperuntukkan bagi orang-orang yang terasing. Maka ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah mereka yang terasing itu, wahai Rasulullah?’ Beliau mjawab: “Mereka adalah orang-orang yang senantiasa sholih (baik aqidah, manhaj dan ibadahnya, pent) ketika manusia telah rusak.” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah nomor.1273)

Semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita semua untuk senantiasa istiqomah, sabar dan tegar dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mendakwahkan keduanya hingga akhir hayat. Amiin.

(Madinah Nabawiyyah, 1 Januari 2015)

» Selengkapnya, KLIK:
https://abufawaz.wordpress.com/2015/01/02/aku-bahagia-dan-bangga-menjadi-ahlus-sunnah

Penjara…

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Nabi bersabda:

“Dunia itu penjara bagi mukmin..
dan surga bagi orang kafir..”
(HR At Tirmidzi).

Ada orang berkata..
kok agama ini banyak larangannya ya..
* riba haram..
* mabuk mabukkan haram..
* pacaran haram..
* duduk berduaan cewek cowok bukan mahram haram..
* niup terompet di malam tahun baru gak boleh..
gak enak banget..
pengennya sih bebaas bebaaas..
mau maunya gue dong..

Demikianlah..
Dunia memang penjara buat mukmin..
tempat ujian dan cobaan..

Cobalah fikirkan..
Kenikmatan dunia sementara..
Kesenangannya sering membawa sengsara..

Makanya Allah enggan menjadikan dunia sebagai surganya mukmin..
karena ia fana..

Sabarlah sebentar di dunia..
Untuk mendapatkan kesenangan abadi di surga..

Ya Allah..
Beri kami kekuatan..

Memperingati Maulid Dalam Rangka Mengingat Kelahiran Nabi

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Peringatan Maulid Nabi dilakukan dalam rangka mengingat kelahiran, keistimewaan, mukjizat, sirah, dan mengetahui akhlak Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita pun diperintahkan untuk melakukan hal-hal tadi dalam rangka menjadikan meneladani beliau. Karena Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21).

Inilah di antara syubhat yang dilontarkan oleh sebagian orang. Dan syubhat (kerancuan) dalam perayaan maulid ini diambil oleh ulama yang Pro Maulid semacam Muhammad bin ‘Alwi Al Maliki dalam kitab beliau Adz Dzakho-ir Al Muhammadiyyah hal. 269.

Apakah alasan di atas dapat melegalkan peringatan maulid?

Berikut beberapa sanggahan untuk menyanggah kerancuan di atas:

Pertama:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati maaulid dan tidak pernah memerintahkan mengingat kelahiran, karakter istimewa, mukjizat, sirah dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus melalui peringatan maulid. Bahkan hal ini merupakan bid’ah yang diada-adakan sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bid’ah maulid mulai muncul sekitar 600 tahun sepeninggal beliau. Padahal mengenai perkara bid’ah telah diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits-hadits semacam ini menunjukkan tercelanya peringatan maulid dan perayaan tersebut merupakan perayaan yang mardud (tertolak).

Kedua:

Mengenal kelahiran, karakteristik, mukjizat, sirah serta akhlak mulia beliau bukan hanya ketika maulid saja. Mengenal beliau dan hal-hal tadi bukan hanya pada waktu tertentu dan dalam kumpulan tertentu, akan tetapi setiap saat, sepanjang waktu. Tidak seperti orang-orang yang pro maulid yang memperingatinya hanya ketika malam maulid, malam-malam yang lain tidak demikian. Amalan semacam ini didasari pada tradisi semata yang diambil dari nenek moyang sebelum mereka,

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

“Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka” (QS. Az Zukhruf: 22).

Sebelumnya yang menghidupkan maulid nabi adalah Sulthon Irbil. Mulai dari masa beliau, maulid nabi diperingati setiap tahunnya. Padahal perayaan ini tidaklah diizinkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perayaan ini masuk dalam keumuman ayat,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21).

Ketiga:

Meneladani Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan ittiba’ (mengikuti ajaran) beliau dan berpegang dengan sunnah beliau serta mendahulukan petunjuk beliau dari yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“Dan jika kamu taat kepada Rasul, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. An Nur: 54)

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’: 13).

