All posts by BBG Al Ilmu

Inilah Orang Cerdas Yang Sebenarnya

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

1. Bismillah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya).

2. Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت

“Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya.” (Hadits ini sanadnya dinyatakan DHO’IF oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani dan syaikh Al-Albani rahimahumallah).

3. Oleh karenanya, beliau memerintahkan para sahabat dan umat Islam agar senantiasa mengingat kematian, sebagaimana sabda beliau:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (dunia). Yakni kematian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Ibnu Hibban).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Potret Tingginya Perhatian Ulama Terhadap NIAT…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Lahham -rohimahulloh- mengatakan:

Suatu saat Syeikh (Ibnu Rojab) menjelaskan kepada kami sebuah masalah, dan dia menjelaskannya dengan panjang lebar (sangat rinci), maka aku pun takjub dengan penjelasan tersebut dan kekuatan ilmunya dalam masalah itu.

Lalu setelah itu, aku masuk dalam majelis yang dihadiri para pemuka berbagai madzhab dan yang lainnya, tapi dia tidak bicara sepatah kata pun (dalam masalah itu).

Maka ketika dia berdiri (dari majelis itu), aku mengatakan kepadanya: “Bukankah kamu telah berbicara dalam masalah itu dengan penjelasan (yang panjang lebar dan sangat menakjubkan)?!”

Dia menjawab: “Aku hanya berbicara dengan pembicaraan yang aku harapkan pahalanya, dan aku takut bicara dalam majelis ini”.

[Dzail Thobaqot Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi, hal 39]

———

Subhanalloh… Ulama dahulu, untuk berkata yang baik saja, masih memikirkan niatnya…

Adapun sebagian orang di zaman ini… Pertama: Mereka bukan ulama tapi menganggap dirinya sebagai ulama…

Kedua: Mereka tanpa segan mengatakan atas nama AGAMA walaupun itu kebatilan…

Ketiga: Seringkali niat dunia melatar belakangi statemen-statemen mereka itu.

Wallohu yahdihim wa yarudduhum ilal haq.

Semoga kita bisa selalu menjaga diri dan NIAT kita dalam setiap gerak dan langkah kita, amin.

Bolehkah Menjaga Rumah Ibadah Non Muslim Karena Panggilan Tugas ?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Sebagai aparat keamanan, penanya mendapat tugas menjaga rumah ibadah non muslim yang merayakan hari raya mereka. Bagaimana ia menyikapinya sebagai seorang muslim ?

Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini :

Diundang Natalan, Sungkan Kalau Tidak Hadir?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badrin MA, حفظه الله تعالى

Bagi banyak orang, menyikapi undangan perayaan natalan atau yang serupa terasa dilematis. Tidak datang, ndak enak sama yang ngundang, tapi kalau datang kok itu perayaan agama lain? Aduuuh, bingung deh jadinya.

Ada lagi yang mendadak jadi ahli ijtihad, atau paling kurang ahli fatwa. Kan hanya datang untuk ikut makan makan, tidak untuk ikut merayakan atau menjalankan ibadahnya, Mengapa dirisaukan?

Berbicara masalah seperti ini, saya yakin sudah sering dibicarakan dan dibahas, terlebih pada hari hari ini. Karena itu saya rasa sudah cukup banyak dalil yang diutarakan dan alasan yang dikemukakan untuk melarang ummat islam ikut serta merayakan natalan. Namun pada status ini saya ingin menyoroti ucapan di atas: “ndak enak perasaan bila tidak hadir pada undangan teman dekat, atau atasan atau kerabat, padahal mereka sudah baik kepada kita selama ini”.

Mendengar atau membaca ucapan di atas, terasa disambar petir. Kok bisa orang islam merasa sungkan, tidak enak perasaan menolak undangan natalan?!

Di saat yang sama orang nashara tanpa sungkan mengundang anda menghadiri perayaannya, padahal ia tahu bahwa anda membenci agamanya, meyakini bahwa agama dia sesat, bahkan bentuk kejahatan dan penipuan terbesar.

Betapa tidak, setiap orang yang berakal sehat akan heran, kok ada anak tuhan atau bahkan tuhan kalah oleh teroris, sehingga mati dibunuh dengan sadis? Walau demikian, mereka Dengan enaknya mengundang anda untuk menghadiri perbuatan jahat alias hina dan bodoh mereka. Namun anehnya, anda merasa malu atau sungkan untuk menunjukkan kecerdasan, kebenaran dan keadilan anda?

Mereka tanpa sungkan menunjukkan keyakinannya, dan bahkan menawarkannya kepada anda dalam bentuk undangan “makan&minum” namun aneh sekali, anda malu untuk menyuarakan dan menunjukkan keyakinan anda?

Mungkinkah, adanya “makan & minum” telah berhasil melunturkan kehormatan iman dan harga diri keyanikan anda?

Seharusnya mereka menjaga perasaan anda yang sakit hati dan murka bila menyaksikan perbuatan kufur mereka. Namun kenyataannya sangat aneh, andalah yang kini merasa sungkan dan merasa perlu untuk menjaga perasaan mereka, sedangkan mereka merasa bangga sehingga berani mengundang anda, seakan undangan mereka ini adalah bentuk kehormatan yang mereka berikan kepada anda. Padahal sejatinya undangan ini adalah bentuk penghinaan dan penistaan terhadap agama dan keyakinan anda.

Kenapa kok seakan telah tidak ada rasa sakit hati sedikitpun pada diri anda atau amarah karena mengetahui mereka menghinakan Allah, Tuhan Yang Maha Suci? Kemanakah, suara iman anda? Kemanakah semangat ingkar mungkar dan amar ma’ruf anda?

Ketika Seseorang Mengatakan Bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Belum Tentu Masuk Surga…

Ustadz Abdullah Taslim, MA, حفظه الله تعالى

Seseorang di negara ini telah mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam belum tentu masuk surga. Apakah benar demikian ?

Simak jawaban Ustadz Abdullah Taslim, MA, حفظه الله تعالى  berikut ini: