Untuk download, klik :
All posts by BBG Al Ilmu
Benarkah Nabi Tidak Memiliki Bayangan?
Ustadz Ammi Nur Baits, Lc, حفظه الله تعالى
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Keterangan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki bayangan, disampaikan oleh Muhammad as-Sholihi (w. 942 H) dalam kitabnya Subul al-Huda wa ar-Rasyad. Beliau menukil beberapa riwayat dari ulama, diantaranya Ibnu Sab’ dalam Khasais Nabi dan ad-Dzakwan.
Ibnu Sab’ mengatakan,
إن ظله صلى الله عليه وسلم كان لا يقع على الأرض وأنه كان نوراً، وكان إذا مشى في الشمس أو القمر لا يظهر له ظل
“Bayangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menempel di tanah. Karena beliau adalah cahaya. Apabila beliau berjalan di bawah terik atau di malam purnama, tidak nampak bayangannya.”
Kemudian keterangan lain dari seorang tabiin bernama ad-Dzakwan, beliau mengatakan,
لم ير لرسول الله صلى الله عليه وسلم ظل في شمس ولا قمر.
Tidak terlihat bayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah matahari maupun purnama.
Ada sebgian yang memberi alasan, agar bayangan beliau tidak diinjak oleh orang kafir, sehingga mereka bisa merendahkan beliau. (Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 2/90)
Hanya saja keterangan ini dinilai lemah oleh para ulama karena beberapa alasan berikut,
Pertama, Allah menegaskan dalam banyak ayat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara fisik adalah manusia biasa seperti umumnya manusia. Hanya saja beliau diberi wahyu dan mendapat penjagaan dari Allah.
Allah berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” (QS. al-Kahfi: 110)
Allah juga berfirman menjelaskan semua karakter nabi,
وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَداً لا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ
“Tidaklah Kami jadikan untuk mereka (para nabi) tubuh-tubuh yang tidak makan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.” (QS. al-Anbiya: 8).
Allah juga mengingkari keheranan orang kafir terhadap status nabi sebagai manunsia biasa,
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأَسْوَاقِ
Mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” (QS. al-Furqan: 8)
Semua ayat di atas menunjukkan bahwa karakter fisik para nabi, tidak berbeda dengan umatnya. Artinya, mereka sama-sama manusia.
Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bani Adam yang diciptakan dari tanah. Sementara yang diciptaan dari cahaya hanyalah malaikat. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan golongan Malaikat.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خُلِقَت المَلائِكَةُ مِن نُورٍ ، وَخُلِقَ إِبلِيسُ مِن نَارِ السَّمومِ ، وَخُلِقَ آدَمُ عَلَيهِ السَّلامُ مِمَّا وُصِفَ لَكُم
“Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian.” (HR. Muslim 2996).
Andai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu cahaya, tentu beliau akan dikelompokkan dalam kategori malaikat dan dikecualikan dari hadis ini.
Ketika menjelaskan hadis ini, penulis as-Silsilah as-Shahihah mengatakan,
وفيه إشارة إلى بطلان الحديث المشهور على ألسنة الناس : ( أول ما خلق الله نور نبيك يا جابر ) ! ونحوه من الأحاديث التي تقول بأنه صلى الله عليه وسلم خلق من نور ، فإن هذا الحديث دليل واضح على أن الملائكة فقط هم الذين خلقوا من نور ، دون آدم وبنيه ، فتـنبّه ولا تكن من الغافلين
Hadis ini mengisyaratkan kesalahan ungkapan yang masyhur di masyarakat, bahwa yang pertama kali diciptakan adalah cahaya nabimu. Atau hadis-hadis yang semisalnya, yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya. Karena hadis ini merupakan dalil tegas bahwa hanya malaikat yang diciptakan dari cahaya, bukann Adam dan keturunannya. Perhatikan ini, dan jangan ikutan menjadi orang lalai. (as-Silsilah as-Shahihah, keterangan no. 458).
Ketiga, kehadiran beliau merupakan cahaya bagi umat. Karena beliau menjadi sumber yang menyampaikan petunjuk dari Allah. Konsekuensi hal ini, fisik beliau harus bisa dilihat dengan sempurna, sehingga para sahabat bisa meniru perbuatan beliau.
