All posts by BBG Al Ilmu

Buah Dari Menunda-Nunda Adalah Penyesalan Dan Kerugian

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata ;

تﺎﻣاﺪﻨﻟاو ﻰﻠﻋ ﺪﺒﻌﻟا ، ﻲﻫو ةﺮﺠﺷ ﺎﻫﺮﻤﺛ ناﺮﺴﺨﻟا ﻦﻴﺴﻟا ، فﻮﺳو ، ﻰﺴﻋو ، ﻞﻌﻟو : ﻰﻬﻓ ﺮﺿأ ءﻲﺷ .;

“Saya akan melakukannya…., nanti akan saya kerjakan…, mungkin saja saya lakukan nanti…, semoga akan saya lakukan….(kata-kata yang menunjukan kemalasan dan menunda-nunda) yang kata-kata seperti ini sangat memberi kemudorotan kepada seorang hamba. Kata-kata ini merupakan sebuah pohon yang buahnya adalah kerugian dan penyesalan-penyesalan”

(Madaarijus Saalikiin 1/470)

1314. Dana Pensiun

1314. BBG Al Ilmu

Tanya :
Assalamu’alaikum, saya mau bertanya perihal dana pensiun. Saya bekerja di suatu perusahaan. Setiap bulan dipotong gaji saya untuk dana pensiun. Dari dana pensiun yang dikelola oleh perusahaan,setiap bulan  terdapat bunga hasil pengembangan. Pada saat saya mengambil pensiun dan mencairkan dana pensiun ada pajak atas dana pensiun tersebut. Apakah pajak atas dana pensiun bisa dibayar/diambil dari bunga hasil pengembangan dana pensiun tersebut ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Dana pensiun, jika terdapat riba dan potongan dan itu diluar kemampuan kita, bahkan diluar sepengetahuan kita, maka ibarat nya, itu merupakan suatu kesalahan yang kita perbuat, akan tetapi yang bertanggung jawab adalah pengelola. Dan untuk supaya bersih harta tersebut, hendaknya dikeluarkan sebahagian untuk sedekah, karena fungsi sedekah adalah membersihkan harta dari hal hal yang diluar sepengetahuan pemilik nya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Yakinlah

Hidup ini bisa saja tertatih-tatih dan berliku-liku, tapi dia tidak akan berhenti. Cita dan asa bisa saja menjadi kabur, tapi dia tidak akan mati.

Kesempatan bisa saja hilang, tapi dia tidak akan habis. Dan betapapun terasa berat dan sempitnya hidup ini, yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat.

Ingatlah selalu firman Allah ta’ala (yang artinya): 
“Bukankah shubuh itu dekat.”
[Hud:81]

Sepanjang apapun kelamnya malam, pasti nantinya akan disusul oleh kemunculan fajar sebagai permulaan terangnya kehidupan…

“Maka sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan. Sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan”. [Asy-Syarh:5-6].

Perhatikanlah bagaimana Allah mengulangi redaksi yang sama hingga dua kali, oleh karena itu carilah dengan seksama celah kemudahan itu, saat Anda menghadapi kesulitan dalam hidup ini.

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Menjelek-Jelekan Makanan

Ust. M Abduh Tuasikal حفظه الله تعالى

Janganlah menjelek-jelekkan makanan, kalau tidak suka yah tinggalkan saja. Tak perlu beri komentar tanda seolak-olah menolak rizki Allah.

Imam Nawawi membawakan dalam kitab Riyadhus Sholihin mengenai tidak bolehnya mencela makanan dan disunnahkan memujinya. Beliau bawakan dua hadits dari Abu Hurairah dan Jabir berikut ini.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikit pun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064).

Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan cara bagaimana menghadapi makanan yang tidak kita sukai, yaitu dengan ditinggalkan. (Bahjatun Nazhirin, 2: 51).

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.” (Syarh Al Bukhari, 18: 93)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Makanan dan minuman yang dinikmati ketika disodori pada kita, hendaklah kita tahu bahwa itu adalah nikmat yang Allah beri. Nikmat tersebut bisa datang karena kemudahan dari Allah. Kita mesti mensyukurinya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya. Jika memang kita suka, makanlah. Jika tidak, maka tidak perlu makan dan jangan berkata yang bernada menjelek-jelekkan makanan tersebut.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 199)

Namun tidak mengapa jika memberi kritikan pada yang masak, misalnya dengan berkata, “Hari ini masakanmu terlalu banyak garam, terlalu pedas atau semacam itu.” Yang disebutkan ini bukan maksud menjelakkan makanan, namun hanyalah masukan biar dapat diperbaiki. Lihat idem, 4: 200.
Hendaklah Memuji Makanan

Adapun dalam masalah memuji makanan dapat terbukti dari hadits Jabir bin ‘Abdillah berikut ini.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka lantas menjawab bahwa tidak di sisi mereka selain cuka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ

“Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim no. 2052).

Perhatikan, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta lauk, yang ada hanyalah cuka. Maka beliau pun tetap menyantapnya, bahkan memujinya. Inilah yang dimaksud memuji makanan.

Jadi, di antara petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika beliau dapati makanan yang disenangi, maka dipuji. Begitu pula hadits Jabir mengajarkan untuk bersederhana dalam makan. Kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa tidak semua yang disenangi jiwa mesti dituruti, kadangkala keinginan semacam itu ditahan seperti diajarkan oleh Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di sini. Lihat Bahjatun Nazhirin, 2: 51.

Baca selengkapnya :
http://rumaysho.com/amalan/jangan-menjelek-jelekkan-makanan-6777

Anda Sedang Bersedih…?

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Bukan hanya anda yang bersedih. Masih banyak orang bahkan semua orang pernah bersedih. Namanya hidup di dunia pasti tidak terlepas dari permasalahan, kegelisahan, kekawatiran, dan kesedihan. Allah berfirman :

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي كَبَدٍ (٤)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS Al-Balad : 4)

Demikianlah kehidupan dunia, siapapun orangnya, orang kaya, orang terkenal, artis, raja, presiden, menteri…semuanya pasti pernah dan sering merasakan kepayahan dan duka cita serta kegelisahan dalam kehidupan mereka.

Bahkan terkadang kita rakyat jelata kasihan melihat orang yang terkenal atau pejabat atau orang kaya yang wajah mereka menunjukkan kesedihan yang mendalam yang terkekang dalam dada mereka.

Seorang penyair berkata :

وَكُن مُوسِراً شِئْتَ أُو مُعسِراً….فَلا بُدَّ تَلْقَى بِدُنْيَاكَ غَمّْ

“Jadilah engkau orang kaya jika kau mau atau jadi orang yang dalam kesulitan…

Bagaimanapun juga duka cita akan menerpa kehidupan duniamu…”

وَدُنياكَ بِالغَمِّ مَقْرُوْنَةٌ…فَلاَ يُقْطَعُ العُمرُ إِلّا بِهَمّْ

“Kehidupan duniamu selalu bergandengan dengan duka cita…
Maka tidaklah umur dilalui kecuali dengan duka cita…”

حَلاَوَةُ دُنْيَاكَ مَسْمُوْمَةٌ… فَلاَ تَأَكُلِ الشَهدَ إِلاَّ بِسُمّْ

“Manisnya kehidupan duniamu teracuni…
Maka engkau tidak mencicipi manisnya madu kecuali dengan terkontaminasi racun…”
 
Bagaimanapun indahnya dan manisnya dunia ini ibarat madu yang manis, akan tetapi manisnya pasti terkontaminasi dengan racun kesedihan dan kepayahan.

Semua ini menjadikan kita untuk bersabar menghadapi kepayahan dan kesedihan dunia…toh kesedihan itu hanyalah sementara…

Semuanya ini mengingatkan kita agar tidak terpedaya dengan kenikmatan dan manisnya dunia…. serta menjadikan kita selalu rindu menuju surga Allah yang berisi kebahagiaan yang abadi yang tidak terkontaminasi dengan kesedihan, kekhawatiran, dan kegelisahan….

Allah berfirman :

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (٤٩)

“Masuklah ke dalam syurga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (QS Al-A’roof : 49)

Penciptaan SETAN Termasuk NIKMAT Yang Agung Bagi Kaum Mukminin ?!

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Memang Iblis dan para setan adalah makhluk terburuk dan musuh nyata bagi manusia, TAPI di sisi lain mereka termasuk diantara NIKMAT yang agung bagi Kaum Mukminin, mengapa?

Mari kita simak penjelasan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini:

“Penciptaan setan-setan, para pengikutnya, dan bala tentaranya termasuk diantara NIKMAT (Allah) yang paling agung bagi kaum mukminin.

Karena sebab keberadaan merekalah kaum mukminin menjadi para MUJAHIDIN di jalan Allah, mereka mencintai dan membenci karena Allah, mereka membela dan memusuhi karena Allah, dan tidaklah jiwa seorang hamba menjadi sempurna, suci, dan berbahagia kecuali dengan jalan itu…

Tindakan kaum musyrikin mendustakan (Nabi) Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- dan usaha mereka untuk menghapuskan dan memerangi dakwah beliau juga termasuk diantara nikmat teragung untuk beliau dan umatnya…

Betapa banyak kenikmatan yang didapatkan dari langkah mereka memusuhi dan memerangi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya, betapa banyak derajat kemuliaan yang mereka dapatkan darinya, betapa banyak hujjah menjadi tegak untuk mendakwahinya, dan betapa banyak kenikmatan dan kebahagiaan abadi yang muncul setelahnya…

Jadi, termasuk nikmat Allah yang paling agung untuk hamba-Nya yang beriman, bahwa Dia menciptakan bagi mereka musuh yang seperti ini.

[Mukhtashor Showa’iq Mursalah 2/630].

———

Jika penciptaan Iblis dan setan saja, bisa mendatangkan kenikmatan bagi kita sebagai kaum mukminin, lalu bagaimana dengan hal-hal lain yang level keburukannya di bawahnya..!

Sungguh benar sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang MUKMIN, seluruh keadaannya penuh dengan kebaikan”. [HR. Muslim: 2999]

Wahai Pelaku Maksiat, Janganlah Egois !!!

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Dosa, bagaimanapun juga pasti dan pasti dan pasti akan ada dampak buruknya, cepat atau lambat, baik di dunia, terlebih di akhirat. Maka sungguh pelaku maksiat telah menzolimi dirinya sendiri. Bahkan terkadang ia menzolimi istri dan anak-anaknya, karena akibat maksiat yang ia lakukan terkadang merembet pada keluarganya !!

Maka janganlah ia egois hanya ingin memuaskan syahwat dan hawa nafsunya dengan mengorbakan istri dan anak-anaknya !!

Kemuliaan Ditentukan Oleh AMAL Ketakwaan, BUKAN Oleh Asal Usul Dan Keturunan

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata :

Perkataan Iblis “Saya lebih baik darinya” adalah kedustaan, dan alasannya bahwa dia diciptakan dari api sedang Adam diciptakan dari tanah juga batil.

Karena kelebihan asal-usul penciptaan, tidak otomatis menunjukkan kelebihan hasil yang diciptakan darinya.

Karena Allah bisa saja menciptakan dari unsur yang biasa; makhluk yang lebih mulia dari yang Dia ciptakan dari unsur yang lebih baik, dan ini merupakan kesempurnaan kekuasaan Allah ta’ala.

Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad, Ibrohim, Musa, Isa, Nuh, serta para nabi dan rasul lainnya -alaihimus sholatu wasallam- lebih mulia dari para malaikat. Dan madzhab Ahlussunnah; bahwa manusia yang saleh itu lebih mulia dari para malaikat, WALAUPUN asal ciptaan mereka dari cahaya, sedang asal ciptaan manusia dari tanah.

Jadi, kemuliaan bukan karena asal-usul.

Oleh karenanya, para budak dan hamba sahaya yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah melebihi orang yang merdeka, meskipun dari keturunan Quraisy dan Bani Hasyim.

Dan alasan Iblis inilah yang akhirnya di warisi oleh para pengikutnya dalam mengedepankan seseorang HANYA karena asal-usul dan nasab, bukan karena keimanan dan ketakwaan. Padahal Allah ta’ala telah mementahkannya dalam firman-Nya:

“Sungguh orang yang paling mulia dari kalian adalah orang yang paling bertakwa..” [Al-Hujurot: 13].

——

Ditambah lagi, alasan Iblis bahwa api lebih baik dari tanah, ini juga batil. Karena sebenarnya tanah lebih baik dari api dari banyak sisi, bahkan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- menyebutkan 13 alasan mengapa tanah lebih baik dari api.

Diantaranya: bahwa api itu tidak mampu berdiri sendiri, dia membutuhkan media yang asalnya dari tanah agar bisa hidup. Adapun tanah, dia mampu berdiri sendiri, dia tidak membutuhkan api untuk bisa hidup.

Diantaranya: Tanah menumbuhkan banyak kebaikan, sedang api malah sering menghancurkan kebaikan-kebaikan itu.

Diantaranya: Tidak seorang pun mampu hidup tanpa tanah dan apa yang dihasilkannya, tapi orang bisa hidup -dalam waktu yang panjang- tanpa api sama sekali. wallohu a’lam.

[Diringkas dari perkataan Ibnul Qoyyim dalam kitab “Mukhtashor Showa’iq Mursalah” 2/377-383]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL