All posts by BBG Al Ilmu

Renungan Tahun Baru…

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Allah berfirman yang artinya:
“Orang orang yahudi dan Nashrani tak akan rela kepadamu sampai kamu mengikuti millah mereka..
katakan, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar..
jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang kepadamu kebenaran..
maka kamu tidak akan memiliki wali tidak pula penolong..”
QS Al Baqarah:120

Lihatlah..
Kaum yahudi dan Nasrani tak akan rela..
Sampai kita mengikuti millah mereka..
dan merayakan tahun baru adalah termasuk millah mereka..

Bila kita mengikuti kemauan mereka..
maka Allah tidak lagi menjadi penolong untuk kita..

Renungkanlah saudaraku..

Ada Apa Sebenarnya Dengan Tahun Baru..?

Akhi, Ukhti…

Tahun baru..

Ada apa sebenarnya dengan tahun baru..?

Untuk siapakah tahun baru..?
Emangnya apanya yang baru..?

Sering kali terjadi pembodohan publik. Sesuatu yang buruk akan dianggap baik dengan propaganda yang tiada henti (PENCITRAAN). Sehingga terbentuklah opini publik bahwa itu adalah hal yang baik

Begitu pula dengan tahun baru…

Coba kau gunakan akal sehatmu..

Ingatlah bahwa tidak ada yang baru..
– tempat kerjamu tetap yang lama..
– tempat sekolahmu juga sama…
Istri atau suami kita juga tidak baru..
– anak-anakmu juga masih yang lama..
– rumahmu juga tetap yang dahulu..
– teman-teman dan sohib juga sama..
– gajimu juga tetap..

Terus apanya yang baru..?

Sebagian umat Islam turut dalam perayaan tahun baru dengan berbagai cara..
– ada yang tenggelam dalam acara-acara tidak berguna..
– ada yang menggunakannya untuk bermuhasabah..
– ada yang berkumpul berdo’a dan berdzikir..

Ketahuilah..
pada malam tahun baru itu tidak ada peristiwa apapun, sehingga kau harus bersikap atau bertindak..

Tidak ada yang istimewa, tidak padamu, tidak pada negaramu, tidak pada keluargamu..

TIDAK ADA APA-APA pada malam tahun baru.. laa syai-i..
Kita saja yang tertipu OLEH MEDIA..

Laluilah malam tahun baru seperti seorang petani muslim di lereng gunung merapi..
– setelah sholat isya’ ia bersiap-siap untuk tidur..
– ia berwudu’ seperti hendak sholat..
– lalu ia membaca do’a dan wirid sebelum tidur..
– lalu ia bangun sebelum shubuh untuk mengambil bagian rizkinya dari sholat malam..
– dan Ketika adzan shubuh dikumandangkan, ia berangkat ke rumah Allah..
– dan kemudian ia memulai aktivitasnya dengan biasa..

karena pada malam tahun baru memang tidak ada peristiwa apa-apa..

Orang yang cerdas adalah orang yang berusaha untuk berada di depan dan tidak mau menjadi ekor, dia menjadi dirinya sendiri.. maka kau jangan menjadi ekor.. karena tugas ekor itu menutupi aib dan kotoran serta mengusir serangga.

Sudah saatnya yang mengaku islam untuk kembali kepada ISLAM..

Ditulis oleh,
Ustadz Syafiq Riza Basalamah MA,  حفظه الله تعالى

Cintailah Ahlus-Sunnah Dan Berlemah Lembutlah Kepada Mereka…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan setiap muslim yang mengikuti jejak mereka dengan baik dan benar dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an & As-Sunnah serta mendakwahkan keduanya.

Berikut ini adalah riwayat-riwayat yang shohih dari para ulama as-salafus sholih yang menerangkan tentang kewajiban bersikap lemah lembut dan mencintai sesama Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah.
 
1. Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Wahai Ahlus Sunnah, bersikap lemah lembutlah diantara kalian -semoga Allah merahmati kalian-, karena sesungguhnya kalian adalah manusia yang paling sedikit (jumlahnya).” (Lihat Syarhu Ushuli I’tiqodi Ahlis Sunnati Wal Jama’ah, karya Al-Lalaka’i I/57 no.19).

2. Beliau juga berkata: “Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sesungguhnya Ahlus Sunnah adalah manusia yang paling sedikit di masa lalu, sekarang dan di masa yang akan datang. Mereka adalah orang-orang yang tidak pergi dan berjalan bersama orang-orang yang hidup mewah yang mengakibatkan tenggelam dalam kemewahan mereka. Dan mereka juga tidak pergi dan berduduk-duduk bersama Ahli Bid’ah yang mengakibatkan terjerumus dalam kebid’ahan mereka. Mereka senantiasa bersabar dalam mengikuti As-Sunnah sampai berjumpa dengan Robb mereka. Maka begitu juga dengan kalian. Jadilah seperti mereka.” (Ta’zhim Qodri Ash-Sholat II/678)

3. Imam Ahmad rahimahullah berkata di akhir surat yang dikirimnya kepada Musaddad bin Musarhad: “Cintailah Ahlus Sunnah dengan apapun yang ada mereka. Semoga Allah mewafatkan kita semua di atas As-Sunnah & Al-Jama’ah. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita sikap ittiba’ (mengikuti) kepada ilmu (syar’i), dan memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa melaksanakan apa-apa yang dicintai n diridhoi-Nya.” (Thobaqot Al-Hanabilah I/345)

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita Husnul Khotimah. Amiin. (Klaten, 29 Desember 2014)

Kematian…

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badrin MA, حفظه الله تعالى

Pernahkah terpikir di hati ketika anda hendak keluar rumah bahwa bisa jadi malaikat maut sedang menanti di depan pintu?

Atau barang kali ketika anda hendak pergi ke suatu tempat, bisa jadi malaikat maut sedang menanti anda di tempat tersebut?

Simak dan renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

لَا يُقَدَّرُ لِأَحَدٍ يَمُوتُ بِأَرْضٍ، إِلَّا حُبِّبَتْ إِلَيْهِ وَجُعِلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَةٌ “

“Bila Allah telah menentukan kematian bagi seseorang terjadi di suatu negri, maka Allah pasti akan menjadikannya cinta atau merindukan negri itu, dan Allah akan menjadikannya merasa berkepentingan untuk pergi ke negri itu.” (Riwayat Ahmad dll)

Pikirkan baik-baik sobat, diri anda, jangan-jangan malaikat maut saat ini sedang menanti anda di tempat yang hendak anda tuju pagi ini.

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami. Amiin.

MUTIARA SALAF : Nasehat Berharga

Salah seorang saudara Sufyan Ats-Tsauri -rohimahullah- pernah menulis surat kepadanya, dia menulis: “Berilah aku nasehat tapi singkat saja..”

Maka Sufyan pun menjawab suratnya dan berpesan:

“Semoga Allah menyelamatkan kami dan kamu dari semua keburukan.

Ya akhi, sungguh dunia ini, kegalauannya tidak akan hilang, kebahagiaannya tidak akan selamanya, dan memikirkannya tidak akan ada habisnya.

Oleh karena itu, beramallah untuk dirimu, agar kamu selamat, dan jangan menunda-nunda lalu (tiba-tiba) kamu terhenti (mati). Wassalam..”

[Hilyatul Aulia, Abu Nu’aim, 5/7]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Pada Saat Engkau Mati…

Kajian.

Inilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Rahimahullah:

“…Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.

Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menguburkanmu.

Dan mungkin banyak yang sudah tidak lagi memikirkan nasihatmu pada suatu hari….. Barang barangmu akan dikemas; kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju barang-barang itu akan disedekahkan agar bermanfaat untukmu.

Yakinlah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dengan kepergianmu.

Ekonomi akan tetap berlangsung!
Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain.

Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu yang akan dihisab dan diperhitungkan untuk yang kecil dan yang besar dari hartamu!

Kesedihan atasmu ada 3 :

** Orang yang mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.

** Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!

** Di rumah ada kesedihan yang mendalam! Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun?? Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Demikianlah “Kisahmu telah berakhir di tengah-tengah manusia”.
Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, AKHIRAT !!

Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.
Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta.
Kini hidup yang sesungguhnya telah dimulai.

Pertanyaannya adalah:
APA PERSIAPANMU UNTUK KUBURMU DAN AKHIRATMU ??

Hakikat ini memerlukan perenungan.

Usahakan dengan sungguh-sungguh;
Menjalankan kewajiban-kewajiban,
hal-hal yang disunnahkan,
sedekah rahasia,
merahasiakan amal shalih,
shalat malam,

Semoga saja engkau selamat.

Andai engkau mengingatkan manusia dengan tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dalam timbangan kebaikanmu pada hari Kiamat.

“Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang orang mukmin”

(Diterjemahkan oleh Ustadz Ainul Haris حفظه الله تعالى )

11 Renungan Ketika Mendapati Musibah…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Hal-hal berikut bisa jadi bahan renungan ketika kita mendapati musibah atau cobaan. Dan merenungkannya, musibah akan terobati, kita akan sabar dan mengharap pahala dari sisi Allah.

1- Renungkanlah bahwa manusia dan hartanya semuanya milik Allah, semuanya hanya titipan di sisi kita.

2- Setiap orang akan kembali pada Allah dan akan meninggalkan dunia.

3- Allah akan memberi yang semisal dan yang lebih baik bagi yang telah hilang.

4- Ingatlah bahwa mengeluh dan menggerutu hanya menambah derita, bukan menghilangkan musibah.

5- Jika mau bersabar dan yakin semuanya kembali pada Allah, maka itu lebih besar pahalanya dibanding dengan tidak sabar.

6- Berkeluh kesah hanya membuat musuh kita senang dan membuat Allah murka.

7- Sabar dan mengharap pahala itu lebih besar ganjarannya daripada mengharap yang telah hilang itu kembali.

8- Jika kita ridho terhadap musibah, Allah pun senang dengan sikap kita. Sebaliknya jika kita benci, Allah pun akan murka.

9- Ketahuilah bahwa Allah yang menurunkan musibah Maha Hakim dengan hikmah yang ia beri, Penuh Rahmat dengan kasih sayang yang ia beri. Allah tidaklah menimpakan cobaan untuk membinasakan hamba, bahkan untuk menguji seberapa kuat imannya.

10- Musibah itu datang untuk menhindarkan diri kita dari penyakit jelek yaitu ujub dan sombong.

11- Ingatlah bahwa mending merasakan pahit di dunia namun dapat merasakan lezatnya kehidupan akhirat.

Diringkas dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad, penjelasan tentang petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengobati musibah.

Semoga Allah memberikan kita kesabaran ketika menghadapi setiap ujian dan cobaan.

Referensi:

Mukhtashor Zaadul Ma’ad, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan keempat, 1429 H, hal. 265-267.