Untuk itu, jika fisik beliau berupa cahaya, justru ini menghalanngi kesempurnaan beliau untuk menjadi pelita bagi umat. Karena masyarakat akan kesulitan untuk untuk menyaksikan aktivitas beliau, melihat gerakan beliau ketika ibadah, dst.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas mimbar, dan beliau turun untuk sujud di tanah. Alasannya, agar para sahabat bisa melihat bagaimana cara shalat beliau.
Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ، ثُمَّ عَادَ، حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي، وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي»
Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami di atas mimbar. Beliau takbiratul ihram dan jamaahpun ikut takbir di belakang beliau, sementara beliau di atas mimbar. Kemudian, ketika beliau i’tidal, beliau mundur ke belakang untuk turun, sehingga beliau sujud di tanah. Lalu beliau kembali lagi ke atas mimbar, hingga beliau menyelesaikan shalatnya. Kemudian beliau menghadap kepada para sahabat, dan bersabda,
”Wahai para sahabat, aku lakukan ini agar kalian bisa mengikutiku dan mempelajari shalatku.” (HR. Bukhari 377, Muslim 544, Nasai 739, dan yang lainnya).
Keempat, orang kafir kehilangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perang.
Orang kafir sangat antusias untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terutama ketika perang berkecamuk. Meskipun demikian, ada beberapa pasukan kafir yang kesulitan mengenali beliau di tengah hiruk pikuk perang. Andai tubuh beliau berupa cahaya, mereka akan dengan lebih mudah menjadikan beliau sebagai sasaran utama.
Ketika perang Uhud, Kesedihan menyelimuti kaum muslimin atas musibah ini. Allah menguji mereka dengan wafatnya puluhan saudara mereka. Namun ada musibah yang lebih besar dari itu semua. Di tengah mereka kerepotan menghadapi musuh dari depan dan belakang, tiba-tiba Ibnu Qamiah, salah satu pasukan musyrik berteriak, “Aku telah membunuh Muhammad…” “Aku telah membunuh Muhammad…”.
Seketika hiruk pikuk perang yang sedang berkecamuk langsung berhenti. Kesedihan makin mendalam dialami para sahabat. Membuat mereka lupa akan kesedihan yang pertama. Sementara orang musyrik begitu bangga karena sasaran utama mereka telah terbunuh.
Abu Sufyan yang kala itu memimpin pasukan musyrikin Quraisy, naik ke atas bukit dan meneriakkan,
“Apakah Muhammad masih hidup?”
“Apakah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?”
“Apakah Umar bin Khatab masih hidup?”
Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta para sahabat untuk diam. Akan tetapi, Umar tidak bisa menahan emosinya dan meneriakkan,
يا عدو الله، إن الذين ذكرتهم أحياء، وقد أبقي الله ما يسوءك
“Wahai musuh Allah, orang-orang yang kau sebutkan semua masih hidup. Allah akan tetap membuatmu sedih.”
Kemudian Abu Sufyan memanggil Umar untuk menemuinya, Nabi-pun menyuruhnya untuk menghadap.
“Jawab dengan jujur wahai Umar, apakah kami telah berhasil membunuh Muhammad?” tanya Abu Sufyan.
“Demi Allah, tidak. Beliau juga mendengarkan ucapanmu saat ini.”
Komentar Abu Sufyan,
أنت أصدق عندي من ابن قَمِئَة
“Bagiku Kamu lebih jujur dari pada Ibnu Qamiah.”
Seketika, wajah kegembiraan menghiasi para sahabat. Melupakan semua musibah yang mereka alami dengan ‘kekalahan’ mereka di perang Uhud. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 250).
Andai tubuh beliau berupa cahaya, tentu Abu Sufyan tidak akan bertanya-tanya hal itu, karena beliau badannya berbeda dengan manusia umumnya. Namun kenyataanya, mereka tidak bisa mengenali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah hiruk pikuk peperangan.
Untuk itu, tidak benar jika dinyatakan bahwa jasad Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cahaya, sehingga belia tidak memiliki bayangan. Allahu a’lam.
Ref : http://www.konsultasisyariah.com/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-memiliki-bayangan/#
Beberapa Tips Mudah Dalam MENGHAPAL…
Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى
Syeikh Abdul Karim Alu Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:
“WAKTU yang paling cocok untuk menghapal adalah waktu tenang, waktu yang kosong dari kesibukan, dan setelah rehat yang sempurna, karena otak membutuhkan istirahat sebagaimana badan. Maka hendaklah menghapal itu di akhir malam atau di waktu dini hari.
Jika seseorang ingin menghapal, hendaknya dia MENGERASKAN dan mengangkat suaranya. Berbeda bila dia ingin memahami, maka hendaknya dia memelankan suaranya.
Dan TEMPAT yang cocok untuk menghapal adalah tempat yang terbatas dan sempit, berbeda dengan tempat yang cocok untuk memahami, dia membutuhkan tempat yang lapang. Dan pengalaman menunjukkan hal ini.
Bagi yang mengeluhkan kelemahan hapalannya, maka dia harus banyak MENGULANG-NGULANG”.
[Syeikh adalah salah seorang anggota hai’ah kibar ulama di Negara Tauhid Saudi Arabia, beliau terkenal dengan keluasan ilmu dan hapalannya].
Dunia Konspirasi…
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Sobat, di dunia ini penuh dengan konspirasi. Para penjahat menyusun berbagai strategi atau konspirasi untuk menjebak orang orang baik terutama yang lugu agar akhirnya mereka memenangkan persaingan.
Demikianlah ketetapan yang berlaku di dunia ini. Karena itu sudah sepatutnya kita waspada dan tidak menilai berbagai masalah hanya dari satu sudut pandang.
Namun demikian, percayalah bahwa pada akhirnya nanti, kehendak Allah-lah yang pasti unggul dan orang orang yang berimanlah yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Mereka menyusun konspirasi dan Allah membalas konspirasi (tipu daya) mereka sedangkan Allah adalah Sebaik baik pembalas konspirasi.” (Ali Imran 54)
Sobat! Kembalikan sepenuhnya semua urusan anda kepada Allah, niscaya semuanya berakhir dengan baik.
Kalaulah anda meyakini bahwa kenaikan BBM adalah suatu konspirasi jahat sebagian pihak untuk mengeruk keuntungan buesaar saat ini, dan agar dapat menurunkannya kembali bila dirasa perlu dan pada momentum yang dirasa tepat, maka percayalah Allah pasti membalas konspirasi jahat tersebut, asalkan anda beriman dan menyerahkan urusan anda kepada Allah. Percayalah dengan cara ini maka akhirnya nanti andalah yang memetik keuntungan dari kenaikan ini, sehingga buat apa risau?
Apalagi bila anda berkhusnuzzon dengan kenaikan harga BBM maka sudah barang tentu anda patut bersyukur bukan malah risau.
Demikianlah sepatutnya kita menyikapi segala kondisi yang terjadi, agar kita selalu beruntung dan tetap hidup bahagia.
Hiburan Bagi Yang Sakit…
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Anda lagi sakit?
Semoga sakit anda menghapus dosa-dosa anda baik yang anda sadari maupun tidak.
Dalam hadits :
لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَم كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ
“Janganlah engkau mencaci demam, karena demam bisa menghilangkan dosa-dosa bani Adam sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran besi.” (HR Muslim no 2575)
Faedah :
1) Demam tidak hanya menghilangkan satu dosa, tapi dosa-dosa,
2) jika demam -yang merupakan penyakit sepele- menghilangkan dosa-dosa, maka bagaimana lagi yang lebih dari itu?
3) Kita tidak berharap sakit, akan tetapi jika Allah mentaqdirkan sakit maka hendaknya kita bersabar dan rido dengan keputusan Rob kita yang memberikan terbaik bagi kita,
4) dosa ibarat kotoran, semakin banyak kita maksiat maka semakin kotor jiwa kita,
5) ada kotoran yang kita sadari dan yang tidak kita sadari serta dosa yang telah kita lupakan,
6) terkadang kotoran tersebut langsung hilang dengan istighfar, terkadang harus dengan penyakit dan musibah, mungkin istighfar kita kurang bermutu, atau untuk menghilangkan kotoran yang tidak kita sadari atau kita lupakan,
7) Penyakit yang mendatangkan pahala adalah jika si sakit bersabar menghadapinya,
8) ingatlah masih banyak orang yang sakitnya lebih parah dari sakit anda
Do’a ketika dipuji orang lain…
Untuk download, klik :
http://pic.twitter.com/t9ydjqNJ7z
Kita perlu hati-hati ketika dipuji orang karena pujian ini bisa membuat diri kita semakin ujub dan sombong. Oleh karenanya, sahabat yang mulia Abu Bakr Ash Shiddiq, yang terbaik setelah Rasul kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah agar dirinya lebih baik dari pujian tersebut. Ia pun meminta pada Allah agar tidak disiksa karena sebab pujian tersebut. Karena Allah lebih tahu isi hati kita, juga diri kita lebih tahu lemahnya diri kita dibanding orang lain. Jadi jangan terlalu merasa takjub dengan sanjungan orang apalagi diucapkan di hadapan kita.