Demikianlah yang diajarkan dalam Islam. Dalam suatu perayaan pun harus mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena merayakan maulid adalah suatu ibadah. Bagaimana mungkin tidak dikatakan sebagai suatu ibadah? Wong, orang yang rayakan saja ingin mengingat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasti ingin cari pahala. Ini jelas ibadah, bukan perkara mubah biasa. Sedangkan dalam ibadah mesti ikhlas kepada Allah dan mengikuti syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak memenuhi dua kriteria ini, amalan tersebut tertolak.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa (1: 333) berkata,

وَبِالْجُمْلَةِ فَمَعَنَا أَصْلَانِ عَظِيمَانِ أَحَدُهُمَا : أَنْ لَا نَعْبُدَ إلَّا اللَّهَ . وَالثَّانِي : أَنْ لَا نَعْبُدَهُ إلَّا بِمَا شَرَعَ لَا نَعْبُدُهُ بِعِبَادَةِ مُبْتَدَعَةٍ . وَهَذَانِ الْأَصْلَانِ هُمَا تَحْقِيقُ ” شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Ini adalah dua landasan agung dalam agama ini yaitu: tidak beribadah selain pada Allah semata dan tidak beribadah kecuali dengan ibadah yang disyari’atkan, bukan dengan ibadah yang berbau bid’ah. Inilah konsekuensi atau perwujudan dari syahadat laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan syahadat (pernyataan) bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.

Keempat:

Memperingati maulid bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula amalan para sahabat yang mulia, bukan pula amalan tabi’in, dan bukan pula amalan para imam yang mendapat petunjuk setelah mereka. Perayaan maulid hanyalah perayaan yang berasal dari Sulthon Irbil (pelopor maulid nabi pertama kali). Jadi, siapa saja yang memperingati maulid, dia hanyalah mengikuti ajaran Sulthon Irbil baik atas dasar ia tahu ataukah tidak, bukan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelima:

Meneladani dan mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal dan dalam keadaan berniat yang benar, haruslah dengan mengikuti ajaran beliau dan para sahabatnya. Begitu pula ia memperingatkan dari setiap bid’ah, di antaranya adalah bid’ah maulid.

Baca selengkapnya :

http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/memperingati-maulid-dalam-rangka-mengingat-kelahiran-nabi-2226

Mari Ziarah Kubur, Tapi…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Mari berziarah kubur… TAPI tinggalkanlah amalan yang tidak dicontohkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- saat berziarah.

=======

Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:

“Amalan-amalan yang tidak sesuai tuntunan ketika di kuburan ada beberapa tingkatan:

Yang paling jauh dari syariat adalah MEMINTA hajat kepada mayit, dan beristighosah kepadanya untuk meminta hajatnya sebagaimana dilakukan banyak orang.

Mereka itu sejenis dengan para penyembah berhala, oleh karenanya kadang setan menampakkan dirinya dengan rupa si mayit atau orang (yang diagungkannya) yang jauh darinya, seperti yang dilakukan setan terhadap para penyembah berhala.

Dan inilah yang terjadi pada orang-orang kafir dari kaum musyrikin dan ahli kitab, ada dari mereka yg meminta kepada orang yang diagungkannya, lalu setan menampakkan dirinya dengan rupanya. Dan kadang setan itu mengabarkan kepada mereka sebagian dari kabar gaib.

Begitu pula BERSUJUD kepada kuburan, mengusap-usapnya, dan menciuminya.

Tingkatan KEDUA: meminta (di sisi kuburan) kepada Allah azza wajall dengan (menyebut) mayit.

Ini dilakukan oleh banyak orang yang datang belakangan, padahal ini merupakan bid’ah sebagaimana disepakati kaum muslimin.

** Contoh: “Ya Allah ampunilah dosa hamba dengan (kemuliaan dan kehormatan) si fulan”

Tingkatan KETIGA: meminta (di sisi kuburan) kepada Allah untuk dirinya sendiri.

Tingkatan KETIGA: menganggap bahwa berdoa di sisi kuburan itu mustajab, atau menganggap doa di sana lebih afdhol daripada berdoa di masjid, sehingga dia menziarahi kuburan itu dan sholat di sisinya untuk tujuan meminta hajat-hajatnya.

Ini juga merupakan kemungkaran yang diada-adakan sebagamana disepakati kaum muslimin. Ini diharamkan, dan aku tidak tahu ada perselisihan antara para imam dlm masalah ini, meskipun banyak orang-orang yang datang belakangan melakukannya.

(Bahkan) ada dari mereka yang mengatakan: ‘kuburan si fulan adalah tempat yg telah terbukti (mustajab)’.

Dan hikayat yang dinukil bahwa IMAM SYAFII dahulu menyengaja pergi ke kuburan Abu Hanifah (untuk berdoa di sana) adalah DUSTA yang nyata.

[Ighotsatul Lahafan, Ibnul Qoyyim, 1/217-218]

NB:

Ziarah yang disyariatkan dengan melakukan tiga hal:

1. Mengucapkan salam kepada ahli kubur.
2. Mendoakan kebaikan untuk ahli kubur.

3. Mengingatkan diri kepada kematian dan hari akhir.