All posts by BBG Al Ilmu

Menjaga Diri Dari Kemaksiatan

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

Akhi Ukhti…
Pernah berbuat dosa?

Saya yakin, karena kita adalah manusia yang memang sudah kodratnya berbuat dosa

Sebagaimana di dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

« كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ».

“Setiap anak Aadam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat” (HR Ahmad dan-Tirmidziy)

Tahukan engkau bahwa ternyata ada dosa-dosa yang mengantarkan pelakunya ke dalam surga?

Sesungguhnya taubatnya hamba dari perbuatan dosa seringkali melahirkan penyesalan yang dalam.

Perasaan berdosa yang selalu menghantuinya…
Ketika ia berjalan, duduk dan rebahan…
Ketika sendirian dan di kerumanan orangpun, dosa itu selalu menghantuinya
Sehingga menimbulkan Perasaan hina dan remuknya jiwa di hadapan sang Pencipta

Akhirnya ia berusaha untuk menjaga diri dari kemaksiatan
Banyak beristigfar
Banyak berbuat kebajikan
Dan tentunya itu lebih baik dari apa yang dilahirkan oleh amal kebajikan yang tekadang membuat sebagian orang sombong dan ujub. Dan itu menghantarkannya ke dalam neraka.

Itulah makna pernyataan sebagian salaf:

قد يعمل العبد الذنب فيدخل به الجنة . ويعمل الطاعة فيدخل بها النار

“Terkadang seorang hamba berbuat dosa dan dengannya ia masuk surga
Dan terkadang berbuat ketaatan dan dengannya masuk neraka” (disadur dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam madarijussalikin 1/307)

YA ALLAH MASUKKAN HAMBA KE SURGA DAN HINDARKAN HAMBA DARI NERAKA

5 Macam Tipe Anak

Ustadz Abu Haidar As Sundawi, Lc, حفظه الله تعالى

كتب الشيخ د/عبد الرزاق العباد البدر – حفظهما الله تعالى – :
الأبناء خمسة :
١. بعضهم -هداهم الله- لا يفعلون ما يأمرهم به والداهم. وهاؤلاء عاقون.
٢. يفعلون ما يؤمرون به وهم كارهون. فهاؤلاء لا يؤجرون
٣. وبعضهم يفعلون ما يؤمرون به ويتبعون بالمن والأذى والتأفف ورفع الضوت. فهاؤلاء يؤزرون
٤. وبعضهم يفعلون ما يؤمرون به بطيبة نفس. فهاؤلاء مأجورون وهم قليلون.
٥. وبعضهم يفعلون ما يريده الوالدان قبل أن يؤمروا به. فهاؤلاء هم البارون الموفقون وهم نادرون.
�فلا تسأل عن بركة أعمارهم وسعة أرزاقهم وانشراح صدورهم وتيسير أمورهم وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله ذو الفضل العظيم
~~~~~~~~~

Syaikh Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr – Hafidzahumallah- :

Ada 5 Macam Tipe Anak ;

1. Anak yang -semoga Allah memberi hidayah kepada mereka- tidak melaksanakan apa yang diperintahkan kedua orangtuanya. Merekalah Anak Durhaka.

2. Anak yang melaksanakan apa yang diperintahkan orangtuanya dengan terpaksa. Mereka tidak akan memperoleh pahala.

3. Anak yang melaksanakan perintah orangtua tapi diikuti dengan suka menyakiti baik dengan lisan ataupun perbuatan berkata ‘Ah’ dengan suara yang tinggi. Mereka akan memperoleh dosa.

4. Anak yang melaksanakan apa yang diperintahkan orangtuanya dengan senang hati. Mereka akan memperoleh pahala. Tapi jumlah mereka sedikit.

5. Anak yang melaksanakan apapun yang dinginkan oleh orangtuanya sebelum diperintahkan. Merekalah anak-anak yang berbakti yang telah memperoleh taufiq. Tipe seperti ini sangat jarang.

** Jangan anda tanyakan tipe anak mana yang akan diberkati umurnya, diluaskan rizkinya, dilapangkan dadanya, dan dimudahkan urisannya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah-lah pemilik karunia yang agung.

Tertipu Oleh Kepintaran

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ada Kisah seorang ikhwah..
Yang amat mencintai istrinya. .
Namun istrinya tak mencintainya. .
Ia mengharapkan lelaki lain. .
Yang lebih darinya. .

Wanita itu telah pandai Bahasa Arab. .
Sementara suaminya. .
Hanya memahami Bahasa Indonesia. .

Wanita itu telah lama mengaji. .
Sementara suaminya. .
Sibuk membanting tulang mencari nafkah. .
Tuk membahagiakan kekasihnya. .

Wanita itu telah banyak menghafal al-Qur’an. .
Sementara suaminya tak banyak bisa menghafal. .

Mungkin. .
Kini suaminya sudah tak berharga di matanya. .
Mungkin. .
Kini cintanya telah pudar di hatinya. .
Karena tak sesuai harapannya. .

Demikianlah. .
Kisah cinta yang bertepuk sebelah. .
Karena istrinya tertipu oleh kepintarannya. .

Ilmu tak membuatnya semakin sayang pada
suaminya. .
Ilmu tak membuatnya semakin berbakti kepada
suaminya. .
Ilmu membuatnya angkuh. .
Tak ada lagi cinta dihatiku, kilahnya. .

Saudariku. .
Engkau boleh lebih berilmu dari suamimu. .
Tapi mungkin suamimu lebih takut kepada Allaah darimu. .

Engkau boleh punya banyak kelebihan di atas
suamimu. .
Tapi, suamimu. .
Mungkin lebih dicintai oleh Robbmu karena
ketawadhu’annya. .

Al Hasan Al Bashri rohimahullaah berkata. .
“Ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal
riwayat. Namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada Allaah.”

Dimanakah hadits yang telah engkau hafal,
“Suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu..”

Ya Robb. .
Berilah kami ilmu yang bermanfaat…

Iman Mengalahkan Amal

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Abu Bakar adalah orang yang paling utama setelah para nabi dan rosul.

Keutamaan Abu Bakar melebihi keutamaan seluruh para sahabat. Padahal banyak dikalangan para sahabat yang gugur sebagai syahid di jalan Allah taala. Apa rahasia keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq ?

jawabnya adalah APA YANG ADA DALAM HATINYA berupa keimanan.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang amalan yang paling utama lalu beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Berjihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Haji yang mabrur.” (HR Bukhari)