Ketika dipuji, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berdo’a,
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.(lihat picture)
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)
Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.”
Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas.
Ringkasnya, do’a di atas telah menjadi amalan para salaf karena mereka tidak suka akan pujian dan mereka khawatir amalan mereka jadi terhapus karena selalu mengharap pujian.
Ref: http://rumaysho.com/amalan/doa-ketika-dipuji-orang-lain-3207
Adab Islami Sederhana Sebelum Tidur
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Adab islami sebelum tidur yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.
Pertama: Tidurlah dalam keadaan berwudhu.
Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)
Kedua: Tidur berbaring pada sisi kanan.
Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).
Ketiga: Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.
Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.
Keempat: Membaca ayat kursi sebelum tidur.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)
Kelima: Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa”.
Dari Hudzaifah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)
Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.
Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.
Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)
Semoga kajian kita kali ini bisa kita amalkan. Hanya Allah yang beri taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Ref : http://rumaysho.com/amalan/adab-islami-sederhana-sebelum-tidur-1097
Jauhilah oleh kalian…
3 Pintu Utama Masuk Neraka
Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى
قال الحافظ ابن القيم رحمه الله : “دخل الناس النار من ثلاثة أبواب:
1) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله.
2) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته.
3) وباب غضب أورث العدوان على خلقه”.
انظر: الفوائد – ص105
» Al-Hafizh Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu (yaitu):
1. Pintu SYUBHAT (pemikiran yang rancu lagi menyesatkan) yang dapat menimbulkan keraguan terhadap (kebenaran) agama Allah.
2. Pintu SYAHWAT (gejolak nafsu) yang akan mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Allah dan upaya menggapai ridho-Nya.
3. Pintu AMARAH (emosi) yang akan menimbulkan permusuhan (dan kezholiman) terhadap orang lain.”
(Lihat kitab Al-Fawa-id, karya imam Ibnul Qoyyim hal.105).
Bolehkah Orangtua Memeriksa HP Anaknya?
Ustadz Ammi Nur Baits, Lc, حفظه الله تعالى
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Memeriksa hp orang lain, anaknya atau temannya, dst. Untuk mencari tahu apa yang dia rahasiakan, termasuk bentuk tajassus (memata-matai). Allah melarang perbuatan semacam ini dilakukan kepada sesama kaum muslimin.
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain… (QS. al-Hujurat: 12)
Lalu bagaimana dengan tanggung jawab orang tua terhadap anak, yang harus selalu diawasi.
Berikut keterangan dari lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah,
فلا يجوز التجسس على الولد، ولا على أحد من المسلمين، ولا تتبع عوراتهم، إلا في حالات خاصة وضيقة، تحقيقا لمصلحة أو دفعا لمفسدة ـ إذا لم يمكن فعل ذلك إلا بالتجسس.
“Tidak boleh memata-matai anak, atau kaum muslimin secara umum. Tidak boleh mencari-cari aib mereka. Kecuali dalam kondisi tertentu dengan batasan ketat, yang tujuannya untuk kemaslahatan atau menghindari madharat, sementara untuk mewujudkan tujuan itu kecuali dengan cara memata-matai.”
فإذا رأى الوالد من ولده ريبة، وخشي عليه من الوقوع في ما لا تحمد عقباه، ولم يجد وسيلة لتقويمه إلا بمعرفة ما خفي من حاله، فيمكنه التجسس عليه في حدود الحاجة دون زيادة
“Ketika orang tua melihat gelagat mencurigakan pada anaknya, dan dia khawatir anaknya terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak terpuji, sementara tidak ada cara lain untuk menegurnya kecuali dengan mencari tahu keadaan yang dia sembunnyikan, maka boleh dilakukan tajassus, dalam batas yang dibolehkan, dan tidak lebih.”
Sumber:
http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=212821
http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-ortu-memeriksa-hp-anaknya/#


