All posts by BBG Al Ilmu

3 Gaya Wanita yang Tidak Mencium Bau Surga

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan :

“…Yaitu para wanita yang:
(1) berpakaian tetapi telanjang,
(2) maa-ilaat wa mumiilaat,
(3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring…”

Apa yang dimaksud ketiga sifat ini?

Berikut keterangan dari Imam Nawawi dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim.

(1) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Ada beberapa tafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

1- wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

2- wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya.

3- wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna badannya.

(2) Wanita yang maa-ilaat wa mumiilaat

Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini:

1- Maa-ilaat yang dimaksud adalah tidak taat pada Allah dan tidak mau menjaga yang mesti dijaga. Mumiilaat yang dimaksud adalah mengajarkan yang lain untuk berbuat sesuatu yang tercela.

2- Maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya.

3- Maa-ilaat yang dimaksud adalah wanita yang biasa menyisir rambutnya sehingga bergaya sambil berlenggak lenggok bagai wanita nakal. Mumiilaat yang dimaksud adalah wanita yang menyisir rambut wanita lain supaya bergaya seperti itu.

(3) Wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring

Maksudnya adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). (Lihat Syarh Shahih Muslim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 14: 98-99).

Baca pembahasan lengkapnya :
http://rumaysho.com/muslimah/3-gaya-wanita-yang-tidak-mencium-bau-surga-3414

Meluruskan Bukan Berarti Menghina…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Dr. Zakir Naik ditanya, “Kenapa Anda Suka Sekali Menghina Kristen?”

Zakir Naik menjawab :
Haram bagi seorang muslim untuk menghina atau merendahkan Non Muslim,

Allah Ta’ala berfirman,
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan ….” [Al-An’am 108]

Penanya : “Tapi kenapa anda suka sekali membuktikan kesalahan Bible?”

Zakir Naik : “Saya tidak menghina, saya membuktikan kesalahan Bible, menyampaikan kebenaran bukan berarti menghina”

Kemudian, Dr. Zakir Naik bertanya kepada orang tersebut, “2+2=5, benar atau salah?”

Orang tersebut menjawab, “Salah!”

Dr. Zakir Naik, “Kenapa anda katakan salah, anda menghina saya ya??”

Orang itu menjelaskan, “No sir! saya tidak menghina anda, saya hanya mengatakan bahwa 2+2=5 itu salah, yang benar 2+2=4”

Dr. Zakir Naik menjawab, “Nah… seperti itulah yang saya lakukan, saya tidak menghina kristen, saya hanya mengatakan dan membuktikan bahwa bible itu adalah kitab yang salah”

[Sumber : Cuplikan Video Dr. Zakir Naik]

Ref:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203321466862106&id=1373521513&refid=17&_ft_&__tn__=%2As

Perbanyaklah Do’a Ini…

Ustadz Ibnu Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan, Saddad bin Aus ~rodhiyallohu ‘anhu~ mengatakan : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ berkata kepadaku, ‘Wahai Syaddad bin Aus, apabila kamu melihat manusia telah menimbun emas dan perak maka perbanyaklah mengucapkan doa ini :

   اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبَاً سَلِيمَاً، وَلِسَانَاً صَادِقَاً، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

Alloohumma innii as-alukats-tsabaat fil amri wal ‘aziimata ‘alar-rusydi. Wa as-aluka muujibaati rohmatika wa ‘azaa-ima maghfirotika. Wa as-aluka syukro ni’matika wa husna ‘ibaadatika. Wa as-aluka qolban saliiman wa lisaanan shoodiqon. Wa as-aluka min khoyri maa ta’lam wa a’uudzu bika min syarri maa ta’lam wa astaghfiruka limaa ta’lam innaka anta ‘allaamul ghuyub

Artinya :

Ya اللّـﮧ aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara agama dan kekuatan tekad di atas jalan petunjuk. Aku memohon kepada-Mu semua perkara yang bisa menghasilkan rahmat dan ampunan-Mu. Aku memohon kepada-Mu untuk mensyukuri nikmat-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang Engkau ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosaku yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala perkara yang ghoib.

[Shohih lighoirihi, lihat Ash-Shohihah no. 3228]

Semoga bermanfaat

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

Hidayah Di Tangan Allah

SEKUAT apapun hujjah kita, tetap saja HIDAYAH itu di tangan Allah.. maka berusahalah semampunya, lalu serahkanlah hasilnya kepada Allah.

=======

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Pernah terjadi debat antara aku dengan seorang ulama ahli kitab, hingga diskusi itu sampai pada topik bahwa Kaum Nasrani telah mencela Robb semesta alam dengan celaan yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun.

Ku katakan kepada mereka: “Dengan pengingkaran kalian kepada kenabian Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- berarti kalian telah mencela Allah ta’ala dengan celaan yang paling parah..”

Dia mengatakan: “Bagaimana bisa seperti itu..?”

Ku katakan:
“Karena kalian beranggapan bahwa Muhammad adalah raja lalim, bukan rosul tepercaya. Bahwa dia keluar menawarkan (agamanya) kepada manusia dengan pedangnya, lalu dia menghalalkan darah, wanita, dan anak-anak mereka.

Tidak hanya itu, bahkan hingga dia berdusta atas nama Allah dan mengatakan, ‘Allahlah yang menyuruhku melakukan ini dan membolehkannya untukku..’ padahal sebenarnya (menurut kalian) Allah tidak menyuruhnya dan tidak membolehkannya.

Dia (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) mengatakan, ‘Aku mendapatkan wahyu..’ padahal (menurut kalian) dia tidak mendapatkan wahyu sedikitpun.