Ibnul Qoyyim mengatakan: ”perhatikanlah hadits ini, bagaimana Rosulullah lebih mengutamakan iman kepada Allah daripada amalan berjihad di jalan Allah. Padahal jihad lebih melelahkan..”

Umar bin al khaththab mengatakan : “Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, (selain nabi dan rosul) niscaya lebih berat iman Abu Bakar.”

Abu Bakar Su’bah al Qaari berkata : “Tidaklah Abu Bakar mendhaului kalian dengan banyaknya sholat dan shodaqoh, namun dengan iman yang menancap di hatinya”

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Klik :

http://salamdakwah.com/videos-detail/amalan-qalbu.html

Terpedaya Dengan Luasnya Kemurahan Dan Pengampunan Allah

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sebagian sebab terjerumusnya seseorang ke dalam kemaksiatan dan dosa adalah keyakinannya bahwa Allah maha baik/pemurah dan maha pengampun. Hati kecilnya berkata, “Sekarang aku bermaksiat, setelah ini aku segera bertaubat, sungguh Allah maha pengampun…, toh Allah Maha baik…, Allah tidak menyegerakan hukuman dan adzab…”

Ini adalah tipuan syaitan, dengan tipuan ini syaitan telah membinasakan banyak hamba-hamba Allah…, memudahkan mereka terjerumus dalam kemaksiatan…, menjadikan mereka memandang remeh dosa-dosa, karena dengan alasan “Allah maha pemurah dan maha pengampun…”.

Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (٦)

“Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.” (QS Al-Infithoor : 6)

Sebagian salaf menafsirkan ayat ini dengan menjelaskan bahwa diantara sebab seorang anak Adam durhaka dan bermaksiat kepada Allah adalah terpedayanya dia dengan baiknya Allah.

وقيل للفضيل بن عياض: لو أقامك الله سبحانه يوم القيامة، وقال: ما غرَّك بربك الكريم، ماذا كنت تقول؟

قال: أقول: غَرَّنِي سُتُوْرُكَ الْمُرْخَاةُ..

Dikatakan kepada Al-Fudhoil bin ‘Iyaadh, “Seandainya Allah menyidangmu pada hari kiamat dan berkata : “Apakah yang membuatmu terpedaya sehingga durhaka kepadaKu”?. Fudhail berkata, “Aku berkata, “Tirai-Mu yang Engkau ulurkan” (Zaadul Masiir li Ibnil Jauzi 4/411 dan Tafsir Ibnu Katsir 8/342)

Maksud Fudhail rahimahullah, yaitu sebab maksiat adalah baiknya Allah yang menutup aib-aib hambanya, seperti tirai yang diulurkan yang menutupi dosa-dosa hamba dari pandangan manusia. Seandainya setiap dosa dibongkar oleh Allah maka tidak akan ada yang berani bermaksiat karena malu. Akan tetapi –dengan kebaikanNya- Allah menutup aib-aib mereka.

وقال أبو بكر الوراق: لو قال لي: {ما غرك بربك الكريم} لَقُلْتُ: غَرَّنِي كَرَمُ الْكًرِيْمِ.

Abu Bakar Al-Warrooq berkata, “Kalau seandainya Allah berkata kepadaku, “Apa yang membuatmu durhaka kepada Robmu Yang Pemurah/Baik”?, maka aku akan berkata, “Aku terpedaya dengan kebaikan Dzat Yang Maha Baik/Pemurah” (Tafsir Ibnu Katsir 8/342)

وقال يحيى بن معاذ: لو قال لي: ما غرك بي؟ قلت: بِرُّك سالفاً وآنفا

Yahya bin Mu’adz berkata, “Seandainya Allah berkata kepadaku, “Apakah yang membuatmu terpedaya (sehingga durhaka) kepadaKu?” Aku menjawab, “KebaikanMu yang telah lalu dan yang akan datang” (Zaadul Masiir li Ibnil Jauzi 4/411)

Yaitu seseorang yang bermaksiat terkadang dan sering tetap saja diberi kenikmatan oleh Allah, hal ini terkadang menjadikannya lupa sehingga menyangka bahwa ia akan terus aman mendapatkan kebaikan Allah meskipun ia tetap bermaksiat. Maka sungguh ia telah terpedaya…

Al-Baidowi berkata dalam tafsirnya tentang ayat di atas :

والإِشعار بما به يغره الشيطان، فإنه يقول له : “افعل ما شئت فربك كريم لا يعذب أحداً ولا يعاجل بالعقوبة”، والدلالة على أن كثرة كرمه تستدعي الجد في طاعته لا الانهماك في عصيانه اغترارا بكرمه.

“…pemberitahuan tentang apa yang menyebabkan seseorang terpedaya oleh syaitan, karena syaitan berkata kepadanya : “Lakukanlah apa yang kau kehendaki, sesungguhnya Robmu Maha Baik, ia tidak akan mengadzab seorangpun, Robmu tidak menyegerakan hukuman.” Padahal seharusnya indikator yang menunjukkan banyaknya kebaikan Allah melazimkan kesungguhan dalam ketaatan kepadaNya dan bukan malah asyik dan tekun dalam bermaksiat kepadanya karena terpedaya dengan kebaikanNya” (Anwaar At-Tanziil 5/292)

Seorang Penyair berkata :

Baca selengkapnya disini:
http://firanda.com/index.php/artikel/wejangan/821-terpedaya-dengan-luasnya-kemurahan-dan-pengampunan-allah

Manfaatkanlah…

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Manfaatkanlah kesempatan hidupmu, barangsiapa yang mati maka terputuslah amalannya, cita-citanya terluputkan, dan pasti datang kepadanya penyesalan.

Manfaatkanlah kesehatanmu, barangsiapa yang sakit maka ia tidak kuat untuk melakukan banyak amal kebajikan, lalu ia berangan-angan seandainya ia di masa sehatnya ia sholat dan puasa.

Manfaatkanlah waktu luangmu sebelum engkau dikejutkan dengan berbagai macam kesibukan, kau disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari. 

Manfaatkanlah masa mudamu sebelum engkau tua, maka beratlah tubuhmu, anggota-anggota tubuhmu tidak kuat lagi.

Manfaatkanlah masa kayamu, bersedekahlah, berinfaklah, keluarkanlah hartamu, sebelum engkau kehilangan hartamu atau hartamu pergi meninggalkanmu.

Seluruh kesempatan adalah manfaat, bagaimanapun kecilnya kesempatan tersebut dalam pandanganmu, maka itu adalah keuntungan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun meskipun hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah tersenyum”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya) :

“Jagalah dirimu dari api neraka meskipun dengan bersedekah sepenggal butir kurma, dan barangsiapa yang tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan maka bersedekahlah dengan ucapan yang baik” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda (yang artinya) :

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang diridoi oleh Allah, ia tidak memperdulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena kalimat tersebut” (HR Al-Bukhari).

Demikianlah kondisi seorang muslim, ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk memberi bagaimanapun kecilnya, ia berusaha semaksimal mungkin meskipun pemberian tersebut sedikit.

Dinukil dari tulisan Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Ref:
http://www.firanda.com/index.php/artikel/khutbah-jum-at-masjid-nabawi-terjemahan/820-kesempatan

Keutamaan Menyayangi Anak Perempuan

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Seseorang yang mendidik anaknya dengan baik dan menyayangi mereka, terutama anak perempuan, maka akan mendapatkan keutamaan yang besar. Dengan didikan dan kasih sayang bisa mengantarkan orang tuanya masuk surga dan terselamatkan dari siksa neraka.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ »

“Ada seorang wanita masuk ke tempatku dan bersamanya ada dua anak gadisnya. Wanita itu meminta sesuatu. Tetapi aku tidak menemukan sesuatu apa pun di sisiku selain sebiji kurma saja. Lalu aku memberikan padanya. Kemudian wanita tadi membaginya menjadi dua untuk kedua anaknya itu, sedangkan ia sendir tidak makan sedikit pun dari kurma tersebut. Setelah itu ia berdiri lalu keluar.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku, lalu saya ceritakan hal tadi kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Barangsiapa yang diberi cobaan sesuatu karena anak-anak perempuan seperti itu, lalu ia berbuat baik kepada mereka maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang untuknya dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 5995 dan Muslim no. 2629)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

جَاءَتْنِى مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِى كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِى شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِى صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ »

“Saya didatangi oleh seorang wanita miskin yang membawa kedua anak gadisnya. Lalu saya memberikan makanan kepada mereka berupa tiga buah kurma. Wanita itu memberikan setiap sebiji kurma itu kepada kedua anaknya dan sebuah lagi diangkat lagi ke mulutnya. Namun, kedua anaknya itu meminta kurma yang hendak dimakannya tersebut. Kemudian wanita tadi memotong buah kurma yang hendak dimakan itu menjadi dua bagian dan diberikan pada kedua anaknya.

Keadaan wanita itu membuat saya takjub, maka saya beritahukan perihal wanita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk wanita itu masuk surga karena perbuatannya atau akan dibebaskan juga dari siksa neraka.” (HR. Muslim no. 2630).

Keutamaan Menyayangi dan Berbuat Baik pada Anak Perempuan

Dua hadits di atas menunjukkan mengenai hukum mendidik anak dan berbuat baik pada mereka. Jika anak tersebut perempuan, maka lebih tekankan lagi. Pahala mendidik anak perempuan lebih besar berdasarkan hadits yang dikemukakan di atas.

Apa alasannya kenapa sampai Islam lebih perhatian pada pendidikan anak perempuan? Ada beberapa alasan di sini:

1- Karena ada sebagian orang yang kurang suka dengan anak perempuan seperti pada masa Jahiliyyah sebelum Islam. Itulah mengapa sampai disebut dalam hadits yang dikaji ini, anak wanita itu adalah ujian karena umumnya banyak yang tidak suka. Sebagaimana diterangkan pula mengenai keadaan orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.” (QS. An Nahl: 58).

2- Nafkah yang diberikan pada perempuan lebih banyak.

3- Mendidik anak perempuan lebih susah.

4- Pendidikan yang baik pada anak perempuan akan membuat mereka mewariskan didikan tersebut pada anak-anaknya nanti dan wanita itulah yang bertindak sebagai pendidik di rumah.

Juga dijanjikan dalam hadits bahwa siapa yang mendidik anak perempuannya dengan baik maka ia akan terbentengi dari siksa neraka dan dijanjikan masuk surga. Dalam hadits lainnya, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ (وَضَمَّ أَصَابِعَهُ)

Siapa yang mendidik dua anak perempuan hingga ia dewasa, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia ….” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatkan jari jemarinya. (HR. Muslim no. 2631). Artinya, begitu dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dua hadits yang kami sebutkan di awal, di situ diajarkan pula bagaimanakah besarnya kasih sayang ibu kepada anak-anaknya.

Semoga bermanfaat yang singkat ini.

Hubungan Suami Istri

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Adakah aturan dalam Islam, berapa kali hubungan intim atau hubungan seks dalam sepekan?

Intinya, dalam Islam tidak ada pembatasan berapa kali dalam seminggu untuk hubungan intim. Mengenai perkara tersebut tergantung pada keadaan dan kemampuan tiap person.

Namun sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (7: 30),

والوطء واجب على الرجل – أي الزوج بأن يجامع زوجته – إذا لم يكن له عذر ، وبه قال مالك

“Hubungan seks wajib dilakukan oleh suami, yaitu ia punya kewajiban menyetubuhi istrinya selama tidak ada udzur. Demikian dikatakan oleh Imam Malik.”

Ada hadits pula dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya,

« يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ » . فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « فَلاَ تَفْعَلْ ، صُمْ وَأَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Wahai Abdullah, benarkan aku dapat kabar darimu bahwa engkau terus-terusan puasa dan juga shalat malam?” Abdullah bin Amr bin Al Ash menjawab, “Iya betul wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jangan lakukan seperti itu. Engkau boleh berpuasa, namun ada waktu tidak berpuasa. Engkau boleh shalat malam, namun ada waktu untuk istirahat tidur. Ingat, badanmu punya hak, matamu punya hak, istrimu juga punya hak yang mesti engkau tunaikan. Begitu pula tenggorokanmu pun memiliki hak.” (HR. Bukhari no. 1975).

Dalam Fathul Bari (9: 299) disebutkan perkataan Ibnu Batthol,

وَأَنَّهُ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُجْهِد بِنَفْسِهِ فِي الْعِبَادَة حَتَّى يَضْعُف عَنْ الْقِيَام بِحَقِّهَا مِنْ جِمَاع وَاكْتِسَاب

“Hendaklah suami tidak mempersusah diri dalam ibadah sehingga membuat ia lemas untuk menunaikan hak istrinya yaitu kebutuhan seks dan bekerja untuk keluarga.”

Ibnu Hajar juga menyebutkan,

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِيمَنْ كَفّ عَنْ جِمَاع زَوْجَته فَقَالَ مَالِك : إِنْ كَانَ بِغَيْرِ ضَرُورَة أُلْزِم بِهِ أَوْ يُفَرَّق بَيْنهمَا ، وَنَحْوه عَنْ أَحْمَد ، وَالْمَشْهُور عِنْد الشَّافِعِيَّة أَنَّهُ لَا يَجِب عَلَيْهِ ، وَقِيلَ يَجِب مَرَّة ، وَعَنْ بَعْض السَّلَف فِي كُلّ أَرْبَعٍ لَيْلَة ، وَعَنْ بَعْضهمْ فِي كُلّ طُهْر مَرَّة .

“Para ulama berselisih pendapat bolehkah suami meninggalkan menyetubuhi istrinya. Imam Malik berpandangan, “Jika tidak darurat melakukannya, suami bisa dipaksa berhubungan seks atau mereka berdua harus pisah.” Imam Ahmad juga berpendapat seperti itu. Sedangkan yang masyhur dari kalangan ulama Syafi’iyah, ia tidak wajib berhubungan intim. Ada pula yang berpandangan bahwa wajibnya sekali. Sebagian ulama salaf berpendapat, setiap empat malam, harus ada hubungan seks. Ulama lainnya berpandangan, setiap kali suci dari haidh, sekali hubungan seks.” (Idem)

Ibnu Taimiyah berpendapat,

ويجب على الزوج وطء امرأته بقدر كفايتها ما لم ينهك بدنه أو يشغله عن معيشته ، .. فإن تنازعا فينبغي أن يفرضه الحاكم كالنفقة وكوطئه إذا زاد

“Wajib bagi suami berhubungan seks dengan istrinya sesuai kemampuannya selama tidak mengganggu fisik dan tidak melalaikan dari kewajiban mencari nafkah. Jika ini tidak dipenuhi, maka seorang hakim peradilan bisa memaksanya sebagaimana dalam hal nafkah atau sebagaimana dalam hubungan seks yang berlebihan.” (Al Ikhtiyarot Al Fiqhiyyah, hal. 246).

Adapun jika suami bepergian karena tujuan yang disyari’atkan atau ada alasan lainnya yang dibolehkan, maka hendaklah tidak terlalu lama meninggalkan istri.

Kalau kepergian suami demi kemaslahatan kaum muslimin seperti jihad di jalan Allah atau menjaga garis perbatasan, maka hendaklah ia tidak meninggalkan istrinya terlalu lama, tidak lebih dari empat bulan.

Contohnya, ketika pemerintahan Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu. Umar memberikan waktu bagi para pasukannya untuk pergi meninggalkan keluarganya (istrinya) tidak lebih dari empat bulan. Kalau ternyata sudah mencapai empat bulan, maka pasukan tersebut siap diganti dengan yang lain. (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 1078 oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid).

Semoga bermanfaat, semoga semakin menambah cinta antara pasangan suami istri.

Harga Barang Mahal, Salah Siapa ?

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, diantara hal yang sedang hangat menjadi pembicaraan saat ini ialah kenaikan harga barang akibat kenaikan harga BBM.

Beraneka ragam tanggapan, analisa dan sikap. Namun tahukah anda bahwa kenaikan harga seperti yang saat ini terjadi bukanlah hal baru. Sudah sekian kali harga barang naik dan kembali naik. Dan sudah sekian kali pula kita membicarakan dan mempersoalkan kenaikan harga tersebut.

Sobat, sadarkah saudara bahwa sejatinya kenaikan yang terjadi adalah semu?

Sadarkah saudara bahwa salah satu sebab utama atau bahkan sebab utama kenaikan harga ialah hilangnya standar nilai barang dan jasa?

Ketika anda berbicara tentang nilai barang, anda pasti mengukurnya dengan uang. Namun sadarkah anda bahwa di saat yang sama nilai suatu mata uang termasuk rupiah dinilai pula dengan barang?

Bila demikian yang terjadi, manakah yang sejatinya menjadi standar nilai, uang atau barang?

Karena itu, bila kita terus mengkambing hitamkan BBM sebagai biang kenaikan harga maka kita akan terus menjadi korban permainan kaum kapitalis.

Tahukah anda bahwa sejak dahulu kala hingga kini nilai jual seekor kambing dewasa adalah sekitar 1 dinar, yaitu seberat 4,5 gram emas?

Ketahuilah saudaraku! Andai kita kembali kepada syariat islam niscaya terwujud stabilitas ekonomi.

Betapa tidak, dalam syariat islam ditetap bahwa uang -apapun bahan bakunya- adalah alat transaksi dan standar nilai. Sehingga kita dilarang untuk menjadikannya sebagai obyek ekonomi dengan memperdagangkan secara bebas.

Islam memberikan batasan yang ketat; harus tunai dan senilai, demi terwujudnya stabilitas nilai mata uang yang merupakan alat ekonomi dan standar nilai barang dan jasa.

Dalam syariat islam, obyek ekonomi adalah barang dan jasa, karena dengan keduanyalah kita memenuhi kebutuhan kita, yaitu dengan cara memakannya, atau mengenakannya, atau menghuninyya atau cara cara lainnya.

Adapun uang, maka hingga saat ini tidak seorangpun yang bisa makan uang atau berteduh dibawah uang atau berbaju uang. Namundengan uang kita bisa membeli makanan, pakaian, rumah dan berbagai kebutuhan kita lainnya.

Karena itu, marilah sobat kita membuka mata untuk dapat memahami masalah yang sebenarna, yaitu jauhnya kita dari ajaran Allah. Padahal kita beriman bahwa dunia ini adalah ciptaan Allah. Namun demikian kita membangun dunia ini dengan aturan hasil rekayasa manusia, bukan sembarang manusia, namun manusia hina dina yang kufur kepada Allah.

Fakta kehidupan kita saat ini bagaikan orang yang inhin mengoprasikan pesawat tempur canggih dengan cara cara pak kusir mengoprasikan dokar/pedatinya.

Logika sehat mengharuskan kita untuk menggunakan aturan dan syariat Allah agar dapat membangun dan memakmurkan bumi ini.

Karena itu, marilah kita kembali kepada syariat Allah, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya dan mendakwahkannya, niscaya kedamaian dan kemakmuran terwujud.Simak janji Allah berikut:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapapun yang beramal sholeh baik lelaki ataupun wanita sedangkan ia beriman niscaya Kami memberinya kehidupan yang indah dan Kami memberinya pahala amalan mereka dengan yang lebih baik dibanding apa yang telah mereka amalkan.” (An Nahel 97)

Sepucuk Surat Dari Ayah Dan Ibu

Copas oleh Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Anakku,

Ketika aku semakin tua aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku…

Suatu ketika aku memecahkan piring..atau menumpahkan sup di atas meja, karena penglihatanku berkurang aku harap kamu tidak memarahiku

Orang tua itu sensitif selalu merasa bersalah saat kamu berteriak

Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakana Aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!” Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya

Maaf, Anakku…
Aku semakin tua…, ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun…seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan

Aku mohon, jangan bosan denganku ketika aku terus mengulangi apa yang kukatakan, seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku…

Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku….
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon?

Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan

Maafkan juga bauku tercium seperti orang yang sudah tua…
Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi..Tubuhku lemah..
Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin
Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu…
Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?, Aku selalu mengejar-ngejar kamu..karena kamu tidak ingin mandi

Aku harap kamu bisa bersabar dengan ku, ketika aku selalu rewel
Ini semua bagian dari menjadi tua,…kamu akan mengerti ketika kamu tua…

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara, bahkan untuk beberapa menit…
Aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seseorang pun untuk diajak bicara..

Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan, bahkan jika kamu tidak tertarik pada ceritaku, aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu…

Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?, aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu

Ketika Saatnya tiba..dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku…

Maaf, kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan…
Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku, aku mungkin, tidak akan bertahan lebih lama…

Ketika waktu kematian ku datang…, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian

Ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta…aku akan berbisik padaNya untuk selalu memberikan berkah padamu karna kamu mencintai Ibu dan Ayahmu…Terima kasih atas segala perhatianmu, nak