Dia (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) mengganti sendiri syariat para nabi, membuang dari syariat itu apa yang dia kehendaki dan menetapkan darinya apa dia kehendaki. Dan dia menyandarkan semua itu kepada Allah.

Maka, ada dua kemungkinan, Allah ta’ala melihat dan mengetahui itu semua atau tidak.

Jika kalian katakan: ‘Itu semua tidak diketahui dan tidak dilihat Allah..’ berarti kalian menyandarkan sifat bodoh dan dungu kepada-Nya, dan itu termasuk celaan paling buruk.

Jika kalian katakan: ‘Itu semua diketahui Allah..’ (maka ada dua kemungkinan): Allah mampu untuk menghentikan dan melarangnya dari tindakannya itu atau tidak.

Jika kalian katakan: ‘Allah tidak mampu menghentikannya..’ berarti kalian menyandarkan sifat lemah kepada-Nya.

Jika kalian katakan: ‘Allah mampu menghentikannya, tapi tidak melakukannya..’ berarti kalian menyandarkan sifat tolol dan zalim kepada-Nya.

Dan inilah keadaan beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-), dari semenjak dia muncul (sebagai nabi) hingga Robbnya mewafatkannya, Dia mengabulkan do’anya, memberikan hajat-hajatnya, bahkan tidaklah ada musuh melainkan Allah menjadikan beliau menang atasnya.

Dan inilah keadaan beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-), dari semenjak dia muncul (sebagai nabi) hingga Allah ta’ala mewafatkannya, seiring berjalannya siang dan malam beliau semakin tenar, semakin tinggi, dan semakin mulia. Sebaliknya keadaan musuhnya semakin hari semakin hina dan sirna. Semakin hari kecintaan para hamba kepada beliau semakin bertambah, dan Robbnya menguatkannya dengan berbagai macam cara.

Inilah orang yang menurut kalian termasuk musuh Allah yang paling jahat, dan paling berbahaya bagi manusia. Celaan apa yang melebihi ini terhadap Robbul alamin..?! Penghinaan apa yang lebih parah dari ini semua..?!

Maka, orang tersebut menerima sebagian dari keterangan ini, dan dia mengatakan:
“Tidak mungkin kami mengatakan terhadap Allah ini semua, bahkan beliau (Muhammad) adalah seorang nabi tepercaya, siapapun yang mengikutinya menjadi bahagia, dan setiap orang yang obyektif dari kami akan berikrar seperti ini dan mengatakan: para pengikutnya adalah orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akherat..”

Aku pun mengatakan: “Lalu apa yang menghalangimu untuk ikut mendapatkan kebahagiaan itu..?”

Dia mengatakan: “Begitu pula pengikut seluruh nabi, para pengikut Nabi Musa juga bahagia..”

Aku katakan: “Jika kamu mengakui bahwa beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) adalah nabi tepercaya, dan dia telah mengkafirkan siapapun yang tidak mengikutinya, maka bila kamu membenarkannya dalam hal ini, harusnya kamu mengikutinya.

Tapi jika kamu mendustakannya dalam hal ini, berarti dia bukanlah nabi tepercaya, lalu bagaimana para pengikutnya adalah orang-orang yang bahagia..?!

Maka dia pun tidak bisa menjawab, dan mengatakan: “Kita bicarakan yang lain saja..”

[Mukhtasor Showa’iq Mursalah, hal: 56]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny Lc, حفظه الله تعالى

Tidak Peduli Dengan Kenaikan Harga ??

Konsultasi Syariah

Jaga shalat, semahal apapun harga pangan maupun BBM, Allah menjamin rizki anda,

Allah berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta rizki darimu, Aku yang akan memberikan rizki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132)

Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau,

والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني

“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”

Ref : https://www.facebook.com/KonsultasiSyariah/posts/804081509638345

Apa Susahnya ?!

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sambil ngantri beristighfar 100 kali atau lebih dari itu…, sambil bertasbih…, bertahlil…, bertakbir…dan dzikir-dzikir lainnya…

Detik-detik jangan sampai berlalu sia-sia…

Tentu sangat tidak susah, akan tetapi menjadi sangat susah tatkala tangan gatal ingin baca berita di internet…, karena waktu menunggu paling asyik buat ngenet..atau nge-FB, atau nge-Twitt.., nge-BB, nge-WA, dll…,
Tidak dilarang sih, akan tetapi jangan lupa diselingi dengan dzikir…

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS Ar-Ro’du : 28)

Bekas Darah Haid Yang Mengering

Konsultasi Syariah

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Saya mohon penjelasan mengenai bekas darah haid di kursi (bangku bambu) yang diduduki, tetapi bekasnya sudah kering. Apakah harus dibersihkan? Masihkah najis bekas darah haid yang sudah mengering itu? Kalau pun harus dibersihkan, bolehkah membersihkannya hanya dengan tisu basah? Terima kasih atas penjelasannya.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Bekas darah haid yang sudah mengering, baik yang menempel di celana atau di tempat lainnya, cukup dicuci dan statusnya sudah suci, meskipun setelah itu masih meninggalkan bekas.

Kesimpulan ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah, bahwa Khaulah binti Yasar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai Rasulullah, saya hanya memiliki satu pakaian, dan saya haid dengan menggunakan pakaian tersebut.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Jika haidmu telah berhenti, cucilah bagian pakaianmu yang terkena darah haid, kemudian shalatlah dengan menggunakan pakaian tersebut.” Khaulah bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, meskipun bekas darah itu tidak hilang?” Beliau menjawab, “Cukup kamu cuci dengan air, dan tidak usah pedulikan bekasnya.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Allahu a’lam.

Ref : http://www.konsultasisyariah.com/bekas-darah-haid-yang-mengering/